Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Nabi Saw. Memperluas Kekuasaan Negara Islam Atas Kaum Nashrani Perbatasan Romawi



2. Memperluas Kekuasaan Negara Islam atas Orang-Orang Nashrani Utara yang loyal kepada orang-orang Romawi

Meskipun Rasulullah Saw. terlambat bertemu dengan tentara Romawi, namun sekali-kali beliau tidak terlambat untuk memperkuat cengkraman kekuasaan Negara Islam di wilayah utara. Mengingat, wilayah utara dikatagorikan sebagai wilayah paling berbahaya. Sebab, wilayah utara tersebut mendapat perlindungan dari bangsa Romawi, karena wilayah utara menganut agama bangsa Romawi -agama Nashrani- dan tidak hanya itu, bahkan wilayah utara dijadikan sebagai perisai pelindung bagi bangsa Romawi dalam menghadapi serangan bangsa Arab.

Para pemimpin wilayah utara yakin bahwa Negara Islam yang sekarang telah mampu menghancurkan batas-batas wilayah kekuasaan bangsa Romawi, maka kapanpun Negara Islam mau, pasti Negara Islam mampu membersihkan institusi mereka. Dan kenyataan seperti itu, bukan hanya akan terjadi, namun pasti terjadi.

a. Oleh karena itu, setelah Rasulullah Saw. berada di Tabuk, beliau didatangi oleh Yuhannah bin Ru’bah, penguasa Ailah. Kemudian, ia berdamai dengan Rasulullah dan bersedia membayar jizyah. Rasulullah Saw. juga didatangi penduduk Jarba’ dan Adzruh, kemudian mereka juga bersedia membayar jizyah. Selanjutnya, Rasulullah Saw. membuat surat perjanjian untuk mereka. Isi surat perjanjian tersebut adalah: '“Bismillahirrahmannirrahim. Ini jaminan keamanan dari Allah dan Muhammad, Nabi dan sekaligus Rasulullah, untuk Yuhannah bin Ru’bah dan penduduk Ailah, termasuk kapal-kapal dan kafilah-kafilah dagang mereka, baik yang di darat, maupun yang di laut. Mereka yang juga berhak atas jaminan Allah dan jaminan Nabi Muhammad adalah penduduk Syam, Yaman, dan al-Bahr yang menjadi sekutunya. Siapa saja di antara mereka yang mengerjakan dosa, maka hartanya tidak terlindungi, namun tidak dengan dirinya. Oleh karena itu, hartanya menjadi halal bagi siapa saja yang mengambilnya. Sehingga, siapapun tidak boleh melarang atau mencegah seseorang mendatangi atau memanfaatkan mata air yang berasal dari darat maupun dari laut.”

b. Kemudian Rasulullah Saw. memanggil Khalid bin Walid. Selanjutnya, beliau mengirimnya kepada Ukaidir Dumah. Ia adalah Ukaidir bin Abdul Malik, Ukaidir Dumah berasal dari Kindah, bahkan di Kindah dialah rajanya, sedang agamanya Nashrani (Kristen). Khalid berkata, “Wahai Rasulullah, bagaimana caranya aku memasuki negeri anjing dan singa, sedang pasukanku sedikit?” Rasulullah Saw. bersabda kepada Khalid, “Engkau akan mendapatinya sedang berburu sapi.” Khalid pun segera berangkat. Khalid tiba di benteng Ukaidir Dumah di Madzarul Ain, ketika itu malam terang bulan. Sedang Ukaidir Dumah ketika itu berada di atas lotengnya ditemani istrinya, tiba-tiba sapi liar menggaruk-garuk pintu istana dengan tanduknya. Melihat itu, istrinya berkata, “Apakah engkau pernah melihat sapi seperti ini sebelumnya?” Ukaidir berkata, “Tidak, demi Allah.” Istrinya berkata, “Kalau begitu, siapa yang membiarkan sapi ini berkeliaran?” Ukaidir Dumah berkata, “Tidak ada.” Lalu, Ukaidir Dumah turun dari lotengnya, ia memerintahkan agar disiapkan kuda, setelah kudanya diberi pelana, ia pun menaikinya. Beberapa orang dari keluarganya mengikutinya, termasuk saudaranya yang bernama Hasan. Ukaidir Dumah menaiki kudanya dan beberapa orang dari keluarganya ikut keluar bersamanya dengan membawa tombak kecil.
Ketika mereka telah keluar, pasukan berkuda Rasulullah Saw. mengikutinya, kemudian mereka menangkap Ukaidir Dumah dan membunuh saudaranya. Ketika itu, Ukaidir Dumah mengenakan qamis dari sutra yang ditenun dengan emas. Kemudian, Khalid bin Walid mengambil qamis tersebut dari Ukaidir Dumah, lalu Khalid mengirimkannya kepada Rasulullah Saw., sebelum Khalid sendiri datang kepada beliau.
Ketika kaum muslimin melihat qamis tersebut, kaum muslimin tercengang, lalu mereka memegangnya dan terkagum-kagum kepadanya. Melihat itu, Rasulullah Saw. bersabda, “Apakah kalian terkagum-kagum dengan qamis ini? Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh sapu tangan Sa'ad bin Mu’ad di Surga lebih bagus daripada qamis ini.”
Kemudian, Khalid bin Walid datang dengan membawa Ukaidir Dumah kepada Rasulullah Saw. Rasulullah Saw. menghentikan keluarnya darah Ukaidir Dumah. Lalu, Ukaidir Dumah berdamai dengan Rasulullah dengan kesanggupan membayar jizyah. Setelah Rasulullah Saw. membebaskannya, Ukaidir Dumah pun segera pulang kepada keluarganya. Namun tidak lama kemudian -di masa kekhilafahan Abu Bakar ash-Shiddiq- Ukaidir Dumah merusak perjanjian damai tersebut. Kemudian, Khalid bin Walid mengepungnya, setelah ia kembali dari Iraq menuju Syam, lalu Khalid membunuhnya. Selanjutnya, Rasulullah Saw. kembali ke Madinah al-Munawwarah. Peristiwa itu terjadi pada bulan Ramadhan, tahun kesembilan Hijriyah.

Sumber: Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, SIRAH NABAWIYAH Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Al-Azhar Press

Nabi Saw. Kembali Memerangi Romawi, Mengirim Pasukan Usamah bin Zaid



3. Kembali Memerangi Romawi (Mengirim Usamah bin Zaid)

Rasulullah Saw. mengirim Usamah bin Zaid pada tahun kesebelas Hijriyah setelah datangnya para delegasi kepada Rasulullah Saw. Peristiwa ini kami kemukakan dengan tujuan memaparkan semua aktivitas peperangan yang dilakukan Rasulullah Saw. melawan bangsa Romawi yang terjadi di satu tempat. Sedang, sebab sebenarnya dan hakiki tentang pengiriman Usamah bin Zaid ra. adalah melaksanakan rencana politik dan militer yang keduanya telah dirancang oleh Rasulullah Saw. ketika beliau meletakkan batu pertama Negara Islam.
Dan sebagai wujud dari pelaksanaan terhadap rencananya ini, beliau telah membuka front dengan bangsa Romawi, setelah beliau berhasil membersihkan institusi Yahudi dan bangsa Arab yang tunduk kepadanya.
Situasi dan kondisi memaksa beliau bersegera menyerahkan panji perang Mu’tah untuk menyelamatkan kehormatan Negara Islam. Rasulullah Saw. menyerahkan panji perangnya, dan tentara Mu’tah berani menghadapi konsentrasi pasukan bangsa Romawi dan bangsa Arab yang banyak mendapat bantuan bangsa Romawi. Dengan demikian, berarti Rasulullah Saw. telah menaruh belati di tempat penyembelihan bangsa Romawi, meski beliau belum memasukkannya ke dalam tempat penyembelihan itu.
Kemudian, Rasulullah Saw. berkehendak memasukkan belatinya ke dalam tempat penyembelihan bangsa Romawi dalam perang Tabuk. Untuk itu, beliau telah menyiapkan segala keperluannya. Namun, tentara bangsa Romawi bersikap pengecut, mereka tidak berani berhadapan, mereka lari dari medan perang sebelum Rasulullah Saw. tiba. Nah, sekarang beliau bersungguh-sungguh memasukkan belatinya ke tempat penyembelihan bangsa Romawi, dengan menyiapkan pasukan yang dipimpin Usamah bin Zaid.

Adapun sebab secara langsung terkait dengan pengiriman Usamah bin Zaid ini adalah bahwa Farwah bin Amr al-Judzami sebelumnya seorang wali (gubenur) yang diangkat bangsa Romawi untuk daerah Ma’an dan sekitarnya di antara wilayah Syam. Namun, kemudian ia memeluk Islam. Ia mengirim seseorang kepada Rasulullah Saw. untuk memberitahukan tentang keIslamannya.
Bangsa Romawi marah dengan masuk Islamnya Farwah, lalu mereka mengirim pasukan untuk mendatangi Farwah, setelah bertemu Farwah, mereka memenggal lehernya di atas mata air yang bernama Afra’ di Palestina, kemudian mereka menyalib Farwah. Mereka membiarkan Farwah dalam keadaan disalib agar orang lain tidak berani mengikuti jejak Farwah, yaitu memeluk Islam.
Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan yang besar, yang terdiri dari para sahabat senior yang dipimpin oleh Usamah bin Zaid. Rasulullah Saw. memerintahkan Usamah dan pasukannya memasuki batas-batas kekuasaan bangsa Romawi, agar dengan demikian bangsa Romawi merasa gentar, dan mengembalikan kepercayaan hati bangsa Arab yang berada dalam batas-batas kekuasaan bangsa Romawi. Sehingga tidak ada seorang yang menyangka bahwa serangan Romawi tidak ada yang melawannya, masuk Islam membawa kematian tanpa ada seorangpun yang membalasnya.
Rasulullah Saw. hendak membuktikan bahwa Negara Islam melindungi semua kaum muslimin yang ada di seluruh penjuru dunia apabila mereka mendapatkan kezhaliman.
Pada hari senin, empat hari terakhir dari bulan Shafar, tahun kesebelas Hijriyah, Rasulullah Saw. mengharuskan kaum muslimin mengirim pasukan ke Syam. Beliau mengangkat Usamah bin Zaid bin Haritsah, mantan budak beliau sebagai pemimpin mereka. Beliau memerintahkannya agar pasukan berkuda menginjakkan kakinya di perbatasan al-Balqa’ dan ad-Darum yang merupakan bagian dari daerah Palestina.
Kaum muslimin semuanya telah siap, lalu mereka berjalan bersama Usamah bin Zaid, termasuk kaum Muhajirin yang pertama, sehingga tidak ada satupun dari mereka yang tidak ikut berangkat bersama Usamah bin Zaid. Usamah dan pasukannya pergi ke luar Madinah al-Munawwah, lalu ia membuat perkemahan di al-Jurf, dekat Madinah. Namun, Rasulullah Saw. wafat sebelum pasukan yang dipimpin Usamah tersebut berangkat. Dan setelah wafatnya Rasulullah Saw., Abu Bakar ra. terus mengirimnya.

Sumber: Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, SIRAH NABAWIYAH Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Al-Azhar Press

Negara Islam Menaklukkan Kantong-Kantong Politik Kufur



Putaran Kelima: Pembersihan atas Kantong-Kantong Pemberontak yang ada di Jazirah Arab

Setelah selesai melakukan pembersihan terhadap institusi-institusi politik bagi sentral kekuatan bangsa Arab (suku Quraisy, kabilah Hawazin, kabilah Tsaqif, dan lain-lainnya), di sana masih tersisa kantong-kantong pemberontak yang bersifat politik terhadap Negara Islam. Keberadaan mereka telah menyebar di sana sini bahkan telah menyebar di seluruh penjuru Jazirah Arab.
Memperlemah keberadaan kantong-kantong pemberontak di suatu tempat sangatlah penting, sebab keberadaannya akan menjadi sumber masalah yang akan menggelisahkan Negara Islam. Untuk itu, setelah beliau kembali ke Madinah, beliau mulai menyiapkan pasukan untuk menyerangnya, agar mereka tunduk terhadap kekuasaan dan kedaulatan Negara Islam.
Pasukan-pasukan yang beliau siapkan adalah:

a. Pasukan yang dikirim ke Bani Tamim

Pada bulan Muharram tahun kesembilan Hijriyah, Rasulullah Saw. menyiapkan pasukan yang dipimpin Uyainah bin Hishn al-Fuzari. Pasukan ini berkekuatan lima puluh penunggang kuda yang semuanya berasal dari bangsa Arab. Dalam pasukan ini tidak ada seorangpun dari kaum Muhajirin dan kaum Anshar. Rasulullah Saw. memerintahkan agar menyerang Bani Tamim.
Uyainah dan pasukannya bergerak pada malam hari dan bersembunyi pada siang hari. Ketika pasukan pimpinan Uyainah menyerang, merekapun melarikan diri. Uyainah berhasil menggiring dan membawa binatang-binatang ternak mereka, dan berhasil menahan wanita-wanita dan anak-anak mereka.
Uyainah membawa mereka semua ke Madinah al-Munawwarah. Akan tetapi tidak lama kemudian mereka disusul oleh delegasi mereka untuk menyatakan ketaatan, ketundukkan, dan loyalitas mereka, seperti yang akan dibicarakan dalam delegasi Bani Tamim.

b. Pasukan yang dikirim ke Khats’am

Pada bulan Shafar, Rasulullah Saw. mengirim Qathbah bin Amir dengan kekuatan dua puluh orang menuju perkampungan orang-orang Khats’am melalui arah lembah Baisyah. Qathbah melancarkan serangan terhadap mereka, sehingga terjadilah pertempuran yang sengit. Namun, akhirnya kemenangan ada di pihak kaum muslimin. Kemudian, Qathbah menggiring dan membawa binatang-binatang ternak dan wanita-wanita (sebagai tawanan) ke Madinah al-Munawwarah.

c. Pasukan yang dikirim ke Thaiy

Pada bulan Rabi’ul Awwal, Rasulullah Saw. mengirim Ali bin Abi Thalib dengan kekuatan seratus lima puluh orang dari kalangan kaum Anshar ke Thaiy untuk menghancurkan berhalanya “al-Fuls.” Ali dan pasukannya pun pergi, kemudian ia menghancurkannya dan membakarnya. Ali bin Abi Thalib kembali ke Madinah dengan membawa para tawanan, binatang ternak, dan perak. Dan di antara para tawanan itu adalah Saffanah bintu Hatim ath-Thaiy.

d. Pasukan yang dikirim ke Jeddah

Sampai informasi kepada Rasulullah Saw. bahwa orang-orang dari Habasyi telah tiba di Jeddah. Pada bulan Rabi’ul Akhir, Rasulullah Saw. mengirim Alqamah bin Muharriz dengan kekuatan tiga ratus mujahid. Ketika mereka melihat pasukan pimpinan Alqamah mereka melarikan diri. Ketika kembali, sebagian dari mereka meminta izin untuk bersegera menemui keluarganya, Alqamah pun memberi izin kepada mereka, dan mengangkat Abdullah bin Hudzafah sebagai pemimpin mereka.
Abdullah bin Hudzafah orang yang senang berkelakar. Mereka beristirahat di suatu jalan, dan menyalakan api untuk menghangatkan diri. Abdullah berkata kepada mereka, “Aku perintahkan kalian dan kalian harus melakukannya, jika tidak, maka kalian akan aku lemparkan ke dalam api. Sekarang kalian tidak punya pilihan lain, kecuali harus mentaatiku, sebab aku adalah pemimpin kalian.” Ketika Abdullah melihat bahwa sebagian dari mereka telah siap melakukan perintahnya, Abdullah memberitahu mereka bahwa apa yang dikatakannya itu hanyalah gurauan saja.
Ketika mereka telah kembali, mereka memberitahu hal itu kepada Rasulullah Saw., lalu Rasulullah Saw. bersabda, “Siapa saja yang memerintah kalian untuk berbuat maksiat, maka kalian jangan mentaati perintahnya.”

e. Pasukan yang dikirim ke Jubbab dan Baliya

Pada bulan Rabi'ul Akhir, Rasulullah Saw. juga mengirim Ukasyah bin Mihshan dengan kekuatan sekelompok kaum muslimin ke Jubbab dan Baliya -keduanya adalah kabilah dari Qudha’ah. Ukasyah berhasil menundukkan mereka, dan kembali lagi kepada Rasulullah Saw.

Sumber: Prof. Dr. Muh. Rawwas Qol’ahji, SIRAH NABAWIYAH Sisi Politis Perjuangan Rasulullah Saw., Al-Azhar Press

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam