Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Dalil Shalat Sunat Rawatib Setelah Shalat Jum’at



Sunat Rawatib untuk Hari Jum’at

Dengan merujuk pada prinsip yang kami pegang dalam bab “shalat tathawwu’,” maka kami katakan bahwa shalat Jum’at memiliki sunat muakkad rawatib, yang dilaksanakan setelahnya, yakni dua rakaat saja. Shalat Jum’at juga memiliki dua rakaat ba'diyah lain yang diikutkan pada sunat rawatib muakkad tersebut, sehingga disunahkan untuk melaksanakan dua rakaat sunat setelah shalat Jum’at. Dan jika melakukan empat rakaat maka hal itu lebih baik lagi. Yang paling utama adalah shalat sunat ba’diyah tersebut hendaknya dilaksanakan di rumah. Dari Abdullah bin Umar ra.:

“Bahwa Rasulullah Saw. shalat sebelum dhuhur dua rakaat dan setelahnya dua rakaat, dan setelah maghrib dua rakaat di rumahnya dan setelah isya dua rakaat, dan tidak shalat setelah Jum'at hingga beliau pulang, kemudian shalat dua rakaat.” (HR. Bukhari)

Muslim meriwayatkan dengan redaksi:

“Dan beliau Saw. tidak shalat setelah Jum'at hingga beliau pulang, lalu shalat dua rakaat di rumahnya.”

Dari Abdullah bin Umar ra.:

“Bahwa Rasulullah Saw. jika selesai shalat Jum'at beliau Saw. pulang lalu shalat dua rakaat di rumahnya. Kemudian dia (perawi) berkata: Rasulullah Saw. sering melakukan hal itu.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai dan Tirmidzi)

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

“Jika kalian shalat setelah Jum'at maka shalatlah empat rakaat -dan dalam satu riwayat- jika kalian terburu-buru karena sesuatu maka sholatlah dua rakaat di masjid, dan kemudian dua rakaat jika kalian telah pulang.” (HR. Muslim dan Ahmad).

Dari Abu Hurairah ra. ia berkata; Rasulullah Saw. bersabda:

“Jika salah seorang dari kalian shalat Jum’at maka shalatlah setelahnya sebanyak empat rakaat.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai dan Tirmidzi)

Sumber: Tuntunan Shalat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Dalil Bacaan Qur’an Dalam Shalat Jum’at



Bacaan dalam Shalat Jum'at

Kami telah mengatakan dalam pembahasan “membaca al-Qur’an pada shalat fardhu yang lima” bab “sifat shalat” pernyataan berikut: “Sesungguhnya di dalamnya tidak ada sunnah yang tetap dalam memilih ayat al-Qur'an untuk setiap shalat, karena itu seorang Muslim berhak memilih antara membaca surat ini atau surat itu dalam shalat ini atau shalat itu, di mana satu ayat dari surat-surat al-Qur'an tidak lebih utama dibandingkan ayat yang lain untuk satu shalat dengan shalat yang lain.”
Kami perlu tambahkan di sini: jika ada satu nash yang menyatakan bahwa Rasulullah Saw. membaca surat anu dalam shalat anu, maka hal itu tidak berarti bahwa membaca surat ini dalam shalat tersebut hukumnya menjadi mandub (disunahkan) dibandingkan dengan membaca surat lainnya.
Yang harus dipahami adalah: kita disunahkan membaca satu surat atau sebagian ayat al-Qur’an atau bahkan satu ayat sekalipun. Bacaan yang dibaca Rasulullah Saw. itu bukanlah sebab mandub satu-satunya. Yang disunahkan adalah membaca ayat manapun dari al-Qur’an.
Kami juga perlu sebutkan di sini sejumlah hadits yang menyinggung bacaan Rasulullah Saw. dalam shalat Jum'at, sekedar untuk pengetahuan atau untuk penelaahan saja. Dan kami persilahkan orang yang suka membaca apa yang dibaca Rasulullah Saw. dalam shalat Jum’at untuk berpegang pada hadits-hadits ini:

1) Dari Ibnu Abi Rafi, ia berkata:

”...Kemudian Abu Hurairah mengimami kami shalat Jum’at, dan dia membaca surat al-Jumuah setelahnya, dan pada rakaat terakhir (membaca) idza ja-akal munafiqun (surat al-munafiqun). Ia berkata: aku menemui Abu Hurairah ketika dia pulang, lalu aku bertanya kepadanya: “Sesungguhnya engkau membaca dua surat yang suka dibaca oleh Ali bin Abi Thalib di Kufah.” Lalu Abu Hurairah berkata: “Sesungguhnya aku mendengar Rasulullah Saw. membaca dua surat ini dalam shalat Jum’at.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai dan Tirmidzi)

Dalam riwayat Muslim yang kedua dari jalur Ibnu Abi Rafi juga terdapat ungkapan:

“Maka beliau membaca surat al-jumuah pada rakaat pertama, dan pada rakaat terakhir membaca idza ja-akal munafiqun (surat al-munafiqun).”

2) Dari Nu’man bin Basyir ra., ia berkata:

“Rasulullah Saw. suka membaca sabbihis ma rabbikal a'laa dan hal ataaka haditsul ghasiyah pada shalat dua hari raya dan shalat Jum'at.” (HR. Muslim, Ahmad, Abu Dawud, an-Nasai dan Tirmidzi)

3) Dari Ibnu Abbas ra.:

“Bahwa pada shalat fajar hari Jum'at Nabi Saw. seringkali membaca Alif Lam Mim tanzil as-sajdah dan hal ata alal insan hinum minad dahri, dan bahwa Nabi Saw. suka membaca surat al-Jumuah dan al-munafiqun dalam shalat Jum'at.” (HR. Muslim, Ahmad dan Abu Dawud)

4) Dari Samurah bin Jundub ra.:

“Bahwa Nabi Saw. suka membaca sabbihis ma rabbikal a'laa dan hal ataaka haditsul ghasiyah pada hari Jum 'at.” (HR. Ahmad, Abu Dawud, Syafi’i, an-Nasai dan al-Baihaqi)

Sumber: Tuntunan Shalat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Seruan Untuk Shalat Jum'at



Adzan untuk shalat Jum'at itu hanya sekali di zaman Rasulullah Saw., Abu Bakar dan Umar. Adzan ini dikumandangkan ketika imam sudah berdiri di atas mimbar, dan tidak dikumandangkan adzan selain itu. Sampai datang masa Utsman bin Affan ra. dan orang-orang telah semakin banyak. Lalu beliau menambah adzan yang lain sebelum adzan ini untuk memberitahukan manusia tentang dekatnya waktu shalat Jum'at. Adzan ini menjadi tambahan atas adzan yang pertama, dan terus digunakan hingga sekarang ini. Jadi, adzan di zaman Rasulullah Saw. dan zaman dua orang sahabatnya (yakni Abu Bakar dan Umar), itu adalah adzan kedua yang dikumandangkan saat ini. Sedangkan adzan yang ditambahkan oleh Utsman adalah adzan pertama yang ada saat ini.

Adalah Rasulullah Saw., beliau masuk ke dalam masjid untuk shalat Jum'at kemudian naik ke atas mimbar. Muadzin segera berdiri dan mengumandangkan adzan di masjid. Ini dilakukan ketika waktu shalat sudah mulai masuk. Waktu shalat Jum'at adalah ketika adzan dikumandangkan dan imam sudah duduk di atas mimbar, bukan ketika adzan pertama dikumandangkan.
Dengan demikian, kita mendapati di sebagian negeri-negeri kaum Muslim saat ini, ada orang yang mengumandangkan adzan sebelum matahari tergelincir dengan menggunakan perhitungan waktu astronomi sedangkan waktu Jum'at belum masuk. Waktu Jum'at tidak dianggap telah masuk ketika adzan pertama dikumandangkan. Karena itu kami katakan tentang wajibnya berangkat untuk shalat Jum'at ketika dikumandangkan adzan yang kedua, bukan pada adzan yang pertama. Adzan yang kedua inilah yang dimaksudkan dari firman Allah Swt.:

“Hai orang-orang beriman, apabila diseru untuk menunaikan shalat Jum'at, maka bersegeralah kamu kepada mengingat Allah, dan tinggalkanlah jual beli. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu mengetahui.” (TQS. al-Jumuah [62]: 9)

Dari Sa’ib bin Yazid ra., ia berkata:

“Sesungguhnya kumandang adzan yang kedua pada hari Jum'at itu diperintahkan Utsman ketika penghuni masjid sudah semakin banyak. Dan adzan ini dikumandangkan pada hari Jum’at ketika imam telah duduk.” (Riwayat Bukhari)

Dalam sebagian riwayat, adzan ini malah disebut sebagai adzan yang ketiga. Maksudnya adalah yang ketiga selain adzan yang pertama dan seruan iqamat. Dari Saib bin Yazid ra., ia berkata:

“Sesungguhnya yang menambahkan adzan ketiga pada hari Jum'at adalah Utsman bin Affan ra. ketika penduduk Madinah semakin banyak. Dan (pada zaman) Nabi Saw. tidak ada adzan kecuali hanya satu, di mana adzan pada hari Jum'at itu dikumandangkan ketika imam sudah duduk, yakni di atas mimbar.” (Riwayat Bukhari)

Ahmad meriwayatkan hadits ini dengan redaksi:

“Adapun adzan di zaman Nabi Saw., Abu Bakar dan Umar, adalah dua adzan, hingga tiba zaman Utsman dan orang-orang semakin banyak. Maka beliau memerintahkan dikumandangkannya adzan pertama di Zaura (yakni sebuah pasar di Madinah).”

Adanya percampuran penyebutan adzan Utsman dari beberapa hadits di atas itu berasal dari beberapa anggapan. Apabila iqamat dipandang sebagai adzan, maka dikatakan bahwa Utsman telah menambahkan adzan yang ketiga. Dan jika iqamat tidak dipandang sebagai adzan, maka dikatakan bahwa Utsman telah menambahkan adzan yang kedua. Dan jika dipandang dari urutan dikumandangkannya adzan, maka dikatakan Utsman telah menambahkan adzan yang pertama.

Utsman ra. telah menambahkan adzan ini untuk memberitahukan manusia agar bersiap-siap untuk shalat sebelum tiba waktu shalat Jum’at. Adzan ini dikumandangkan di pasar Madinah yang disebut Zaura, sehingga bisa diperdengarkan pada kumpulan manusia. Sedangkan adzan yang kedua dalam urutannya zamani maka ini dikumandangkan di masjid atau dekat pintu masjid, begitulah adanya. Dari Saib bin Yazid ra., ia berkata:

“Adzan dikumandangkan di hadapan Rasulullah Saw. jika beliau telah duduk di atas mimbar pada hari Jum'at, di dekat pintu masjid. Begitu juga di zaman Abu Bakar dan Umar.” (HR. Abu Dawud)

Yang penting dalam pembahasan ini adalah bahwa adzan yang pertama -yakni adzan Utsman- semata-mata dikumandangkan agar orang-orang mempersiapkan diri untuk melaksanakan Jum'at, dan hal itu dilakukan sebelum masuk waktu wajib. Adzan yang kedua dikumandangkan ketika imam telah duduk di atas mimbar, inilah adzan di mana seorang Muslim wajib berangkat untuk shalat dan memberitahukan telah masuknya waktu shalat.

Apa yang diada-adakan oleh orang-orang zaman sekarang, berupa dzikir dan doa sebelum adzan yang pertama, maka hal itu tidak ada dasarnya, dan lebih utama untuk ditinggalkan.

Sumber: Tuntunan Shalat Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam