Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Puasa Sunah Senin Kamis



Puasa Senin dan Kamis

Inilah jenis ketiga dari puasa sunat. Barangsiapa melakukannya maka dia telah berpuasa delapan hari dari satu bulan tersebut, dua hari dari setiap minggu, dengan total empat minggu dalam sebulan.
Rasulullah Saw. mensunahkan puasa pada dua hari ini, karena pada dua hari itulah catatan amal setiap hamba disodorkan, dan karena pintu Surga dibukakan, sehingga setiap Muslim akan diampuni kecuali dua orang yang bermusuhan (al-mutakhashiman) dan saling memutuskan hubungan (al-mutahajiran).
Khusus hari Senin, pada hari itu Nabi Saw. telah dilahirkan dan al-Qur'an diturunkan.
Selayaknya seorang Muslim berada dalam keadaan berpuasa di kedua hari ini, ketika catatan amalnya disodorkan kepada Allah Swt., agar mendapatkan ampunan Allah Swt.

Inilah sejumlah hadits yang menyebutkan hal itu:

1. Dari Aisyah ra.. ia berkata:

“Adalah Nabi Saw. biasa menjaga berpuasa pada hari Senin dan Kamis.” (HR. Tirmidzi [745], Ibnu Majah dan Ibnu Khuzaimah)

Dalam satu riwayat milik an-Nasai [2186], Ahmad, dan Ibnu Hibban dari jalur yang sama terdapat lafadz:

“Sesungguhnya Rasulullah Saw. biasa berpuasa Sya'ban (hampir) sepenuhnya, dan menjaga puasa Senin dan Kamis.”

2. Dari Usamah bin Zaid ra. ia berkata:

“Sesungguhnya Nabiyullah Saw. biasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis. Lalu beliau Saw. ditanya tentang itu. Maka beliau Saw. berkata: “Sesungguhnya catatan amal seluruh hamba disodorkan pada hari Senin dan Kamis.” (HR. Abu Dawud [2436], Ahmad, ad-Darimi, Ibnu Khuzaimah dan al-Baihaqi)

Al-Baihaqi menyebutkan bahwa Usamah itulah yang bertanya.
Ad-Darimi [1752] meriwayatkan hadits ini pula dari jalur Abu Hurairah ra.

3. Dari Abu Qatadah al-Anshari ra.:

“Bahwa Rasulullah Saw. ditanya tentang puasa hari Senin. Maka beliau Saw. berkata: “Pada hari itulah aku dilahirkan, dan pada hari itu pula (al-Qur’an) diturunkan kepadaku.” (HR. Muslim [2750] dan al-Baihaqi)

Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban [3642] dengan redaksi yang sedikit lebih panjang. Ibnu Khuzaimah [2117] meriwayatkan hadits ini dengan lafadz:

“Ketika kami berada di sisi Rasulullah Saw., Umar menghadap kepadanya, dan berkata: Wahai NabiAllah, (ada apa dengan) puasa hari Senin? Beliau Saw. berkata: “Itu adalah hari aku dilahirkan dan hari aku diwafatkan.”

4. Dari Abu Hurairah ra.:

“Bahwa Nabi Saw. biasa berpuasa pada hari Senin dan Kamis, lalu beliau Saw. ditanya: Wahai Rasulullah, sungguh engkau berpuasa hari Senin dan Kamis? Maka beliau Saw. berkata: “Sesungguhnya hari Senin dan Kamis itu adalah saat Allah Swt. memberikan pengampunan bagi setiap Muslim, kecuali bagi dua orang yang saling memutuskan hubungan. Dia berkata: Tinggalkanlah keduanya hingga berdamai.” (HR. Ibnu Majah [1740] dan Ahmad)

Tirmidzi [2092] meriwayatkan hadits ini dengan lafadz:

“Pintu-pintu Surga dibukakan pada hari Senin dan Kamis, lalu diberikanlah ampunan pada kedua hari itu bagi siapa saja yang tidak menyekutukan Allah, kecuali dua orang yang memutuskan hubungan.” Beliau Saw. bersabda: “Kembalikanlah keduanya hingga berdamai.”

Tirmidzi berkata: ini adalah hadits hasan shahih. Hadits ini diriwayatkan pula oleh Muslim [6544] dengan lafadz yang hampir sama. Diriwayatkan pula oleh Ibnu Hibban [3644] dengan lafadz:

“Pintu-pintu langit dibuka setiap hari Senin dan Kamis, dan catatan amal-amal disodorkan pada setiap Senin dan Kamis.”

Muslim [6547] meriwayatkan hadits ini dengan lafadz:

“Catatan amal manusia disodorkan pada setiap minggunya sebanyak dua kali: hari Senin dan hari Kamis. Lalu setiap hamba mukmin diampuni dosanya, kecuali seorang hamba yang bermusuhan dengan saudaranya. Maka dikatakan: Tinggalkanlah, atau akhirkanlah kedua orang ini hingga mereka berdamai.”

(artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Sumber: Tuntunan Puasa Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

Puasa Sunah Sejumlah Hari yang Dipandang Mudah Tiap Bulan



Kedua: Macam-Macam Puasa Sunat

Puasa yang Mudah Dilakukan Dari Setiap Bulan

Ini adalah perbuatan yang biasa dilakukan oleh Rasulullah Saw., di mana beliau Saw. tidak melewati satu bulan tanpa berpuasa beberapa hari di bulan itu, dan tidak diketahui beliau Saw. berpuasa satu bulan penuh selain bulan Ramadhan saja. Dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata:

“Aku bertanya kepada Aisyah ra.: Adakah Rasulullah Saw. berpuasa satu bulan penuh? Aisyah berkata: Aku tidak mengetahui beliau Saw. berpuasa satu bulan penuh kecuali bulan Ramadhan saja, dan beliau Saw. tidak berbuka sebulan penuh melainkan akan berpuasa beberapa hari darinya, hingga beliau Saw. meninggal dunia.” (HR. Muslim [2718], an-Nasai dan Ahmad)

Dari Abu Salamah, ia berkata:

“Aku bertanya kepada Aisyah ra. tentang puasa Rasulullah Saw. Dia berkata: Beliau Saw. biasa berpuasa, sampai-sampai kami mengatakan sungguh beliau berpuasa (tidak berbuka-buka), tetapi (beliau Saw. juga) biasa berbuka, sampai-sampai kami mengatakan sungguh beliau Saw. berbuka (seperti tidak pernah berpuasa). Dan aku tidak pernah melihat beliau Saw. berpuasa paling banyak dalam satu bulan selain di bulan Sya’ban. Beliau Saw. biasa berpuasa bulan Sya'ban seluruhnya, dan biasa pula berpuasa hampir sepanjang bulan Sya'ban, kecuali tinggal beberapa hari.” (HR. Muslim [2722],Bukhari, Abu Dawud, an-Nasai, Ibnu Majah, Ahmad dan Ibnu Hiban)

Dari Ibnu Abbas ra., ia berkata:

“Rasulullah Saw. tidak berpuasa satu bulan seluruhnya sama sekali selain Ramadhan, beliau Saw. akan selalu berpuasa. Jika sudah berpuasa (sedemikian rupa) sehingga seseorang berkata: Tidak demi Allah, beliau Saw. tidak pernah berbuka. Dan beliau akan selalu berbuka sedemikian rupa sehingga) jika telah berbuka seseorang berkata: Tidak demi Allah, beliau Saw. tidak berpuasa.” (HR. Muslim [2724] dan ad-Darimi)

Tirmidzi [765] meriwayatkan hadits ini dari jalur Aisyah ra.

(artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Sumber: Tuntunan Puasa Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

Hadits Berpuasa Sunah Di Musim Dingin



Berpuasa Di Musim Dingin

Sudah diketahui dan dimaklumi bahwa syariat yang lurus mensyariatkan sesuatu yang mudah dan memberikan kemudahan bagi setiap hamba, sebagai bentuk kasih sayang kepada mereka dan sebagai karunia dari Allah Swt., sehingga seorang Muslim sangat dianjurkan untuk melakukan perkara yang paling mudah, kecuali jika perkara itu termasuk dosa maka dia harus menjauhinya. Dari Aisyah ra. bahwa dia berkata:

“Tidaklah Rasulullah Saw. diberi pilihan di antara dua perkara, melainkan beliau Saw. akan mengambil yang paling mudah di antara keduanya, selama bukan perkara dosa. Dan jika termasuk perkara dosa, maka beliau Saw. menjadi orang yang paling menjauhinya.” (HR. Bukhari [3560], Muslim, Abu Dawud, Tirmidzi, Malik dan Ahmad)

Dengan demikian, seorang Muslim, jika akan melakukan puasa sunat, maka hendaklah dia memilih hari-hari dingin dan memiliki waktu siang yang pendek. Dengan kata lain, hendaknya memilih puasa di musim dingin (as-syita), dan hendaknya dia tidak membebankan kepayahan kepada dirinya dengan berpuasa pada hari-hari yang panas, dengan waktu siang yang panjang pada musim panas, walaupun dengan alasan bahwa upah itu setara dengan nilai kepayahan, sebagaimana dilakukan orang yang pura-pura fasih dan melewati batas dalam beragamanya.
Dari Amir bin Mas'ud al-Jumahi, ia berkata: Rasulullah Saw. bersabda:

“Berpuasa di musim dingin merupakan rampasan perang yang dingin.” (HR. Ahmad [19167], Tirmidzi, Thabrani dan Ibnu Khuzaimah)

Tirmidzi berkata: hadits ini berstatus mursal. Amir bin Mas'ud diperselisihkan apakah dia seorang sahabat ataukah seorang tabi'in. Bukhari, Tirmidzi dan Ibnu Ma'in menganggapnya sebagai tabi'in, sedangkan Ibnu Manduh, Ibnu Abdil Barr, dan Ibnu Hibban menyebutkannya dalam jajaran sahabat, sehingga orang ini diperselisihkan. Sesuatu yang diperselisihkan oleh para ahli hadits, boleh dan absah digunakan sebagai dalil.

(artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Sumber: Tuntunan Puasa Berdasarkan Qur’an Dan Hadits, Mahmud Abdul Lathif Uwaidhah, Pustaka Thariqul Izzah

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam