Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Pengertian Wudhu Menurut Bahasa Dan Istilah Syariat



BAB SEPULUH

WUDHU

Definisi Dan Legalitas Wudhu

a. Definisi Wudhu

Wudhu dengan mendhammahkan huruf wawu merupakan mashdar (bentuk infinitive) dari kata wadhu-a, yang artinya adalah hasuna (bagus/ baik), kata yang digunakan untuk menyebut suatu perbuatan. Wadhu dengan mem-fathah-kan huruf wawu artinya adalah air yang digunakan untuk bersuci. Ini pengertian bahasanya.
Sedangkan pengertian syara’nya adalah membasuh muka dengan air, kedua tangan hingga kedua siku, mengusap kepala dengan urutan tertentu, kedua kaki hingga kedua mata kaki, dan dilakukan secara berturut-turut (muwalat) dengan disertai niat untuk menghilangkan hadats kecil, sehingga bisa menjadikan orang yang melakukannya boleh melakukan shalat, memegang mushaf dan thawaf.

b. Legalitas wudhu

Landasan hukum wudhu adalah al-Qur’an, as-Sunnah dan Ijma Sahabat. Dalam al-Qur’an, Allah Swt. berfirman:

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu hendak mengerjakan shalat, maka basuhlah mukamu dan tanganmu sampai dengan siku, dan sapulah kepalamu dan (basuh) kakimu sampai dengan kedua mata kaki.” (TQS. al-Maidah [5]: 6)

Dalam khazanah Sunnah terdapat hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra., dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

“Shalat salah seorang dari kalian tidak akan diterima jika berhadats, hingga dia berwudhu.” (HR. Muslim, Bukhari, Abu Dawud, Tirmidzi dan Ahmad)

Terdapat ijma di kalangan sahabat yang mewajibkan wudhu ketika hendak shalat. Tidak ada seorangpun yang menyalahi kewajiban ini, bahkan tidak ada seorang Muslimpun yang menyalahi kewajiban ini, sehingga persoalan wudhu wajib dilakukan ketika hendak shalat merupakan perkara ma’lum min ad-diin bi ad-dharurah (hukum agama yang pasti diketahui).

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Hukum Wanita Nifas Sama Dengan Haid



c. Hukum wanita nifas dengan hukum wanita haid itu sama saja, artinya sama-sama tidak suci. Dari keduanya gugurnya kewajiban shalat dan puasa, dan sama-sama haram disetubuhi, tanpa perbedaan sedikitpun. Dalam kasus ini sepanjang pengetahuan saya, tidak ada perbedaan pendapat di antara para imam. Dalilnya adalah Ijma Sahabat yang sebelumnya telah kami sebutkan.

Tirmidzi berkata:

“Ahli ilmu dari kalangan sahabat Nabi Saw., tabi'in dan orang-orang setelah mereka bersepakat, bahwa wanita nifas itu meninggalkan shalat selama empat puluh hari, kecuali jika dia sudah suci bersih sebelum genap empat puluh hari, maka pada saat itu dia harus mandi dan shalat.”
Sehingga pendapat seperti ini menjadi Ijma Sahabat, dan Ijma Sahabat merupakan dalil syar’i.

Perbedaan pendapat hanya ada dalam masalah kifarat bagi orang yang menyetubuhi isteri di masa nifasnya. Dan pendapat yang rajih dalam masalah ini menurut kami adalah tidak adanya kewajiban kifarat, karena tidak ada nash yang mewajibkan kifarat dalam masalah ini. Nash yang ada hanya menyebutkan kifarat bagi orang yang menyetubuhi isterinya yang sedang haid, sehingga tidak mencakup wanita yang nifas. Analogi (qiyas) tidak boleh dilakukan, karena ini merupakan dua kondisi yang berbeda.

d. Perihal mandinya wanita yang nifas itu sama persis dengan mandi orang junub dan mandi wanita haid. Anjuran untuk mandi lebih bersih bagi wanita haid kami anjurkan pula bagi wanita nifas, agar dia bisa menghilangkan bekas darah. Dan hal seperti ini tidak memerlukan nash khusus, karena sudah termasuk dalam keumuman dalil-dalil yang menganjurkan kebersihan. Dalil wanita nifas itu wajib mandi adalah Ijma Sahabat. Hal ini telah kami sebutkan sebelumnya.

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Wanita Mustahadhah Halal Berhubungan Suami-Isteri



3. Disetubuhi

Suami boleh menyetubuhi isterinya yang mustahadhah (mengeluarkan darah istihadhah, bukan haid) walaupun bisa jadi saat berhubungan tersebut sang isteri mengeluarkan darah. Ini adalah pendapat empat imam, yang berbeda dengan pendapat Ibnu Sirin, as-Sya’biy, an-Nakha’iy, al-Hakim, dan Ahmad (dalam satu riwayat darinya). Mereka mengatakan persetubuhan tersebut dilarang jika si suami mengkhawatirkan adanya kesusahan dan jatuh dalam bahaya/keharaman. Mereka yang mengharamkan persetubuhan tersebut berargumentasi dengan hadits yang diriwayatkan al-Hakim dalam kitab Ma'rifatu Ulumil Hadits dan yang diriwayatkan al-Khallal dengan sanad yang sama dari Aisyah, bahwasanya Aisyah berkata:

“Seorang wanita mustahadhah (yang mengeluarkan darah istihadhah) itu tidak boleh disetubuhi suaminya.”

Mereka mengatakan bahwa pada wanita mustahadhah itu ada kotoran atau penyakit, sehingga haram untuk disetubuhi seperti halnya wanita yang haid. Mereka menganalogikan wanita mustahadhah dengan wanita haid, karena sebab ('illat) yang sama di antara keduanya, yakni kotoran (al-adza):

“kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh.” (TQS. al-Baqarah [2]: 222)

Pendapat seperti ini jelas lemah, karena yang mereka riwayatkan dari Aisyah itu adalah qaul shahabiyah (ucapan seorang sahabat). Padahal ucapan seorang sahabat tidak bisa dijadikan dalil. Dan ketika mereka menganalogikan (qiyas) wanita mustahadhah dengan wanita haid, maka qiyas seperti itu tidak bisa dibenarkan, karena fakta haid tentunya berbeda dengan fakta istihadhah, di mana darah haid itu hitam dan berbau busuk, sedangkan darah istihadhah itu berwarna merah seperti biasa dan tidak rusak. Ini adalah perbedaan yang pertama.
Selain itu, Allah Swt. mengharamkan seorang wanita haid untuk shalat, padahal di sisi lain Allah Swt. memerintahkan wanita mustahadhah (yang mengeluarkan darah istihadhah) untuk shalat. Ini merupakan perbedaan kedua, sehingga dengan dua perbedaan ini maka tidak dibenarkan adanya qiyas atau analogi.

Kadang ditanyakan dalil bolehnya menyetubuhi wanita musthadhah, maka saya jawab bahwa hal itu tidak memerlukan dalil, karena seorang wanita mustahadhah itu adalah seorang isteri yang berhak disetubuhi. Tidak ada larangan bagi seorang suami untuk menyetubuhi isterinya, kecuali dalam kondisi haid dan nifas. Selain dua kondisi tersebut, tidak ada dalil yang melarang dan mengharamkannya. Pada prinsipnya boleh menyetubuhi isteri berdasarkan keumuman dalil, dan tidak menjadi haram kecuali dengan dalil, padahal justru di sini tidak ada dalil yang mengharamkannya. Abu Dawud telah meriwayatkan dari Ikrimah dari Hamnah binti Jahsy dengan sanad hasan:

“Bahwasanya dia dahulu suka mengeluarkan darah istihadhah ( mustahadhah), dan suaminya suka menyetubuhinya.”

Hamnah adalah isteri Thalhah bin Ubaidillah ra.

Abu Dawud juga meriwayatkan dari Ikrimah:

“Ummu Habibah dahulu suka mengeluarkan darah istihadhah, dan suaminya suka menyetubuhinya.”

Ummu Habibah ini adalah isteri Abdurrahman bin Auf, sebagaimana yang disebutkan oleh Muslim dalam kitab Shahihnya.

Abdurrazaq meriwayatkan dalam Mushannaf-nya pada bab al-mustahadhah dari Ikrimah dari Ibnu Abbas, dia berkata:

“Suaminya tidak mengapa menyetubuhinya.”

Semua atsar yang diriwayatkan ini walaupun bukan dalil -karena termasuk ucapan sahabat-, tetapi bisa memuaskan akal akan kebenaran pendapat di atas.

4. Wanita mustahadhah (yang mengeluarkan darah istihadhah) itu harus shalat dan berpuasa, serta melakukan segala sesuatu yang biasa dilakukan oleh wanita suci. Dalam beberapa hadits yang telah kami sebutkan terdapat perintah untuk melaksanakan shalat dan puasa, di dalam hadits Hamnah sebelumnya juga disebutkan (Rasulullah Saw. bersabda):

“…Seperti itulah yang harus engkau lakukan, dan shalatlah serta berpuasalah…”

Padahal dalam shalat dan puasa itu disyaratkan telah suci, sementara wanita mustahadhah dituntut untuk melakukan keduanya. Maka ini menunjukkan bahwa wanita mustahadhah itu seorang yang suci seperti wanita suci lainnya, sehingga dia bisa melakukan perbuatan apapun yang biasa dilakukan wanita suci tanpa perbedaan apapun. Ini merupakan pendapat para ulama dan para imam yang tidak diperselisihkan.

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Haram Mencerai Istri Saat Haid


3. Seorang suami haram menceraikan isterinya pada masa haidnya, dengan dalil hadits yang diriwayatkan dari Ibnu Umar:

“Bahwasanya dia menceraikan isterinya yang sedang haid, lalu Umar menceritakan hal itu kepada Nabi Saw. Maka Nabi Saw. berkata: “Perintahkanlah dia untuk merujuk isterinya kembali, kemudian ceraikanlah dia dalam keadaan suci atau hamil.” (HR. Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud)

Dan dalam riwayat yang kedua bahwasanya Abdullah bin Umar berkata:

“Aku menceraikan isteriku, padahal dia sedang haid. Lalu Umar menceritakan hal itu kepada Nabi Saw. Nabi Saw. marah, seraya berkata: Perintahkan dia untuk merujuk kembali isterinya, hingga dia haid untuk kedua kalinya. Yakni haid berikutnya yang bukan haid yang dialaminya saat dia diceraikan suaminya. Jika telah jelas dan dia ingin menceraikannya maka ceraikanlah isterinya itu saat sedang suci dari haidnya sebelum ia menggaulinya. Itulah maksud 'iddah dari talak yang diperintahkan Allah Swt. Abdullah bin Umar mentalak satu isterinya itu, dan itu dihitung sebagai talaknya.” (HR. Muslim)

Bukhari, Ahmad, an-Nasai dan Abu Dawud meriwayatkan hadits ini dengan redaksi kalimat yang hampir sama.

Menceraikan isteri yang sedang haid disebut thalaq bid'ah, dan hal sebaliknya disebut thalaq sunah, yakni fakta yang sesuai dengan sudut pandang syariat di mana seorang suami menceraikan isterinya dalam keadaan suci dan dia tidak menyetubuhinya saat itu.
Sedangkan thalaq bid'ah selain hukumnya haram, juga tidak jadi (tidak sah) menurut ad-Dzahiriyah, Ibnu ‘Aqil, Ibnu Taimiyah, Ibnul Qayyim, Abu Qulabah, Thawus, Said bin al-Musayyab sebagai syaikhnya para tabi'in. Dan pandangan inilah yang saya pegang, dan dipandang jadi (sah) menurut jumhur imam dan fuqaha.
Di sini kami tidak akan terlalu berpanjang lebar membahas hukum-hukum talak, karena bab talak berbeda dengan bab thaharah. Kami hanya ingin menyebutkan sebagian hukumnya saja.

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Wanita Haid Dilarang Berdiam Di Masjid



Hukum-Hukum Wanita Haid

Terhadap wanita haid berlaku seluruh hukum orang junub yang sebelumnya telah kami jelaskan. Yang berbeda hanyalah dalam masalah shaum (berpuasa), persetubuhan, dan talak.
Ketika orang junub memasuki waktu pagi dalam keadaan berpuasa, maka dia bisa melanjutkan puasanya, sedangkan wanita haid tidak melanjutkan puasanya.
Orang yang junub, baik lelaki ataupun wanita boleh bersetubuh, sedangkan wanita yang haid tidak boleh bersetubuh.
Wanita yang junub halal diceraikan, sedangkan wanita haid tidak halal diceraikan.

Kami sebutkan beberapa hukum wanita haid secara lebih rinci sebagai berikut:

1. Tidak boleh berdiam diri di masjid, yang dibolehkan hanya lewat saja. Dalil ketidakbolehan berdiam diri di masjid adalah hadits yang diriwayatkan Aisyah ra. yang berkata:

“Rasulullah Saw. datang, sedangkan di hadapan rumah-rumah para sahabat adalah jalan di dalam masjid. Maka beliau Saw. berkata: “Pindahkanlah pintu-pintu rumah ini dari masjid.” Kemudian Rasulullah Saw. masuk tetapi orang-orang itu tidak melakukan sesuatupun dengan harapan turun rukhshah (keringanan) terkait mereka. Lalu Rasulullah Saw. keluar lagi menemui mereka dan berkata: “Pindahkanlah pintu-pintu rumah ini dari masjid. Sesungguhnya aku tidak menghalalkan masjid bagi orang yang haid dan junub.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Khuzaimah)

Hadits ini dishahihkan oleh Ibnu al-Qaththan. Hadits ini sudah kami cantumkan dalam pembahasan (hukum-hukum junub).

Mengenai dalil bolehnya orang haid melewati masjid adalah hadits yang diriwayatkan dari Maimunah ra. bahwasanya dia berkata:

“Rasulullah Saw. pernah menemui salah seorang dari kami padahal dia (sang isteri) sedang haid, lalu beliau Saw. meletakkan kepalanya di atas pangkuannya. Beliau Saw. kemudian membaca al-Qur’an padahal dia (sang isteri) sedang haid. Kemudian salah seorang dari kami berdiri membawakan tikar kecilnya dan meletakkannya di dalam masjid, padahal dia sedang haid.” (HR. Ahmad dan an-Nasai)

Dan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah ra. bahwasanya dia berkata:

“Rasulullah Saw. berkata kepadaku: “Bawakanlah khumrah ini dari masjid.” Aisyah berkata: Aku berkata: Aku sedang haid. Maka Nabi Saw. berkata: “Sesungguhnya darah haidmu itu tidak berada pada tanganmu.” (HR. Muslim, Ahmad, dan Abu Dawud)

Khumrah itu adalah sajadah atau hamparan yang dijadikan tempat sujud.

Kesimpulan yang diambil dari dua hadits ini sangat jelas.

Orang yang berpendapat seperti pendapat kami ini adalah Zaid bin Tsabit, Malik, as-Syafi’i, Ahmad dan ahlud dzahir.
Sufyan, Abu Hanifah, dan Malik dalam satu riwayat darinya berpendapat wanita haid itu tidak boleh melewati masjid. Mereka berdalil dengan sabda Rasulullah Saw.:

“Aku tidak menghalalkan masjid bagi orang haid dan junub.”

Maka kami bantah pendapat mereka, bahwa hadits ini masih bersifat umum, sedangkan hadits Maimunah dan Aisyah mengecualikan tindakan berlalu di dalam masjid dari keumuman larangan tersebut. Perkara ini sangat jelas, sedemikian jelasnya sehingga tidak perlu dijelaskan lagi.

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Perempuan Haid Tidak Najis



2. Orang haid boleh bergaul, bercampur-baur dengan orang-orang, berbincang dengan mereka, makan, minum, tidur dan aktivitas-aktivitas keseharian lainnya, kecuali beberapa hal yang dilarang oleh syara. Dalil-dalilnya adalah sebagai berikut:

a. Hadits yang diriwayatkan oleh Anas tentang sebab turunnya ayat: “Dan mereka bertanya kepadamu tentang wanita haid”, yang sebelumnya telah kami cantumkan di atas menyebutkan:

“Sesungguhnya orang Yahudi, apabila isteri mereka haid, maka mereka tidak makan dan berkumpul dengannya di rumah.”

Yakni, mereka tidak makan bersama wanita haid dan tidak bergaul dengannya. Lalu turunlah ayat ini, kemudian Rasulullah Saw. menjelaskan ayat ini dengan sabdanya: “Lakukanlah.”

“Lakukanlah apapun, kecuali bersetubuh.”

Yakni, lakukanlah apa yang tidak dilakukan oleh orang Yahudi, yang sebagiannya telah disebutkan di bagian awal hadits ini, atau lebih dari itu kecuali bersetubuh.

b. Dari Aisyah ra., dia berkata:

“Aku pernah minum dan waktu itu aku sedang haid. Kemudian aku memberikan (gelas minum)ku kepada Nabi Saw. Beliau Saw. meletakkan mulutnya di bekas mulutku, lalu beliau Saw. minum, dan aku makan daging yang masih menempel pada tulang. Waktu itu aku sedang haid, lalu aku memberikannya kepada Nabi Saw., kemudian beliau Saw. meletakkan mulutnya di bekas mulutku.” (HR. Muslim dan Ahmad)

c. Dari Abdullah bin Saad, dia berkata:

“Aku bertanya kepada Rasulullah Saw. tentang makan bersama wanita haid. Beliau Saw. berkata: “Makanlah bersamanya.” (HR. Ahmad)

At-Tirmidzi meriwayatkan hadits ini juga, dan berkata: status hadits ini hasan gharib. Hadits ini menunjukkan bolehnya makan bersama wanita haid.

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Hukum-Hukum Terkait Junub


Hukum-Hukum Junub

Bagi orang yang junub berlaku beberapa hukum yang akan kami jelaskan dengan rincian sebagai berikut:










Bacaan: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Orang Junub Tidak Najis



2. Bagi orang yang junub boleh bercampur-baur dengan orang-orang, bersalaman dan berbincang-bincang dengan mereka, dan sebagainya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abu Hurairah ra.:

“Bahwasanya dia ditemui oleh Nabi Saw. di salah satu jalan yang ada di Madinah, padahal dia dalam keadaan junub, sehingga dia diam-diam pergi dan mandi, karenanya Nabi Saw. menemukannya, ketika dia (Abu Hurairah) mendatanginya kembali. Maka Nabi Saw. bertanya: “Di mana engkau tadi wahai Abu Hurairah?” Abu Hurairah berkata: Wahai Rasulullah, engkau hendak menemuiku padahal aku dalam keadaan junub. Aku tidak suka duduk menemanimu hingga aku mandi. Rasulullah Saw. bersabda: “Subhanallah, sesungguhnya seorang mukmin itu tidak najis.” (HR. Muslim)

Rasulullah Saw. tidak membenarkan tindakan Abu Hurairah pergi diam-diam dari hadapannya dengan alasan enggan duduk dalam keadaan junub menemani beliau Saw. Pengingkaran ini memberi pengertian bolehnya bersalaman, duduk-duduk, dan berbincang-bincang dengan orang yang junub.

Bacaan: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Hadits Orang Junub Boleh Berjihad Tanpa Mandi



3. Orang yang junub boleh berjihad. Kisah malaikat memandikan sahabat sangat terkenal. Dalam Sirah Ibnu Hisyam dituturkan:

“Rasululllah Saw. bersabda: “Sesungguhnya teman kalian ini, yakni Handzalah, sedang dimandikan Malaikat.” Lalu para sahabat bertanya pada keluarganya tentang apa yang terjadi pada Handzalah. Kemudian isterinya ditanya tentang dirinya, maka sang isteri berkata: Handzalah pergi dalam keadaan junub ketika dia mendengar seruan jihad. Maka Rasulullah Saw. berkata: “Karena itulah Handzalah dimandikan Malaikat.”

Hadits ini diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban dari jalur Abdullah bin Zubair ra.

Bacaan: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Bangun Subuh Junub Boleh Puasa



4. Bagi orang yang bangun subuh dalam keadaan junub, boleh melanjutkan puasanya, berdasarkan hadits yang diriwayatkan dari Aisyah dan Ummu Salamah (dua isteri Nabi Saw.), bahwasanya keduanya berkata:

“Rasulullah Saw. bangun shubuh dalam keadaan junub yang disebabkan persetubuhan, bukan mimpi, di bulan Ramadhan, kemudian beliau Saw. (tetap) berpuasa.” (HR. Muslim, Bukhari dan Ahmad)

Inilah pendapat mayoritas, bahkan statusnya hampir mendekati ijma’ (kesepakatan) para fuqaha.

Adapun riwayat “Abu Hurairah memfatwakan orang yang bangun waktu fajar dalam keadaan junub itu tidak sah puasanya,” sesungguhnya Abu Hurairah sendiri telah menarik (meralat) fatwanya ini. Perihal fatwa dan ralat yang dilakukan Abu Hurairah telah disinggung oleh Muslim dalam kitab Shahihnya dalam satu hadits yang diriwayatkan dari jalur Abdul Malik bin Abu Bakar bin Abdurrahman dari Abu Bakar. Selain itu Ibnu Abi Syaibah telah meriwayatkan bahwa Abu Hurairah telah menarik kembali fatwanya dan tidak mengamalkannya. Ini terkait junub yang disebabkan oleh persetubuhan.
Perihal bolehnya puasa bagi orang yang bangun pagi dalam keadaan junub yang disebabkan oleh mimpi, maka ini tidak diperselisihkan lagi oleh seorangpun. Saya tidak akan berpanjang lebar dalam persoalan ini, karena tempat pembahasannya ada dalam bab puasa, bukan dalam bab thaharah.

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Orang Junub Dilarang Shalat Dan Thawaf


6. Seorang yang junub tidak boleh melakukan shalat dan aktivitas yang terkategorikan sebagai shalat, seperti sujud syukur dan sujud tilawah, dan juga tidak boleh thawaf di sekitar Ka’bah. Shalat secara umum terlarang bagi orang yang junub berdasarkan firman Allah Swt.:

“(Jangan pula hampiri mesjid) sedang kamu dalam keadaan junub, terkecuali sekedar berlalu saja, hingga kamu mandi.” (TQS. an-Nisa [4]: 43)

Juga berdasarkan hadit-hadits lain yang banyak jumlahnya. Perkara ini diketahui secara pasti sebagai bagian dari agama (ma'lum min ad-diin bi ad-dharurah). Sedangkan larangan thawaf di seputar Ka’bah bagi orang yang junub, karena thawaf itu dipandang sebagai shalat juga, sehingga hukumnya semisal dengan hukum shalat. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Thawus dari seorang lelaki yang bertemu dengan Nabi Saw., bahwasanya Nabi Saw. bersabda:

“Sesungguhnya thawaf itu shalat, jika kalian thawaf maka sedikitkan berbicara.” (HR. Ahmad dan an-Nasai)

Dan berdasarkan hadits yang diriwayatkan Abdullah bin Abbas yang dimarfu’kan kepada Nabi Saw., dia berkata:

“Sesungguhnya thawaf di Baitullah itu semisal dengan shalat, walaupun memang kalian boleh berbicara. Barangsiapa yang berbicara maka hendaknya dia tidak berbicara kecuali kebaikan.” (HR. Ibnu Khuzaimah dan ad-Darimi)

Hadits ini diriwayatkan dan dishahihkan oleh al-Hakim.

Bacaan: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Sunah Mandi Saat Siuman Dari Pingsan



Mandi Saat Siuman Dari Pingsan

Hadits yang cukup panjang berikut menyinggung persoalan ini: Dari Ubaidillah bin Abdullah bin Utaibah, dia berkata:

“Aku menemui Aisyah dan berkata: Maukah engkau menceritakan peristiwa sakitnya Rasulullah Saw.? Aisyah berkata: Baiklah. Ketika Nabi Saw. semakin parah sakitnya, beliau Saw. bertanya: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami katakan: Belum, mereka menunggu engkau. Beliau Saw. berkata: “Siapkanlah air untukku dalam wadah.” Aisyah berkata: Kami kemudian melakukannya. Beliau Saw. kemudian mandi, lalu berusaha bangkit, tetapi kemudian beliau Saw. pingsan. Rasulullah Saw. siuman, lalu bertanya: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab: Belum, mereka menunggumu wahai Rasulullah. Beliau Saw. berkata: “Siapkanlah air untukku dalam wadah.” Aisyah berkata: Kemudian beliau Saw. duduk dan mandi. Beliau Saw. berusaha bangkit, tetapi kemudian beliau Saw. pingsan. Beliau Saw. siuman, lalu bertanya: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab: Belum, mereka menunggumu wahai Rasulullah. Lalu beliau Saw. berkata: “Siapkanlah air untukku dalam wadah.” Beliau Saw. duduk dan mandi, kemudian berusaha bangkit, tapi beliau Saw. pingsan. Beliau Saw. siuman, lalu beliau Saw. bertanya: “Apakah orang-orang sudah shalat?” Kami menjawab: “Belum, mereka menunggumu wahai Rasulullah Saw.” Orang-orang berkumpul di masjid menunggu Nabi Saw. untuk melakukan shalat Isya. Nabi Saw. kemudian mengutus orang kepada Abu Bakar agar ia shalat mengimami orang-orang.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Ahmad, an-Nasai, ad-Darimi, dan Ibnu Khuzaimah meriwayatkan hadits ini dengan redaksi kalimat yang beragam.

Lafadz al-mikhdhab berarti wadah yang digunakan untuk mencuci pakaian. Lafadz yanuu'u berarti bangkit dengan susah payah.

Hadits ini memberi pengertian disyariatkannya mandi bagi orang yang siuman setelah pingsan. Sebab, Rasulullah Saw. walaupun sedang sakit parah tetapi beliau Saw. mandi sebanyak tiga kali setelah tiga kali pingsan berturut-turut. Tindakan beliau Saw. yang tetap mandi walaupun dengan kondisi yang sangat payah ini menunjukkan disyariatkannya mandi bagi orang yang siuman dari pingsan.

Adapun status hukum mandi tersebut sebagai sunah, bukan fardhu. Ini berdasarkan hadits yang diriwayatkan Ibnu Khuzaimah dari Aisyah ra., dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda saat sakit menjelang wafatnya:

“Tuangkanlah air ke tubuhku dari tujuh geriba yang belum dilepas tali ikatannya, agar aku bisa beristirahat sehingga bisa memberi pesan (wasiat) pada orang-orang. Aisyah berkata: Lalu kami mendudukkan beliau Saw. di dalam bejana kuningan milik Hafshah. Kemudian kami menuangkan air dari geriba itu ke atas tubuhnya, sampai beliau Saw. mulai memberi isyarat kepada kami: Kalian sudah melakukannya. Setelah itu beliau Saw. keluar.”

Hadits ini menunjukkan tujuan mandi yang dilakukan beliau Saw., sehingga hukum mandi tersebut bukan fardhu atau wajib.

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Sunnah Mandi Saat Ihram Dan Memasuki Kota Makkah



Mandi Saat Ihram Dan Memasuki Kota Makkah

Beberapa hadits berikut berkaitan dengan persoalan ini:

1. Dari Zaid bin Tsabit:

“Bahwasanya dia melihat Nabi Saw. ihram dengan melepaskan baju beliau Saw. yang berjahit dan mandi.” (HR. Tirmidzi, beliau menghasankannya).

Hadits ini diriwayatkan ad-Daruquthni, Baihaqi dan Thabrani.

2. Dari Aisyah ra., dia berkata:

“Asma binti Umais melahirkan Muhammad bin Abu Bakar di as-Syajarah, lalu Rasulullah Saw. memerintahkan Abu Bakar agar isterinya itu mandi, dan kemudian Asma pun bertalbiyah. (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, Malik dan Muslim)

Muslim, Ibnu Hibban dan Ibnu Majah meriwayatkan pula hadits ini dari jalur Jabir dengan lafadz:

“Lalu kami keluar bersama beliau Saw., hingga kami tiba di Dzul Hulaifah. Setelah itu Asma binti Umais melahirkan Muhammad bin Abu Bakar. Kemudian Asma mengutus orang menemui Rasulullah Saw. (untuk bertanya) apa yang harus aku lakukan. Maka beliau Saw. bersabda: “Mandilah, dan balutlah tempat keluarnya darah dengan kain, dan berihramlah.”

Istatsfirii artinya tahanlah dengan sobekan kain untuk mencegah keluarnya darah.

3. Dari Nafi:

“Bahwasanya Ibnu Umar tidaklah datang di Makkah melainkan dia bermalam di Dzi Tuwa hingga pagi, lalu beliau mandi, kemudian memasuki kota Makkah pada siang hari, dan dia bercerita bahwasanya beliau Saw. melakukan hal itu.” (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Dawud)

Bukhari meriwayatkan hadits ini dengan lafadz:

“Ibnu Umar ra. ketika memasuki Adnal al-Haram menahan diri dari (tidak langsung-pen.) bertalbiyah. Kemudian bermalam di Dzi Thuwa, lalu shalat shubuh di sana dan mandi. Setelah itu dia bercerita bahwasanya Nabi Saw. melakukan hal itu.”

Dzu Thuwa adalah satu tempat di jalan masuk menuju kota Makkah.

Ibnu al-Mundzir berkata: Mandi ketika memasuki kota Makkah itu mustahab (sunah) menurut seluruh ulama.
Dan saya setuju dengan pernyataan ini. Saya mengatakan, “mandi ketika memasuki kota Makkah dan berihram” secara bersamaan, karena pada prinsipya seorang Muslim itu memasuki kota Makkah dalam keadaan berihram, bukan tidak berihram. Tetapi jika memasukinya tanpa berihram, maka dia tetap dianjurkan mandi juga. Hal ini karena Rasulullah Saw. pun mandi ketika memasuki kota Makkah pada tahun Penaklukan Makkah, padahal beliau Saw. dalam keadaan tidak berihram. Ini telah disebutkan oleh as-Syafi’i dalam kitab al-Umm. An-Nafi meriwayatkan dari Ibnu Umar ra.:

“Bahwasanya beliau suka mandi ketika memasuki Makkah, dan memerintahkan mereka melakukan hal itu.” (HR. Ibnu Abi Syaibah)

Dalil yang paling jelas menganjurkan mandi adalah hadits yang kedua, karena di dalamnya terdapat perintah kepada Asma untuk mandi, walaupun dia sedang nifas. Dan satu hadits ini saja cukup untuk berkesimpulan disunahkannya mandi saat ihram dan memasuki kota Makkah, sedangkan hadits-hadits selainnya tidak memiliki dilalah seperti itu.

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Hadits Dhaif Terkait Mandi



BAB TUJUH

MANDI YANG DISUNAHKAN OLEH NASH

Kami katakan oleh nash, dalam rangka membedakan antara beberapa kategori mandi yang secara khusus disebutkan dan dianjurkan oleh nash, dengan beberapa kategori mandi yang dianjurkan tetapi tidak disebutkan secara khusus oleh nash.

Syariat sangat menganjurkan kebersihan, dan mandi secara umum dicakup dalam anjuran ini, sehingga mandi dihukumi mandub (sunah).
Walaupun begitu, secara khusus syariat menganjurkan mandi dalam beberapa waktu tertentu melalui nash-nash yang khusus, dan tidak menyebutkan selainnya, sehingga mandi yang lain tetap berada di bawah keumuman nash yang menganjurkan kebersihan.
Dalam kesempatan ini, kami hanya akan menyampaikan waktu-waktu yang secara khusus disebutkan dalam nash-nash tersebut.
Bab ini hanya mencakup beberapa kategori mandi yang dianjurkan dan dihukumi mandub saja, tidak mencakup beberapa mandi wajib, seperti mandi karena junub dan haid misalnya, karena untuk dua perkara terakhir ini ada tempat lain yang akan membahasnya.

Dengan mengkaji dalil-dalil yang layak digunakan, kita akan melihat bahwa syariat menetapkan empat waktu untuk mandi [sunnah], yakni:

a. Hari Jumat.
b. Ketika ihram dan memasuki kota Makkah.
c. Setelah siuman dari pingsan.
d. Setelah memandikan jenazah.

Inilah empat waktu untuk mandi yang secara khusus ditetapkan oleh syara melalui nash-nashnya. Sedangkan mandi di waktu-waktu lainnya, seperti dua hari raya, Hari Arafah, i'tikaf, memotong bulu kemaluan, hijamah, dan sebagainya, maka tidak ada nash-nash yang layak digunakan sebagai dalil khusus yang mensunahkannya. Misalnya Ahmad dan Ibnu Majah meriwayatkan dari al-Fakih bin Saad:

“Sesungguhnya Rasulullah Saw. suka mandi pada Hari Jumat, Hari Arafah, Hari Raya Idul Fitri, dan hari raya kurban. Dia berkata: Al-Fakih bin Saad memerintahkan keluarganya untuk mandi pada hari-hari tersebut.”

Di dalam sanad hadits ini terdapat Yusuf bin Khalid yang dituduh suka berdusta, dan termasuk orang zindiq.

Contoh lain adalah hadits yang diriwayatkan Baihaqi dari Ibnu Abbas, dia berkata:

“Rasulullah Saw. suka mandi pada Hari Raya Idul Fitri dan Idul Adha.”

Di dalam hadits ini juga terdapat nama Jubarah, yang didhaifkan oleh Bukhari dan an-Nasai, dan dituduh suka berdusta oleh Ibnu Ma’in.

Misalnya lagi, hadits yang diriwayatkan Baihaqi, Ahmad, Abu Dawud, dan Daruquthni dari Aisyah bahwasanya Nabi Saw. bersabda:

“Seseorang mandi karena empat perkara: karena junub, Hari Jumat, memandikan mayat, dan bekam.”

Tirmidzi berkata: Aku bertanya kepada Bukhari tentang hadits ini, maka Bukhari berkata: Sesungguhnya Ibnu Hanbal dan Ali bin Abdillah berkata: Dalam bab ini tidak ada satupun hadits yang shahih, termasuk hadits ini.

Contoh lain, hadits yang diriwayatkan Baihaqi bahwa Aisyah ra. berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

“Mandi itu dilakukan karena lima perkara: karena junub, bekam, mandi Hari Jumat, mandi (setelah memandikan) mayat, dan mandi dari air hangat.”

Al-Atsram berkata: Aku mendengar Abu Abdillah -yakni Ibnu Hanbal berbicara tentang Mush'ab -yakni Mush’ab bin Syaibah sebagai salah seorang perawi hadits ini, dia berkata: Hadits-hadits Mush'ab ini terkategorikan hadits munkar, dan aku mendengar dia berkomentar tentang hadits ini juga.

Tetapi saya berkata: Seandainya tidak ada satu hadits pun yang valid terkait mandi pada dua hari raya, setelah berbekam, Hari Arafah, dan yang lainnya selain yang empat waktu tersebut di atas, maka sesungguhnya mandi pada beberapa kesempatan selain yang empat waktu ini -jika memang bisa mewujudkan kebersihan dan menghilangkan kotoran- itu tetap disunahkan berdasarkan keumuman dalil-dalil yang ada, tanpa perlu menyebutkan dalil-dalil yang dhaif atau lemah seperti di atas yang menunjukkannya.

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Sunah Merapikan Rambut



5. Menyisir Rambut

Kebiasaan kaum wanita sekarang ini dengan menyemprot rambut menggunakan bahan yang bisa membuat rambut kaku sehingga nampak tebal dan lurus, atau alat elektronik yang disebut hair dryer untuk merapikan rambut dan menjadikannya nampak lebih besar dari ukurannya; semua itu boleh-boleh saja dan tidak termasuk ke dalam larangan menyambung rambut. Tidak bisa dikatakan pula perbuatan seperti itu sama dengan merubah bentuk dan ukuran rambut, sehingga disamakan dengan penipuan dan pemalsuan. Tidak bisa dikatakan seperti itu. Sebab, jika seperti itu, niscaya mengecat rambut, mengempalnya, dan menjalinnya, akan haram pula hukumnya, karena sama dengan merubah bentuk dan ukuran rambut. Padahal mengempal rambut itu boleh-boleh saja berdasarkan hadits yang diriwayatkan Bukhari:

“Dahulu Ibnu Umar berkata: Sungguh aku melihat Rasulullah Saw. mengempalkan rambut.”

Menjepit rambut agar tidak acak-acakan itu boleh-boleh saja, berdasarkan hadits Atha bin Yasar yang telah kami sebutkan dalam pembahasan memuliakan rambut.

Dari Atha bin Yasar, dia berkata:

“Ketika Rasulullah Saw. sedang berada di masjid, ada seorang laki-laki masuk dengan rambut dan janggut yang acak-acakan dan tidak beraturan. Maka Rasulullah Saw. memberi isyarat dengan tangannya pada laki-laki itu agar dia keluar, seakan beliau Saw. ingin mengatakan agar ia merapikan rambut dan janggutnya terlebih dahulu. Lalu laki-laki itu pun keluar merapikannya, dan kemudian masuk kembali. Rasulullah Saw. bersabda: “Bukankah ini lebih baik, daripada salah seorang dari kalian datang dengan rambut yang acak-acakan seperti setan.” (HR. Malik)

6. Membelah Rambut

Dibolehkan membelah rambut berdasarkan hadits Ibnu Abbas ra., dia berkata:

“Nabi Saw. kadang sering menyamai ahli kitab dalam perkara yang tidak diperintahkan. Ahli kitab suka mengurai rambut mereka, orang-orang musyrik suka membelah rambut mereka. Maka Nabi Saw. lebih suka mengurai rambut bagian depannya (membiarkannya tergerai), kemudian beliau Saw. membelahnya.” (HR. Bukhari, Muslim dan an-Nasai)

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam