Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Tampilkan postingan dengan label gerakan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label gerakan. Tampilkan semua postingan

Pentingnya Faktor Agama Dalam Politik


bela umat ajaran agama

…Ya, faktor agama bagaimanapun tidak bisa diabaikan di negeri yang mayoritas Muslim ini. Dalam kasus Ahok, persoalannya bukan sekadar dalam Islam haram memilih pemimpin kafir, yang sedikit banyak menjadi pengganjal Ahok, penistaan agama yang dilakukan Ahok terkait QS Al-Maidah: 51 di Kepulauan Seribu, menyentuh hal yang paling sensitif bagi kaum Muslim.

Tidak mengherankan, sebagai respon penghinaan ini, untuk pertama kalinya, umat Islam bisa turun ke jalan, diperkirakan 2 juta lebih dalam aksi 212. Pembelaan terhadap Al-Qur’an menggerakkan umat Islam dari berbagai daerah di Indonesia dan dari berbagai lapis masyarakat.

Meskipun baru bersifat parsial dan lebih dominan faktor sentimen (perasaan), pengaitan agama dalam pilkada DKI ini, sudah mengkhawatirkan kelompok-kelompok liberal dan sekuler di Indonesia. Termasuk media asing pun menyoroti ini sebagai sesuatu yang membahayakan. Tidak mengherankan, isu radikalisme, mengancam kebhinnekaan, hingga pengaitan terhadap teroris dan ISIS demikian kuat dihembuskan terhadap umat Islam yang menolak Ahok.

Kemenangan Anies-Sandi pun diopinikan sebagai kemenangan kelompok radikal, intoleransi dan anti kebhinnekaan. Presiden Jokowi sendiri pun sempat terjebak dalam permainan opini ini, sampai-sampai menyebutkan agama dan politik harus dipisahkan. Meskipun Presiden Jokowi kemudian meralatnya setelah mendapat kecaman dari berbagai pihak.

Jadi, maraknya isu radikalisme, terorisme, ancaman terhadap NKRI, merupakan isu propaganda sebagai cerminan ketakutan terhadap umat Islam yang merindukan dan menginginkan penerapan syariah Islam secara totalitas di bawah naungan Khilafah Islam. Dan ini bukan hal yang baru. Penjajah kolonial Belanda juga mencap umat Islam yang ingin melepaskan diri dari penjajahan dan penindasan Belanda, yang menginginkan syariah Islam dan bersatu di bawah naungan khilafah sebagai teroris dan ekstrimis radikal.

Yang kita sayangkan kalau ada elemen umat yang justru terjebak dalam propaganda ini dengan memusuhi umat Islam yang ingin memperjuangkan syariah dan khilafah. Bahkan mau diadu-domba, hingga menyebarkan fitnah dan kekerasaan terhadap sesama Muslim. Padahal, sesungguhnya sesama Muslim adalah bersaudara, yang sejatinya harus saling memperkuat dan menyayangi satu sama lain, bukan sebaliknya.

Karena itu kita perlu ingatkan, musuh sejati umat Islam bukanlah sesama Muslim. Apalagi yang memperjuangkan syariah dan khilafah yang diwajibkan dalam Islam. Musuh sejati kita adalah negara-negara kapitalisme-liberal, yang telah memaksakan ideologi penjajahan diterapkan di negeri Islam.

Negara-negara penjajah seperti Amerika dan sekutunyalah yang telah menimbulkan api fitnah di tengah-tengah umat Islam, menyulut konflik di negeri Islam, menjajah dan membunuh umat Islam. Merekalah yang juga mendukung rezim-rezim represif di negeri-negeri Islam yang telah membunuh rakyatnya sendiri, seperti yang dilakukan oleh rezim Assad di Suriah dan Sisi di Mesir.

Sementara, Khilafah Rasyidah ala Minhajinnubuwah adalah kewajiban syariah Islam dan kebutuhan umat Islam. Khilafah dibutuhkan oleh umat Islam untuk menerapkan seluruh syariah Islam, mempersatukan umat, dan melindungi umat Islam. Dengan menerapkan syariat Islam, akan menghentikan penjajahan di negeri-negeri Islam, memadamkan api fitnah, mengembalikan kemuliaan dan kedaulatan umat Islam.

Karena itu ke depan, agenda penting kita adalah memperjuangkan tegaknya seluruh syariah Islam di bawah naungan khilafah. Inilah solusi sejati umat Islam yang akan menghantarkan kepada kebahagian di dunia dan akhirat. AllahuAkbar!

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 195
---

Militansi Muslimah Pejuang



Para feminis begitu militan memperjuangkan kesetaraan gender. Isu yang diusung sejak abad 16-18 M itu tak pernah berhenti digelindingkan. Berbagai cara dilakukan, baik secara personal maupun jalur struktural. Baik dengan cara elegan, maupun cara menjijikkan, seperti menelanjangi tubuh-tubuh perempuan itu sendiri.

Termasuk melalui PBB -sebagai kepanjangan tangan pengemban ideologi kapitalisme- yang tak henti memaksakan isu gender ke berbagai negeri Islam. Menyerang nilai-nilai mulia yang dibawa Islam. Menuduhnya pengekang Perempuan. Padahal tanpa perlu mengusung persamaan, perempuan Islam sangat mulia.

Nah, sebagai Muslimah, jangan sampai kalah militan dibanding para pejuang feminis. Agar para perempuan kian mengenal Islam lebih dalam. Mencintai dan membutuhkan Islam, sebagai penjamin hak-hak dan pelindung kaum perempuan. Maka, tunjukkan militansi sebagai pejuang Muslimah dengan cara sebagai berikut:

1. Militan dalam mencari ilmu dan mengasah skill

Tak pernah berhenti belajar, mencari tahu, menggeluti buku, mendatangi guru, menyampaikan dan menyebarkan ilmu. Banyak ilmu menghindarkan kebodohan. Menjauhkan diri dari informasi yang penuh kebohongan. Tiap manusia punya potensi, talent, bakat dan kemampuan terpendam. Keluarkan dan asah. Sebagai pejuang, harus militan mengasah kemampuan. Teknik menyampaikan pendapat, berbicara di depan umum, multimedia, menulis, keorganisasian dan sebagainya.

2. Militan dalam mengkaji Islam

Jadikan halaqah sebagai prioritas. Selalu hadir, kecuali alasan syar'i. Antusias siapapun gurunya. Berusaha aktif menghidupkan kajian. Ikhlas menyediakan fasilitas yang dibutuhkan.

3. Sabar menghadapi ujian

Muslimah selalu sabar dan mencari pemecahan dengan serius jika memiliki kelemahan fisik, keterbatasan materi, dan gangguan-gangguan domestik yang terkadang membuat mager alias malas gerak. Tidak pede, lokasi jauh, boros ongkos, anak rewel, dan segala hambatan harus selalu dicari solusi. Meminjam istilah motivator, berubahlah terus ke arah lebih baik, meski satu persen sehari.

4. Saling tolong menang dan silaturahmi

Antar pejuang Muslimah saling menyayangi, peduli dan tolong-menolong. Tak segan memberikan bantuan, rela dimintai bantuan, empati terhadap yang membutuhkan dan tahu diri pada tempatnya. Tidak bermaksud membebani teman, sebaliknya selalu ingin meringankan.

5. Militan dalam mengatur waktu

Jatah hidup berkurang sangat cepat. Hari-hari berlalu tanpa menunggu. Buat agenda detail tentang aktivitas harian. Senin, Selasa hingga Ahad usahakan selalu full agenda. Tidak ada kata santai atau nanti-nanti saja. Manajemen waktu membuat usia kian berguna.

6. Militan dalam berkorban

Kontribusi dalam perjuangan bisa dalam bentuk pikiran, tenaga fisik atau materi. Jika bukan tipe konseptor yang tak bisa memberi saran-saran terbaik untuk jalan dakwah, silakan korbankan fisik. Jika fisik pun lemah tak berdaya karena sakit-sakitan, bagaimana jika berkorban harta? Jika miskin pula, tak bisa menyumbang harta bagaimana? Militanlah dalam ibadah, doa dan beramal saleh. Jika tak bisa juga? Mungkin karena nyawa sudah tak di badan. []kholda

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 193
---

Keshalihan Individu Saja Tidak Cukup!



Muslimpreneur,

Ramai di-share di media sosial kisah-kisah pertobatan pengusaha. Lilitan persoalan, musibah yang datang silih berganti, kesadaran yang muncul belakangan menjadi sejumlah alasan pertobatan itu. Untuk menjaga konsistensi amal shalih pasca pertobatan, tak jarang sang pengusaha pun mencari ustadz atau kyai sebagai penasihat spiritual. Alhamdulillah, satu langkah maju untuk bersegera menuju ampunan dan rahmat Allah SWT.

Meski begitu, seringkali langkah ini hanya berhenti pada tataran keshalihan individu. Tak berefek pada khalayak. Banyak dan beragamnya kemaksiatan yang terjadi di masyarakat, seolah menjadi wilayah lain yang tak perlu disentuh. Dianggap bahwa itu urusan “yang berwajib”! Menjamin bisnisnya sesuai syariah itu sudah cukup. Sejauh-jauhnya bentuk kepeduliannya pada umat hanyalah membayar zakat dan sedekah. Selain itu urusan masing-masing. Dakwah? itu urusan Ustadz dan Ustadzah! Begitu pikirnya.

Muslimpreneur,

Sungguh, keshalihan individu belumlah cukup! Bahkan keshalihan individu tak sanggup mencegah hadirnya musibah!

Ummul Mukminin Zainab binti Jahsy ra. bertanya kepada Nabi SAW, "Wahai Rasulullah, mungkinkah kami binasa padahal di tengah-tengah kami masih ada orang-orang yang shalih?" Rasulullah pun menjawab, ”Ya, apabila kebejatan sudah merajalela." (HR. Bukhori, Muslim).

Bersumber dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Rasulullah SAW bersabda, ”Allah 'Azza wa Jalla mewahyukan kepada Jibril as.: “Goncangkanlah kota ini dan kota itu bersama penghuninya! Jibril pun berkata: 'Wahai Tuhanku, sesungguhnya di tengah-tengah mereka ada hamba-Mu si fulan yang tidak pernah maksiat kepada-Mu sesaatpun juga." Rasulullah SAW melanjutkan: ”Allah berfirman: “Sesungguhnya wajahnya (si hamba yang shalih itu) tidak pernah berubah terhadap-Ku (tidak marah melihat kemaksiatan) sesaat pun juga."

Muslimpreneur,

Saat ini dengan mata telanjang, kita semua bisa melihat dan merasakan musibah demi musibah datang tak kunjung henti. Merujuk pada makna hadits di atas, ini semua berkorelasi dengan kebejatan alias kemaksiatan yang merajalela yang tidak bisa dicegah oleh keshalihan individu. Bahkan dalam hadits riwayat Ahmad dan Ibnu Majah, Rasulullah SAW merinci musibah-musibah itu: "Jika perbuatan keji (mesum) dalam suatu kaum sudah dilakukan secara terang-terangan, maka akan timbul wabah dan berbagai penyakit yang belum pernah menimpa orang-orang terdahulu. Jika suatu kaum menolak mengeluarkan zakat, maka Allah akan menghentikan turunnya hujan. Kalau bukan karena binatang-binatang ternak tentu hujan tidak akan diturunkan sama sekali. Jika suatu kaum mengurangi takaran dan timbangan, maka Allah akan menimpakan paceklik beberapa waktu, kesulitan pangan dan kezaliman penguasa. Jika penguasa-penguasa mereka melaksanakan hukum yang bukan dari Allah, maka Allah akan menguasakan musuh-musuh mereka untuk memerintah dan merampas harta kekayaan mereka, dan jika mereka menyia-nyiakan Kitabullah dan Sunnah Nabi, maka Allah akan menjadikan permusuhan di antara mereka." (HR. Ahmad dan Ibnu Majah). Semua sudah dan terus berlangsung bukan?

Muslimpreneur,

Karenanya, sudah bukan saatnya lagi membatasi diri hanya sekadar pada perbaikan bisnis sendiri, keshalihan diri. Mencari selamat sendiri. Pertobatan kita harus berlanjut pada aksi penyelamatan umat. Sebab, kita adalah pengusaha Muslim yang memiliki peran dan tanggung jawab besar bagi umat ini. Dakwah Islam kaffah harus menjadi poros hidup kita. Karena kita adalah Pengusaha Muslim Pejuang Syariah dan Khilafah!

Astaghfirullah hal adziim... Allahumma sholli 'ala Muhammad...

Ya Allah Yang Maha Rahmaan dan Rahiim, kembalikanlah kemuliaan Islam dan Umatnya melalui tegaknya kembali khilafah atas manhaj kenabian sebagaimana yang telah Engkau janjikan dan jadikan kami pengusaha muslim orang-orang yang beramal ikhlas untuk menegakkannya… kami rindu agar hidup kami kembali dipenuhi keberkahan yang Engkau turunkan dari langit dan bumi.

Aamiin allahumma aamiin.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 166
---

Bela Hizbut Tahrir, Mufti Besar Australia Dikecam Tony Abbot


umat Islam diserang

Masyarakat Muslim Australia marah. Ini gara-gara PM Australia Tony Abbott mengecam Mufti Besar Australia Syeikh Abu Muhammad.

Perkaranya, Mufti Besar Australia menentang upaya ngotot Abbott untuk melarang kegiatan atau sesuatu yang berkaitan dengan Hizbut Tahrir. Menurut pemimpin Muslim Australia ini, sikap itu akan menjadi ”kesalahan politik” karena telah melarang dan mengecam suatu kelompok seperti Hizbut Tahrir.

Kemarahan Muslim Australia ini tertuang dalam pernyataan Muslim Australia yang ditandatangani 64 organisasi dan 42 pemimpin agama, Selasa (24/2/2015). Puluhan tokoh masyarakat Musilim menuduh Tony Abbott telah menilai dengan salah tokoh Islam paling senior di negara itu.

Pernyataan ini juga menyesalkan dan dan mengutuk penargetan publik terhadap Muslim melalui hukum keji “anti teror yang dirancang Australia saat ini. Undang-undang (UU) yang disahkan pada 2014 itu telah digunakan untuk membenarkan serangan oportunistik terhadap rumah ibadah Muslim.

Masjid merupakan tempat ibadah umat Muslim yang dibuat bebas dari kejahatan di dalamnya. Namun, berbagai peristiwa yang terjadi belakangan ini terhadap tempat ibadah Muslim itu telah menciptakan situasi yang berbahaya dan menyedihkan terhadap Muslim, terutama perempuan dan anak-anak.

Sebelumnya, Abbott menqkritik dan berupaya membungkam individu dan organisasi yang sebenarnya tidak ada masalah dalam kebijakan yang dilakukan mereka.

Pernyataan ini juga mengecam sikap ngotot Abbott untuk melarang Hizbut Tahrir. ”Kami sangat menentang ancaman politik Perdana Menteri Abbott yang ingin mengatasi dan menindak kelompok-kelompok Islam seperti Hizbut Tahrir. Padahal Hizbut Tahrir sangat mengingkari dan tidak pernah mendukung aksi teroris. Mereka hanya mengkritik kejahatan dan sikap Abbott terhadap Muslim dalam negeri dan luar negeri,” kata pernyataan itu.

Kambing Hitam

Menanggapi sikap ngotot Tony Abbott, Hizbut Tahrir Australia menyatakan Abbott sedang mengambinghitamkan Islam dan kaum Muslim atas kekerasan yang dilakukan Barat. Dalam pernyataan persnya Selasa (24/2/2015), Hizbut Tahrir menyoal sikap negara Barat termasuk Australia yang seolah-olah sedang menjadi korban.

Sementera itu kaum Muslimin diposisikan sebagai pelaku terorisme. Padahal negara-negara Baratlah yang menjadi pelaku utama penjajahan di dunia. Barat sebagai negara agresorlah yang justru harus bertanggung jawab terhadap berbagai konflik di dunia yang telah membunuh jutaan umat Islam.

Apalagi Barat kemudian menggunakan isu perang melawan terorisme yang dipersonifikasikan dengan ISIS untuk membenarkan intervensi mereka di dunia Islam. Perang melawan ISIS kemudian dijadikan legitimasi untuk membangun aliansi yang melibatkan penguasa-penguasa regional di negeri Islam yang brutal. Atas nama perang melawan teroris, perang melawan ISIS, Amerika Serikat berikut sekutu-sekutu global maupun regionalnya menyerang negeri Islam.

Hizbut Tahrir juga mempertanyakan kenapa dalam pernyaataan keamanan nasional yang disampaikan Tony Abbott langsung menargetkan Islam dan umat Islam. Semua contoh dari penuntutan, insiden-insiden dan kelompok-kelompok yang digunakan dalam Pernyataan Keamanan Nasional adalah umat Islam. Tindakan kekerasan yang dilakukan non-Muslim seperti kasus Pullenvale, tidak disinggung sebagai tindak kekerasan.

Tidak disebutkan para "pengkhotbah penuh kebencian” seperti yang dilalukan Australian Defence League (Liga Pertahanan Australia) sebagai kebencian. Padahal jelas-jelas mereka di depan publik menyerang orang-orang asing terutama Muslim. Kenapa hanya Islam yang disebut sebagai ideologi ekstrim, bagaimana dengan ideologi Zionis Yahudi? Kenapa pula yang disinggung sebagai pejuang asing yang berbahaya hanya umat Islam yang berjihad ke Suriah. Bagaimana dengan para pejuang asing yang melakukan perjalanan untuk melatih dan berperang bersama tentera Yahudi (IDF).

Tudingan menyebar kebencian dan perselisihan pun dibantah Hizbut Tahrir. Sebab, yang dilakukan Hizbut Tahrir adalah mengecam kekejian Barat dalam politik luar negerinya terhadap umat lslam. Justru mereka yang berada di institusi politik dan medialah yang terus-menerus menjelek-jelekkan Islam dan kaum Muslim. Mereka juga terlibat dalam politik murahan yang diselimuti ketakutan denqan menyebarkan perselisihan dan perpecahan.

Kenapa perang yang dipimpin oleh Barat dengan menyerang dan menduduki negeri-negeri Islam tidak dikatakan sebagai penyebab kebencian? Kenapa pula tindakan penjajah Yahudi di Palestina yang membantai umat Islam, menghancurkan rumah-rumah pemukiman, rumah sakit, dan sekolah-sekolah, yang membuat rakyat Palestina menderita, tidak disebut sebagai penyebab konflik dan kebencian? Demikian pula, mereka yang menghina Rasulullah SAW atas nama kebebasan tidak dikatakan sebagai penyebab kebencian?

Terakhir, Hizbut Tahrir Australia menegaskan, bukan Islam yang perlu direformasi. Kapitalisme yang menjadi dasar dari ideologi penjajahan Baratlah yang harus dikritik dan diganti. Islam dalam sejarahnya terbukti mampu membangun masyarakat yang beragam hidup bersama secara damai ribuan tahun di bawah naungan khilafah. Islam juga tidak mengenal kelompok terpinggirkan atau minoritas yang ditindas, sebab semuanya adalah warga negara Daulah Khilafah yang wajib dilindungi oleh negara, dijamin keamanan dan kesejahteraannya. Situasi yang sangat kontras dengan kondisi dunia saat ini ketika dipimpin oleh ideologi kapitalisme. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 146, Maret 2015
---

Turki Terseok Demokrasi, Khilafah Solusi


Bila menghitung mundur, 93 tahun yang lalu, tepatnya 3 Maret 1924, Khilafah Utsmaniyah dihancurkan oleh Mustafa Kamal dengan dukungan Inggris. Di balik itu, berderet orang-orang Yahudi yang jauh-jauh hari sebelumnya menginginkan tanah Palestina untuk mendirikan sebuah negara Israel. Turki yang semula menjadi pusat peradaban, sejak saat itu berubah haluan. Di bawah penguasa Mustafa Kamal, negara berusaha melepaskan diri dari simbol-simbol Islam sama sekali. Bahasa Arab yang semula menjadi bahasa negara diubah ke bahasa Turki. Bahkan pada awal berdirinya negara republik ini, kumandang adzan pun harus menggunakan bahasa Turki.

Islam yang semula menjadi sumber hukum dicabut. Proses sekulerisasi berlangsung sangat masif dengan dukungan militer. Walhasil, kediktatoran militer inilah yang menjadi benteng bagi eksistensi negara sekuler Turki.

Negara itu kemudian ngemis-ngemis ke Eropa agar dijadikan bagian dari Uni Eropa setelah proses liberalisasi dan sekulerisasi terjadi di semua lini. Identitas Turki sebagai pusat khilafah yang dulunya sangat perkasa dan ditakuti Barat, berubah menjadi negara sekuler yang tak berdaya di mata Eropa.

Selama 93 tahun menjadi negara sekuler, negara itu bukannya bertambah baik. Justru, kondisi sebaliknya terjadi.

Bahkan The Telegraph, edisi 3 Maret 2015 lalu mengutip hasil analisis ekonom dari Universitas Columbia Arthur Melvin Oku yang menempatkan Turki di urutan ke-9 dari 15 negara paling sengsara di dunia.

Secara politik, Turki sangat tergantung kepada Barat. Kepentingan Amerika dan Inggris saling berebut memengaruhi kebijakan politik negara itu. Berkuasanya sipil dengan terpilihnya RecepTayyib Erdogan sebagai presiden setidaknya menandai masuknya kekuatan Amerika ke sana. Namun kedudukan parlemen sangat kuat karena sistem yang dianut adalah demokrasi parlementer. Dengan sistem ini, presiden tak bisa berbuat banyak karena peran parlemen yang dominan.

Tak heran jika Erdogan, mengusulkan agar sistem politik Turki diubah dari sistem demokrasi parlementer ke sistem demokrasi presidensiil. Menurut Erdogan, sistem pemerintahan saat ini tidak cocok untuk Turki. Sistem baru (presidensiil) akan memungkinkan pengambilan keputusan secara cepat yang saat ini diperlukan untuk mempercepat pembangunan.

"Ketika saya bicara soal konstitusi baru atau sebuah sistem presidensiil, saya memimpikan Turki Raya, tahun 2023, tahun 2071. Kita tidak akan menyaksikan masa-masa itu, tetapi saya memimpikannya, agar anak-cucu kita merasakannya,” kata Erdogan.

Tawaran Solusi

Di tengah kegagalan sistem politik Turki, Hizbut Tahrir Turki menawarkan gagasan bagi pusat khilafah terakhir tersebut. Bersamaan dengan peringatan runtuhnya khilafah, 3 Maret, Hizbut Tahrir Turki menyelenggarakan Konferensi Khilafah.

Temanya pun cukup menantang: 'Model Demokrasi Presidensiil ataukan Khilafah Rasyidah'. Konferensi ini merupakan bagian dari kampanye global 'Mengembalikan Khilafah'. Konferensi itu sendiri berlangsung di Istambul atau dulu pernah disebut Uskudar. Serangkaian acara tambahan berlangsung hingga 10 Maret 2015.

Konferensi tersebut menyedot perhatian di tengah perbincangan hangat tentang sistem apa yang tepat bagi Turki setelah sistem demokrasi parlementer dianggap tidak tepat. Tak mengherankan, media massa tertarik untuk meliputnya.

Para pembicara konferensi ini pun tak hanya dari dalam negeri Turki tapi juga dari negara lain. Wajar bila hadirin memenuhi ruangan. Ratusan lainnya harus rela berada di luar ruang konferensi dan mengikuti jalannya konferensi melalui layar monitor.

Dimulai dengan yang paling indah dari kata-kata, Al-Qur’anul Karim, konferensi dilanjutkan dengan mendengarkan pesan dari Amir Hizbut Tahrir, ulama terkemuka Syeikh Atha bin Khalil Abu aI-Rashtah. Ia mengirim sambutan khusus untuk konferensi ini.

Setelah menyoroti pentingnya khilafah bagi umat, Syeikh Atha menegaskan bahwa khilafah yang benar harus dipisahkan dari yang palsu. Sistem khilafah bukanlah imperium, kerajaan, republik, maupun demokrasi.

Konferensi ini diisi oleh para pembicara antara lain Mahmud Kar dari Turki, Syarif Zayed dari Mesir, Ahmad al-Qashash dari Lebanon, juga Islam Abu Halil dari Uzbekistan. Secara bergantian mereka menyampaikan pentingnya kembali kepada sistem khilafah. Umat Islam tak akan bisa bangkit tanpa institusi aslinya yakni khilafah. Selain itu ada juga pembicara yang berbicara melalui telekonferensi yakni Iyad Qunaybi dari Yordania yang tidak bisa datang karena dicekal oleh pemerintahnya.

Hizbut Tahrir Turki dalam siaran persnya menegaskan tekadnya dengan slogan: “bendera akan muncul dari mana ia telah jatuh", dan ”mengubah mata kita ke Topkapi, menghitung hari sampai pengumuman Khilafah Rasyidah."

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 147, Maret-April 2015
---

Celestial Entrepreneur, Pengusaha Pejuang Syariah Dan Khilafah



Siapa di antara kita yang tidak kenal dengan Bill Gates, ikon pengusaha tersukses abad ini. Dia selama beberapa tahun bertahan sebagai orang terkaya di dunia, dan memiliki kekayaan lebih dari 75 milyar dolar Amerika (lebih dari 975 trilyun rupiah). Bill Gates melalui perusahaannya Microsoft terus mengembangkan produk yang mampu menguasai dunia, sehingga otomatis milyaran dolar Amerika mengalir ke pundi-pundi kekayaannya setiap saat.

Selain super kaya, Bill Gates juga dikenal sebagai orang yang paling dermawan di dunia. Ia menyumbang milyaran dolar Amerika ke berbagai yayasan sosial kemanusiaan. Cuma sayang sekali beberapa di antara yayasan tersebut memperjuangkan demokrasi dan hak hak kebebasan kaum Lesbian, Gay (homoseksual), Biseksual dan Transgender (LGBT). Keinginan dia untuk terus mendukung perjuangan demokrasi dan kaum LGBT, memang tidak lepas dari karakternya sebagai seorang kapitalis-sekuler.

Kalau kita perhatikan saat ini tidak sedikit pengusaha yang berkarakter kapitalis sekuler. Mereka tidak menggunakan syariah Islam (standar halal-haram) dalam memperoleh maupun membelanjakan hartanya. Dan bahkan mereka menjadi pendukung kebebasan gaya baru (Neoliberalisme) dan penjajahan gaya baru (Neoimperialisme).

Seorang pengusaha Muslim tidak layak menggunakan hartanya untuk mendukung berbagai aktivitas yang bertentangan dengan syariah Allah SWT. Karena kita tahu kelak Allah SWT akan mengajukan dua pertanyaan tentang harta kita, yang pertama tentang cara kita memperoleh harta dan yang kedua tentang cara kita membelanjakan harta apakah sesuai dengan syariah Islam atau tidak. Bisnis bukan hanya sekadar untung-rugi tapi Surga dan Neraka.

Nabi Muhammad SAW, sebelum diutus menjadi seorang nabi dan rasul, Beliau dikenal sebagai pengusaha sukses pada zamannya dan juga diberi gelar Al-Amin. Setelah Beliau diangkat menjadi nabi dan rasul maka Beliau fokus untuk mengembangkan dakwah Islam dan menggunakan seluruh hartanya untuk dakwah dan membangun Daulah Islamiyah sebagai metode syar’i.

Reputasi kesuksesan Beliau sebagai seorang pengusaha, menjadi wasilah dalam menjalankan dakwah setelah menjadi rasul di fase Makkah. Sehingga Abu Bakar Ash-Shiddiq (sahabat Nabi dan seorang pengusaha sukses) dengan mudah memeluk Islam setelah mendengar dakwah Beliau. Dan melalui dakwah Abu Bakar ini, maka berIslamlah pengusaha sukses yang lain seperti Abdurrahman bin Auf dan Utsman bin Affan.

Rasulullah SAW telah berhasil mendidik para pengusaha sahabatnya menjadi para pengusaha yang luar biasa pengorbanannya bagi Islam. Mereka berusaha menjalankan bisnis dengan profesional sehingga menghasilkan profit yang luar biasa. Dan mereka mampu bersedekah ribuan dinar untuk dakwah Islam dan jihad fi sabilillah.
Tidak hanya itu mereka pun turut serta berperang di jalan Allah. Seperti sahabat Rasul SAW, Abdurrahman bin Auf, tidak hanya dermawan tapi juga sering mengikuti berbagai perang bersama Nabi Muhammad SAW, sehingga mendapatkan luka di sekujur tubuh dan gigi serinya patah. Selain itu Abu Bakar as-Shiddiq, ‘Umar bin Khattab, Zubair bin Awwam, dan ‘Utsman bin Affan merupakan sahabat Rasul SAW dari kalangan pengusaha yang dijamin masuk Surga. Jadi, mereka sukses di dunia dan di akhirat.

Sungguh mereka telah mengamalkan seruan Allah SWT yang termaktub dalam surat At-Taubah ayat 111 (artinya):

“Sesungguhnya Allah telah membeli (isytara) dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan Surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual-beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.”

Dalam ayat tersebut Allah SWT menggunakan kata isytara (membeli), padahal kita ini makhluk Allah SWT. Hal ini menunjukkan apresiasi yang luar biasa pada seorang Mukmin yang mengorbankan diri dan hartanya, Allah membelinya dengan bayaran Surga.

Adakah pembayaran yang lebih baik dari Surga? Bukankah kita sangat mengharapkan ampunan dan Surga, sehingga bisa berkumpul dengan Rasulullah SAW dan melihat ”Wajah” Allah?

Oleh karena itu kami mengajak para pengusaha Muslim untuk berperan aktif dalam perjuangan menegakkan syariah dan khilafah. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita dan memberikan keistiqamahan untuk terus berjuang menegakkan syariah dalam naungan khilafah. Aamiin.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 174, Mei-Juni 2016
---

Hijrah: Sebuah Keniscayaan



Empat belas abad yang silam Kekaisaran Romawi dan Kerajaan Persia tak pernah membayangkan kedigdayaan mereka akan diruntuhkan oleh sebuah kekuatan yang mereka remehkan. Kekuatan yang berasal dari kumpulan kabilah marjinal, yang hidup di daerah tandus, pekerjaan tertinggi hanya saudagar dan selebihnya penggembala kambing, dan mayoritasnya tak bisa membaca dan menulis. Kelompok-kelompok itupun kerap bertikai antar satu dengan yang lain.

Sedangkan kekuasaan Kekaisaran Romawi dan Kisra masih dominan meski tak dipungkiri terus-menerus mengalami kemerosotan. Namun baik Kisra maupun Kaisar Romawi tak memiliki hasrat untuk memperluas kekuasaan mereka hingga ke kawasan Mekkah ataupun Yatsrib dan sekitarnya. Toh kekaisaran Romawi sudah memiliki koloni di Yaman dan berbagi wilayah dengan Kisra di wilayah Syams.

Satu-satunya yang menarik perhatian dan ambisi Raja Abrahah, selaku penguasa koloni Romawi di Syams, adalah Ka'bah yang setiap tahun dikunjungi berbagai kabilah. la begitu bernafsu untuk mengalihkan perhatian bangsa Arab ke Yaman sampai kemudian berambisi untuk menghancurkannya, meski kemudian Allah yang justru memporak-porandakan pasukan Abrahah.

Gambaran bangsa Arab di seputaran Mekkah dan Yatsrib dideskripsikan oleh Allah SWT sebagai masyarakat yang hidup dalam tekanan alam yang keras sehingga kerap didera ancaman kelaparan di segala musim, dan tak aman dari konflik antar kabilah. Dalam surat al Quraiys dijelaskan keadaan mereka:

"Karena kebiasaan orang orang Quraisy (yaitu) kebiasaan mereka bepergian pada musim dingin dan musim panas. Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka'bah). yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan." (TQS. Al Quraisy: 1-4)

Momentum Perubahan

Berawal dari tahanuts Muhammad SAW di Gua Hira, titik awal perubahan itu datang. Wahyu yang datang kepada pribadi yang mulia perlahan mulai membalikkan keadaan. Akai sehat dan fitrah kemanusiaan masyarakat dibangkitkan kembali. Perlawanan terhadap kekuasaan yang bertumpu pada kejahiliyahan manusia mulai berjalan. Satu per satu tokoh-tokoh Quraisy melihat bahwa risalah Islam yang dibawa oleh Rasulullah adalah jalan yang akan mengeluarkan bangsa Arab bahkan umat manusia dari kegelapan menuju cahaya.

"Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang mengikuti keridhaan-Nya ke jalan keselamatan, dan (dengan kitab itu pula) Allah mengeluarkan orang orang itu dari gelap gulita kepada cahaya yang terang benderang dengan seizin-Nya dan menunjuki mereka ke jalan yang lurus." (TOS. 5: 16).

Namun titik pusat dakwah dan peradaban baru itu bukanlah Mekkah. Allah SWT masih menguji lagi keteguhan dan kesabaran kaum Muslimin untuk mencari nuqtah al-irtikaz yang dijanjikan-Nya. Jelang tahun ke-13 dari kenabian Allah SWT memberikan jalan pertemuan antara Rasulullah SAW dengan sejumlah pemuka Aus dan Khazraj yang justru demikian bersemangat menyambut kedatangan dakwah Islam dan tentu saja Nabi Muhammad SAW.

Akhirnya pada tahun ke-13 kenabian dimulailah babak baru dakwah Islam, bukan lagi sekadar melakukan pergolakan pemikiran dan perjuangan politik melawan dominasi sistem jahiliyah di Mekkah, tapi membangun peradaban dan menyebarkan risalah Islam dengan dakwah dan jihad. Para sahabat yang menjadi aktor hijrah ini mendapatkan pujian besar dari Allah SWT:

"Sesungguhnya orang-orang yang beriman, orang-orang yang berhijrah dan berjihad di jalan Allah, mereka itu mengharapkan rahmat Allah, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang." (TQS. Al-Baqarah: 218)

Tak ada yang bisa mengingkari bahwa berkembangnya peradaban Islam berasal dari Madinah, dan itu diawali dengan hijrah. Maka tak salah bila dikatakan hijrah adalah momentum perubahan yang menata ulang peradaban dunia. Karena semenjak itulah umat manusia seperti mendapatkan kembali fitrah mereka sebagai manusia, yang telah dirusak oleh berbagai peradaban Timur maupun Barat.

Saat para Kaisar dan Kisra juga para raja di berbagai belahan dunia ditempatkan sebagai wakil Tuhan, dan tak bisa diganggu gugat oleh siapapun, justru Islam datang mengajarkan mereka bahwa Tuhan itu satu (ahad), dan tak ada tempat bergantung selain Allah (ash-Shamad). Sehingga Islam menghilangkan penghambaan manusia kepada sesama makhluk, dan memerintahkan mereka menghamba hanya kepada al Khaliq, satu-satunya Dzat yang layak disembah.

Perubahan ltu Pasti!

Hijrah sekaligus menetapkan bahwa perubahan adalah sebuah keniscayaan. Ketika kaum Muslimin mengazamkan diri mereka untuk berdiri tegak di atas agama Allah, dan menantang apapun yang merintangi mereka, janji Allah akan terjadinya perubahan benar-benar akan terjadi.

"Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang hak agar dimenangkan-Nya terhadap semua agama. Dan cukuplah Allah sebagai saksi." (TQS. Al-Fath: 28).

Secara sunnatullah, Allah SWT menjanjikan perubahan akan terjadi bagi siapapun yang berkehendak dan berusaha melakukannya. Tak peduli apakah yang mereka inginkan perubahan menuju kebenaran atau kebatilan. FirmanNya:

"Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum Sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri." (TOS. Ar Ra'du: 11)

Sejarah mencatat Rusia berubah menjadi negara Sosialisme -Komunisme ketika Lenin mengobarkan Revolusi Bolshevik yang mengakhiri masa kekuasaan para Tsar di Rusia. Sejarah juga mencatat keruntuhan Sosialisme-Komunisme pada tahun 90an setelah Presiden Soviet Mikhail Gorbachev mengumumkan Glasnost dan Perestroika.

Bila ideologi batil saja mendapatkan kepastian perubahan, apatah lagi memperjuangkan Islam. Dakwah Islam yang dikobarkan Rasulullah SAW dan para sahabat telah mendobrak kejumudan bangsa-bangsa Arab. Budaya takhayul diganti dengan pola pikir aqliyyah berlandaskan iman, budaya ekonomi ribawi diganti dengan ekonomi syariah, permusuhan antar suku bangsa dihapuskan dengan ukhuwah Islamiyyah, dan pemegang supremasi hukum adalah Allah SWT, bukan manusia. Para aparatur negara dan khalifah hanyalah pelaksana hukum-hukum Allah.

Hijrah telah menorehkan sejarah emas bagi umat, bahwa tak ada yang bisa menghentikan perubahan ke arah Islam. Dan tak ada perubahan hakiki kecuali kepada Islam. Kini, tongkat perubahan itu ada di tangan umat, apakah umat akan bertekad melakukan perubahan itu ataukah berdiam diri selamanya berada dalam kejumudan dan kerusakan umat manusia sekarang ini.

"Dan katakanlah: 'Yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap.' Sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap." (TQS. Al-Isra: 81). []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 160, Oktober-Nopember 2015
---

Membebaskan negeri dari neoimperialisme


 

Indonesia saat ini berada dalam cengkraman penjajah kapitalisme liberal. Penjajahan ini hampir di segala bidang kehidupan, baik dalam aspek ideologi, politik, ekonomi, sosial, budaya hingga pertahanan dan keamanan.
Ideologi Kapitalisme liberal ini semakin kokoh mencengkeram Indonesia. Hal ini nampak jelas dari semakin sempurnanya pelaksanaan Demokrasi, Liberalisasi, Pasar bebas, Gaya Hidup hedonisme, yang kesemuanya merupakan anak kandung dari Kapitalisme. Maka momentum ini, kita berupaya dan terus berjuang bersama-sama untuk membebaskan negeri ini dari segala bentuk penjajahan yang semakin menyengsarakan rakyat di negeri ini
makna hijrah harus dipahami secara benar oleh kaum muslimin. Sebab untuk mengaktualisasikan makna Hijrah ini kaum Muslimin harus memahami sirah Nabi Muhammad SAW, sejarah dan fakta umat Islam saat ini.

Dari fakta sejarah setelah Rasulullah SAW hijrah dari Mekah ke Madinah maka syariat Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam ideologi, politik dalam dan luar negeri, pertahanan dan keamanan, ekonomi, sosial kemasyarakatan, hukum dan pendidikan.
Dengan berkaca pada fakta sejarah hijrah Rasulullah saw ini, maka kini saatnya seluruh komponen umat Islam berjuang bersama-sama agar syariat Islam diterapkan secara kaffah dalam naungan Khilafah. Karena hanya dengan Khilafah inilah syariat islam dapat diterapan secara sempurna dan Islam rahmat lil ‘alamin benar-benar dapat diwujdkan

sungguh Allah akan cinta hambanya yang bertobat. Dalam hadits disebutkan “At taaib Habibullah”, orang yang bertobat adalah kekasih Allah. Sehingga sangat wajar, jika dia sudah dicintai Allah, sudah menjadi kekasih-Nya, kemudian dia melantunkan istighfar, Allah akan senang. Allah bukan saja mengampuni dosa-dosa sang hamba, namun juga memberikan berbagai bonus keutamaan, yakni; memberikan jalan keluar atas segala kesulitan, melapangkan dada yang gundah gulana, dan memberikan rezeki dari arah yang tidak disangka-sangka.

Ingatlah, Allah tidak pernah luput atas janji-Nya. Semoga Allah menjadikan kita kekasih-Nya. Akan diampuni dosa-dosa, dan diberi berbagai keutamaan. Allahumma Amiin.
Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Barangsiapa yang senantiasa beristighfar, maka Allah pasti akan selalu memberikannya jalan keluar dari setiap kesempitan dan kelapangan dari segala kegundahan serta Allah akan memberikan rizki kepadanya dari arah yang tidak ia sangka-sangka.” (HR. Abu Daud)

sumber kebencian kapitalis Barat terhadap Islam adalah bersifat ideologis. Media massa barat tidak dikontrol oleh Yahudi atau Kristen, tapi dia adalah bagian dari Ordo Sekuler, Kapitalis Liberal. Rezim Barat ini menyebarluaskan kepentingan penguasaan materi dan ideologi sekuler secara global. Apapun yang merintangi mereka, terutama Islam dan Muslim, akan dipersetankan dan dihilangkan martabat kemanusiaannya. Berbagai kelompok intelektual di dunia Barat bisa melihat bahwa ketika sebagian besar kelompok etnik/budaya bisa menerima peran global AS, ternyata dunia Islam lah yang justru mengindikasikan penolakan yang masih terlihat vokal. Maka tidak heran apabila ada individu yang kerap menyerang Islam dan ini juga menjadi sumber pencitraan negatif terhadap Islam dan muslim.

Secara ekonomi benar-benar negeri ini sudah terkuras oleh asing. Secara keilmuan idealisme atas ilmu juga luntur dengan pola kapitalisme. Normalnya kita harus marah atas kondisi ini, dengan kemarahan yang benar. Kemarahan ini harus disalurkan menuju sebuah keinginan dan perjuangan untuk membuat suatu perubahan ke arah kebenaran. Perubahan dengan metode yang diajarkan oleh Rasulullah Muhammad SAW.

Sesungguhnya Nabi SAW tidak pernah marah terhadap sesuatu. Namun, jika larangan-larangan Allah dilanggar, ketika itu tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi rasa marahnya (HR al-Bukhari dan Muslim).
Perang kaum kafir terhadap Islam dan kaum Muslim telah sampai pada tingkat memicu kemarahan setiap muslim yang mukhlis. Karena itu, dalam banyak hal kita pun harus marah, misal: saat kehormatan Islam dilecehkan, saat orang-orang kafir mengolok-olok Islam, saat orang-orang liberal mengacak-acak Alquran, saat para penguasa membuat UU yang bertentangan dengan Islam dan melakukan berbagai kezaliman, saat saudara-saudara sesama Muslim dihinakan bahkan dibantai tanpa belas kasihan, dsb. Dalam hal seperti ini kita bukan hanya boleh marah, bahkan harus marah. Jika mampu kita wajib mengubahnya dengan tangan (kekuasaan).

saat ini Indonesia dalam ancaman tantangan hambatan dan gangguan (ATHG) neoliberalisme dan neoimperialisme. Ancaman nyata neoliberalisme diantaranya diterapkan sistem sekuler, tatanan ekonomi kapitalistik, perilaku politik oportunistik-Machiavellistik, budaya hedonis yang amoralistik, kehidupan sosial yang egoistik, sikap beragama sinkretistik, dan sistem pendidikan materialistik,
sesungguhnya Islam bukan ancaman karena Islam anti terhadap: kemaksiatan, terorisme, sekulerisme, korupsi, monopoli dan penguasaan asing. Justru Islam menjadi rahmat bagi seluruh alam yang menjamin kebahagiaan dunia dan akhirat.

politik menurut pandangan Islam merupakan pengaturan dan pelayanan terhadap rakyat. Sedangkan yang dimaksud dengan “cerdas politik” adalah memahami bagaimana pengaturan dan penataan terhadap rakyat dari tata kelola yang benar, yakni jika kehidupan rakyat diatur menurut syariat Islam.

Agenda politik penyadaran akan Sistem Islam



Banyak kita jumpai dewasa ini orang yang beragama Islam, berakidah Islam, tetapi perilakunya tidak mencerminkan Islam. Kemaksiatan di mana-mana, kekufuran di mana-mana, maka timbulah kerusakan-kerusakan moral dan akhlak di masyarakat kita. Jika akidah Islam sudah menempel di sanubari kita, tentu tidak akan terjadi hal yang demikian.

penerapan Syariat Islam merupakan konsekuensi dari aqidah Islam maka umat Islam harus terus berusaha dan berjuang untuk mewujudkan dalam bingkai khilafah. akar masalah konflik sosial yang kerap terjadi adalah akibat penerapan sekulerisme dan liberalisme maka solusinya umat ini harus kembali pada syariah  dengan penegakan kembali Khilafah.

Kapitalisme dan kebijakan neo-liberal telah gagal dan menyengsarakan. Kebijakan yang kita saksikan saat ini adalah kebijakan pembangunan berbasis kapitalisme. Di mana negara republik bersinergi dengan kaum kapitalis untuk mengeruk keuntungan berdalih pembangunan, padahal rakyatlah yang menjadi korban.
Semua itu adalah akibat sistem ekonomi kapitalisme yang diadopsi dan diterapkan di negeri ini. Dalam sistem kapitalisme, apalagi sistem neoliberal yang kini diterapkan, pemerintah hanya berperan sebagai regulator bukan pelaku dan penanggung jawab perekonomian. Dalam kapitalisme negara tidak berkewajiban memberikan jaminan atas pemenuhan kebutuhan pokok rakyat yang meliputi sandang, pangan dan tempat tinggal, begitupun pelayanan kesehatan, pendidikan, keamanan dan lainnya.
Dalam sistem Islam, negara wajib memberikan jaminan pemenuhan kebutuhan pokok dan pelayanan kesehatan, pendidikan dan keamanan bagi setiap individu rakyat. Pelayanan kesehatan, pendidikan dan keamanan diberikan secara langsung. Sistem Islam memiliki aturan yang menjamin hal itu bisa dilaksanakan.

perbedaan pembiayaan negara kapitalis dengan negara yang pernah dipimpin Rasulullah SAW dan para Khalifah penerusnya. Jika dalam negara kapitalis pendapatan negara bersandar pada pajak, maka dalam Negara Islam justru nihil pajak dalam target pendapatan negara. Pembiayaan negara Islam semuanya dikelola dalam Baitul Mal. Begitu juga dalam hal mata uang, “jika menggunakan dinar dan dirham, maka tidak ada inflasi, jika pada zaman Rasulullah SAW 1 dinar bisa untuk membeli satu kambing, maka pada hari ini pun 1 dinar tetap bisa membeli satu ekor kambing


Negara-negara buatan dibentuk untuk memecah belah Timur Tengah menjadi kelompok-kelompok palsu, dengan harapan bahwa Islam akan lenyap dan tidak pernah menjadi ancaman bagi Barat. Eropa menempatkan monarki-monarki dan otokrat-otokrat untuk mempertahankan arsitektur palsu ini dan Israel juga diciptakan untuk bertindak sebagai garis pertahanan kedua jika kesatuan politik muncul dari kaum Muslimin di wilayah tersebut. Setelah PD 2 dan dengan runtuhnya Inggris dan Perancis, AS mewarisi wilayah itu dan mempertahankan arsitektur ini. Kematian Komunisme pada tahun 1991 membawa kembali bentrokan langsung dan terbuka antara peradaban.

Perkara yang paling dikuatirkan oleh Amerika sebagai sesuatu yang mungkin terjadi itu adalah munculnya kekuatan Islam di kawasan yaitu “daulah al-Khilafah”.  Dari Maroko Afrika Barat hingga penduduk muslim terbesar dunia, yaitu Indonesia, termasuk dari populasi Muslim di negeri-negeri Barat, suara yang merindukan Syariah Islam kian nyaring terdengar. Meski media-media sekuler nyaris tidak pernah meliputnya bahkan membungkamnya namun gaung suaranya kian nyaring membahana. Di tengah arus perubahan besar dan pergolakan politik yang tengah terjadi di berbagai belahan dunia Islam saat ini, Agenda-agenda politik dan penyadaran dalam skala besar maupun kecil yang konstan diselenggarakan Hizbut Tahrir di tiap negara telah medium untuk mengokohkan visi dan misi umat Islam.

seberapapun besarnya upaya dari rezim penjahat untuk menghentikan dakwah Hizbut Tahrir, para aktivis Hizbut Tahrir akan terus berdakwah untuk memenuhi perintah Allah SWT Yang Maha Kuasa, dan mewujudkan kabar gembira dari Nabi kita tercinta Muhammad saw:
“Kemudian akan ada Khilafah yang tegak di atas metode kenabian (Khilafah ‘ala minhājin nubuwah).” (HR Abu Dawud dan Ahmad).

Saat agama dipisahkan dari kehidupan dan tidak dijadikan landasan kehidupan, kaum Muslim banyak yang kehilangan pegangan hidup. Mereka tidak bisa lagi menimbang persoalan dengan benar,
Sekularisme telah membuat kaum Muslim menjauh dari agama. Sayangnya, saat ini sekularisme (pemisahan agama dari kehidupan) justru dijadikan pegangan hidup. Kaum Muslim tidak menjadikan akidah Islam sebagai landasan masalah gaib maupun kehidupan dunia, sekaligus sebagai landasan pembuatan undang-undang.
Keadaan bertambah parah karena negara republik tidak melindungi akidah umat Islam.

Inilah akibat Islam dicampakkan. Inilah akibat sekularisme yang terus bercokol di negeri ini sejak ditanamkan oleh kaum penjajah selama lama hingga hari ini.
Karena itu hendaknya kita kembali pada agama Allah SWT secara kâffah. Sesungguhnya Islam adalah agama yang agung, memuaskan akal, sesuai fitrah manusia dan menenteramkan hati. Namun, kesempurnaan dan kemuliaan Islam tak akan dapat dirasakan tanpa penegakkan syariah Islam dalam naungan Khilafah. Sungguh tak mungkin Islam dapat berdampingan dengan sekularisme. Sekularisme menciptakan kerusakan, menyuburkan takhayul dan khurafat; sedangkan Islam menebar rahmat bagi semesta alam. Saatnya kita mencampakkan sekularisme, lalu kita ganti dengan akidah dan syariah Islam.

menghimpun potensi intelektual umat yang berlimpah agar bervisi besar dalam menjalankan peran utama sebagai pembangun peradaban Islam dengan berperan aktif dalam perjuangan penegakan peradaban Islam. Karena berangkat dari pendalaman fakta bagaimana potensi intelektual saat ini makin besar, kaum intelektual pun terus melimpah namun problematika masyarakat semakin kusut.

Untuk menghilangkan semua kemadaratan di muka bumi ini dan mengembalikan fungsi Islam, tentu diperlukan penerapan kembali Islam kâffah dalam institusi Khilafah dan mencampakkan sistem kufur kapitalisme saat ini.
Penerapan Islam kâffah inilah yang akan mewujudkan Islam rahmatan lil ‘alamin. Inilah wujud nyata upaya kaum Muslim untuk menyambut seruan dari Allah SWT dalam al-Quran (yang artinya): Wahai kaum beriman. Masuklah kalian ke dalam Islam secara keseluruhan, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu adalah musuh yang nyata bagi kalian (QS al-Baqarah ayat 208).

Cinta dan ittibâ’ kepada Rasul itu harus diwujudkan sesuai kehendak syariah, bukan berdasarkan kehendak kita. Cinta dan ittibâ` yang mengikuti kehendak kita biasanya hanya diwujudkan pada sebagian perkara dan tidak pada sebagian yang lain. Perkara yang sesuai dengan keinginan kita, kita lakukan; yang tidak sesuai keinginan kita, kita tinggalkan. Akibatnya, mungkin kita hanya mengikuti dan meneladani Nabi saw. pada aspek-aspek personal, moral dan ibadah mahdhah-nya saja; tidak mengikuti dan meneladani Nabi saw. dalam urusan menerapkan hukum syariah, mengelola pemerintahan, berpolitik, mengelola perekonomian, membangun interaksi kemasyarakatan, menyelesaikan berbagai perkara dan perselisihan yang terjadi di masyarakat dengan hukum Islam serta menegakkan kekuasaan dan sistem yang menerapkan syariah Islam.
Padahal yang dituntut dan diperintahkan oleh syariah adalah agar kita mewujudkan cinta dan ittibâ` kepada Nabi saw. sesempurna mungkin. Kita dituntut untuk mewujudkan cinta dan ittibâ` kepada Nabi saw. secara totalitas (kâffah).

Menggelorakan kebangkitan Islam



Khilafah yang mulia sudah tiada sejak runtuh tahun 1924. Gelora perjuangan umat untuk dapat mengembalikan kehidupan Islam dalam naungan Khilafah tentunya tidak boleh hanya mengandalkan semangat belaka. Pemahaman yang utuh dan benar, dilandasi dengan pondasi tauhid yang kokoh dan kedalaman pemahaman syariahnya, akan mewujudkan fikrah dan tharîqah yang sahih dalam perjuangan menegakkan syariah dan Khilafah.

Khilafah terbukti dalam sejarah sebagai pelindung umat Islam. Secara imani, sebagaimana sabda Nabi saw., Khilafah adalah benteng (junnah). Dengan Khilafah umat Islam yang selama ini terpecah-belah akan menyatu. Negeri-negeri Muslim seperti Palestina, Pakistan, Irak, Suriah dan sebagainya yang dijajah oleh negara-negara Barat adikuasa saat ini tidak ada yang membela. Bila Khilafah berdiri, Khilafah yang akan melawan negara penjajah tersebut serta membebaskan negeri-negeri Muslim tersebut dari cengkeraman Barat. Khilafah akan berdiri membela umat manusia di hadapan kezaliman negara adikuasa saat ini.

Perubahan menuju tegaknya syariah dan Khilafah harus dilakukan secara mendasar dan menyeluruh (inqilabiyah wa syumuliyah). Pemahaman keliru tentang syariah dan Khilafah, yang sepotong-sepotong dan tidak utuh, justru akan melahirkan kekeliruan terhadap apa yang dimaksud dengan syariah dan Khilafah. Akibatnya, ini justru akan menjauhkan dari cita-cita penegakkan syariah dan Khilafah itu sendiri.

Pemikiran terkait syariah, Khilafah dan jihad ini akan merobohkan hegemoni imperialisme negara Barat. Itulah sebabnya, mereka memandang ketiga ajaran Islam ini sebagai ajaran berbahaya. Tentu bahaya untuk mereka, tetapi penyelamat bagi umat Islam dan umat manusia secara keseluruhan. Ingat, pihak yang diinjak-injak oleh penjajahan Barat bukan semata umat Islam, melainkan juga umat manusia secara umum.

Perubahan menuju tegaknya syariah dan Khilafah harus dilakukan dengan cara pemikiran, politis dan tanpa kekerasan sebagaimana yang dicontohkan Rasulullah saw. Hal ini tidak lain karena bangkitnya Islam didasari pada landasan pemikiran “Lâ ilâha illa AlLâh Muhammad RasûlulLâh”. Inilah yang didakwahkan Rasulullah saw. Dari pemikiran dasar inilah akan muncul akidah yang berlandaskan pemikiran yang sahih. Pemikiran ini pula yang akan mendasari ketaatan seorang Muslim pada syariah Islam.

Kelompok liberal berupaya untuk membuat definisi radikal itu menjurus pada kekerasan dan mengaitkannya dengan teroris. Tujuannya, bila radikal itu dipandang menyatu dengan kekerasan maka masyarakat akan menjauhinya, dan pada saat yang bersamaan tangan kekuasaan dapat digunakan untuk memberangus mereka. Ini adalah politik jahat. Membuat definisi tendensius untuk memaksa penguasa memberangus para pejuang Islam dengan tangan besi.

Rasulullah saw. mencontohkan bagaimana beliau menyerang ide-ide jahilliyah dan pemikiran-pemikiran batil yang berkembang di masyarakat, mengungkap konspirasi kaum kafir, menelanjangi kebusukan penguasa pada saat itu. Ini merupakan aktivitas politis. Begitu pula dengan proses meminta pertolongan (at-thalab an-nushrah) yang dilakukan Rasulullah, yaitu mendatangi penguasa (ahl al-quwwah). Inipun merupakan tindakan politis yang dilakukan oleh Rasulullah saw.


Al-Mawardi berkata, “Seorang pemimpin, jika ia memiliki kebaikan, ia mencintai dan dicintai oleh rakyat. Sebaliknya, jika buruk/jahat, ia membenci dan dibenci oleh rakyat. Rasa takut kepada Allah akan mendorong untuk taat kepada-Nya dalam memperlakukan makhluk-Nya. Ketaatan kepada Allah akan mendorong untuk mencintainya. Dengan demikian kecintaan itu merupakan bukti atas kebaikan imam. Sebaliknya, kebencian rakyat kepada pemimpin adalah bukti keburukannya dan minimnya perhatian dia kepada rakyat.

Perubahan menuju tegaknya syariah dan Khilafah pun harus dilakukan dengan membangun kesadaran masyarakat serta membangun dukungan dari ahlul quwwah. Karena masyarakat atau umatlah pemilik yang hakiki perubahan ini. Tanpa kesadaran mereka, perubahan hanyalah kesia-siaan. Ahlul quwwah adalah pengikat dari proses perubahan. Merekalah kunci umat, kepercayaan umat dan sandaran umat.

Asy-Syaukani di dalam Nayl al-Awthâr menjelaskan, pemimpin yang mencintai dan dicintai rakyat, mendoakan dan didoakan oleh rakyat, adalah sebaik-baik pemimpin. Sebaliknya, pemimpin yang membenci dan dibenci rakyat, melaknat dan dilaknat oleh rakyat, termasuk seburuk-buruk pemimpin. Sebab, jika pemimpin berlaku adil di tengah rakyat, berkata baik kepada rakyat, maka rakyat akan menaati, mematuhi dan memuji dia. Ketika keadilan dan kebaikan perkataannya menyebabkan kecintaan, ketaatan dan pujian rakyat kepadanya maka dia adalah sebaik-baik pemimpin.

akar masalah terjadinya problematika umat disebabkan karena Islam telah dikesampingkan  dan menggantinya dengan sistem demokrasi kapitalis.

Sungguh peran Ulama yang menjadi pewaris kenabian dalam upaya memperjuangkan tegaknya syariah islam kaffah dalam bingkai sistem pemerintahan Islam (al khilafah) itu sangat urgen

Masyarakat juga harus berjuang, bahu membahu demi tegaknya syari’ah dan Khilafah di muka bumi ini

urgensitas Ulama untuk ikut berperan dalam perjuangan penerapan Syari’ah Islam kaffah  dalam naungan Khilafah.

Mari kita belajar Islam dari akar sampai daun

Hijrah secara bahasa berasal dari kata hajara yang berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain, dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Lisân al-‘Arab, V/250; Al-Qâmûs al-Muhîth, I/637). Para fukaha lalu mendefinisikan hijrah sebagai: keluar dari darul kufur menuju Darul Islam (An-Nabhani, Asy-Syakhsiyyah al-Islâmiyyah, II/276). Darul Islam adalah suatu wilayah (negara) yang menerapkan syariah Islam secara total dalam segala aspek kehidupan dan keamanannya secara penuh berada di tangan kaum Muslim. Sebaliknya, darul kufur adalah wilayah (negara) yang tidak menerapkan syariah Islam dan keamanannya tidak di tangan kaum Muslim sekalipun mayoritas penduduknya beragama Islam. Definisi hijrah semacam ini diambil dari fakta hijrah Nabi saw. sendiri dari Makkah (yang saat itu merupakan darul kufur) ke Madinah (yang kemudian menjadi Darul Islam). Karena itu para fukaha biasa menggunakan istilah Darul Islam dan darul kufur. Frasa Darul Islam, misalnya, terdapat dalam kitab-kitab fikih Syafi’iyah seperti: Rawdhah ath-Thâlibîn (I/129),  Al-Umm (III/30),  I‘ânah ath-Thâlibîn (IV/233),  Fath al-Wahhâb (I/112), dll.

menggelorakan kebangkitan Islam menuju perubahan hakiki. Perubahan yang hakiki adalah perubahan yang dapat menyelesaikan secara tuntas seluruh persoalan kaum Muslim di dunia saat ini. Perubahan semacam itu tidak mungkin tercapai kecuali dengan dua hal sekaligus. Pertama: Membangun kekuatan politik internasional, yakni Khilafah Islam, yang menyatukan seluruh potensi kaum Muslim, baik sumberdaya alam maupun sumberdaya manusianya. Kedua: Menerapkan syariah Islam secara kâffah dalam Khilafah Islam tersebut. Hanya dengan cara inilah kaum Muslim akan mampu mengakhiri kondisi buruknya di bawah kekuasaan sistem Kapitalisme global menuju kehidupan mulia dan bermartabat di bawah institusi global: Khilafah Islam.

Aturan dari Allah untuk mengurusi menghukumi manusia


 

belum juga selesai kasus narkoba, tawuran, dan pelecehan seksual. Kini, masyarakat dibuat terperangah dengan kasus prostitusi. Bukan, bukan hanya perempuan saja yang bisa terjerumus. Remaja laki-lakipun tak luput dari ancaman ini. Yah, prostitusi anak untuk kaum gay.
Badan Reserse Kriminal (Bareskrim) Polri mengungkap jaringan prostitusi anak di bawah umur untuk kaum homoseksual atau gay di kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat. Satu pelaku berinisial AR (41) ditangkap di sebuah hotel kawasan Puncak, Bogor, Jawa Barat.

Negara republik telah gagal melindungi warganya. Semakin hari kejahatan semakin beragam. Sementara solusi-solusi yang ditawarkan tak mampu menyelamatkan.

Sistem yang memberi rasa aman bagi warganya. Semua pelanggar syariat dapat hukuman yang setimpal. Semua itu hanya ada dalam sistem islam. Di mana syariat islam diterapkan secara sempurna.

Tayangan-tayangan media saat ini justru berkiblat pada gaya hidup Barat. Kasus Awkarin misalnya. Siswi peraih nilai UN tertinggi ini sejak melanjutkan sekolahnya ke Jakarta, justru mempertontonkan hal-hal yang tidak patut pada akun media sosialnya.

Dengan sistem Islam, Khilafah, upaya mewujudkan generasi yang bermartabat dan terdepan dalam sains sangat mungkin

setiap masalah yang muncul pasti ada obatnya. Pengobatan yang paling urgen untuk memperbaiki umat adalah dengan menegakkan Khilafah

Sistem Kapitalisme mengkondisikan umat manusia berada dalam kesengsaraan dan penderitaan. Pihak yang kuat akan terus mengeksploitasi pihak yang lemah di antara mereka. Pihak yang kaya di antara mereka akan terus menghegemoni orang-orang miskin. dengan kembali ke sistem Islam secara sempurna akan membuat baik kondisi umat manusia.

Sistem ekonomi kapitalis telah memutlakkan kepemilikan individu. Hasilnya adalah tirani kepemilikan individu terhadap kepemilikan publik dan kepemilikan negara itu sendiri sehingga negara dan masyarakat serta sebagian besar kekuatan ekonomi yang ada di suatu negeri menjadi tergadai ditangan segelintir orang kaya monopolis dan rakus yang mengeksploitasi kebebasan kepemilikan secara mutlak. Mereka mendirikan bank-bank ribawi raksasa bertolak dari kebebasan kepemilikan. Begitu pula mereka mendirikan perusahaan-perusahaan kapitalis raksasa, nyata maupun fiktif, dan bermain-main di pasar keuangan “bursa” dengan cara-cara setan, kemudian perusahaan-perusahaan dan bank-bank itu mengendalikan pasar-pasar dan kekayaan, melahap perusahaan-perusahaan kecil yang ada di jalannya, persis seperti ikan paus yang melahap ikan-ikan kecil. Hal itu bertolak dari kebebasan pengelolaan kepemilikan, melalui kebijakan spekulasi, kontrol ekonomi dan monopoli. Semua itu bertolak dari kebebasan pengembangan harta menggunakan metode yang diinginkan oleh para kapitalis.

Mengetahui Hukum Syara’ yang menjadi patokan seorang muslim dalam kehidupannya adalah Fardhu Ain atas setiap muslim. Karena ia diperintah untuk melaksanakan berbagai aktivitasnya sesuai hukum-hukum syara’.
Ini merupakan Khtihaabut Takliif (seruan berisi beban) yang diserukan oleh Asy Syari’ (Allah & RasulNya) terhadap manusia, dan kepada orang-orang mukmin.
Ini adalah seruan yang jazm (tegas) yang tidak ada pilihan lain bagi siapapun. Baik itu berkenaan dengan pengetahuan terhadap hal-hal yang berkenaan dengan keimanan atau berkenaan dengan amal perbuatan manusia.
Dari Kitab Asy Syakhshiyyah al Islamiyyah Juz 2, karya Asy Syaikh Taqiyuddin an Nabhani

“Setelah itu, akan datang masa raja diktator; dan atas kehendak Allah masa itu akan datang; lalu Allah akan menghapusnya jika berkehendak menghapusnya. Kemudian, datanglah masa Khilafah ‘ala Minhaaj al-Nubuwwah” (HR Abu Daud, Ahmad).

Kehadiran Sri Mulyani dalam kabinet Jokowi, semakin terbukti untuk mengokohkan penjajahan asing di Indonesia.  Pemerintah akhirnya resmi memberi kesempatan seluas-luasnya kepada swasta asing untuk membangun kilang minyak di dalam negeri terhitung sejak 24 Agustus 2016. Dengan demikian, tugas untuk membangun kilang minyak baru tidak lagi hanya dibebankan kepada PT Pertamina (Persero).Sri Mulyani Kokohkan Liberalisasi Migas, Izinkan Swasta Asing Bangun Kilang Minyak
Penegasan itu tertuang dalam Peraturan Menteri Keuangan Nomor 129/PMK.08/2016 tentang Peraturan Menteri Keuangan Nomor 265/PMK.08/2015 tentang Fasilitas Dalam Rangka Penyiapan dan Pelaksanaan Transaksi Proyek Kerjasama Pemerintah dan Badan Usaha Dalam Penyediaan Infrastruktur, yang diteken Sri Mulyani Indrawati pada 23 Agustus 2016 dan diundangkan sehari setelahnya.

Sesungguhnya Indonesia telah dikaruniai Allah tanah-tanah yang subur dan air yang berlimpah. Semua itu, jika dimanfaatkan dengan baik akan menjadikan rakyat berada dalam kemakmuran hidup. Tetapi itu memerlukan sistem yang baik yang berasal dari Zat yang Maha Bijaksana, lagi Maha Mengetahui. Sistem itu adalah sistem Islam, yaitu Khilafah Rasyidah, yang akan memenuhi bumi dengan keadilan dan kebaikan. Mudah-mudahan itu segera terwujud dalam waktu dekat atas seizin Allah.

Berbicara tentang kepemimpinan, ada tiga hal yang harus dimiliki: (1) kualitas dan integritas orang yang memimpin (person); (2) sistem yang diterapkan; dan (3) sikap pihak yang dipimpin.
Nabi Muhammad Saw., jauh sebelum diangkat sebagai nabi, sudah dikenal sebagai orang yang mulia, jujur, dan amanah. Semua karakter baik ada pada diri Beliau. Beliau bahkan digelari ‘Al-Amin’. Namun, Allah Swt. tidak hanya mencukupkan pada karakter pemimpin semata. Dia menurunkan wahyu kepada Nabi-Nya berupa al-Quran dan as-Sunnah sebagai petunjuk bagi manusia. Dengan aturan dari Allah itulah Beliau mengatur, mengurusi dan menghukumi manusia.
Tentu diperlukan sistem dan aturan yang juga baik. Apakah sistem dan aturan yang baik itu? Tentu, sistem dan aturan yang lahir dari Zat Yang Mahabaik. Itulah syariah Islam yang dijalankan dalam sistem Kekhilafahan. Ketika kerusakan terjadi, manusia disuruh kembali pada aturan dan hukum-Nya.
Bukankah Dia Yang Mahaperkasa menyatakan: “Telah tampak kerusakan di darat dan di laut karena perbuatan manusia supaya Allah menimpakan kepada mereka sebagian akibat perbuatan mereka, agar mereka kembali (ke jalan yang benar, jalan Allah)”. (QS ar-Rum [30]: 41).

Hai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total (QS al-Baqarah [2]: 208).
Di dalam tasfirnya, Aysar at-Tafâsîr, Imam al-Jazairi menyatakan bahwa kata kaffat[an] dalam ayat di atas bermakna jâmi’[‘an]. Karena itu, kata Imam al-Jazairi, tidak boleh sedikitpun kaum Muslim meninggalkan syariah dan hukum-hukum Islam.

Faktanya, akibat neoliberalisme dan neoimperalisme, sebagian besar tanah dan air kita telah dikuasai asing; demikian pula sebagian besar kekayaan negeri ini. Menurut Data Litbang Kompas 2011, hingga tahun 2011 saja, asing telah menguasai: 70% tambang migas; 75% batubara, bouksit, nikel dan timah;’ 85% tembaga dan emas; dan 40% perkebunan sawit dari total 8,5 juta hektar. Tak hanya itu, menurut Kompas (25/5/2011) pula, dengan penerapan otonomi daerah yang cenderung liberal, hingga tahun 2011 saja sudah ada 8.000 izin kuasa pertambangan yang dikeluarkan pemerintah daerah. Kondisi itu makin membuka peluang asing untuk menguasai langsung sumber daya batubara dan mineral.

Keseluruhan syariah itu wajib kita terapkan. Tak boleh ada yang diabaikan, ditelantarkan, apalagi didustakan. Tindakan mengimani sebagian syariah dan mengingkari sebagian lainnya hanya akan mengantarkan kita pada kehinaan di dunia dan azab yang pedih di akhirat (QS al-Baqarah [2]: 85).

kepasrahan, ketundukan dan ketaatan total kita kepada Allah SWT itu dengan sama-sama berjuang mewujudkan terapnya syariah-Nya secara kaffâh dengan institusi Khilafah ar-Rasyidah ’ala Minhâj an-Nubuwwah.

di dalam shalat kita selalu mengulang dan mengukuhkan, bahwa hanya kepada Allah-lah kita memohon pertolongan. Hanya kepada Allah-lah kita meminta ditetapkan jalan yang lurus, yakni jalan mereka yang selalu diberi nikmat oleh Allah SWT. Bukan jalan orang-orang yang tersesat. Dan juga bukan jalan orang-orang yang dimurkai.

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam