Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Boleh Menggunakan Handuk Menyeka Basah Air Wudhu



Masalah (Perkara) Ketiga

Seorang yang berwudhu boleh menggunakan handuk untuk menyeka air setelah selesai berwudhu, tetapi boleh juga tidak menyekanya. Hal ini diriwayatkan dari alaHasan bin Ali, Anas, Utsman, Malik, at-Tsauri dan selainnya. Dalil kebolehan menyeka air adalah hadits yang diriwayatkan Qais bin Saad, dia berkata:

“Rasulullah Saw. mengunjungi kami di rumah kami... kemudian Saad memerintahkannya untuk mempersiapkan air untuk mandi. Lalu dibawakanlah air untuk mandi beliau Saw. beliau Saw. pun mandi. Kemudian Saad memberikan -atau Qais berkata- mereka memberikan selembar selimut yang telah dilumuri dengan kunyit dan waras kepada beliau Saw. Lalu beliau Saw. menggunakannya.” (HR. Ahmad, Abu Dawud dan an-Nasai)

Juga berdasarkan hadits yang diriwayatkan Salman al-Farisi:

“Bahwasanya Rasulullah Saw. berwudhu, lalu beliau membalik jubah wol yang dipakainya, kemudian mengusap wajahnya dengannya.” (HR. Ibnu Majah dengan sanad shahih)

Juga dari Aisyah ra.:

“Bahwasanya Nabi Saw. memiliki kain yang digunakan untuk menyeka air setelah berwudhu.” (HR. al-Hakim)

Dalil bolehnya tidak menyeka air adalah hadits Maimunah ra. Beliau menceritakan cara mandi Rasulullah Saw., dia berkata:

“Kemudian beliau Saw. diberi kain handuk, tetapi beliau Saw. tidak mengeringkan badannya dengan handuk tersebut.” (HR. Bukhari)

Dalam lafadz kedua dari Bukhari disebutkan:

“Lalu aku memberikan kain padanya, kemudian beliau Saw. memberikan isyarat dengan tangannya seperti ini. Beliau Saw. tidak menghendakinya.”

Dan dalam lafadz ketiga dari Bukhari disebutkan:

“Kemdian aku menyodorkan kain pengering padanya, tetapi beliau Saw. tidak mengambilnya. Lalu beliau Saw. pergi sambil mengeringkan air dari badannya dengan tangannya.”

Hadits ini diriwayatkan oleh Muslim dengan lafadz:

“Kemudian aku membawakan kain handuk untuk beliau Saw., tetapi beliau Saw. menolaknya.”

Muslim juga meriwayatkan hadits ini dari Maimunah ra.:

“Bahwasanya Nabi Saw. disodori kain handuk, tetapi beliau Saw. tidak menyentuhnya. Beliau Saw. malah memperlakukan air seperti ini, yakni membersihkannya/mengeringkannya (dengan tangan).”

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Boleh meminta bantuan dalam melakukan wudhu



Masalah (Perkara) Kedua

Seorang Muslim boleh meminta bantuan orang lain dalam berwudhu, berdasarkan hadits yang diriwayatkan Mughirah bin Syu’bah, dia berkata:

“Ketika aku bersama Rasulullah Saw. pada suatu malam, tiba-tiba beliau Saw. turun lalu buang hajat. Kemudian beliau Saw. datang, maka aku pun menuangkan air dari kantong kulit yang ada bersamaku untuk beliau. Lalu beliau Saw. berwudhu dan mengusap dua khuffnya.” (HR. Muslim dan Bukhari)

Hadits ini merupakan bantahan bagi orang yang memakruhkan meminta bantuan orang lain dalam berwudhu, seperti al-Ghazali dan ulama lainnya dari kalangan as-Syafi’iyah, di mana mereka mengambil kesimpulan makruhnya hal tersebut berdasarkan hadits yang diriwayatkan al-Bazzar dan Abu Ya’la dari Umar ra. bahwasanya dia berkata;

“Aku melihat Rasulullah Saw. meminta mengambil air untuk berwudhu. Lalu aku berkata: Bolehkan aku membantumu mengambilkannya? Beliau Saw. berkata: “Aku tidak suka ada seseorang yang membantuku mengambilkan air wudhuku.”
Ini merupakan hadits batil yang tidak ada pangkalnya, ujar an-Nawawi.

Hadits ini berasal dari jalur an-Nadhr bin Manshur, dari Abu al-Janub. Abu al-Janub dan an-Nadhr ini dhaif, sehingga hadits keduanya tidak bisa digunakan sebagai hujjah.
Utsman ad-Darimi berkata: Aku bertanya kepada Ibnu Ma'in: Apakah engkau mengetahui an-Nadhr bin Manshur, dari Abu al-Janub, dan darinya dari Ibnu Abi Ma'syar? Maka Ibnu Ma'in berkata: Mereka adalah penyebar fitnah.
Dengan demikian, hadits mereka ini batil sehingga tidak layak digunakan sebagai hujjah dan tidak layak diamalkan, terlebih lagi ketika harus berhadapan dengan hadits dua Syaikh (Bukhari dan Muslim).

Mereka beristidlal juga dengan hadits Ibnu Abbas, dia berkata:

“Rasulullah Saw. tidak mewakilkan bersucinya pada seseorang.” (HR. Ibnu Majah)
Tetapi sayang hadits ini dhaif, karena di dalamnya ada Muthahhar bin al-Haitsam, dia perawi yang dhaif.

Hadits seperti ini dan hadits sebelumnya tidak layak sama sekali digunakan sebagai dalil untuk memakruhkan meminta orang lain dalam berwudhu. Telah terbukti bahwa beliau Saw. meminta tolong pada Usamah bin Zaid dan Rubayyi, binti Mu’awwidz, serta Shafwan bin Assal untuk mengucurkan air, selain hadits shahih dari al-Mughirah yang kami sebutkan di atas.
Ini semua sudah cukup untuk membuktikan bolehnya meminta bantuan orang lain dalam berwudhu.

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Sunah Melakukan Wudhu Untuk Setiap Shalat Ketika Belum Batal



Beberapa Masalah

Masalah (Perkara) Pertama

Seorang Muslim itu disunahkan untuk berwudhu untuk setiap shalat sebagaimana disunahkan pula untuk tidak terlewatkan satu waktu tanpa wudhu (terus-menerus memiliki wudhu-pen.). Inilah yang dilakukan Rasulullah Saw. Buraidah meriwayatkan:

“Bahwasanya Nabi Saw. melakukan beberapa shalat pada hari penaklukan dengan satu kali wudhu dan mengusap dua khuffnya, maka Umar berkata padanya: Hari ini engkau melakukan sesuatu yang sebelumnya belum pernah engkau lakukan? Beliau Saw. menjawab: “Aku melakukannya secara sengaja wahai Umar.” (HR. Muslim)

Sebelumnya kami telah menyebutkan hadits ini, sekaligus dengan aspek istidlal dalam pembahasan tartib.

Ahmad meriwayatkan hadits ini dengan lafadz:

“Nabi Saw. biasanya berwudhu untuk setiap kali shalat, tetapi ketika hari penaklukan beliau berwudhu dan mengusap kedua khuffnya, lalu melaksanakan beberapa kali shalat dengan satu kali wudhu. Maka Umar bertanya pada beliau Saw.: Wahai Rasulullah, sungguh engkau melakukan sesuatu yang tidak engkau lakukan sebelumnya. Nabi Saw. berkata: “Aku melakukannya secara sengaja wahai Umar.”

Dari Anas, dia berkata:

“Nabi Saw. suka berwudhu untuk setiap kali shalat, lalu aku bertanya: Bagaimana dengan yang kalian lakukan? Anas menjawab: Wudhu itu sudah dipandang cukup bagi seseorang dari kami selama dia belum berhadats.” (HR. Bukhari, Ahmad, Abu Dawud, Tirmidzi dan an-Nasai)

Dari Abu Hurairah dia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

“Seandainya tidak akan menyusahkan umatku, niscaya aku memerintahkan kepada mereka untuk berwudhu setiap kali hendak shalat, atau untuk bersiwak setiap kali berwudhu.” (HR. Ahmad dengan sanad yang shahih)

Ibnu Hibban telah meriwayatkan dari Aisyah ra. bahwasanya Nabi Saw. bersabda:

“Seandainya tidak akan menyusahkan umatku, niscaya aku memerintahkan mereka untuk bersiwak bersamaan dengan wudhu (yang dilakukannya) pada setiap kali shalat.”

Sumber: Tuntunan Thaharah Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

(Artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam