Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Orang-Orang yang Tertipu

tertipu dunia

Natil bin Qais al-Hazami, seorang penduduk Syam pernah berkata kepada Abu Hurairah ra., "TuanGuru, mohon ajarkan kepada kami apa yang Anda dengar dari Rasulullah SAW. Abu Hurairah menjawab, ”Baik. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang pertama-tama diadili kelak pada Hari Kiamat ialah orang yang mati syahid. Orang itu dihadapkan ke Pengadilan Akhirat. Lalu ia diingatkan tentang nikmat-nikmat yang pernah dia peroleh di dunia. Dia pun mengakuinya. Ia lalu ditanya, "Apakah yang telah Engkau perbuat dari nikmat itu?' Ia menjawab, “Aku telah berperang untuk agama Allah hingga aku mati syahid!” Namun Allah berkata, “Engkau dusta! Sungguh Engkau berperang supaya dikatakan gagah berani dan gelar itu telah Engkau raih!” Kemudian dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke Neraka.

Kemudian dihadapkan pula orang alim yang belajar dan mengajarkan ilmunya serta Al-Qur’an. Dihadapkan kepada dia nikmat yang pernah dia peroleh di dunia. Semuanya dia akui. Dia lalu ditanya, “Apakah yang telah engkau perbuat dari nikmat itu?” Dia menjawab, “Aku belajar, mengajar dan membaca Al-Qur’an karena Engkau!”

Namun Allah berkata, “Engkau dusta. Sungguh Engkau belajar dan mengajar supaya disebut alim. Engkau pun membaca Al-Qur’an supaya dikatakan sebagai seorang qari (ahli membaca). Semua itu telah dipanggilkan orang kepadamu!” Lalu dia pun diseret dengan muka tertelungkup dan dilemparkan ke Neraka.

Selanjutnya dihadapkan pula orang yang diberi kekayaan oleh Allah dengan berbagai macam harta. Semua kekayaannya saat di dunia dihadapkan kepada dia. Diapun mengakuinya. Dia lalu ditanya, “Apakah yang telah Engkau perbuat dengan harta sebanyak itu?” Dia menjawab, "Setiap bidang tanah yang Engkau sukai tidak ada yang aku tinggalkan melainkan aku sumbang semuanya karena Engkau.” Namun, Allah berkata, “Engkau dusta! Sungguh Engkau melakukan semuanya itu supaya Engkau disebut orang dermawan dan gelar itu telah Engkau dapatkan!” Kemudian dia pun diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke Neraka.” (HR. Muslim).

Demikianlah gambaran orang-orang yang tertipu, sebagaimana dikisahkan dalam hadis di atas.

Ghurur (tertipu/terpedaya) adalah penyakit hati yang menimpa banyak kaum Muslim. Penyakit ini telah dijelaskan oleh Imam al-Ghazali di dalam-kitabnya, Ihya 'Ulum ad-Din. Penyakit ghurur ini tentu berbahaya. Pasalnya, kebanyakan orang yang menderita penyakit ini sering tidak menyadari bahwa dirinya tertipu/terpedaya. Menurut Imam al-Ghazali setidaknya ada empat empat golongan manusia yang terkena penyakit ghurur ini: (1) Golongan ulama; (2) Golongan orang yang rajin beribadah; (3) Golongan para sufi; (4) Golongan orang kaya.

Pertama: Golongan ulama, yakni ulama yang perilakunya tidak selaras dengan ilmunya. Mereka boleh jadi ulama yang tidak ikhlas, bangga dengan popularitas, suka merendahkan pihak lain, takabur, berakhlak buruk, dll.

Kedua: Golongan orang yang rajin beribadah. Contohnya adalah mereka yang sibuk dengan ibadah-ibadah sunnah tetapi melalaikan amalan-amalan wajib, seperti rajin melaksanakan ibadah sunnah tetapi enggan berdakwah; suka berzikir tetapi malas menuntut ilmu; rajin bersedekah tetapi mengabaikan nafkah keluarganya; rajin berdoa tetapi malas berusaha dalam hal wajib; rajin membaca Al-Qur’an tetapi enggan men-tadabur-i, memahami dan mengamalkan isinya; menunaikan ibadah haji dan umrah berkali-kali tetapi masih tetap korupsi dan terlibat riba, dsb.

Ketiga: Golongan para sufi, yakni mereka yang menggeluti dunia tasawuf tetapi banyak melakukan perkara bid'ah atau banyak meninggalkan syariah.

Keempat: Golongan orang kaya. Di antaranya orang kaya yang tidak pernah peduli bagaimana kekayaannya diperoleh, apakah dari jalan yang halal atau haram; lalai membayar zakat; kikir; rajin bersedekah tetapi sering dengan niat riya' dan sum'ah, dsb.

Lalu bagaimana agar kita tidak termasuk orang-orang yang menderita penyakit ghurur? Dalam hal ini, Allah SWT berfirman: ”Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan” (TQS. al-Baqarah [2]: 208).

Melalui ayat ini Allah SWT menyeru hamba-hambaNya yang Mukmin dengan memerintahkan kepada mereka agar masuk ke dalam Islam secara menyeluruh, dengan tidak memilah-milah atau memilih-milih di antara syariah atau hukum-hukum-Nya. Melalui ayat ini Allah SWT pun melarang hamba-Nya untuk mengikuti jalan-jalan mereka yang selalu mengajak manusia pada kebatilan serta selalu menghiasai keburukan dan kejelekan (Lihat: Al-Jazairi, Aysar at-Tafasir, I/97).

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 191
---

Sebut Umat Islam Ancaman, Kapolri Bikin Gaduh


ideologi Islam umat Islam

Bukannya mendinginkan suasana, pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian justru menimbulkan kegaduhan. Saat berpidato di depan Rapat Pimpinan Polri 2017 di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta Selatan, Rabu (25/1) ia menyebut aksi damai umat Islam 411 dan 212 berpotensi menggerus kebhinnekaan dan mengancam persatuan NKRI.

”Dua peristiwa penting Aksi 411 dan Aksi 212 walau ditangani dengan baik tapi menimbulkan indikator yang harus diwaspadai bersama. Ini menggerus toleransi, kebhinekaan dan berbahaya bagi NKRI,” kata Tito. Tito juga mengatakan bahwa intoleransi keberagaman menjadi tantangan sendiri bagi institusi Polri.

Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia M Ismail Yusanto menyayangkan pernyataan Kapolri itu. Menurutnya, pernyataan tersebut malah akan menimbulkan kegaduhan baru dan menyakiti masyarakat.

”Saya pikir ini yang tidak boleh terus terjadi, sebab kalau terus dilakukan Kapolri. seperti itu, justru dia menyakiti masyarakat,” ungkapnya kepada Media Umat.

Sikap Kapolri membuat heran banyak pihak, kenapa aksi yang begitu damai dan tertib bahkan Kapolri pun menunjukkan apresiasi kepada para peserta aksi, sekarang malah membuat pernyataan yang terkesan sebaliknya.

”Jadi gak ngerti saya, kenapa Kapolri yang bersikap apresiatif terhadap aksi, kok terakhir-terakhir ini melontarkan pernyataan sebaliknya,” jelas Ismail.

Padahal aksi yang berlangsung damai tersebut murni hanya menuntut keadilan, yang diakibatkan kelambanan proses hukum terhadap kasus penistaan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Ahok.

"Aksi itu tidak akan terjadi andai Ahok diproses hukum sebagaimana pelaku penistaan agama sebelum-sebelumnya. Karena itu sungguh aneh kalau dikatakan bahwa aksi ini menimbulkan atau didorong sikap intoleransi,” kata Ismail.

Menurut Ismail, justru tindakan menista agama dan Al-Qur’an itu adalah bentuk intoleransi. "Atau mereka yang melindungi penista Al-Qur’an itulah yang mempertahankan intoleransi atau menimbulkan sikap intoleransi,” ungkapnya.

Dan pada aksi damai 212, turut hadir Presiden Jokowi lalu memberikan pidato singkat. Dalam pidato tersebut secara langsung Presiden berterima kasih dan menunjukkan sikap respek.

”Bagaimana bisa aksi itu dikatakan menimbulkan intoleransi. Kalau begitu berarti secara tidak langsung Kepolisian atau Kapolri menuding Presiden berterima kasih terhadap aksi yang menimbulkan intoleransi,” kata Ismail.

Sikap inkonsistensi Kapolri menunjukkan adanya tekanan besar dari negara atau oknum-oknum tertentu yang memang menentang dari awal bentuk persatuan Islam. ”Ya pasti ada angin lain yang bertiup yang membuat dia melontarkan pernyataan seperti itu," ujar Ismail.

Seperti tudingan tidak berdasar Luhut Binsar Pandjaitan yang menyebut bahwa aksi-aksi besar itu digerakkan oleh kelompok radikal. Padahal aksi-aksi tersebut dihadiri oleh berbagai elemen, seperti Kapolri, bahkan Presiden sendiri. "Nyatanya Kapolri terbawa arus itu,” pungkas Ismail. []fatihsholahuddin

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 190
---

Muslim Pengusaha Atau Pengusaha Muslim?



Anda pengusaha? Bersyukurlah Allah memberikan kedudukan yang luar biasa pada diri Anda, tapi tidak sedikit juga umat Muslim yang memiliki usaha [baca: jadi pengusaha] takut menjadi pengusaha karena proses hisab yang luar biasa di Yaumil Akhir nanti. Nah Anda termasuk yang mana? Anda adalah Muslim yang kebetulan memiliki profesi sebagai seorang pengusaha? Atau seorang pengusaha yang kebetulan jadi Muslim? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan apakah Anda menjadikan Islam sebagai sesuatu yang biasa atau jadi poros utama hidup Anda.

Dalam rentang lebih dari 13 abad Islam menaungi 2/3 dunia lama. Peradaban Islam telah banyak melahirkan pribadi-pribadi pejuang Islam. Salah satunya adalah sahabat Rasul SAW, yaitu Abdurrahman bin Auf. Dari dulu hingga sekarang, Ia dikenal sebagai ikon pengusaha Muslim yang sangat sukses. Ia adalah sebaik-baiknya pengusaha Muslim. Ia telah mengguncang dunia melalui keteladanannya sebagai Muslim sejati, termasuk dalam berbisnis yang dilakukannya pada abad 1 Hijriah.

Abdurrahman bin Auf hanya berbisnis dengan barang yang halal dan menjauhkan diri dari barang yang haram bahkan yang syubhat sekalipun. Keseluruhan hartanya adalah harta yang halal, sehingga sahabat lainnya, Utsman bin Affan ra. yang juga pengusaha sukses dan sudah sangat kaya pun bersedia menerima wasiat Abdurahman ketika membagikan 400 dinar bagi setiap veteran perang Badar. Ustman bin Affan berkata, ”Harta Abdurahman bin Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkah.”

Keuntungan bisnis yang didapat dinikmati dengan menunaikan hak keluarga dan hak Allah. Ia berkontribusi untuk berjuang di jalan Allah, baik secara perjuangan fisik maupun materi. Ketika Rasullullah SAW membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang mahal dan sulit, Abdurrahman bin Auf menjadi penyandang dana pertama dengan menyumbang dua ratus uqiyah emas (1 uqiyah setara dengan 50 dinar). Sampai-sampai Umar bin Khattab berbisik kepada Rasulullah SAW, ”Sepertinya Abdurrahman berdosa kepada keluarganya karena tidak meninggali uang belanja sedikitpun untuk keluarganya.” Mendengar ini, Rasulullah SAW bertanya pada Abdurrahman bin Auf, ”Apakah kamu meninggalkan uang belanja untuk istrimu?" "Ya!” Jawab Abdurrahman, ”Mereka saya tinggali lebih banyak dan lebih baik dari yang saya sumbangkan.” ”Berapa?" Tanya Rasulullah. "Sebanyak rizki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah,” jawabnya. Subhanallah.

Suatu saat ketika Rasullullah SAW berpidato menyemangati kaum Muslimin untuk berinfak di jalan Allah, Abdurrahman bin Auf menyumbang separuh hartanya senilai 2.000 dinar. Atas infak ini ia didoakan khusus oleh Rasulullah SAW: ”Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu, terhadap harta yang kamu berikan. Dan Semoga Allah memberkati juga harta yang kamu tinggalkan untuk keluarga kamu.”

Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan seluruh barang yang dibawa oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah, padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Selain itu juga tercatat ia telah menyumbangkan antara lain 40.000 dirham, 40.000 dinar, 200 uqiyah emas, 500 kuda, dan 1500 unta.

Banyak dan sering sekali, ia infaqkan hartanya. Sampai-sampai ada penduduk Madinah yang berkata, ”Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya pada mereka, sepertiga untuk membayari utang-utang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan kepada mereka.”

Mari kisah sahabat tersebut kita refleksikan pada diri kita. Apa yang sedang Anda perjuangkan dari bisnis Anda? Apa sesungguhnya yang Anda bela dari bisnis Anda?

Ketika Islam dihujat, dimanakah posisi Anda? Ketika Ayat Allah dinistakan apa yang Anda lakukan untuk membelaNya? Ketika syariah dan khilafah sebagai pemersatu umat dijauhkan dari umat Muslim, apa yang bisa Anda perjuangkan?

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 190
---

Merekatkan Kembali Ukhuwah



Suatu ketika, ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang kedatangan seorang tamu. Kemudian sahabat tersebut bertanya kepada istrinya, ”Apakah kamu memiliki sesuatu untuk menjamu tamu." Istrinya menjawab, “Tidak ada, hanya makanan yang cukup untuk anak-anak kita." Lalu sahabat tersebut berkata, "Kalau begitu, sibukkanlah anak-anak kita dengan sesuatu. Kalau mereka ingin makan malam, ajak mereka tidur. Jika tamu kita masuk (ke ruang makan), padamkanlah lampu. Tunjukkan kepada dia bahwa kita pun sedang makan bersamanya.” Mereka pun duduk bersama (tanpa makan), sementara tamu tersebut makan sendirian. Malam itu keluarga sahabat itu tidur dalam keadaan menahan lapar. Tatkala pagi, pergilah mereka berdua (sahabat dan istrinya) menuju Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW memberitakan (pujian Allah SWT kepada mereka berdua), ”Sungguh Allah merasa kagum dengan perbuatan kalian berdua (kepada tamu kalian).” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar ra. bertutur: Salah seorang dari sahabat Nabi SAW pernah diberi hadiah kepala kambing. Dia lalu berkata, ”Sungguh fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini daripada kami.” Ibnu Umar berkata, ”Lalu ia mengirimkan hadiah tersebut kepada yang lain. Secara terus-menerus hadiah itu dikirimkan dari satu sahabat kepada sahabat yahg lain hingga berputar sampai tujuh rumah. Akhirnya, hadiah itu kembali kepada orang yang pertama kali memberikan.” (HR. al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman, 3/259).

Dalam riwayat lainnya Iagi, Nafi', maula Ibnu Umar, meriwayatkan: Ibnu Umar suatu ketika sakit. Ia sangat menginginkan anggur. Lalu ia mengutus Shafiyah (istrinya) dengan membawa satu dirham untuk membeli anggur segar. Saat pelayan (utusan) mengantarkan anggur, dia diikuti oleh seorang pengemis. Setelah sampai di pintu rumah, utusan masuk. Dari luar pengemis berkata, ”Ada pengemis.” Lalu Ibnu Umar berkata, “Berikan anggur itu kepada dia." Lalu utusan itu memberikan anggur tersebut kepada pengemis tersebut. (HR. al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman, 3/260).

Dalam riwayat lainnya lagi yang lebih menakjubkan, Abdullah bin Mushab az-Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit bertutur: Pada Perang Yarmuk, telah syahid Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu JahaI, dan Suhail bin Amr. Sebelum syahid, mereka ketika itu akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis. Namun, semuanya saling menolak.
Ketika salah satudari mereka akan diberi minum, dia berkata, ”Berikan dulu air itu kepada si fulan.” Demikian seterusnya sehingga semuanya meninggal, sementara mereka belum sempat meminum air itu.
Dalam versi lain perawi menceritakan: Ikrimah meminta air minum, namun ia melihat Suhail sedang memandang dirinya. Ikrimah lalu berkata, ”Berikan air itu kepada dia." Ketika itu Suhail juga melihat al-Harits sedang melihat dirinya. Suhail lalu berkata, ”Berikan air itu kepada dia.” Namun, belum sampai air itu kepada Harits, ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air minum tersebut sedikitpun. (HR. Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqat).

Demikianlah beberapa penggal kisah sahabat Rasulullah SAW. Kisah-kisah di atas menggambarkan bagaimana kuatnya ikatan ukhuwah Islamiyyah di kalangan para sahabat Rasulullah SAW. Begitu kuatnya ukhuwah mereka hingga mereka lebih mementingkan dan mendahulukan sahabat yang lain ketimbang diri mereka sendiri. Mereka tentu mengamalkan sabda Rasulullah SAW, ”Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal saling mengasihi, saling menyayangi dan saling mencintai adalah seperti sebuah tubuh; jika salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.” (HR. Muslim).

Mereka pun tentu mengamalkan sabda Rasulullah SAW, ”Seorang Mukmin bagi Mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Muslim).

Karena itu, marilah kita meneladani para sahabat, sebagaimana tercermin dalam kisah-kisah di atas, dengan makin merekatkan kembali ikatan ukhuwah kita. []abi

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 190
---

Meneladani Nabi, Menerapkan Syariah Islam Dan Khilafah



Kita harus meneladani Rasulullah SAW, pernyataan yang sering kita dengar setiap kali diadakan peringatan Maulid Nabi SAW. Bukan hanya disampaikan oleh ulama atau mubaligh, tapi juga disampaikan para pejabat, dari lurah hingga presiden.

Meneladani Rasulullah SAW merupakan kewajiban seorang Muslim, siapapun dia. Karena Rasulullah SAW adalah suri teladan kita, sebagai uswatun hasanah. Sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah” (TQS. Al-Ahzab: 21)

Allah SWT juga memerintahkan kita untuk mengikuti Rasulullah SAW sebagai bagian dari yang tidak terpisahkan dari kecintaan kepada Allah SWT. Siapapun yang mencintai Allah SWT, dia harus mengikuti Rasulullah SAW. Firman Allah SWT: ”Katakanlah (hai Muhammad), jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku (Nabi SAW), niscaya Allah akan mencintai kalian dan Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Ali Imran: 31)

Terkait dengan ayat Al-Hafizh Ibnu Katsiir rahimahullah menerangkan, “Ayat yang mulia ini menjadi hakim atas orang-orang yang mengaku mencintai Allah namun ia tidak berjalan di atas sunnah Nabi-Nya, Muhammad SAW. Maka sesungguhnya ia telah berdusta dalam pengakuannya itu, kecuali ia telah benar-benar mengikuti syariah dan agama Muhammad SAW dalam segenap perkataannya dan keadaan dirinya.”

Dengan demikian, bukti kecintaan seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya, haruslah taat kepada perintah Allah dan RasulNya. Dengan kata lain, dia harus menjalankan seluruh syariah Islam. Karena itu, tentu sangat menyedihkan dan patut dipertanyakan, mereka yang mengatakan harus meneladani Rasulullah SAW tapi tidak mau mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya, tidak mau menjalankan syariah Islam yang bersumber dari Allah dan RasulNya.

Dan kita perlu tegaskan, berhukum kepada syariah Islam, tentu bukan hanya dalam persoalan pribadi, moralitas, atau ibadah ritual. Namun secara totalitas. Sebagaimana firman Allah SWT: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (TQS. Al-Hasyr [59]: 7). Artinya, kita harus juga mengikuti syariah Islam dalam segala perkara, termasuk ekonomi, politik, sosial, dan bernegara.

Sungguh sangat mengherankan, siapapun yang mengklaim mencintai Allah dan Rasul-Nya, justru menolak syariah Islam diterapkan secara totalitas oleh negara. Padahal Rasulullah SAW saat di Madinah telah mencontohkan, bagaimana syariah Islam, bukan hanya mengatur masalah pribadi, tapi juga ekonomi, politik baik dalam maupun luar negeri, sampai uqubat (sanksi).

Termasuk meneladani dan mencintai Rasulullah SAW adalah menegakkan negara khilafah di tengah-tengah umat. Sebab, negara khilafah satu-satunya institusi politik yang sesuai dengan syariah Islam yang akan menerapkan seluruh hukum-hukum Allah SWT. Khilafah juga akan menyatukan dan melindungi umat Islam.

Para sahabat, imam madzhab dan ulama telah menegaskan kewajiban ini, sebagaimana yang disebutkan Imam Nawawi (w. 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim, "Mereka [para shahabat] telah sepakat bahwa wajib atas kaum Muslimin mengangkat seorang khalifah.”

Lebih parah lagi, kalau menganggap penerapan khilafah di Indonesia merupakan ancaman bagi negeri ini. Sekali kita tanya, bagaimana mungkin keberadaan institusi khilafah yang menerapkan syariah Islam secara totalitas yang bersumber dari Allah SWT dikatakan mengancam. Padahal sistem khilafah inilah yang diterapkan Khalifah Abu Bakar ra., Umar bin Khaththab ra., Utsman bin Affan ra., Ali bin Abi Thalib ra., dan dilanjutkan oleh para khalifah berikutnya.

TIdak hanya itu, ada yang secara terbuka mengkriminalisasi sistem khilafah yang diwajibkan Allah SWT. Itu dilakukan dengan cara mengaitkannya dengan terorisme atau gerakan ISIS. Kita perlu tegaskan, yang ingin kita perjuangkan adalah khilafah ala minhajin nubuwah, bukan khilafah ala “ISIS” yang sebenarnya tidak bisa disebut khilafah.

Kita mengingatkan perbuatan mengkriminalisasi syariah Islam, termasuk khilafah, adalah perbuatan keji yang tidak pantas dilakukan oleh seorang Muslim. Terakhir, perlu kembali kita tegaskan khilafah bukan hanya kebutuhan umat Islam, tapi juga merupakan kewajiban syariah Islam. Kembalinya khilafah merupakan janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah SAW. Dan wajib bagi umat Islam untuk memperjuangkannya. Allahu Akbar! []farid wadjdi

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 187
---

Waspadai Serangan Cina Rusak Holtikultura Indonesia



Lima ribu batang pohon cabai segar, dua kilogram benih cabai dan satu kilogram benih bawang daun dan sawi hijau berubah menjadi abu setelah dibakar di incinerator (tabung pemusnahan) Kamis (8/12/2016) di Kantor Instalasi Karantina Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno-Hatta (IKBBKP SH), Tangerang, Banten.

Pemusnahan tersebut merupakan buntut dari ditangkapnya empat warga negara Cina yang tengah bercocok tanam di bukit terpencil Sukadamai, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 10 November 2016 lalu.

Bukan saja bercocok tanam secara ilegal, berdasarkan hasil uji laboratorium yang diterbitkan oleh Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian pada 24 November 2016, ternyata benih yang mereka tanam pun positif terinfeksi bakteri Erwinia chrysantemi, organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) A1 golongan 1 dan sangat membahayakan produksi nasional petani cabai Indonesia.

”Belum ada di Indonesia dan tidak dapat diberikan perlakuan apapun selain pemusnahan,” ujar Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Antarjo Dikin.

Menurut Ketua Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Yahya Abdurrahman, ditemukannya warga negara Cina yang bercocok tanam cabai harus disikapi. Apalagi WN Cina melakukannya secara ilegal sebab visa mereka adalah visa kunjungan dan sudah lewat masa berlakunya. Kasus adanya WN Cina yang tetap tinggal secara ilegal itu sudah terjadi sebelumnya. Imigrasi Bogor juga telah merazia puluhan WN Cina yang menyalahi visanya.

”Kasus serupa mungkin saja juga terjadi di daerah-daerah lain,” ungkapnya kepada Media Umat, Ahad (11/12/2016).

Kasus ini, menurut Yahya, memberi sinyal bahwa serbuan warga Cina ke negeri ini bukan hanya isapan jempol. Warga Cina yang masuk itu bukanlah tenaga ahli yang belum ada di negeri ini. Jika melihat kasus-kasus yang ada membuktikan WN Cina itu banyak buruh kasar, kuli di proyek-proyek yang didanai dari Cina, dan sekarang petani yang menanam cabai, maka serbuan WN Cina itu jelas menjadi masalah.

Sebab negeri ini tidak kekurangan tenaga kasar untuk bekerja sebagai buruh pabrik, kuli proyek dan sejenisnya. Negeri ini juga tidak kekurangan petani, apalagi hanya untuk menanam cabai.

“Apa yang mereka lakukan itu sudah kriminal dan berpotensi membahayakan,” tegasnya.

Lebih berbahaya lagi, ternyata cabai yang mereka tanam membawa bakteri berbahaya yang belum ditemukan sebelumnya di negeri ini. Sebab bakteri berbahaya itu bisa saja menyebar seandainya tidak keburu diketahui.

”Kasus itu harus diusut tuntas. Jika ada kesengajaan dari mereka untuk menyebarkan bakteri berbahaya itu, maka itu benar-benar membahayakan,” tegasnya.

Jika benar benih cabai itu mereka bawa, itu menjadi indikasi bahwa tindakan itu telah mereka rencanakan sebelumnya.

Juga harus diusut, apakah mereka itu hanya petani biasa atau elemen tertentu misalnya elemen intelijen atau lainnya yang disuruh oleh pihak-pihak tertentu dari tempat asal mereka.

”Harus diwaspadai bahwa cara-cara itu mungkin saja merupakan bagian dari cara-cara perang modern. Perang modern untuk merusak sumber daya negeri target, dalam hal ini merusak potensi hortikultura. Sebab bisa saja, bakteri itu berbahaya tidak haya untuk cabai yang sudah dikembangkan di negeri ini, tetapi juga berbahaya untuk tanaman-tanaman lain,” ungkap Yahya.

Jika benih itu bisa lolos, maka ada masalah di pemeriksaan orang asing dan barang bawaan mereka di bandara atau di pintu-pintu masuk negeri ini.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 187
---

Astaghfirullah, Shalawat Dicampur Lagu Natal


Umat Islam dijajah di segala bidang

Bermaksud memperlihatkan kerukunan beragama, shalawat yang biasa didendangkan oleh umat Islam untuk mendoakan Rasulullah malah dipadukan dengan lagu natal. Kejadian tersebut berlangsung di acara festival keragaman yang diadakan di Manado, Sulawesi Selatan (10/12/2016) Sabtu lalu yang bertempat di gedung DPRD Sulawesi Utara.

Pelakunya bukan orang kafir, tapi Muslim. Saat itu, Ketua Lembaga Seniman Budayawan Muslimin Indonesia (Lesbumi) Nahdhatul Ulama, Taufik Bilfalqih bersenandung shalawat namun tiba-tiba dicampurkan dengan lagu natal berjudul Gloria dalam bahasa Arab.

Saat mendengar selawat nabi yang dicampur dengan lagu Natal, peserta yang berada di ruang rapat DPRD Sulut sontak berdiri dan ikut bernyanyi. Menurut Taufik, gubahan shalawat dan laqu Gloria merupakan bagian dari seni. "Saya tahu kerukunan umat beragama di Sulut luar biasa, jadi berani membuat lagu ini. Kalau di tempat lain takut buat lagu ini," kata Taufik.

Ketua Panitia Festival Keragaman Sulut, Sofyan Yosadi mengatakan, acara tersebut dilaksanakan untuk menumbuhkan rasa kebersamaan dan cinta akan toleransi.

Tapi haruskah memadukan senandung shalawat dengan lagu Natal? Seperti yang dikatakan oleh KH. M. Shiddiq Al-Jawi pembina KHAT (Khilafah Arts Network), bahwa perpaduan itu adalah sesuatu yang salah.

”Itu namanya mencampuradukkan antara haq dan yang batil dan itu hukumnya haram,” ungkapnya kepada Media Umat.

Menurutnya, memperlihatkan dan mendakwahkan tentang kerukunan beragama memang sangatlah penting, akan tetapi menuju ke sana harus dengan cara yang sesuai syariat Islam.

"Kalau menggunakan cara shalawat digabung dengan lagu Natal itu cara yang batil atau haram untuk menuju kerukunan beragama. Itu tidak benar,” tegas Shiddiq.

Ia menjelaskan, sudah jelas dalam Al-Qur’an bahwa Allah melarang mencampuradukkan antara yang haq dan batil. Dan ketika seorang Muslim menyanyikan lagu Natal hukumnya haram.

”Barangsiapa seorang Muslim menyerupai kaum kafir maka dia termasuk golongan mereka,” jelas Shiddiq berdasarkan sebuah hadits.

Ia menilai, cara yang dilakukan di Manado itu sudah berlebihan. Dalam Islam prinsip kerukunan beragama itu haruslah bersumber dari hukum lslam. ”Kalau dalam Islam, peraturan yang mengatur hubungan komunitas Muslim dan non-Muslim itu harus dari hukum Islam. Bukan hukum sekuler,” ungkap Shiddiq.

Shiddiq menilai bahwa landasan pluralisme (menganggap semua agama benar) juga menjadi sebab dari terjadinya kerukunan yang salah kaprah. Karena dalam hukum Islam terdapat pemisah yang tegas antara Muslim dan non-Muslim.

"Seharusnya kan lakum diinukum wa liyaddin (bagiku agamaku, bagimu agamamu), pemisah yang tegas,” pungkasnya. []fatih sholahuddin

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 187
---

Quranic Entrepreneur (Spirit 212)



Oleh: Fahmi Shadry, Anggota DPP Lajnah Khusus Pengusaha HTI, Pebisnis di bidang Digital Communication Technology

Aksi Bela Islam (ABI) III sangat fenomenal dan luar biasa. Aksi massa terbesar di dunia yang pernah ada, diperkirakan hingga 7 juta kaum Muslimin hadir karena tidak rela Al-Qur’an dihinakan. Mereka semua -termasuk kalangan pengusaha-bergerak mengorbankan segala yang mereka punya; harta, tenaga, pikiran dan waktu untuk menunjukkan sikap pembelaan mereka terhadap kitab sucinya.

Aksi 212 menunjukkan bahwa ummat Islam bisa bersatu dan bergerak membela kitab sucinya, ketika QS. Al-Maidah ayat 51 (tentang keharaman pemimpin kafir) dinistakan. Oleh karena itu, dengan kesadaran yang sama seharusnya umat bergerak untuk memperjuangkan seluruh isi Al-Qur’an agar dapat diterapkan dalam kehidupan, sebagai wujud keimanan yang hakiki. Haram bagi umat Islam mengimani sebagian ayat dan mendustakan ayat-ayat yang lain, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: “Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (TQS. Al-Baqarah[2]: 85)

Muslimpreneur, kita sadari bahwa saat ini Islam belum diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Dunia bisnis saat ini didominasi oleh sistem ekonomi kapitalis sekuler. Bahkan sebagian pengusaha Muslim saat ini menjadi pendukung sistem ekonomi tersebut. Mereka tidak menggunakan syariah Islam dalam memperoleh maupun membelanjakan hartanya.

Muslimpreneur, dalam Sistem Ekonomi Islam hanya dikenal bisnis sektor riil, sebaliknya sistem ekonomi kapitalis lebih didominasi oleh sektor non-riil seperti perbankan (ribawi), pasar modal, pasar valas, asuransi, bursa berjangka dll. Aktivitas bisnis sektor non-riil ini mengandung unsur riba, maisir (judi) maupun gharar. Akibatnya sektor non-riil sering menjadi penyebab utama terjadinya krisis ekonomi dunia yang berulang-ulang, yang mengakibatkan sebagian besar umat manusia menderita. Sebagian aktivitas bisnis sektor non-riil yang berusaha disyariahkan dengan memberikan label Islami.

Muslimpreneur, Aksi 212 menunjukkan bahwa kita tidak rela satu ayat Al-Qur’an dihinakan, padahal penghinaan terbesar terhadap Al-Qur’an itu adalah tidak mau menerapkan hukum-hukum dari Al-Qur’an. Sebagai konsekuensi spirit Aksi 212, kita harus siap untuk meninggalkan segala aktivitas (termasuk bisnis) yang bertentangan Al-Quran kan menolak segala macam bisnis yang mengandung riba, maisir dan gharar bahkan yang subhat sekalipun.

Maka untuk meningkatkan level Aksi 212, penegakan kembali Al-Qur’an secara sempurna mutlak dilakukan. Allah telah mewajibkan kita untuk berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah SWT (QS. al-Maidah [5]: 48, 49). Hukum Allah harus diterapkan secara sempurna dan paripurna (syamil[an] wa kamil[an]). Hal ini hanya mungkin dilakukan dalam institusi Khilafah Islamiyah.

Para pengusaha Muslim generasi sahabat menjadi garda terdepan upaya menegakkan Khilafah Islamiyah. Sungguh mereka telah mengamalkan seruan Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (TQS. At-Taubah [9]:111)

Muslimpreneur, marilah kita berperan aktif dalam perjuangan menerapkan Al-Qur’an dan Sunnah dalam naungan Khilafah Islamiyah. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita. Aamiin.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 187
---

Kepolisian Di Era Khilafah ‘Utsmani



Pada zaman Khilafah 'Utsmaniyah, tugas kepolisian dibebankan kepada Aga Mustahfadhan, dia seperti kepala kepolisian, dan wali yang kedudukannya seperti gubenur. Mereka diawasi oleh perwira yang disebut Udhbasyiyah dan Qalqat. Sebagian dari mereka yang memimpin divisi kepolisian, yang juga disebut Qalqat. Mereka dibantu oleh sebagian tentara dan peronda.

Di luar wilayah ibukota, tugas kepolisian ini diserahkan kepada para penguasa daerah, yang disebut Kasysyaf dan Shanajiq, mengikuti tugas kemiliteran, administrasi dan keuangan. Khilafah 'Utsmaniyah sangat terkenal dengan sistem Jundiramah, dan sistem reserse yang disebut Bashshashin.

Di Suriah, misalnya, ada Bulis Mu'awini, atau pembantu polisi. Pasukan ini diambil dari polisi-polisi yang ada di Damaskus dan daerah-daerah lain yang berdekatan dengan Damaskus. Tetapi, karena jumlahnya tidak cukup untuk menjaga keamanan kota, maka komando militer Damaskus menugaskan setiap harinya satu regu, yang terdiri dari 40 tentara, setiap empat orang di antara mereka ditugasi keliling di jalan-jalan Damaskus hingga tengah malam untuk menjaga keamanan.

Di Aljazair, misalnya, penduduknya bisa menikmati keamanan yang diberikan oleh polisi yang bertugas di beberapa tempat. Kepolisian di Aljazair dibagi menjadi dua bagian: kepolisian khusus yang diisi oleh Turki, Kirgil dan kepolisian khusus dari penduduk setempat. Karena begitu tegas dan kerasnya kepolisian Khilafah ‘Utsmaniyah di Aljazair ini, maka para pelaku kriminal, seperti pembunuhan, misalnya, nyaris tidak ada.

Syawisy adalah polisi yang tidak dipersenjatai, dan untuk menangkap pelaku kriminal, hanya menggunakan kekuatan fisik dan skill. Bukti terbaik adalah kesaksian yang diberikan oleh Konsul Amerika di Aljazair, William Chalz (1816-1824 M), sebagaimana dalam memoarnya, ”Saya meyakini, bahwa tidak ada kota lain di dunia ini, di mana polisi menunjukkan kinerja yang luar biasa melebihi apa yang ditunjukkan oleh kepolisian Aljazair, yang nyaris tidak pernah lengah terhadap kejahatan. Sebagaimana tidak ada wilayah lain yang penduduknya bisa menikmati keamanan yang begitu besar.”

Testomoni ini merupakan bukti terbaik di era itu tentang tingkat keamanan yang luar biasa. Hal yang senada juga pernah disampaikan oleh pemuka Kristen, yang pernah menjadi perwakilan Suriah di PBB, tentang tingkat keamanan yang begitu luar biasa di wilayah itu. Karenanya, nyaris para hakim tidak mempunyai pekerjaan yang ditangani dalam menyelesaikan kasus-kasus kriminal.

Kirgil adalah polisi berdarah Aljazair, dari ayah Turki yang notabene tentara, dan ibu Aljazair. Syawisy adalah divisi dari kepolisian yang mengikuti penguasa daerah.

Secara umum, kepala kepolisian di ibukota khilafah diangkat dan diberhentikan oleh khalifah, atau diserahkan kepada pembantunya. Sedangkan di daerah, wali-lah yang memilih kepala kepolisian di daerahnya, kecuali jika khalifah mengangkatnya sendiri. Dalam kondisi seperti ini, wali tidak bisa memberhentikannya, kecuali dengan seizin khalifah. Kecuali, jika kepala kepolisian tersebut melakukan berbagai tindakan yang tidak bisa dipertahankan.

Pada zaman Khilafah 'Utsmani, kebanyakan polisi ini diangkat dari bekas budak yang memberikan pengabdiannya dengan tulus kepada penguasa. Di dunia militer, mereka dikenal dengan nama Yennisari, atau Inkisari. []har

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 187
---

Felix Siauw: Revolusi Di Ujung Jari


muktamar khilafah

Dulu saya selalu bertanya-tanya, bagaimana mungkin kita dapat mengopinikan Islam, padahal media-madia hampir semuanya dimiliki oleh pihak yang anti kepada Islam? Yang alih-alih mengopinikan Islam secara baik, bahkan justru sebisa mungkin memberikan stigma negatif bagi Islam dan kaum Muslim.

Kita bisa lihat dalam pemberitaan-pemberitaan yang lalu. Saat ditangkap seorang yang diduga teroris misalnya, media langsung menyorot segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam seperti sajadah, buku-buku Islami sampai gambar Ka'bah. Seolah-olah ingin mengopinikan, semakin Islami Anda maka akan semakin dekat Anda dengan terorisme.

Pernyataan yang menyudutkan Islam ditayangkan terus-menerus, tak berimbang dengan pernyataan lain yang lebih logis tapi membela Islam. Media berseberangan dengan Islam, dan pasalnya kebanyakan orang dipengaruhi oleh media, bagaimana caranya?

Tapi saya yakin, Allah ya pasti punya cara, yang perlu kita lakukan toh hanya perintah Allah yaitu beriman dan meyakini akan pertolongan Allah itu, dan beramal seshalih-shalihnya, semaksimal mungkin yang kita mampu. Pasti ada jalannya, Rasulullah dan sahabatnya pun sudah berkali-kali membuktikannya.

Siapa sangka itu terjadi di zaman kita. Revolusi komunikasi via media sosial menjungkirbalikkan semua logika. Media mainstream semisal TV dan koran kehilangan pangsa pasar yang sangat besar, generasi baru digital lebih banyak menghabiskan waktunya di internet, di media sosial.

Yang berarti, informasi menjadi sesuatu yang lebih egaliter, tidak lagi didikte dari atas ke bawah, tapi horizontal antar kita. Artinya, umat lebih mudah untuk mendapatkan kebenaran, sebab siapa saja pada zaman media sosial ini bisa menjadi sumber berita.

Memang ada kurang dan lebihnya, hoax yang semakin umum di antara kita, cyber-bullying, sampai tiadanya privasi menjadi kekurangan. Hanya saja kelebihannya juga banyak, opini bisa cepat dibentuk di antara umat, dan umat lebih bisa satu perasaan.

Lihat saja, bagaimana heroisme para mujahid Ciamis. Opini umum yang tadinya buruk terhadap aksi #BelaQuran 212, sebab dikaitkan dengan makar, menggoyang negara, dan sarat politis, dihabisi bahkan dibalikkan secara indah lewat langkah-langkah kaki mereka. Bahasa medianya killer content.

Walau media mainstream menutupi, tapi jiwa-jiwa yang jujur tidak bisa tidak, tertaut satu sama lain, haru bercampur bangga juga malu menjalar dengan cepat, menggerakkan para mujahid Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok, untuk melakukan hal yang serupa, berjalan kaki berjamaah menuju ibukota. Mereka ingin membuktikan, tak ada yang bisa melawan panggilan iman. Epik!

Peserta Aksi #BelaQuran 212 menjadi saksi bagaimana saat perasaan umat menjadi satu sebab opini umum berpihak pada mereka. Jutaan massa yang berkumpul di ibukota tak buyar oleh panas, tetap khusyuk dalam hujan, tetap damai walau hati mereka terluka, tetap berbagi walau mereka berkekurangan.

Allah punya cara, dan kita tak punya kesempatan lebih baik daripada hari-hari ini dalam membentuk opini positif bagi Islam dan perjuangan dakwah. Sebab hari-hari ini bukan awak media yang menentukan apa yang jadi pembicaraan, tapi ide dan jari-jari kitalah yang menentukan. Opini ada di ujung jari, tergantung kita mau berpartisipasi atau hanya jadi penonton.

Bendera Rasulullah yang dulu ditakuti dan diopinikan negatif, bisa disukai, diarak, digiring, diangkat dengan bangga oleh kaum Muslim, bahkan ibu-ibu pun berfoto welfie dengan bangga dengan bendera itu. Beberapa channel televisi nasional dan merek roti terkenal sudah merasakan efek kebangkitan opini umum kaum Muslim ini.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita turut serta membentuk opini positif ini, terus-menerus berjuang sampai umat sepakat dengan penegakan syariah dan khilafah? Walau hanya dengan mengklik like dan share postingan positif tentang Islam? Kalau belum, bisa jadi Anda belum serius dalam dakwah!

Felix Y. Siauw: Member @YukNgajiID
---

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 187

Agar Tidak Fokus Pada Kekurangan


ilustrasi: gambar perempuan mexico masuk Islam

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, saya seorang ibu sekaligus pengemban dakwah. Selama ini suka iri melihat teman-teman yang dalam pandangan saya memiliki banyak kelebihan. Bisa menulis, berbicara dengan lancar menyampaikan ide-ide Islam terkait pemikiran-pemikiran dan opini-opini yang sedang berkembang di tengah-tengah umat. Terkadang saya merasa malu, kok tidak bisa seperti mereka. Bagaimana saya harus memulai agar muncul keberanian, dan tidak fokus pada kekurangan saya. Mohon sarannya.

Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
TN-O857 x x x

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Ibu TN yang baik,

Tak ada manusia yang sempurna, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Meski di antara makhluk lainnya, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Padanya diberikan akal pikiran dan perasaan yang membedakannya dari makhluk Allah lainnya.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" (TQS. At-Tin: 4)

Kegelisahan yang Anda rasakan adalah wajar. Tapi sebaiknya jangan terlalu dipikirkan. Yang lebih penting adalah bagaimana mengoptimalkan kelebihan yang Anda miliki, dan mengolah kekurangan menjadi kekuatan tersendiri. Saya yakin, Anda juga bisa melakukannya.

Ibu TN yang baik,

Tidak percaya diri muncul ketika kita merasa ragu-ragu dalam melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Kita merasa bahwa apa yang akan kita lakukan kurang baik di mata orang lain, atau kita merasa takut salah dalam melakukan sesuatu. Padahal kekhawatiran kita itu tidak mendasar. Bisa jadi perasaan kita mengatakan apa yang kita lakukan kurang baik di mata orang lain, padahal baik di mata Islam. Bila Anda merasa benar, jangan ragu-ragu untuk melangkah.

Ibu TN yang baik,

Hal pertama yang penting dilakukan agar muncul rasa percaya diri adalah dengan menyadari bahwa Allah SWT, menciptakan kita berkualitas unggul dan dalam kondisi terbaik. Langkah berikut, kenali potensi Anda. Banyak orang rendah diri karena dia tidak menjalani hidup sesuai dengan potensinya. Mereka melupakan atau tidak melihat potensinya dengan benar.

Cari tahu kelebihan yang Anda miliki, selami kelemahannya. Tulislah apa saja yang mengganggu diri Anda sehingga tidak punya keberanian dan tidak percaya diri. Tuliskan juga segala potensi yang Anda miliki. Ketika Anda tahu tentang potensi yang dimiliki, asahlah, pelajari pengetahuan yang berkaitan dengan potensi yang Anda miliki itu. Tetaplah fokus pada kelebihan bukan kekurangan. Insya Allah, kepercayaan diri akan segera muncul.

Ibu TN yang baik,

Teruslah memotivasi diri sendiri agar Anda memiliki kekuatan untuk menerima kekurangan, tidak menghambat kelebihan yang Anda miliki. Bayangkan jika Anda fokus pada kelebihan, akan banyak sekali keuntungan yang akan Anda dapatkan. Ucapkan kata-kata positif ke dalam benak Anda, dengan begitu Anda telah membangkitkan energi positif ke dalam pikiran Anda sendiri.

Jangan biarkan pikiran negatif tentang kekurangan Anda menghambat kelebihan Anda yang sangat berharga. Segeralah lakukan aktivitas untuk mengoptimalkan kelebihan, dan mengolah kekurangan. Ketika Anda sudah mengoptimalkan kelebihan yang Anda miliki, maka kekurangannya akan menjadi tak terlihat. Dan muncullah rasa percaya diri.

Setelah muncul percaya diri, Anda akan lebih banyak melakukan dan mencoba dibandingkan saat rendah diri. Saat Anda memiliki kea beranian, maka peluang keberhasilan akan semakin besar.

Ibu TN yang baik,

Kurangnya percaya diri biasanya juga terkait dengan seberapa banyak ilmu yang kita miliki. Maka jangan bosan untuk terus belajar. Bukankah opini tentang Islam itu mesti disampaikan dengan perkataan atau tulisan?

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 187
---

Sekali Lagi, Khilafah Bukan Ancaman



Tuntutan sebagian pihak untuk mewaspadai penyebaran (ajaran Islam) khilafah dengan alasan mengancam bangsa ini, tentu sangat kita sayangkan. Untuk itu kita perlu kembali menegaskan, bahwa kewajiban penegakan khilafah adalah bagian dari kewajiban syariah Islam. Dalil-dalilnya sangat jelas, bersumber dari Al-Qur’an, Sunnah, dan ijma' sahabat. Tidaklah mengherankan kalau semua sahabat dan para Imam Mazhab sepakat tentang kewajiban pengangkatan khalifah, meskipun terkadang mereka berselisih siapa yang layak menjadi khalifah. Imam Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim misalnya mengatakan: ”mereka [para sahabat] telah sepakat wajib atas kaum Muslimin mengangkat seorang khalifah.”

Kalaupun ada yang berseberangan, hanyalah segelintir orang saja. Sebagaimana yang dijelaskan Imam Qurthubi dalam Al-Jami' li Ahkamil Qur'an: "Tidak ada perbedaan pendapat mengenai wajibnya hal itu (mengangkat khalifah) di antara umat dan para imam [mazhab], kecuali apa yang diriwayatkan dari Al-Asham, yang dia itu memang 'asham' (tuli) dari syariah. Demikian pula setiap orang yang berkata dengan perkataannya serta mengikutinya dalam pendapatdan mazhabnya.”

Lantas bagaimana mungkin, siapapun yang beriman kepada Allah SWT, menganggap kewajiban yang berasal dari Allah SWT menjadi ancaman? Apalagi khilafah akan menerapkan syariah Islam secara totalitas yang akan membawa kebaikan bagi semua manusia (rahmatan lil 'alamin). Bagaimana mungkin, syariah Islam, yang berasal dari Allah SWT, yang memiliki sifat ar-Rahman dan ar-Rahim (Maha Pengasih dan Maha Penyayang), kalau diterapkan memberikan keburukan pada masyarakat?

Justru apa yang kita saksikan dan rasakan sekarang ini, tanpa khilafah, tanpa syariah Islam, bukan hanya umat Islam tapi juga umat manusia, hidup diliputi banyak persoalan yang tidak bisa diselesaikan. Di Indonesia, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) angka kemiskinan pada Maret 2015 sebesar 10,86 persen atau 28,01 juta orang. Jumlah yang tidak sedikit.

Sementara Badan Pangan dan Pertanian Perserikatan Bangsa-Bangsa atau Food and Agriculture Organization (FAO) mencatat sebanyak 19,4 juta penduduk Indonesia tidur dengan perut lapar setiap hari. Korupsi juga masih merajalela yang berakibat kerugian yang sangat besar bagi negara.

Ditambah lagi dengan penyakit yang muncul akibat penyimpangan seksual. Menurut data Kemenkes, sejak tahun 2005 sampai September 2015, terdapat kasus HIV sebanyak 184.929 yang didapat dari laporan layanan konseling dan tes HIV.

Perlu kita tegaskan, semua ini merupakan buah dari sistem kapitalisme-sekuler yang dianut oleh negara ini. Lihatlah, meskipun banyak pihak yang mengklaim negara ini berideologi Pancasila, tapi kenyataannya yang dipraktekkan adalah kapitalisme. Sistem ekonominya neoliberal, sistem politiknya demokrasi, sementara pluralisme dan liberalisme dijadikan sebagai pandangan hidup.

Seharusnya, saat ada umat Islam yang memperjuangkan syariah Islam, ditanggapi secara terbuka. Sebab, syariah Islam justru merupakan solusi nyata bagi berbagai persoalan yang dihadapi bangsa ini. Bukan sebaliknya, malah dianggap ancaman. Sudah sangat jelas yang harus kita jadikan musuh adalah ideologi kapitalisme dan negara-negara imperialis yang mengusungnya. Merekalah musuh sejati kita, bukan Islam, bukan syariah Islam, dan bukan pula umat Islam yang memperjuangkannya.

Kita tentu patut curiga, tudingan anti Pancasila, anti NKRI, justru upaya untuk menjauhkan umat dari syariah Islam, yang pada gilirannya adalah upaya untuk mempertahankan ideologi penjajah kapitalisme yang nyata-nyata membawa penderitaan terhadap rakyat. Sebab, yang paling takut syariah Islam dan khilafah tegak adalah negara-negara imperialis seperti Amerika Serikat, Inggris dan sekutu-sekutunya. Karena mereka tahu, hanya dengan tegaknya khilafah yang menerapkan syariah Islam-lah yang bisa menghentikan penjajahan mereka.

Ketakutan yang sama terjadi ketika penjajah Belanda mengkriminalkan siapapun yang memiliki pemikiran yang berhubungan dengan syariah Islam dan khilafah. Seperti yang ditulis koran Het Nieuws van Dag voor Nederlandsch-Indie, pada tanggal 10 Juni 1915: ”Siapa saja yang menghidupkan di antara penduduk pribumi gagasan sesat yang ada hubungannya dengan Khalifah Turki, pada dasarnya melakukan tindakan pengkhianatan terhadap kekuasaan kami.”

Untuk itu, kita seharusnya tidak lagi terjebak dalam strategi klasik penjajah: pecah-belah dan adu-domba. Strategi yang telah memperlemah kita di masa penjajahan. Dan tampaknya strategi ini kembali diulangi oleh penjajah. Mereka mengadu-domba umat Islam termasuk para ulama dan tokoh-tokohnya. Yang muncul kemudian adalah sikap saling curiga dan menghancurkan. Padahal sudah seharusnya sesama umat Islam itu adalah bersaudara, saling memperkuat, bukan saling memperlemah.

Bukankah Rasulullah SAW sudah memperingatkan tentang larangan menzalimi sesama Muslim? Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, ”...Seorang Muslim itu adalah saudara bagi Muslim yang lain, maka ia tidak boleh menzaliminya, menelantarkannya, dan menghinakannya...” Allahu Akbar! []farid wadjdi

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 186
---

Celestial Entrepreneur (5) Belajar Dari Abu Bakar As-Shiddiq



Oleh: Fahmi Shadry, Anggota DPP Lajnah Khusus Pengusaha HTI, Pebisnis di bidang Digital Communication Technology

Abu Bakar As Shiddiq adalah sahabat Nabi SAW yang merupakan orang ketiga yang menerima dakwah Nabi Muhammad SAW. Ketika Rasulullah SAW menyampaikan dakwah kepada Abu Bakar, ia menyimak dengan cermat apa yang diucapkan Nabi Muhammad SAW. Tak sedikitpun keraguan ada di dalam dirinya. Ia yakin, perkataan itu benar karena Rasulullah SAW tidak pernah berbohong. Tanpa banyak cakap, Abu Bakar langsung bersyahadat. Rasulullah SAW terlihat gembira menyambut keIslaman Abu Bakar, sosok pengusaha sukses yang sangat dihormati di Makkah.

Ia telah dikenal oleh kaumnya sebagai orang mulia, berbudi luhur, dan selalu menolong orang lain. Sehingga banyak orang yang selalu mendatanginya baik untuk minta tolong maupun untuk keperluan bisnis. Dalam kesempatan baik seperti ini ia selalu mengajak teman akrabnya untuk masuk Islam. Sungguh luar biasa setelah satu minggu Abu Bakar masuk Islam, ada enam sahabat karibnya dari kalangan pengusaha yang juga masuk Islam, dengan sebab dakwahnya. Mereka juga termasuk enam dari 10 orang yang dijanjikan oleh Allah masuk Surga, yaitu 'Utsman bin Affan, Thalhah bin 'Ubaidillah, Zubair bin 'Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Abu 'Ubaidah bin Jarrah.

Abu Bakar sangat memperhatikan nasib orang lemah, kaum miskin dan para budak. Seperti diceritakan oleh Ibnu Katsir, berkaitan dengan firman Allah SWT, "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka, yaitu orang yang mengeluarkan hartanya (di jalan Allah), untuk menyucikan jiwanya. Dan ia tidak mengharapkan balasan untuk kebaikannya, selain menghendaki wajah Tuhannya yang Mahatinggi. Dan pasti ia kelak mendapat Keridhaan” (TQS. al-Lail [92]: 17-21). Telah disebut oleh beberapa mufassir bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang sikap Abu Bakar yang sangat spektakuler dalam memanivestasikan keimanan dan ketakwaannya melalui harta yang dimilikinya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Urwah bahwa Abu Bakar ra. telah memerdekakan tujuh orang budak yang disiksa oleh pemiliknya karena beriman kepada Allah SWT, termasuk di antaranya Bilal bin Rabah. Al-Hakim meriwayatkan dari Amir bin Abdullah bin Al Zubar dari bapaknya, bahwa Abu Quhafah, ayah Abu Bakar, berkata kepada Abu Bakar, "Aku lihat engkau memerdekakan budak-budak yang lemah. Anakku, sekiranya kau memerdekakan budak-budak yang kuat, pasti mereka akan membela dan mempertahankanmu.” Mendengar ucapan ayahnya, Abu bakar berkata, ”Ayah, aku hanya mengharapkan apa yang ada di sisi Allah.” Maka, turunlah ayat di atas yang membenarkan sikap Abu Bakar.

Abu Bakar merupakan sahabat Nabi yang turut menemani Rasulullah ketika berhijrah. Ia berkorban jiwa dan raga untuk melindungi Rasulullah selama perjalanan hijrah. Selain itu ia membawa hartanya sebanyak 6000 dirham perak (setara Rp420 juta) sebagai bekal berhijrah.

Pada suatu waktu ia pernah menginfakkan seluruh hartanya untuk dakwah Islam. Ketika Rasulullah SAW bertanya, ”Wahai Abu Bakar apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu”, ia menjawab singkat, ”Allah dan Rasulnya". Sikap ini yang membuat Umar bin Khattab tercengang ketika itu dirinya hanya sanggup menginfakkan separuh hartanya.

Ia adalah khalifah pertama setelah Rasulullah SAW wafat. Kecintaan Rasulullah SAW kepadanya dilukiskan dalam sabdanya, ”Andai kuambil kekasih di antara manusia pasti kujadikan Abu Bakar sebagai khalilku.”

Semoga kita bisa meneladani Abu Bakar As Shiddiq ra., seorang pengusaha Muslim generasi awal yang tunduk pada kebenaran Islam, bersedia berjuang jiwa raga dan hartanya demi tegaknya Islam di muka bumi. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita dan memberikan keistiqamahan untuk terus berjuang menegakkan syariah dalam naungan khilafah. Aamiin. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 186
---

Mengembalikan Ayat Suci Ke Posisi Tertinggi



Akibat Demokrasi

Sikap negara yang meletakkan konstitusi di atas ayat suci, menurut Ketua DPP HTI Shiddiq Al-Jawi akibat penerapan prinsip demokrasi dalam bernegara. Demokrasi itu prinsip utamanya adalah kedaulatan di tangan rakyat (sovereignty belongs to the people). Maknanya, manusialah yang membuat hukum, bukan yang lain. ”Penerapan demokrasi inilah yang menjungkirbalikkan segala norrna agama, yang kemudian menjadi subordinat atau ditundukkan di bawah hukum buatan manusia," jelas pengasuh rubrik Ustadz Menjawab di Media Umat.

Dengan prinsip demokrasi ini, negara berusaha menempatkan ayat konstitusi (hukum positif) di atas ayat suci (norma syariah Islam). "Jelas ini adalah pandangan yang bermasalah,” tandasnya.

Ia menjelaskan, bagi seorang Muslim, hukum Islam itu posisinya lebih tinggi daripada hukum buatan manusia. ”Jadi masalah ini tidak main-main, karena sudah menyangkut urusan keimanan bagi seorang Muslim,” tuturnya.

Ia kemudian mengutip Firman Allah SWT berfirman dalam QS. Al-Maidah ayat 50. ”Afahukmal jaahiliyyati yabghuun. Wa man ahsanu minallahi hukman liqaumiyyuuqinun”. ("Apakah hukum Jahiliyah [hukum selain Islam] yang mereka kehendaki? Dan hukum siapakah yang lebih baik daripada hukum Allah bagi orang-orang yang yakin?”)," ucap Shiddiq.

Posisi Ayat Suci

Ketua Lajnah Siyasiyah DPP HTI Yahya Abdurrahman menegaskan, hukum dan aturan Allah SWT pun harus ditempatkan di atas hukum dan aturan buatan manusia. Apalagi hukum dan aturan Allah SWT yang sempurna pasti membawa kemaslahatan bagi kehidupan manusia baik di dunia maupun di akhirat.

Ia menilai, tidak layak umat Islam berpijak pada paham sekulerisme yang sesat dan menyesatkan, yang telah merendahkan kedudukan Al-Qur’an di bawah konstitusi. Padahal Allah SWT telah berflrman: “Dialah Yang mempunyai kekuasaan tertinggi di atas semua hamba-Nya” (TQS. al-An'am: 61).

”Tidak ada hukum yang lebih baik, adil dan bijaksana selain hukum Allah SWT semata,” tandasnya.

Ia pun mengutip firman Allah SWT dalam QS. Al-Maidah [5]: 49 yang artinya: "Hendaklah kamu memutuskan perkara di tengah-tengah mereka menurut apa yang telah Allah turunkan dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu mereka."

Ayat itu, jelasnya, mengharuskan kaum Muslim tunduk dan ridha terhadap syariah Allah SWT. Mereka harus selalu merujuk pada hukum yang terdapat dalam Al-Qur’an dan hadits dalam menyelesaikan berbagai persoalan kehidupan mereka.

”Tidaklah pantas seorang lelaki Mukmin maupun perempuan Mukmin, jika Allah dan Rasul-Nya telah menetapkan suatu perkara, memiliki pilihan lain dalam urusan mereka. Siapa saja yang mendurhakai Allah dan Rasul-Nya, sungguh dia telah tersesat dengan kesesatan yang amat nyata.” (TQS. al-Ahzab [33]: 36).

Cara Mewujudkan

Shiddiq Al-Jawi menjelaskan langkah menuju upaya menjadikan ayat suci sebagai konstitusi tertinggi. Pertama, harus ada dakwah Islam kepada publik yang terus menerus untuk menjelaskan keunggulan dan dan keutamaan syariah Islam, termasuk dakwah untuk menjelaskan kebatilan demokrasi yang menjadi sumber penolakan keunggulan syariah Islam.

Kedua, harus ada formulasi syariah Islam yang komprehensif dalam segala bidang kehidupan, yang terwujud dalam sebuah rancangan konsitusi syariah Islam.

Ketiga, harus ada negara yang berkomitmen kuat untuk menerima rancangan konstitusi syariah Islam tersebut. Dan tak ada negara yang paling layak untuk menerapkan rancangan konstitusi syariah Islam itu, kecuali negara khilafah.

Habib Rizieq Shihab:

Ayat Suci Di Atas Ayat Konstitusi

  “Saya juga mengingatkan, bagaimana Allah menyindir di surat Al-Maidah ayat 50 terhadap mereka yang tidak mau menggunakan hukum Allah, yang tidak mau tunduk kepada hukum Allah. Apa yang Allah katakan untuk mereka? Apakah mereka menghendaki hukum jahiliyah? Apakah mereka menghendaki ketetapan jahiliyah? Selanjutnya Allah menyatakan, tidak ada satupun hukum, dari makhluk manapun, yang lebih baik dari hukum Allah, bagi mereka yang yakin beriman kepada Allah.
  Karena itu kepada segenap kaum Muslimin Indonesia, tancapkan dalam sanubarimu yang paling dalam, bahwa hukum Allah di atas segalanya. Bahwa ayat suci adalah di atas ayat konstitusi. Kenapa? Karena ayat suci adalah kalam Ilahi Firman Ilahi. Hingga menjadi harga mati untuk dipatuhi, untuk ditaati. Tidak boleh diganti. Tidak boleh direvisi.”

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 188
---

Pengusaha Buat Resolusi Takwa



Buat Resolusi Takwa, Bukan Sekadar Profit!

Oleh: Risky Irawan, Ketua Lajnah Khusus Pengusaha HTI Kota Bogor, Praktisi Bisnis Syariah

Pengusaha-pengusaha Muslim saat ini dalam kondisi yang terpuruk. Bagaimanapun tidak, negeri-negeri Islam sekarang berada pada keadaan politik yang semakin terperosok bahkan bisa dikatakan paling buruk, karena pada hakikatnya mereka masih dijajah dan bahkan dikuasai oleh negara-negara kapitalis. Mereka tunduk di bawah kepemimpinan berpikir demokrasi kapitalis. Memang betul adanya para penjajah tidak lagi bercokol di negeri-negeri Islam, tetapi secara de facto, mereka masih mengeksploitasi negeri-negeri Muslim.

Jujur saja, betapa sulitnya Anda berkompetisi dengan kekuatan ekonomi asing dan aseng bukan? Terlebih kaum Muslim sendiri masih banyak yang berkompetisi di saat kita semua perlu berkolaborasi. Bagaimana dengan tekanan dari internal pemimpin negeri ini? Pengusaha semakin diberatkan dengan pajak yang mencekik. Padahal sama-sama kita ketahui dalam Islam, pajak bukanlah sumber utama pembangunan. Anda sebagai pengusaha dituntut untuk menyejahterakan karyawan, tapi pemerintah sendiri seolah-olah malah lari dari kewajibannya memberikan pelayanan kesehatan bagi seluruh rakyatnya dengan memberikan wewenang penuh kepada pihak swasta untuk membisniskan jaminan kesehatan baik bagi si kaya maupun si miskin.

Bagaimana dalam melakukan perizinan? Apakah sudah betul-betul menjaga para pejabatnya dari praktek riswah (suap-menyuap)?

Bagaimana dengan praktek perbankan yang masih didominasi oleh riba? Alih-alih ingin membantu para pebisnis UMKM dari keterbatasan modal, malah menjebaknya dalam lubang dosa yang amat sangat pedih.

Kita semakin dipaksa didekatkan dengan kubangan dosa, dan dijauhkan dari Islam.

Dengan beberapa fakta diatas apa yang bisa kita lakukan? Diam saja dari pola yang terstruktur ini? Memang sih ada yang bertahan, tapi sampai berapa lama? Mari kita berjuang bukan hanya untuk omzet Anda saja, bukan hanya untuk laba dan popularitas bisnis Anda saja. Tapi pengusaha Muslim sejati harus bisa lebih dari itu. Bagaimana kita betul-betul bisa mengontribusikan diri berada di jalan Allah dengan segenap kemampuan yang ada. Bukan dengan apa yang Anda bisa lakukan, tapi lakukan dengan segenap kekuatan Anda. Lakukan dengan penuh ketakwaan, ikut berkontribusi aktif memperjuangkan Islam, memperjuangkan agama Allah. Sudah sepatutnyalah kita kembali kepada rules Allah. Menjalankan bisnis yang berporos pada ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya.

Bagaimana pengusaha yang bertaqwa itu?

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, sebagaimana dikutip Imam as-Suyuthi dalam Ad-Durr al-Mantsur, berkata, ”Takwa kepada Allah itu bukanlah berpuasa pada siang hari, shalat pada malam hari dan memadukan keduanya. Namun, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang telah Allah haramkan dan menunaikan apa saja yang telah Allah wajibkan."

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya, Zad al-Muhajir ila Rabihi, juga berkata, "Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan mengharapkan ridha-Nya, baik atas perkara yang Allah perintahkan maupun Allah larang.”

Orang yang bertakwa juga tidak akan berani memakan harta dan melakukan transaksi riba. Orang yang bertakwa tidak akan mau menghalalkan segala cara dalam melakukan aktivitas hidupnya. Ia senantiasa menggunakan rules dan menghadirkan Allah dalam setiap hembusan nafas. Ia akan menolak segala sesuatu yang bertentangan denganlslam.

Orang yang bertakwa juga tidak akan menolak Islam. Orang yang bertakwa pun tidak akan mempersempit makna Islam sebagai agama yang mengatur urusan pribadi. Ia akan menggunakan Islam sebagai agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Ia berupaya mengamalkan Islam sekuat tenaga.

Orang bertakwa pasti menginginkan syariah diterapkan secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Dan tentunya semua itu akan terjadi dalam naungan khilafah. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 188
---

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam