Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Pendahuluan Materi Thaharah



PENDAHULUAN

Thaharah menurut bahasa adalah an-naqawah (bersih) dan at-tanazuh min ad-danas (suci dari kotoran). Thaharah menurut syara’ adalah menghilangkan hadats yang bisa menghalangi shalat, thawaf, menyentuh mushaf dengan menggunakan air, atau menghilangkan hukum hadats dengan tanah, dan menghilangkan najis dengan air dan tanah atau selain keduanya. Mandi dari junub, haid dan nifas, itu termasuk dalam menghilangkan hadats besar, sedangkan wudhu dilakukan untuk menghilangkan hadats kecil. Keduanya tercakup dalam pengertian thaharah. Seorang Muslim dipandang suci sepenuhnya dengan cara mandi dan berwudhu, selain dengan menghilangkan najis.

Thaharah itu merupakan ibadah dan salah satu amal, sehingga thaharah itu berbeda dengan muamalah yang merupakan tasharuf qauliyah (tindakan yang bersifat ucapan), sehingga thaharah itu memerlukan niat, berdasarkan sabda Rasulullah Saw.:

“Sesungguhnya sahnya amal itu tergantung pada niat. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas) berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya. Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin dinikahinya, maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.” (HR. Muslim dan Bukhari dari jalur Umar bin Khaththab)

Terdapat beberapa nash yang menetapkan bahwa hanya air saja yang dapat digunakan untuk menghilangkan dua jenis hadats ini, berbeda dengan pendapat Abu Hanifah yang membolehkan berwudhu dengan nabidz (air rendaman kurma). Ketika tidak ada air, maka bisa diganti dengan tanah dalam tayamum sebagai pengganti yang bersifat temporer, baik untuk mandi ataupun untuk berwudhu, hingga air ditemukan.

Sedangkan menghilangkan najis itu tidak memerlukan niat. Ini berbeda dengan pendapat Malik dan Ahmad yang mengharuskan niat. Yang dituntut hanya menghilangkan najis itu saja, dengan cara, alat, atau material apapun. Ini berbeda dengan Malik, Syafi’i, dan Ahmad yang mengharuskan menghilangkan najis hanya dengan air saja.
Badan atau benda itu disebut najis selama dilekati najis, dan disebut suci ketika tidak ada najis padanya. Hukum tersebut berlaku pada saat sekarang (pada saat najis itu ditemukan), bukan dalam waktu yang akan datang atau pada waktu yang telah lalu, sehingga ketika badan atau benda tidak dilekati najis maka kita tetapkan bahwa badan atau benda tersebut suci, tanpa perlu mengetahui apakah sebelumnya ada najis atau tidak, dan tanpa perlu kita ketahui bagaimana najis itu bisa hilang jika kita ketahui bahwa sebelumnya najis. Begitu pula badan atau benda itu kita anggap suci selama tidak terkena najis.

Benda-benda najis itu ada sembilan: empat kategori berasal dari manusia, yakni air kencing (urine), tinja (feces), madzi, wadi; tiga kategori berasal dari hewan yakni anjing, babi, dan bangkai; dan satu kategori berasal dari keduanya yakni darah yang mengalir, dan satu kategori lagi berasal bukan dari keduanya yakni khamar. Benda-benda najis tersebut tidak bisa disucikan (dirubah menjadi benda-benda yang suci), dan ketika benda-benda najis tersebut mengenai badan atau materi yang suci maka bisa menyebabkannya menjadi najis, sehingga badan atau materi yang suci tadi disebut mutanajjis (benda yang terkena najis), dan benda-benda mutanajjis (benda yang terkena najis inilah) yang menjadi topik pembahasan menghilangkan najis. Inilah ringkasan buku yang saya susun, dan akan saya jelaskan secara rinci kepada para pembaca sekalian.

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Rohis Diawasi, Rezim Islamophobia?



Menteri Agama Lukman Hakim kembali melontarkan pernyataan nyinyir kepada umat Islam. Ia mengatakan bahwa kegiatan Rohis (Kerohanian lsIam) perlu diawasi dengan alasan ada bibit-bibit radikalisme lahir dalam kegiatan pembinaan agama Islam di sekolah-sekolah tersebut.

Meski membantah, Menteri Agama tetap menegaskan bahwa kepala sekolah atau madrasah haruslah mengawasi kegiatan keagamaan yang dibuat oleh para siswanya. "Sesungguhnya, yang benar adalah saya mengajak semua guru-guru untuk dapat memberikan perhatian penuh kepada siswa-siwa kita," ujarnya.

Jadi setiap madrasah, sekolah apapun jenjangnya, apakah dasar, menengah, atau atas, khususnya para kepala sekolahnya, menurut Lukman, harus lebih memberikan perhatian yang besar, khususnya terkait kegiatan keagamaan yang dilaksanakan para siswa-siswinya.

Tuduhan keji terhadap Rohis sebagai sarang bibit-bibit radikalisme bukan hanya kali ini. Sebelumnya, stasiun TV swasta Metro TV pernah menyebut bahwa terorisme masuk dari masjid-masjid sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler agama di sekolah.

Upaya menyudutkan Rohis dan Islam juga terbukti dengan adanya survei yang dilakukan oleh Wahid Foundation. Dalam survei tersebut Wahid Foundation menyebut bahwa 86 persen Rohis ingin pergi berperang ke Suriah.

Diungkap Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation, dalam survei itu juga terpetakan karakteristik kelompok radikal di Indonesia yakni berusia muda dan laki-laki, cenderung memahami ajaran agama secara literalis. Mereka banyak terpapar informasi keagamaan yang berisi kecurigaan dan kebencian, cenderung mengingkari atau menentang pemenuhan hak-hak kewarganegaraan terhadap kelompok lain yang tidak disukai, cenderung membenarkan dan mendukung tindakan dan gerakan radikal.

Juru bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Iffah Ainur Rochmah menyatakan bahwa salah kaprah apabila tuduhan-tuduhan tersebut ditujukan kepada anak-anak Rohis seluruhnya. Dalam sejarahnya, anak Rohis justru anak-anak yang membanggakan dan berprestasi dalam pendidikan.

”Jelas-jelas anak-anak Rohis adalah anak manis yang tidak memunculkan masalah apapun bahkan banyak yang prestasi akademisnya membanggakan. Kok malah dianggap berbahaya?” ungkapnya kepada Media Umat.

Iffah mengatakan faktor ditakutinya Rohis hingga harus diawasi oleh pemerintah karena anak-anak Rohis bisa menjadi generasi baru yang tulus dan peduli pada persoalan bangsa yang akan kritis pada negara.

”Kritis terhadap kezaliman rezim dan mendorong kembali pada syariat Islam secara kaffah. Kalau memang ini alasan di balik rencana pengawasan Rohis maka ini preseden buruk yang menunjukkan rezim hari ini mengidap Islamophobia!” tegas Iffah.

Rohis bisa menjadi harapan baru generasi Islam. Ditambah lagi, kondisi pendidikan Islam yang jauh dari aturan Islam di tengah gempuran sistem liberal yang mengatasnamakan kebebasan sedang merusak generasi Islam.

"Rohis meminimalisir dampak kerusakan bahkan memelopori komunitas pemuda yang beridentitas Islam di tengah gempuran identitas sekuler liberal, bahkan Rohis bisa turut menjadi bagian penting gerbong kebangkitan Islam,” kata Iffah.

Dalam perkembangan faktual sekarang, justru Islamlah yang dibutuhkan dalam sistem pendidikan sekarang, karena pendidikan sekuler sekarang jelas-jelas semakin banyak menghasilkan kebobrokan.

”Di antaranya tidak adanya semangat mendalami dan menguasai ilmu apalagi mengembangkan. Akhlak dan perilaku liberal, muncul banyak masalah baru di kalangan anak muda. Bunuh diri, plagiarisme, duta ide liberal, tren artis, aborsi remaja, narkoba, tawuran, dan lain-lain. Kondisi ini sangat membutuhkan Islam,” jelas Iffah.

Pernyataan pengawasan terhadap Rohis, menurut Iffah, dapat menjauhkan pendidikan Islam. Hal tersebut bisa memperburuk kondisi pelajar dan pendidikan saat ini. Bahkan mungkin juga bisa menghasilkan generasi yang justru antipati terhadap Islam.

Praktisi pendidikan SM Pertiwiguno mengatakan, Islam sangatlah berperan penting dalam ilmu dan pendidikan. Tidak ada dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, semuanya terkait. Dan kalau ditanya seberapa pentingnya Islam dalam ilmu dan sistem pendidikan, kita tanya kembali seberapa inginnya Anda bahagia?” ungkapnya.

Menurutnya, ketika kita mempelajari ilmu Islam dan memakai sistem pendidikan Islam itulah jalan kebahagiaan yang sebenarnya. ”Itulah pentingnya pendidikan Islam, untuk menemukan sebuah kebahagiaan dalam menuntutut ilmu, yah kalau salah milih jalan kita nanti tidak akan bahagia," kata Kepala Sekolah salah satu sekolah Islam di kota Bogor tersebut. []fatihsholahuddin

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 200
---

Dianggap Bungkam Dakwah Islam, Ulama Dan Umat Tolak Perppu Ormas



Dianggap sebagai upaya pemerintah untuk membungkam dakwah penerapan syariat lslam secara kaffah, para ulama dari berbagai daerah di Indonesia ramai-ramai menolak Peraturan Presiden Pengganti Undang-Undang No.2 Tahun 2017 tentang Perubahan atas Undang-Undang No.17 tahun 2013 tentang Organisasi Kemasyarakatan (Perppu Ormas).

Di Surabaya misalnya, sekitar 18 ulama yang mewakili Forum Komunikasi Ulama Ahlussunah Wal Jamaah Jawa Timur menyampaikan lima alasan penolakannya kepada DPRD.

”Perppu tersebut berpotensi menyebabkan terjadinya kriminalisasi terhadap ulama yang menyampaikan aspirasi umat Islam dan upaya penghambatan dan pencekalan, pencelakaan para da'i akibat menyampaikan dakwahnya," tegas Ketua Forum Komunikasi Ulama Aswaja Jatim/Pengasuh Ponpes Al-Anwar, Mojokerto KH Abdurrahman membacakan salah satu alasannya, Jum'at (14/7/2017) di Ruang Badan Musyawarah DPRD Jawa Timur.

Sedangkan di Sumatera Utara, selain delegasi dari beberapa pondok pesantren turut hadir pula perwakilan dari Ormas untuk menyampaikan aspirasi penolakannya kepada DPRD Sumut. Di antaranya adalah Forum Umat Islam (FUI), Front Pembela Islam (FPI) Kota Medan dan Deli Serdang, Majelis Mujahidin Indonesia (MMI), Forum Islam Bersatu, Hizbut Tahrir Indonesia (HTI), serta BKM Masjid Agung Medan.

"Kami menolak Perppu ini. Kami berharap untuk disampaikan kepada Presiden, agar tidak secara nafsu mengeluarkan sesuatu yang dapat merugikan bangsa kita sendiri," kata Hamdani dari FUI, Senin (17/7) di Gedung DPRD Sumut.

Di Jawa Barat sekitar seribu massa melakukan aksi unjuk rasa di depan Gedung Sate untuk menolak Perppu tersebut. "Ini salah satu bentuk kepedulian kami melihat kondisi sekarang yang mengenaskan. Dengan itu (Perppu) tentunya melukai kaum Muslim," ujar Forum Ulama Ukhuwah (FUU) Jawa Barat/Pimpinan Ponpes Darul Bayan Sumedang KH Ali Bayanullah, Al Hafidz.

Sedangkan di Bangka Belitung, belasan Ormas Islam, tokoh, habaib hingga pengasuh majelis taklim menandatangani kesepakatan menolak Perppu yang dinilai sebagai gerbang kediktatoran penguasa itu.

Di Banten, Aliansi Tokoh Muslim Tangerang berkumpul dengan sekitar 20 tokoh beberapa Ormas Islam dan pesantren untuk menolak Perppu tersebut, Ahad malam (16/07) di saung tepian Sungai Cisadane Kota Tangerang.

Selain itu, para ulama pun menyosialisasikan bahayanya Perppu tersebut kepada jama’ahnya masing-masing. Di Jawa Barat misalnya, Ketua MUI Kota Depok KH Ahmad Nawawi menyatakan penolakannya. ”Kita harus menolak dengan tegas Perppu Ormas yang dikeluarkan oleh pemerinatah," ujarnya, Ahad (16/7/2017) di Aula SDIT Darojaatul Uluum, Depok, Jawa Barat.

Pernyataannya tersebut langsung disambut pekik takbir sekitar 30 jamaah Majelis Taklim Darul Istiqamah, salah satu dari puluhan MT yang biasa diisinya.

Dalam sesi tanya jawab ada peserta yang bertanya ”kalau kita menolak Perppu ini dan kemudian kita dibunuh atau tewas karenanya, apakah kita mati Syahid?”

”Iya, Insya Allah syahid, karena mengoreksi penguasa adalah bagian dari dakwah bahkan disetarakan dengan Sayyidusy Syuhada sebagaimana sahabat Hamzah ra.,” pungkas Ahmad Nawawi.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 200
---

Generasi Teristimewa



Tidak ada yang paling maha dari segalanya kecuali Allah. Dia adalah Dzat yang Maha, termasuk Maha Pencipta. Penguasa langit dan bumi. Allah menciptakan banyak sekali makhluk di dunia ini. Hewan, tumbuhan, malaikat, jin, dan seluruh alam semesta. Ada satu makhluk yang Allah muliakan dari makhluk yang lainnya. Ketika setelah diciptakan Allah meminta seluruh makhluk yang lain bersujud kepadanya memberi penghormatan. Allah beri nama makhluk itu dengan manusia.

Iya, Allah bentuk manusia dengan sempurna. Berbeda dengan makhluk yang lainnya. Salah satu hal yang membedakan dengan yang lain juga adalah akal. Dengannya manusia mampu menerima kebenaran wahyu sehingga bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Kemampuan inilah yang membuat manusia menjadi makhluk yang sempurna.

Di antara manusia yang banyak ini, Allah punya satu golongan yang dilebihkan dari manusia yang lainnya. Golongan inilah yang Allah sebut dengan sebaik-baik makhluk. ”Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk." (TQS. Al-Bayyinah: 7). Nah, orang beriman menjadi istimewa.

Jangan salah juga, dari yang beriman itu Allah juga memilih satu golongan yang lebih spesial. Di mana Allah lebih mencintai golongan ini. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman: ”... Aku cinta orang tua yang bertaubat. Dan aku lebih cinta kepada pemuda yang bertaubat.” Wow, betapa spesialnya pemuda di sisi Allah sehingga lebih dicintai dari yang lain.

Pemuda memang begitu keren dan luar biasa. Begitulah pemuda menjadi istimewa di hadapan Rabbnya. Semata-mata karena mudanya. Catatan sejarah juga menjadi bukti bahwa perubahan yang terjadi di dunia ini didominasi oleh peran pemuda.

Pemuda itu masih hijau. Memang sih terkadang belum berpengalaman. Justru dari situ pemuda menjadi istimewa. Karena sering orang-orang yang berpengalaman justru terjebak dengan sesuatu yang monoton. Sulit untuk berinovasi. Pemuda dengan ketidakpengalamannya sering kali membuat sebuah terobosan yang luar biasa. Seperti Muhammad Al-Fatih, yang menyebarangkan kapal melalui bukit. Seperti pemuda yang menghidupi masyarakatnya dengan berbagai inovasi yang menyegarkan.

Sungguh luar biasa pemuda itu. Membanggakan dan pantang menyerah. Maka perjuangan memang lebih dapat diharapkan jika diserahkan kepada pemuda. Karena pemuda itu sifatnya pantang menyerah. Seperti tunas, walaupun dipangkas dia akan tumbuh dari arah yang lain. Tidak salah memang Allah memilih pemuda.

Oh iya, pemuda yang dicinta itu yang beriman. Bukan pemuda yang doyan maksiat. Makanya semua potensi pemuda harus menyatu dengan keimanan. Percuma kalau tidak ada keimanan pada diri pemuda. Bukan jadinya dicintai oleh Allah, malah jadi dilaknat Allah.
Jangan lagi meniru Musthafa Kamal yang semangat mudanya luar biasa, pantang menyerah tetapi digunakan untuk melawan Allah. Potensi mudanya digunakan untuk menghancurkan agama Allah. Mahkota Islam yaitu khilafah dia runtuhkan bersama penjajah. Itulah contoh kalau kemudaan yang tidak dibimbing dengan iman.

Sehingga perlu diingat, pemuda yang istimewa itu yang membalut masa mudanya dengan ketaatan kepada Allah. Berdakwah untuk Islam dan kemuliaan kaum Muslim. Berjuang menegakkan syariah dalam bingkai khilafah. Seperti para sahabat Rasul. Inilah pemuda Islam, generasi teristimewa yang dicintai Allah dan dirindukan Surga. Dan yang kelak akan mendapatkan naungan dari Allah di hari kiamat. "...seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah…" (HR. Muslim).

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 200
---

Dalil Keluar Dari Jamaah Shalat Karena Berhadats/Batal



Seorang Yang Berhadats Keluar Dari Shalat

Orang yang berhadats dan (pada saat berhadats) dia sedang shalat secara berjamaah, baik di masjid ataupun selainnya, disyariatkan baginya untuk memegang hidungnya agar orang-orang yang ada di sampingnya menduganya bahwa ia mimisan, lalu dia harus meninggalkan shalatnya untuk berwudhu lagi, dan kemudian kembali lagi (untuk melakukan shalat). Dari Aisyah ra. dari Nabi Saw., beliau bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian berhadats dalam shalatnya, maka hendaklah ia memegang hidungnya kemudian pergi.” (HR. Abu Dawud, al-Hakim dan Daruquthni)

Ibnu Majah dan Ibnu Hibban meriwayatkan dengan redaksi kalimat yang sedikit berbeda. Dari Aisyah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian berhadats dalam shalatnya, maka hendaklah ia meletakkan tangannya pada hidungnya, kemudian pergi.” (HR. al-Hakim, Daruquthni dan Ibnu Khuzaimah)

Sumber: Tuntunan Shalat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Shalat Berjamaah Dua Kali



Shalat Jamaah Di Masjid Sebanyak Dua Kali

Dalam satu masjid boleh dilaksanakan dua kali shalat atau lebih secara berjamaah, yang satu mengikuti yang lain. Juga diperbolehkan bagi seseorang yang telah shalat secara berjamaah sebelumnya untuk mengikuti shalat jamaah yang lain. Shalat yang terakhir ini dipandang sebagai nafilah baginya, sama seperti ia shalat seorang diri pada mulanya, kemudian ia masuk dalam shalat jamaah. Dari Abu Said al-Khudri ra.:

“Bahwa Rasulullah Saw. melihat seorang lelaki sedang shalat seorang diri, maka beliau bertanya: “Adakah seseorang yang mau bersedekah pada lelaki ini di mana ia mau shalat bersamanya?” (HR. Abu Dawud, Ibnu Hibban, al-Hakim, Ibnu Khuzaimah, dan Tirmidzi)

Hal ini telah dijelaskan sebelumnya dalam topik “jamaah bisa terlaksana dengan adanya seorang imam dan seorang makmum.”
Ahmad meriwayatkan hadits ini dengan redaksi kalimat:

“Bahwa seorang laki-laki memasuki masjid sedangkan Rasulullah Saw. telah shalat bersama para sahabatnya. Lalu Rasulullah Saw. bertanya: “Siapakah yang mau bersedekah pada lelaki ini di mana ia mau shalat bersamanya?” Maka berdirilah seorang laki-laki dari kaum itu, dan ia pun shalat bersamanya.”

Orang-orang yang berada di masjid telah melaksanakan shalat secara berjamaah bersama Rasulullah Saw., dan shalat yang mereka laksanakan saat itu adalah shalat dhuhur sebagaimana dijelaskan dalam satu hadits yang diriwayatkan oleh Ahmad. Kemudian datang seorang laki-laki setelah kaum Muslim selesai melaksanakan shalat jama’ah mereka. Laki-laki itu berdiri melaksanakan shalat seorang diri. Kemudian Rasulullah Saw. meminta seseorang dari sahabatnya yang telah shalat bersama beliau Saw. secara berjamaah untuk berimam pada laki-laki ini dan shalat bersamanya secara berjamaah, sehingga sahabat yang satu ini telah melaksanakan shalat sebanyak dua kali secara berjamaah dalam satu masjid karena perintah Rasulullah Saw. Hal ini menunjukkan bolehnya melaksanakan satu (jenis) shalat sebanyak dua kali dalam satu masjid.

Dari Jabir bin Abdillah ra.:

“Muadz bin Jabal ra. telah melaksanakan shalat isya bersama Rasulullah Saw., kemudian ia mendatangi kaumnya, dan ia pun mengimami mereka shalat isya.” (HR. Ahmad, Bukhari dan Muslim)

Muadz bin Jabal yang telah melaksanakan shalat secara berjamaah bersama Rasulullah Saw., kemudian pergi ke masjid kaumnya dan mengimami mereka shalat yang sama. Dalam kasus ini, Muadz telah melaksanakan shalat secara berjamaah sebanyak dua kali. Berdasarkan hal ini kami tegaskan kembali pernyataan kami di awal pembahasan, bahwa dua kali shalat secara berjamaah boleh dilaksanakan dalam satu masjid, dan boleh juga bagi orang yang telah shalat secara berjamaah untuk kembali mengikuti shalat jamaah yang lain. Dari Busr bin Mihjan dari Mihjan:

“Bahwa dia berada dalam satu majelis bersama Rasulullah Saw., kemudian seseorang mengumandangkan adzan untuk shalat. Rasulullah Saw. berdiri (melaksanakan shalat) lalu kembali, sedangkan Mihjan berada di tempat duduknya. Rasulullah Saw. bertanya kepadanya: “Apa yang menghalangimu untuk shalat, bukankah engkau seorang lelaki Muslim?” Mihjan menjawab: “Benar, tetapi aku telah melaksanakan shalat bersama keluargaku.” Rasululah Saw. berkata kepadanya: “Jika engkau datang, maka shalatlah bersama orang-orang, walaupun engkau telah shalat.” (HR. an-Nasai, Malik, Ahmad, Ibnu Hibban, al-Hakim dan ia menshahihkannya)

Shalat yang kedua dipandang sebagai shalat nafilah, berdasarkan hadits yang berasal dari Yazid bin al-Aswad, yang diriwayatkan oleh Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai, Tirmidzi dan ad-Darimi. Hadits tersebut telah kami muat dalam pembahasan “hukum dan keutamaan shalat berjamaah” point 4, di dalamnya tertera:

“…Ya Rasulullah, sesungguhnya kami sudah shalat dalam perjalanan. Beliau Saw. berkata: “Jangan lakukan lagi. Jika salah seorang dari kalian telah melaksanakan shalat dalam perjalanan, kemudian mendapati shalat bersama imam maka hendaklah ia shalat (kembali) bersamanya, karena shalat (yang kedua) itu baginya menjadi nafilah.”

Sumber: Tuntunan Shalat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Tata Cara Memisahkan Diri Dari Imam Shalat Jama’ah



Memisahkan Diri Dari Imam

Seorang makmum boleh untuk memisahkan diri dari imam di sepanjang shalatnya, asalkan ada ‘udzur yang memaksanya untuk memisahkan diri dari imam. Dan hendaknya ia tetap berpegang pada shalat yang telah dilakukannya bersama imam, lalu menyempurnakan atau meneruskan sisa rakaat shalatnya seorang diri, tanpa perlu mengulang lagi dari awal. Dari Anas bin Malik ra., ia berkata:

“Adalah Muadz bin Jabal ra. mengimami kaumnya (shalat), lalu masuklah Haram sedangkan ia bermaksud menyirami kurmanya. Ia masuk masjid untuk melaksanakan shalat bersama kaumnya. Ketika ia melihat Muadz memanjangkan shalatnya, maka ia (Haram) mempersingkat shalatnya dan kemudian pergi menyirami kurmanya. Usai Muadz melaksanakan shalatnya, dikatakan kepadanya: “Sesungguhnya Haram telah memasuki masjid, ketika dia melihatmu memanjangkan shalat, dia memendekkan shalatnya dan pergi menyirami kurmanya.” Muadz berkata: “Sesungguhnya ia seorang munafik, adakah dia tergesa-gesa meninggalkan shalat hanya untuk sekedar menyirami kurmanya?” Ia (perawi) berkata: lalu datanglah Haram kepada Nabi Saw., dan Muadz ada di sisinya. Ia berkata: “Wahai Nabiyallah, sesungguhnya aku ingin menyirami kurma milikku, lalu aku memasuki masjid untuk melaksanakan shalat bersama kaum itu. Ketika (sang imam) memperpanjang shalat, aku memendekkan shalatku dan pergi menyirami kurmaku, kemudian dia (sang imam) menyangka aku seorang munafik.” Nabi Saw. menghadap kepada Muadz dan berkata: “Adakah engkau seorang penebar fitnah, adakah engkau seorang penebar fitnah? Janganlah engkau memperpanjang shalatmu bersama mereka. Bacalah sabbihisma rabbikal a’laa, wassyamsi wa dhuhaha, dan semisalnya.” (HR. Ahmad dan al-Bazzar)

Dalam riwayat dari jalur Jabir ra. diceritakan dengan lafadz:

“ ...Kemudian ia mendatangi kaumnya -yakni Muadz- lalu ia membaca al-Baqarah. Salah seorang dari kaumnya keluar memisahkan diri dan melaksanakan shalat sendiri. Lalu dikatakan kepadanya: ”Engkau telah munafik wahai fulan.” Ia berkata: “Aku tidak munafik.” Lalu orang itu mendatangi Nabi Saw...“ (HR. Ahmad)

Haram adalah seorang sahabat, yakni Haram bin Milhan. Dari Abu Buraidah al-Aslamiy ra. ia berkata:

“Sesungguhnya Muadz bin Jabal ra. berkata bahwa ia shalat mengimami para sahabatnya dalam shalat isya, lalu ia membaca iqtarabatis sa'ah. Kemudian seorang lelaki berdiri sebelum selesai (shalat), dan dia shalat sendiri dan kemudian pergi. Muadz berkata kepadanya dengan kritikan yang keras. Laki-laki itu kemudian mendatangi Nabi Saw. untuk mengadukan masalah itu kepada beliau dan mengajukan alasan pada beliau Saw., seraya berkata: “Sesungguhnya aku sedang mengangkut air.” Lalu Rasulullah bersabda: “Shalatlah engkau mengimami orang dengan membaca wassyamsi wa dhuhaha, dan surat-surat semisalnya.” (HR. Ahmad)

Dalam nash-nash ini terdapat dua hal: pertama bahwa makmum lelaki yang bernama Haram bin Milhan itu telah memutus shalatnya bersama sang imam, yakni Muadz, karena ada udzur panjangnya bacaan, sementara Haram sedang terburu-buru hendak menyirami kurmanya. Tatkala shalat Muadz begitu panjang, maka Haram memutuskannya dan melanjutkan shalat secara sendirian. Hal kedua adalah bahwa Rasulullah Saw. hanya memperingatkan Muadz dan tidak memberi peringatan kepada Haram. Dua perkara ini menunjukkan bolehnya memisahkan diri dari shalat jamaah karena adanya ‘udzur.

Sumber: Tuntunan Shalat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Imam Meringankan Shalat Jamaah



Imam Melaksanakan Shalat Secara Ringan

Imam dianjurkan untuk meringankan shalat jamaah dalam rangka memelihara kondisi jamaah shalatnya, karena di antara mereka (bisa saja) terdapat orang yang sakit dan lemah, orang yang sudah tua renta dan anak kecil, serta orang yang memiliki hajat keperluan, karenanya imam melaksanakan shalat secara ringan yang tidak mempersulit para jama’ah shalatnya. Pendapat saya ini tidak bermaksud bahwa sang imam melakukan shalat dengan cepat seperti gagak mematuk dan tidak menyempurnakannya sebagaimana mestinya. Termasuk meringankan shalat misalnya, adalah dalam ruku’ dan sujudnya imam tidak membaca lebih dari tiga tasbih, dan jika imam merasa bahwa di antara makmumnya ada sesuatu yang menuntutnya untuk mempercepat shalatnya, dia dianjurkan untuk menyederhanakan dan meringankan shalatnya, seperti mendengar tangisan anak kecil yang bisa menyusahkan hati ibunya yang sedang shalat di belakang. Dari Abu Mas’ud al-Anshari ra. ia berkata: seorang lelaki berkata:

“Wahai Rasulullah, hampir tidak bisa menyempurnakan shalat yang begitu panjang diimami oleh si fulan, maka aku belum pernah melihat Nabi Saw. memberikan nasihat dengan sangat marah selain pada hari itu. Beliau Saw. bersabda: “Wahai manusia, sesungguhnya di antara kalian ini membuat orang menjadi jera, maka barangsiapa yang shalat mengimami manusia hendaklah dia meringankannya, karena di antara mereka ada orang sakit, orang lemah, dan orang yang berhajat.” (HR. Bukhari, Muslim, Ahmad, an-Nasai dan Tirmidzi)

Dari Anas bin Malik ra., ia berkata:

“Aku tidak pernah shalat di belakang seorang imam pun yang lebih ringan dan lebih sempurna daripada Nabi Saw. Jika beliau mendengar tangisan anak kecil maka beliau meringankan shalatnya, karena khawatir sang ibu terlalaikan hatinya (karena tangisan anaknya).” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Anas bin Malik ra., bahwa Nabi Saw. bersabda:

“Sesungguhnya aku memulai shalat dan aku ingin memanjangkannya. Tetapi kemudian aku mendengar tangisan anak kecil, maka aku menyederhanakan shalatku itu karena aku tahu bagaimana beratnya perasaan sang ibu mendengar tangisan anaknya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Anas ra.:

“Bahwa Rasulullah Saw. adalah orang yang paling ringan shalatnya (yakni tidak memanjangkan bacaan) dalam kesempurnaan (yakni menyempurnakan seluruh rukun, wajib dan sunat shalat).” (HR. Muslim, Tirmidzi, Ahmad dan Baihaqi)

Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasul Saw. bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian mengimami manusia maka hendaklah ia meringankannya, karena di antara mereka ada anak kecil, orang tua, orang lemah dan orang sakit. Jika ia shalat seorang diri, maka bershalatlah (dengan lama waktu) sekehendaknya.” (HR. Muslim, Bukhari, Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasai)

Selain itu, telah ditetapkan kepada imam untuk sedikit memperpanjang raka’at pertama, agar yang makmum yang masbuq (tertinggal) mendapatkan rakaat itu ketika imam dalam keadaan ruku’. dan imam hendaknya sedikit melamakan ruku’nya apabila ia merasa ada orang yang baru masuk masjid, agar si makmum mendapatkan rakaat pertama, walaupun tetap dengan tidak menyulitkan para makmum lain yang sedang shalat di belakangnya. Dari Abu Qatadah ra.:

“Bahwa Nabi Saw. dalam dua rakaat pertama shalat dhuhur suka membaca Ummul Kitab dan dua surat, dan dalam dua rakaat terakhir beliau membaca Ummul Kitab dan memperdengarkan sebuah ayat. Beliau Saw. suka memperpanjang rakaat pertama yang tidak beliau lakukan dalam rakaat yang kedua, begitu pula dalam shalat ashar serta shalat subuh.” (HR. Bukhari, Muslim, dan Ahmad)

Abu Dawud meriwayatkan hadits ini, di dalamnya ada tambahan:

“Sehingga kami mengira bahwa dengan hal itu beliau ingin agar manusia mendapatkan rakaat pertama.”

Hadits ini telah kami sebutkan dalam pembahasan “bacaan tambahan dari al-Qur’an atas al-fatihah dalam shalat”, pada bab “sifat shalat”.

Sumber: Tuntunan Sholat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Tempat Shalat Kaum Wanita yang Utama



Shalat Kaum Wanita

Kaum wanita boleh keluar dari rumahnya untuk melaksanakan shalat di masjid. Dan para suami atau pihak yang mengurus mereka (wali) hendaknya tidak mencegah mereka berangkat ke masjid. Walaupun begitu, shalat mereka di rumah dan tempat tinggalnya itu lebih baik daripada shalat mereka di masjid. Dan jika kaum wanita berangkat shalat ke masjid setelah mendapatkan ijin dari para suami atau wali maka mereka tidak boleh memakai parfum dan wewangian. Dari Ibnu Umar ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

“Janganlah kalian melarang isteri-isteri kalian (berangkat ke masjid), dan rumah-rumah mereka itu lebih baik bagi mereka.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, al-Baihaqi dan at-Thabrani)

Dari Ibnu Umar ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Jika wanita-wanita kalian meminta ijin dari kalian untuk berangkat ke masjid, maka ijinkanlah mereka.” (HR. Muslim, Bukhari, Ahmad dan Ibnu Hibban)

Dari Abu Hurairah ra., bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Janganlah kalian menghalangi hamba-hamba perempuan Allah dari masjid-masjid Allah, namun hendaknya mereka itu berangkat dalam keadaan tidak memakai wangi-wangian.” (HR. Abu Dawud, Ahmad, Ibnu Khuzaimah, ad-Darimi dan al-Baihaqi)

Sabdanya: tafilat yakni tidak memakai wewangian.
Dan dari Zainab istri Abdullah bin Mas’ud ra., ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda kepada kami:

“Jika salah seorang dari kalian mengikuti shalat jama’ah di masjid, maka janganlah dia memakai wangi-wangian.” (HR. Muslim dan Ibnu Hibban)

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad, tetapi dengan redaksi “shalat isya” sebagai pengganti kata masjid.

Dengan demikian, maka wanita itu adalah sebuah kehormatan yang harus dijaga. Wanita yang berada di tempat yang jauh dari pandangan, maka itu lebih baik baginya. Rumah-rumah itu lebih tersembunyi daripada masjid, sehingga ia menjadi tempat tinggal mereka yang paling utama, dan kamar tidur dalam rumah itu lebih tersembunyi daripada ruang tengahnya, maka ia menjadi tempat tinggal dan tempat shalat yang paling utama bagi mereka. Setiap kali wanita itu jauh dari tempat-tempat yang nampak, maka hal itu lebih baik bagi mereka. Dari Ummu Humaid, isteri Abu Humaid as-Saidi ra.:

“Bahwa dia mendatangi Nabi Saw. dan berkata: “Wahai Rasulullah, sesungguhnya aku menyukai shalat bersamamu.” Rasulullah Saw. berkata: “Aku sungguh telah mengetahui bahwa engkau suka shalat bersamaku, dan shalatmu di kamar tidurmu itu lebih baik daripada shalatmu di hujrahmu (ruangan dekat kamar tidur), dan shalatmu di hujrahmu itu lebih baik bagimu daripada shalatmu di dalam rumahmu. Dan shalatmu di dalam rumahmu itu lebih baik daripada shalatmu di masjid kaummu, dan shalatmu di masjid kaummu itu lebih baik bagimu daripada shalatmu di masjidku.” Maka dia memerintahkan pelayannya, dan dibangunlah untuknya sebuah tempat shalat di bagian terjauh dan tergelap di rumahnya, dan ia senantiasa shalat di dalamnya hingga ia menemui Allah azza wa jalla (meninggal dunia).” (HR. Ahmad, Ibnu Khuzaimah dan Ibnu Hibban)

Sabda beliau Saw.: al-bait di sini maksudnya adalah ruangan tidur (gurfah an-naum), sedangkan hujrah di sini maksudnya adalah ruangan agak luas yang terletak di depan kamar tidur.

Sumber: Tuntunan Sholat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Shalat Sunah Setelah Wudhu



P. Shalat Setelah Wudhu

Apabila seorang Muslim selesai berwudhu, maka disunahkan untuk shalat dua rakaat. Hal ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Humran pelayan Utsman ra.:

“Bahwa ia melihat Utsman bin Affan memanggil untuk dibawakan satu wadah, lalu dia mengucurkan air pada dua telapak tangannya tiga kali dan mencucinya, kemudian memasukkan tangannya yang sebelah kanan ke dalam wadah, lalu ia berkumur dan beristinsaq. Setelah itu dia membasuh wajahnya tiga kali, dan dua tangannya hingga dua siku tiga kali, lalu dia mengusap kepalanya, kemudian membasuh dua kakinya tiga kali hingga dua mata kaki. Lalu dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda: “Barangsiapa yang berwudhu seperti wudhuku ini, lalu dia shalat dua rakaat dan tidak berbicara di dalamnya, maka diampuni dosanya yang telah lalu.” (HR. Bukhari, Muslim dan Abu Dawud)

Juga hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra.:

“Bahwa Nabi Saw. berkata kepada Bilal ketika shalat fajar: “Wahai Bilal, beritahu aku amal apa yang telah engkau lakukan dalam Islam, hingga aku bisa mendengar suara kedua sandalmu di depanku di Surga?” Maka Bilal berkata: aku tidak mengamalkan suatu amalan khusus selain bahwa aku tidaklah bersuci pada satu malam atau siang kecuali dengan wudhu tersebut aku melakukan shalat yang diwajibkan kepadaku.” (HR. Bukhari, Muslim dan Ahmad)

Begitu pula berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari ‘Uqbah bin ‘Amir, bahwa dia berkata:

“Kami dikenai kewajiban menjaga unta, lalu tiba giliranku, maka aku berjalan ke arah unta-unta itu di waktu malam. Lalu aku bertemu Rasulullah Saw. sedang berdiri sambil berbicara pada orang-orang, dan aku ingat sebagian ucapannya: “Tidaklah seorang Muslim berwudhu lalu membaguskan wudhunya, kemudian dia berdiri dan shalat dua rakaat, dengan menghadapkan hati dan wajahnya, kecuali wajib baginya memperoleh Surga…” (HR. Muslim, Abu Dawud, Ibnu Khuzaimah dan an-Nasai)

Sumber: Tuntunan Shalat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Shalat Sunah Setelah Adzan



O. Shalat Setelah Adzan

Shalat setelah adzan dan sebelum iqamat dari shalat-shalat wajib itu disunahkan. Dari Abdullah bin Mughaffal ra. ia berkata: Nabi Saw. bersabda:

“Di antara setiap dua adzan itu ada shalat, di antara setiap dua adzan itu ada shalat, kemudian beliau berkata dalam kali ketiga, bagi siapa yang menghendaki.” (HR. Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Ahmad)

Yang dimaksud dengan dua adzan di sini adalah adzan dan iqamat. Dari Anas bin Malik ra. ia berkata:

“Jika muadzin mengumandangkan adzan maka orang-orang dari kalangan sahabat Nabi Saw. berdiri dan saling berebut posisi dekat tiang, hingga Nabi Saw. keluar dan mereka masih seperti itu. Mereka shalat dua rakaat sebelum maghrib, dan tidak ada sesuatu antara adzan dan iqamat.” (HR. Bukhari, Muslim, an-N asai dan Ibnu Hibban)

Hadits ini sebelumnya telah kami sebutkan dalam pembahasan “shalat-shalat sunat mulhaqah (yang disertakan) pada shalat sunat rawatib muakkad.”

Sumber: Tuntunan Shalat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Shalat Sunah Di Sisi Maqam Ibrahim Setelah Thawaf



N. Shalat Setelah Selesai Melaksanakan Thawaf Di Sisi Maqam

Bagi siapa saja yang memasuki Baitul Haram dan telah thawaf di sekitar Ka’bah sebanyak tujuh putaran, maka disunahkan baginya untuk shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim as., di mana maqam berada di antara dirinya dengan Ka’bah. Dua rakaat ini disebut dua rakaat thawaf. Allah Swt. berfirman:

“Dan (ingatlah), ketika Kami menjadikan rumah itu (Baitullah) tempat berkumpul bagi manusia dan tempat yang aman, dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat. Dan telah Kami perintahkan kepada Ibrahim dan Ismail: “Bersihkanlah rumah-Ku untuk orang-orang yang thawaf, yang i'tikaf, yang ruku' dan yang sujud.” (TQS. al-Baqarah [2]: 125)

Dari Anas bin Malik ra. ia berkata: “Umar bin Khaththab berkata: aku bertanya: “Wahai Rasulullah, seandainya aku menjadikan maqam Ibrahim sebagai tempat shalat.” Maka Allah Swt. menurunkan: “dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat”, hadits ini diriwayatkan oleh at-Thabari dalam tafsirnya.

Shalat dua rakaat ini disunatkan, di mana pada rakaat pertama dia membaca qul huwallahu ahad, dan dalam rakaat kedua qul yaa ayyuhal kaafiruun, jika dia ingin mengikuti apa yang dibaca Rasulullah saw. Dari Ja’far dari ayahnya, ia berkata:

“Aku mendatangi Jabir bin Abdillah, lalu kami bertanya kepadanya tentang haji yang dilakukan Nabi Saw. Dia menyebutkan haditsnya dengan panjang, dan ia berkata: dan ketika dia selesai -maksudnya dari thawaf- beliau Saw. pergi ke maqam Ibrahim dan shalat di belakangnya dua rakaat, dan membacakan -dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim sebagai tempat shalat (al-Baqarah: 125)- ia berkata: yakni membaca di dalam dua rakaat itu surat at-tauhid (al-ikhlas) dan qul yaa ayyuhal kaafiruun.” (HR. Ibnu Khuzaimah)

Muslim meriwayatkan hadits ini dari Jalur Jabir dengan redaksi yang panjang tentang sifat haji yang dilakukan Rasulullah Saw., di dalamnya disebutkan:

”...Hingga jika kami tiba di Baitullah bersamanya, beliau Saw. mengusap rukun, lalu beliau berjalan cepat tiga kali dan berjalan biasa empat kali (mengelilingi Ka'bah). Kemudian beliau Saw. melewati maqam ibrahim seraya membaca: “dan jadikanlah sebahagian maqam Ibrahim tempat shalat” sehingga beliau menjadikan maqam berada di antara dirinya dengan al-bait. Lalu ayahku berkata: aku tidak mengetahui dzikirnya kecuali dari Nabi Saw. Beliau Saw. membaca dalam dua rakaat tersebut: qul huwallahu ahad, dan qul yaa ayyuhal kaafiruun.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Tirmidzi dengan redaksi hampir sama. Dari Ibnu Umar ra. ia berkata: dan aku mendengarnya -yakni Rasulullah Saw.- bersabda:

“Barangsiapa yang berthawaf dengan tujuh hitungan dan dia shalat dua rakaat, maka baginya seperti membebaskan budak...” (HR. Ahmad)

Ucapannya: dengan tujuh hitungan, yakni tujuh putaran yang dihitungnya. Dan shalat sunat ini -yakni shalat dua rakaat di belakang maqam Ibrahim dan semisalnya, yakni thawaf di seputar Ka’bah bagi orang yang memasuki Masjidil Haram- dilaksanakan dalam setiap waktu, baik malam atau siang, tanpa ada suatu kemakruhan, dan ini merupakan salah satu keistimewaan yang diberikan Allah Swt. untuk Baitul Haram yang tidak diberikan pada tempat lain di bumi ini. Jadi, khusus di Baitul Haram tidak ada waktu larangan, baik larangan dimakruhkan atau larangan diharamkan, dari shalat apapun, baik fardhu ataupun tathawwu'. Jubair bin Muth'im berkata bahwa Nabi Saw. bersabda:

“Wahai Bani Abdi Manaf, janganlah kalian melarang seorangpun dari berthawaf di rumah ini, dari shalat di waktu kapanpun yang dia inginkan, baik malam atau siang.” (HR. Tirmidzi, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai dan Ibnu Majah)

Dan maqam Ibrahim adalah tempat di mana Nabi Ibrahim as. berpijak di atas sebuah batu ketika beliau membangun Ka'bah bersama puteranya, Ismail as.

Sumber: Tuntunan Shalat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Sujud Syukur Dan Shalat Syukur



M. Sujud Syukur dan Shalat Syukur

Dianjurkan bagi seorang Muslim ketika dia memperoleh nikmat atau hilangnya suatu mudharat darinya, untuk bersujud kepada Allah Swt. sekali. Seperti terhadap sujud tilawah dan shalat yang lain, ketika akan melakukan sujud syukur ada hal-hal yang diwajibkan, seperti wudhu, menutup aurat, bajunya suci, tempatnya suci, dan menghadap kiblat, serta adanya niat, dan begitu seterusnya. Dari Abdurrahman bin Auf ra. ia berkata:

“Rasulullah Saw. keluar dan aku mengikutinya hingga beliau Saw. memasuki kebun kurma, lalu beliau Saw. bersujud dengan sangat lama hingga aku takut atau khawatir apakah Allah Swt. mewafatkannya atau mematikannya. Maka aku pergi mendekat untuk melihatnya, lalu beliau Saw. mengangkat kepalanya seraya bertanya: “Ada apa denganmu wahai Abdurrahman?” Ia (perawi) berkata: lalu aku ceritakan hal itu kepada beliau, dan beliau berkata: “Sesungguhnya Jibril as. telah berkata kepada: “maukah engkau aku beri kabar gembira? Sesungguhnya Allah azza wa jalla mengatakan untukmu: “Barangsiapa yang bershalawat atasmu maka Aku bershalawat atasnya, dan barangsiapa yang bersalam untukmu maka Aku bersalam untuknya.” (HR. Ahmad, al-Hakim dan al-Baihaqi)

Dalam riwayat Ahmad dan al-Baihaqi yang kedua masih dari jalur Abdurrahman bin Auf disebutkan dengan lafadz:

”...Lalu beliau Saw. bersabda: sesungguhnya Jibril telah mendatangiku dan memberikan kabar gembira padaku, lalu dia berkata: sesungguhnya Allah azza wa jalla telah berkata: Barangsiapa yang bershalawat untukmu maka Aku bershalawat untuknya, dan barangsiapa yang bersalam untukmu maka Aku bersalam untuknya. Lalu aku bersujud syukur kepada Allah azza wa jalla.”

Dari al-Barra ra. ia berkata:

“Nabi Saw. mengutus Khalid bin al-Walid kepada penduduk Yaman untuk mengajak mereka pada Islam tetapi mereka tidak mau mematuhinya. Kemudian Nabi Saw. mengutus Ali bin Abi Thalib dan memerintahkannya untuk memanggil pulang Khalid dan orang yang bersamanya, tetapi laki-laki yang bersama Khalid lebih suka untuk ikut kembali bersama Ali ra., lalu ia pun berangkat kembali bersama Ali. Al-Barra berkata: dan aku adalah salah seorang yang ikut bersama Ali itu. Ketika kami hampir tiba di kaum itu, mereka keluar menemui kami, lalu Ali ra. shalat mengimami kami, dan kami berbaris satu barisan. Setelah itu datang kaum tadi ke hadapan kami, lalu dia (Ali) membacakan surat Rasulullah Saw. kepada mereka, dan suku Hamdan pun masuk Islam seluruhnya. Ali ra. menulis surat dan mengabarkan kepada Rasulullah Saw. tentang ke-Islaman mereka. Tatkala Rasulullah Saw. membaca surat itu, beliau jatuh bersujud, kemudian mengangkat kepalanya dan berkata: “Keselamatan untuk suku Hamdan, keselamatan untuk suku Hamdan.” (HR. al-Baihaqi)

Dari Abi Bakrah ra.:

“Bahwa Nabi Saw. jika datang padanya suatu perkara yang menggembirakannya atau beliau merasa gembira dengannya maka beliau jatuh bersujud sebagai rasa syukur kepada Allah yang Maha memberi berkah dan Maha luhur.” (HR. Ibnu Majah, al-Hakim, al-Daruquthni, Abu Dawud dan Tirmidzi)

Dari Abu Bakrah ra.:

“Bahwa dia menyaksikan Nabi Saw. telah didatangi seseorang pembawa kabar yang memberikan kabar gembira untuknya tentang kemenangan tentaranya atas lawan-lawannya, dan kepala beliau ada di atas pangkuan Aisyah ra. Maka beliau berdiri lalu jatuh bersujud...” (HR. Ahmad)

Inilah dalil-dalil yang menunjukkan disyariatkannya sujud syukur.

Dari Abdullah bin Abi Aufa:

“Bahwa Rasulullah Saw. shalat pada hari beliau diberi kabar gembira tentang terbunuhnya Abu Jahal, shalat dengan dua rakaat.” (HR. Ibnu Majah)

Al-Bazzar meriwayatkan hadits ini dengan redaksi:

“Bahwa Rasulullah Saw. shalat dua rakaat ketika beliau diberi kabar gembira tentang kemenangan, dan ketika diberi kabar gembira tentang terbunuhnya Abu Jahal”

Ini merupakan dalil disyariatkannya shalat syukur, di mana shalat syukur ini dilakukan dengan dua rakaat, sehingga siapa saja yang menghendaki, dia bisa sujud satu kali, dan siapa yang menghendaki dia bisa shalat dua rakaat, keduanya adalah baik.

Bacaan: Tuntunan Shalat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Shalat Sunat Fajar Sebelum Subuh



Mengenai sunat sebelum subuh, maka menurut sunahnya hendaknya dilaksanakan secara ringan tanpa memperpanjang bacaan al-Qur’an, bahkan Rasulullah Saw. sangat meringkas bacaan di dalamnya dengan hanya membaca fatihatul kitab (surat al-fatihah) saja. Dari Hafshah ra.:

“Bahwa Rasulullah jika muadzin diam (selesai mengumandangkan adzan) untuk shalat subuh, dan waktu subuh telah muncul, maka beliau Saw. shalat dua rakaat yang ringan, sebelum iqamat shalat dikumandangkan.” (HR. Bukhari)

Muslim meriwayatkan dengan redaksi:

”...(Adalah Rasulullah Saw.) jika sang muadzin telah diam (selesai mengumandangkan adzan) untuk shalat subuh dan waktu subuh telah muncul...”

Ahmad meriwayatkan hadits ini juga. Dan dari Aisyah ra. ia berkata:

“Adalah Nabi Saw. melakukan shalat dua rakaat yang ringan antara adzan dan iqamat dari shalat subuh.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Aisyah ra. ia berkata:

“Adalah Nabi Saw. meringankan dua rakaat yang dilakukannya sebelum shalat subuh, hingga aku sempat bertanya: Adakah beliau membaca Ummul Kitab?” (HR. Bukhari dan Ibnu Khuzaimah)

Muslim dan Ibnu Hibban meriwayatkan hadits ini sekali dengan menggunakan kata: ”…Ummul Qur'an?”, dan sekali yang lain dengan kata: ”...fatihatul kitab?” Ahmad meriwayatkannya dengan kata: ”...fatihatul kitab?”, sedangkan Abu Dawud dan Malik meriwayatkan dengan kata: ”…Ummul Qur'an?” Seluruh maknanya adalah sama.

Ketika terbit fajar, Rasulullah Saw. sangat menjaga dua rakaat ini, mencukupkan diri dengan keduanya dan tidak melakukan selainnya. Dari Aisyah ra. ia berkata:

“Tidak ada satu shalat sunat pun yang sangat diperhatikan Nabi Saw. melebihi dua rakaat fajar.” (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

Muslim, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban meriwayatkan dengan redaksi: ”…melebihi dua rakaat sebelum subuh.”

Dari Hafshah ra. ia berkata:

“Adalah Rasulullah Saw. jika terbit fajar beliau tidak melakukan shalat kecuali dua rakaat yang ringan.” (HR. Muslim dan Nasai)

Karena sangat menjaga dua rakaat ini, Rasulullah Saw. bersegera melakukannya setelah muadzin selesai mengumandangkan adzan tanpa mengundur waktu lagi. Dari Ibnu Umar ra.:

“Bahwa Rasulullah Saw. melaksanakan shalat dua rakaat sebelum shalat fajar, seolah adzan masih ada di dua telinganya.” (HR. Ahmad , Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah)

Rasulullah Saw. sangat menganjurkan kedua rakaat ini. Dari Abu Hurairah ra. bahwa Rasulullah Saw. bersabda:

“Janganlah kalian meninggalkan dua rakaat fajar, walaupun kalian ditarik oleh kuda.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Baihaqi dan at-Thahawi)

Adalah Rasulullah Saw. jika selesai melaksanakan shalat dua rakaat ini, beliau berbaring pada sisi tubuhnya yang sebelah kanan, dan memerintahkan kaum Muslim untuk melakukan hal itu. Berbaring pada sisi tubuh yang sebelah kanan setelah melaksanakan shalat dua rakaat ini merupakan sunah yang sangat disukai. Dari Aisyah ra. ia berkata:

“Adalah Rasulullah Saw. jika beliau selesai melaksanakan shalat dua rakaat fajar, beliau berbaring pada sisi tubuh sebelah kanan.” (HR. Ahmad, Bukhari, Muslim, Abu Dawud dan Nasai)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian melaksanakan dua rakaat sebelum subuh, maka hendaklah dia berbaring pada sisi tubuhnya yang sebelah kanan.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Ibnu Majah, Tirmidzi dan Ibnu Khuzaimah)

Yang menunjukkan bahwa perintah Rasulullah Saw. ini hukumnya sunah bukan wajib, adalah hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa ia berkata:

“Adalah Nabi Saw. apabila telah selesai melaksanakan dua rakaat (shalat) fajar, jika aku masih tidur maka beliau berbaring, sedangkan jika aku bangun beliau bercakap-cakap denganku.” (HR. Abu Dawud, Bukhari dan Ibnu Khuzaimah)

Yang disunahkan dengan kekhususan dua rakaat ini, yakni dua rakaat sebelum fajar, adalah meringankan dan bersegera melakukannya secara langsung setelah adzan selesai dikumandangkan, sangat menjaganya dan tidak melalaikan keduanya dalam kondisi apapun, sangat ringkas melakukannya keduanya dan tidak menambahnya. Berbaring setelahnya pada sisi tubuh sebelah kanan di rumah, karena menurut asal, dalam shalat sunah ini dan shalat sunah yang lain adalah hendaknya dilaksanakan di rumah, begitu pula berbaring ini hendaknya dilakukan di rumah.

Mengenai keutamaan shalat dua rakaat ini, telah diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwa Nabi Saw. bersabda:

“Dua rakaat (shalat sunat) fajar lebih baik dari dunia dan apa yang ada di dalamnya.” (HR. Muslim, Tirmidzi, Nasai, Ibnu Hibban dan al-Hakim)

Diriwayatkan dari Aisyah ra. dari Nabi Saw. bahwa beliau Saw. bersabda tentang dua rakaat shalat sunah ketika terbit fajar:

“Keduanya lebih aku sukai daripada dunia seluruhnya.” (HR. Muslim, Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Khuzaimah)

Sumber: Tuntunan Shalat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam