Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Tampilkan postingan dengan label School Strategies. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label School Strategies. Tampilkan semua postingan

Generasi Teristimewa



Tidak ada yang paling maha dari segalanya kecuali Allah. Dia adalah Dzat yang Maha, termasuk Maha Pencipta. Penguasa langit dan bumi. Allah menciptakan banyak sekali makhluk di dunia ini. Hewan, tumbuhan, malaikat, jin, dan seluruh alam semesta. Ada satu makhluk yang Allah muliakan dari makhluk yang lainnya. Ketika setelah diciptakan Allah meminta seluruh makhluk yang lain bersujud kepadanya memberi penghormatan. Allah beri nama makhluk itu dengan manusia.

Iya, Allah bentuk manusia dengan sempurna. Berbeda dengan makhluk yang lainnya. Salah satu hal yang membedakan dengan yang lain juga adalah akal. Dengannya manusia mampu menerima kebenaran wahyu sehingga bisa membedakan mana yang baik dan yang buruk. Kemampuan inilah yang membuat manusia menjadi makhluk yang sempurna.

Di antara manusia yang banyak ini, Allah punya satu golongan yang dilebihkan dari manusia yang lainnya. Golongan inilah yang Allah sebut dengan sebaik-baik makhluk. ”Sungguh, orang-orang yang beriman dan mengerjakan kebajikan, mereka itu adalah sebaik-baik makhluk." (TQS. Al-Bayyinah: 7). Nah, orang beriman menjadi istimewa.

Jangan salah juga, dari yang beriman itu Allah juga memilih satu golongan yang lebih spesial. Di mana Allah lebih mencintai golongan ini. Dalam sebuah hadits qudsi, Allah berfirman: ”... Aku cinta orang tua yang bertaubat. Dan aku lebih cinta kepada pemuda yang bertaubat.” Wow, betapa spesialnya pemuda di sisi Allah sehingga lebih dicintai dari yang lain.

Pemuda memang begitu keren dan luar biasa. Begitulah pemuda menjadi istimewa di hadapan Rabbnya. Semata-mata karena mudanya. Catatan sejarah juga menjadi bukti bahwa perubahan yang terjadi di dunia ini didominasi oleh peran pemuda.

Pemuda itu masih hijau. Memang sih terkadang belum berpengalaman. Justru dari situ pemuda menjadi istimewa. Karena sering orang-orang yang berpengalaman justru terjebak dengan sesuatu yang monoton. Sulit untuk berinovasi. Pemuda dengan ketidakpengalamannya sering kali membuat sebuah terobosan yang luar biasa. Seperti Muhammad Al-Fatih, yang menyebarangkan kapal melalui bukit. Seperti pemuda yang menghidupi masyarakatnya dengan berbagai inovasi yang menyegarkan.

Sungguh luar biasa pemuda itu. Membanggakan dan pantang menyerah. Maka perjuangan memang lebih dapat diharapkan jika diserahkan kepada pemuda. Karena pemuda itu sifatnya pantang menyerah. Seperti tunas, walaupun dipangkas dia akan tumbuh dari arah yang lain. Tidak salah memang Allah memilih pemuda.

Oh iya, pemuda yang dicinta itu yang beriman. Bukan pemuda yang doyan maksiat. Makanya semua potensi pemuda harus menyatu dengan keimanan. Percuma kalau tidak ada keimanan pada diri pemuda. Bukan jadinya dicintai oleh Allah, malah jadi dilaknat Allah.
Jangan lagi meniru Musthafa Kamal yang semangat mudanya luar biasa, pantang menyerah tetapi digunakan untuk melawan Allah. Potensi mudanya digunakan untuk menghancurkan agama Allah. Mahkota Islam yaitu khilafah dia runtuhkan bersama penjajah. Itulah contoh kalau kemudaan yang tidak dibimbing dengan iman.

Sehingga perlu diingat, pemuda yang istimewa itu yang membalut masa mudanya dengan ketaatan kepada Allah. Berdakwah untuk Islam dan kemuliaan kaum Muslim. Berjuang menegakkan syariah dalam bingkai khilafah. Seperti para sahabat Rasul. Inilah pemuda Islam, generasi teristimewa yang dicintai Allah dan dirindukan Surga. Dan yang kelak akan mendapatkan naungan dari Allah di hari kiamat. "...seorang pemuda yang tumbuh dalam beribadah kepada Allah…" (HR. Muslim).

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 200
---

Mencegah Sekuler Radikal



Saat ini ajaran liberal semakin radikal. Bahkan mencekoki anak-anak didik. Contohnya Afi Nihayah, anak usia 18 tahun yang disanjung-sanjung lewat tulisannya (meski belakangan diketahui plagiat) sehingga dijadikan ikon liberal.

Masih muda, tapi pola pikirnya sudah sangat liberal. Radikal liberalnya. Seperti menganggap semua agama sama. Hal itu antara lain didapatnya dari bacaan-bacaan, yang tentu saja didominasi buku liberal.

Ini tak lepas dari sumbangsih peradaban liberal yang menyeretnya menjauh dari syakhsiyah Islamiyah (kepribadian Islam). Kepalanya dibungkus kerudung, tapi di balik akalnya terselubung racun-racun sekulerisme. Benih-benih yang membahayakan masa depan ke-Islamannya.

Tentu saja, sekuler radikal inilah yang lebih bahaya dibanding Islam kaffah (yang orang Barat memberi stempel Islam radikal). Bagaimana agar tidak lahir Afi-Afi lain yang berpikiran liberal? Berikut beberapa antisipasi yang bisa dilakukan:

1. Bekali Islam Kaffah

Mendidik anak adalah tanggung jawab orang tua. Dari rumah, anak harus dibekali Islam kaffah. Jika orang tua tidak mampu menanamkannya sendiri, carikan guru agar anak belajar Islam kaffah. Islam ideologis yang membentuk anak menjadi Muslim unik yang bersyakhsiyah Islamiyah. Antarkan anak halaqah menemui guru-guru yang terpercaya keilmuannya.

2. Sekolahkan di Sekolah Islam

Sebisa mungkin sekolahkan anak di sekolah Islam. Apakah sekolah Islam terpadu atau pesantren. Jangan lupa pula halaqah. Sudah jelas, sekolah sekuler menyimpan banyak risiko dengan kurikulum pendidikannya yang sekuler. Kendati ada polesan agama Islam, hanya menjadi aksesori tanpa mengubah pola pikir dan perilaku anak.

3. Dekatkan Anak dengan Al-Qur’an

Generasi Muslim harus dekat dengan Al-Qur’an dalam makna sebenarnya.

Menjadikan rutinitas membaca dan menghafal Al-Qur’an sebagai aktivitas terpenting di sela-sela waktu belajar dan bermainnya. Bagaimana anak-anak Muslim menjadikan Al-Qur’an tidak lepas dari tangannya, sebagaimana orang-orang liberal tidak lepas dari gadgetnya. Bagaimana mendidik anak-anak Muslim hafal ayat-ayat Al-Qur’an, sehafal anak-anak liberal terhadap lagu-lagu cinta artis idolanya.

4. Jauhkan Anak dari Lingkungan Liberal

Amati dan awasi pergaulan anak-anak. Jangan sampai mereka lebih banyak menghabiskan waktunya dengan melangkahkan kaki ke tempat-tempat kongkow, mal, atau tempat hiburan lainnya. Atau berselancar di dunia maya yang kebanyakan temannya awam atau sekuler. Sebaliknya, lebih banyak diarahkan ke forum-forum kajian, masjid dan lembaga keagamaan. Biarkan anak bergaul dengan teman-temannya, tetapi jangan biarkan pengaruh liberal merasuk dalam jiwa anak-anak.

5. Sering Ajak Diskusi

Cuci otak paradigma berpikir anak-anak dengan mengetes apa isi kepala mereka. Ajak diskusi dan sharing tentang apa saja untuk mengetahui kerangka berpikirnya. Pancing dengan opini-opini umum yang beredar di sekitar mereka, mintakan pendapatnya dan berikan masukan dengan sudut pandang Islam yang benar.

6. Seleksi Bacaan dan Tontonan Anak

Anak-anak, terutama yang masih kecil, adalah peniru ulung. Mereka menyerap segala yang dilihat dan dibaca apa adanya. Maka itu orangtua wajib menyeleksi tontonan dan bacaan agar tidak terjerumus dalam pola pikir liberal. Sesekali intip apa saja buah pikiran mereka di buku-buku coretan, buku harian atau status di akun media sosialnya. Kenali anak lebih dari orang lain mengenalinya. []kholda

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 198
---

SMS/WA Berlangganan Tabloid Media Umat: 0857 1713 5759

Pemuda Dasyat, Cerdas Taat Syariat



Oleh: @dhikawidayat, Penulis Buku Pemuda Dasyat

Ngomongin tentang pemuda itu memang asyiknya luar biasa. Pemuda itu punya semangat yang menggebu-gebu. Lihat saja lakon dari banyak kejadian akbar di dunia. Hampir semuanya diaktori oleh pemuda. ide-ide baru itu kalau yang mengusung adalah pemuda, maka akan jadi tampil. Kelihatan fresh dan menggairahkan. Berbeda dengan kalau yang bawa sudah kakek-kakek, jadi kurang menarik.

Pemuda memang menjadi manusia yang istimewa. Sorotan yang paling menarik untuk dijadikan headline utama. Apa yang dilakukannya, entah itu positif atau negatif menjadi bahan perbincangan yang renyah.

Mungkin karena memang yang namanya pemuda itu adalah generasi penerus bangsa. Yang seharusnya menjadi aktor utama untuk membangun sebuah peradaban. Bahkan ada yang bilang, "Kalau ingin melihat keadaan suatu kaum di masa depan, maka lihatlah pemudanya di masa sekarang".

Pemuda memang sosok yang menarik. Mempunyai semangat yang tinggi dan ide-idenya kreatif. Ini adalah modal cerdas dari pemuda. Ini merupakan modal awal yang bagus banget untuk menaikkan derajat suatu kaum.

Namun, pernah kan kamu lihat sebuah bangsa yang memiliki banyak orang-orang cerdas dan ternyata martabatnya tidak menjadi baik? Karena ada satu syarat lagi yang belum dipenuhi, yaitu taat syariat.

Karena cerdas saja nggak cukup. Bisa jadi cerdasnya digunakan untuk hal-hal negatif. Untuk kriminal atau yang lainnya yang merugikan banyak orang. Cerdasnya dibiarkan liar. Mungkin ada panduannya tapi nggak benar.

Sehingga cerdas saja nggak cukup menjadi pemuda. Selain itu, kudu juga taat syariat. Justru ini adalah kuncinya. Sehingga cerdasnya menjadi nilai pahala.

Kan asyik jadinya. Nggak hanya cerdas tapi juga taat syariat. Berkahnya hidup nggak hanya di dunia tapi juga di akherat. Ini kan yang kita minta sama Allah? "Dan di antara mereka ada orang yang berdoa: “Ya Tuhan Kami, berilah Kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat dan peliharalah kami dari siksa Neraka" (TQS. Al-Baqarah: 201).

So, yuk jadi pemuda Dasyat, cerdas dan taat syariat. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 198
---

SMS/WA Berlangganan Tabloid Media Umat: 0857 1713 5759

Your Time For Goodness, Guys



Oleh: Muhammad Rifqi Taqiyuddin, Siswa kelas 9 SLTP Khoiru Ummah Sumedang, LDS HTI Tanjung Sari

Guys... Waktu merupakan salah satu nikmat paling berharga dari Allah SWT. Andaikata tidak ada waktu, maka tidak akan ada pula yang namanya kehidupan (seperti saat ini). Waktu terus bergulir bagaikan air sungai yang mengalir. Waktu juga tidak bisa dibeli. Sehingga sangat layak Allah pun sampai bersumpah karenanya.

Rasulullah SAW pun memerintahkan kepada umatnya agar benar-benar memanfaatkan waktunya dengan baik. Hal ini bisa kita lihat dalam banyak hadits yang berkaitan dengan pemanfaatan waktu. Salah satunya adalah: "Dua nikmat, kebanyakan manusia tertipu dengan keduanya, yaitu kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhari)

Syeikh Salim bin 'Ied al-Hilali berkata: "Manusia itu ibarat pedagang, sementara kesehatan dan kesempatan (waktu luang) merupakan modal. Barangsiapa yang mempergunakan modal itu sebaik-baiknya, maka ia akan memperoleh untung. Sebaliknya, barangsiapa yang menyia-nyiakannya, niscaya ia hanya akan merugi dan menyesal selamanya dan ia termasuk golongan orang yang tertipu.”

Pemuda-Pemuda Hebat

Jika kita mengamati sejarah tokoh-tokoh Muslim yang hebat, kita dapat mendapatkan satu benang merah yang menjadi persamaan di antara mereka semua. Apa benang merahnya? Mereka semua memanfaatkan waktunya dengan sangat-sangat baik.

Salah satu pemuda hebat yang memanfaatkan waktunya dengan baik adalah Muhammad bin Idris. Apakah kalian kenal sosok Muhammad bin Idris atau yang lebih dikenal dengan nama Imam as-Syafi'i? Siapa sih yang gak kenal dia? Yah, dia adalah salah satu ulama termasyhur di kalangan umat Muslimin di seluruh dunia. Kemasyhuran dan keahliannya dalam ilmu fiqih sudah tidak bisa diragukan lagi. Namun timbul pertanyaan, mengapa dia bisa menjadi hebat seperti itu? Yah, dia berhasil karena mampu mengoptimalkan waktunya dengan sangat baik.

Sejak remaja dia selalu memanfaatkan waktunya dengan baik, dia senantiasa menuntut ilmu di manapun dan kapanpun waktunya, baik itu di waktu pagi maupun malam hari. Dia tidak tidur kecuali hanya sedikit saja setiap harinya dan menggunakan waktu malamnya untuk belajar dan beribadah kepada ilahi rabbi. Ada satu nasihatnya yang sangat mengena kepada kita: ”Siapa yang tidak belajar pada masa muda, segera dirikan shalat empat takbir atas kematiannya. Demi Allah, sesungguhnya hidup seorang pemuda adalah dengan ilmu dan ketakwaan. Jika keduanya tidak ada, maka pribadinya tidak bernilai.”

Timbul pertanyaan, apakah kita sudah bisa memanfaatkan waktu muda kita dengan baik dan maksimal? Apakah kita termasuk orang yang untung? Atau justru termasuk orang yang merugi?

Let's Be Better

Guys, orang yang hebat bukanlah orang yang pintar dalam segala hal. Namun orang yang hebat adalah orang yang dapat berubah menuju arah yang lebih baik. Jika saat ini kita masih merasa belum memanfaatkan waktu dengan baik, maka ubahlah! Ubahlah kebiasaan kita yang sering melakukan hal-hal yang tidak berguna. Tidak ada kata terlambat dalam hal kebaikan. Jangan sampai kita terbawa arus dengan lingkungan hari ini yang kian parah bin ekstrem. Jadikanlah waktu luang kita sebagai ajang untuk memperkaya ilmu dan menambah pundi-pundi pahala, agar kita dapat beruntung di dunia dan akhirat.

Camkanlah dalam diri kita! Bagi seorang Muslim, dunia ini adalah tempat untuk beribadah kepada Allah SWT, bukan justru malah lalai kepada-Nya. Jika kita berhasil di dunia maka balasan bagi kita kelak adalah Surga-Nya. Dan apabila kita gagal di dunia maka tempat kembali kita di akhirat kelak adalah siksa neraka yang amat pedih. Na’uudzu billah min dzalik.

Oleh karena itu, kita kudu menjadi pemuda-pemuda Islam penerus generasi Syafi'i yang dapat mengisi waktunya dengan hal-hal yang bermanfaat baik untuk dirinya maupun untuk orang lain. Kegiatan apa saja yang kudu kita lakukan? Banyak kegiatan-kegiatan yang bermanfaat dalam kehidupan ini. Misalnya seperti mengkaji Islam, membantu orang tua, mendakwahkan Islam, membaca Al-Qur’an, dsb. Wallaahu a'lam.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 197
---

SMS/WA Berlangganan Tabloid Media Umat: 0857 1713 5759

Jangan Cuman Jadi Pembela Islam Kumatan (bagian 2 - habis)



Oleh: Luky B Rouf, Lajnah Dakwah Sekolah – DPP HTI

Munculnya pembela Islam yang kumatan tak Iain dan tak bukan karena masih bercokolnya virus sekulerisme di tubuh kaum Muslimin, baik individu maupun masyarakat. Sekulerisme itu cara memandang kehidupan dan masalahnya dengan cara pandang separoh agama (Islam), dan separohnya nggak pake agama.

Hal ini sangat kentara di kehidupan kita sehari-hari. Contoh yang sering kita bisa lihat dampaknya adalah menjadikan aturan, syariah, hukum Islam ini macam makanan prasmanan. Diambil yang senang, suka dan yang enak-enak doang, sesuai selera. Ketika berbicara tentang hukum shalat, haji, puasa, iya ayo aja dijalanin. Tapi giliran bicara hukum potong tangan bagi pencuri, rajam bagi pezina, sering dibilangnya itu Islam aliran keras, fundamental dan sebagainya.

Selanjutnya, berawal dari sekulerisme juga kemudian cap teroris atau radikal diaminkan oleh (sebagian) masyarakat. Dan bagi yang menjadi pembela Islam sejati, seharusnya tak gentar dengan stempel-stempel seperti itu. Karena memang sejatinya Islam nggak bakal bisa disatuin dengan yang bukan Islam. Islam itu jelas, kalo diibaratkan warna, Islam itu putih, bukan abu-abu. Sehingga Islam mau dicampuradukkan dalam wadah sekulerisme, nggak bakal bisa nyampur. Islam yang haq nggak bisa dicampurkan dengan yang sekulerisme yang batil.

“Katakanlah (Muhammad), ”Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu.” (TQS. Al-Ma'idah: 100).

“Demi langit yang mengandung hujan; demi bumi yang mempunyai tumbuh-tumbuhan. Sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar firman yang memisahkan (antara yang haq dan yang batil). Sekali-kali ia bukanlah gurauan. (TQS. ath-Thar'iq: 12-14).

Maka bagi para pembela Islam sejati, harus teguh, kokoh memegang prinsip Islam. Kalo soal stempel radikal, fuhdamental, teroris, ekstrimis, maka ingatlah dulu dakwah Rasulullah SAW di Mekah juga pernah mendapat julukan kayak gitu. Dulu orang-orang Quraisy kumpul di Darun Nadwah untuk menamai Muhammad SAW sebagai 'gila', 'dukun', 'pesihir', tapi secara akal dan fakta itu salah, bahkan orang-orang musyirikin Mekah terpecah memahami pelabelan itu.

Hari ini, orang-orang Barat dan pengekornya menamai Islam sebagai 'Islam radikal', 'Islam garis keras', 'Islam fundamental; dan secara nalar dan riil di lapangan stempel itu hanya untuk jualan ide dan dolar saja.

“Mereka berkehendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut (tipu daya) mereka, tetapi Allah (justru) menyempurnakan cahaya-Nya, Walau orang-orang kafir membencinya” (QS. At-Taubah: 32).

Yuk istiqamah menjadi pembela Islam sejati. Jangan luntur perjuangan dan pembelaan kita hanya karena stempel nggak jelas kayak gitu. Ingatlah, stempel kayak gitu datangnya dari musuh-musuh Islam, orang-orang kafir. Saudara kita kaum Muslimin, tidak salah sepenuhnya, mereka hanya terbawa arus atau karena di benak mereka terjangkiti virus sekulerisme. Musuh kita yang sejati bukan kaum Muslimin. Jika kita mau berhadap-hadapan maka yang pantas jadi musuh adalah orang-orang yang memusuhi dakwah Islam. Layaknya seperti orang-orang musyrikin di Mekah, dan atau kaum kafirin di Madinah, di masa dakwah Rasulullah SAW.

Sehingga jika ingin melihat profil para pembela Islam yang sejati, bukan pembela Islam yang kumatan bacalah profil para sahabat Nabi SAW. Perikehidupan mereka bisa kita jadikan teladan, dan mereka itu dihasilkan dari gemblengan ruhiyah, jasadiyah, fikriyah dari pembinaan bersama Rasulullah SAW. Maka jangan pernah tinggalkan majelis-majelis ilmu, seperti yang sudah disebutkan di tulsan ini bagian pertama. Jangan remehkan forum-forum kecil halaqah, justru dari situlah singa-singa podium mengaung, menyerukan dakwah Islam. Dari forum tersebut juga macan-macan padang pasir menggelora semangatnya untuk berjihad fi sabilillah. Allahu Akbar! []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 196
---

SMS/WA Berlangganan Tabloid Media Umat: 0857 1713 5759

Mendidik Anak Dengan Simbol-Simbol Islam


Sebagai keluarga Muslim, anak harus dididik dengan akidah Islam. Termasuk mengenalkan anak-anak dengan simbol-simbol Islam. Tapi anehnya, ada saja yang punya pandangan nyinyir terhadap proses edukasi nilai-nilai Islam ini.

Anak-anak kecil yang diajari mengenakan jilbab, dianggap pemaksaan kehendak, kasihan, anak-anak pasti kegerahan. Padahal, pendidikan adalah proses pembiasaan. Jika sejak kecil dibiasakan pakai tank top, saat besar akan sulit pakai jilbab.

Maka itu, jangan takut menanamkan simbol-simbol Islam pada anak-anak. Hal ini penting agar mereka tidak awam dan terbiasa dekat dengan segala berbau Islam sejak dini. Di antaranya dengan cara sebagai berikut:

1. Membiasakan Pakaian Takwa

Anak-anak sejak kecil dibiasakan berpakaian menutup aurat, utamanya ketika keluar rumah. Tanamkan rasa malu. Kenalkan konsep aurat. Jelaskan konsep pakaian dalam Islam. Dengan demikian sejak dini paham bahwa pakaian bukan sekadar kain penutup tubuh tapi punya makna mendalam sebagai pakaian takwa. Arahkan selera anak dengan pakaian yang mampu menutup aurat. Tidak tergoda dengan pakaian yang sedang tren.

2. Mengenalkan Panji Rasulullah

Di sinilah momentum untuk mengenalkan makna kalimat tauhid di atas bendera tersebut. Juga mengenalkan pelajaran dari kisah-kisah di balik panji tersebut. Seperti kisah heroik para mujahidin dalam berjihad di Perang Mu'tah, dll. Selain itu, menanamkan pemahaman bahwa Rasulullah SAW bukan sekadar Nabi utusan Allah, melainkan juga pemimpin tertinggi negara Islam pada saat itu. Hal ini akan semakin menumbuhkan kebanggaan dan semangat keberIslaman yang tinggi.

3. Menceritakan Tokoh-tokoh Islam

Hari ini anak-anak lebih hafal mengenal karakter-karakter kartun yang sedang booming. Padahal banyak kisah-kisah teladan dari pada sahabat dan generasi salafu shalih yang bisa jadi teladan. Sayangnya, tidak menjadi trend setter karena yang hidup kini peradaban kapitalis. Hanya dengan pengenalan terus menerus, anak-anak akan terbenakkan. Semoga kelak terinpirasi menjadi generasi terbaik seperti para tokoh Islam tersebut.

4. Mengenalkan Profesi Mulia

Orang tua bisa belajar dari Dr Zakir Naik. Ia menanamkan pada anak-anaknya agar menjadi dai. Menurutnya, dai adalah profesi terbaik. Anak-anak boleh saja bercita-cita sesuai profesi duniawi, tetapi profesi utamanya kelak adalah juru dakwah.

5. Mengajari Syariah Islam sesuai Usia

Pendidikan adalah pembiasaan. Orang tua wajib memerintahkan anak-anaknya untuk menjalankan syariah Islam sejak dini. Kendati mereka belum baligh, tetapi perintah itu tidak gugur. Seperti kewajiban memerintahkan anak-anak usia 7 tahun untuk shalat dan memukulnya (dalam rangka ta'dib) jika usia 10 tahun belum mau salat. Mengajarinya bersedekah, mengajaknya salat berjamaah ke masjid, mengajak ngaji, mengikuti kegiatan keIslaman.

6. Mendekatkan Anak dengan Al-Qur’an

Bacaan terbaik adalah Al-Qur’an. Memperbanyak intensitas interaksi anak dengan Al-Qur’an. Pendengaran, didominasi lantunan Al-Qur’an dengan menyetel murottal tiada bosan. Mendendangkan bacaan Al-Qur’an saat meninabobokkan. Mengajak anak membaca, menghafal, murajaah dan menyampaikan makna di balik ayat-ayat yang dibaca. Tentu saja, untuk itu semua, orang tua wajib membekali diri dengan agama. []kholda

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 196
---

Jangan Cuman Jadi Pembela Islam Kumatan (bagian 1)



Oleh: Luky B Rouf, Lajnah Dakwah Sekolah – DPP HTI

Rupanya dagangan opini dan pelabelan teroris atau fundamentalis ini masih terus akan dijual seiring pelemahan semangat pembelaan Islam yang nggak kunjung berhasil, bahkan disinyalir makin menguat. Alhamdulillah dengan izin Allah, kaum Muslimin wa bil khusus di Indonesia semangat jihad, membela Islam, bahkan gelora menerapkan syariah senantiasa membahana, sehingga inilah yang membuat para penggerak opini miring tentang syariah, jihad, pembelaan Islam menjadi kebakaran jenggot. Dan akhirnya lagu lama tadi senantiasa diputar.

Di kalangan remaja, anak-anak muda kita bisa melihat tak sedikit yang memiliki semangat pembelaan Islam, tak rela Islam dinistakan, ulamanya dilecehkan, syari'ahnya dikesampingkan. Mereka tergerak dalam lautan gelora dalam beberapa aksi yang sudah digelar oleh kaum Muslimin beberapa waktu lalu. Maka gelora semangat ini nggak boleh padam, bahkan harus senantiasa dikobarkan dan dilanjutkan untuk lebih serius dan terarah menjadi pembela-pembela Islam yang sejati. Bukan hanya pembela Islam yang kumatan, atau tergerak hanya ketika baru terbukti Islam dilecehkan.

Islam memang tetap akan mulia tanpa kita bela, sebagaimana Rasulullah Saw. sampaikan dalam sebuah haditsnya: ”Islam itu tinggi dan tidak ada yang mengalahkan ketinggiannya.” (HR. Ad-Daruquthni (III/181 no.3564)

Jadi bukan masalah Islamnya, tapi masalah kitanya sebagai pemeluk, penganut sampe di mana pembelaan kita terhadap Islam, sampai di mana amal perbuatan kita sebagai Muslim. Tentunya bukan untuk dilihat dan dinilai oleh manusia, tapi sematamata kita lakukan dalam rangka taqarub (mendekatkan diri) kepada Allah, sebagai sarana ibadah kita kepada Allah.

Islam ini dinistakan bukan hanya karena seorang penista yang melecehkan salah satu ayat di Surat Al-Maidah, tapi sadar atau enggak kita, kaum Muslimin saudara kita sendiri yang melecehkan (baca: mengabaikan) ayat-ayat Allah yang lain. Seorang Muslimah yang sudah baligh misalnya, ketika keluar rumah wajib mengenakan jilbab dan khimar karena itu perintah dari Allah di surat Al-Ahzab 59 dan AnNuur 31, tapi faktanya kaum Muslimah enjoy-enjoy keluar rumah pamerkan aurat, bahkan sebagian bangga bertelanjang ria.

Itu baru satu contoh atau satu perintah, bagaimana dengan perintah atau larangan Allah dalam ratusan atau ribuan ayat Allah maupun hadits Rasulullah SAW? Apakah kita juga pernah tersinggung jika ayat-ayat tersebut juga dilecehkan atau diabaikan oleh kaum Muslimin sendiri? Apakah kita juga gerah ketika melihat banyak sekali pelecehan, kemaksiatan bertebaran di depan mata kita?

Jika jawaban dari semua pertanyaan itu adalah ”tidak" atau ”belum” maka itu, indikasi bahwa kita hanya menjadi pembela Islam yang kumatan, pembela Islam yang musiman, pembela Islam yang tren-trenan. Sebagai gantinya, kita harusnya merasa tidak cukup hanya menjadi pembela Islam kumatan, kita harus menjadi pembela Islam yang sejati. Bagaimana sih menjadi pembela Islam yang sejati?

Pertama, pembela Islam sejati harus mau membina diri dalam tsaqofah Islam. Dirinya nggak merasa cukup hanya sekedar datang ke taklim, setelah itu pulang, besoknya datang lagi, trus pulang. Dia rela waktunya disita untuk senantiasa mentafakuri, mendalami tsaqafah Islam bersama para pembinanya (musyrif).

Kedua, untuk menjadi pembela Islam sejati harus mau dan mampu berdakwah. Kenapa? Karena memang Islam tidak akan mencapai kejayaannya, tidak akan sampai ke telinga kita jika tidak ada yang mengemban. Di sisi yang lain, kemungkaran dan kemaksiatan di sekitar kita harus dihilangkan, dan salah satunya dengan cara dakwah. Di manapun harus berdakwah. Dakwah itu everywhere dan everytime.

Ketiga, pembela Islam sejati tidak membatasi gerak dan pengetahuannya hanya di lingkup lokal. Istilahnya, act local think global. Pemersatu kaum Muslimin adalah akidah Islam, bukan darah atau daerah. Itulah kenapa Rasulullah Saw mengibaratkan kita 'satu tubuh', karena memang kita harus merasakan apa yang dirasakan oleh kaum muslimin di Suriah misalnya, di Palestina, di Patani, dan sebagainya. Sehingga persaudaraan kita itu lintas negara, lintas benua. Wajarlah jika persatuan kita juga seharusnya dalam satu wadah yakni khilafah Islamiyah. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 195
---

Penampilanmu Hari Ini



Jadi ABG, penampilan pun ikut berubah. Yang dulunya ingusan dan dekil, kini mulai perhatian akan perawatan fisik, pemilihan fesyen, aksesori, dan kelengkapan lainnya. Model yang lagi ngehits akan diikuti biar dikata gaul dan ogah disebut jadul.

Ada juga yang dimake over. Girls, please! Jangan obral dandanan, ya! Mendingan keju saat lumer rasanya nendang, tapi makeup yang meleleh bikin wajah cantikmu jadi belang. Cowok juga gak usah ikutan deh ngerok alis buat diganti tato. Apalagi badannya udah banyak digambarin.

Tampilan keik gini, itu tanda suka 'kabawa sa kabakaba' Ada yang bisa ngomong Jepang? Jawabnya jangan, 'Jepaa..ng.' Zonk! He.. iklan banget. Yang masih gagal fokus, maaf cuma bercanda. Tadi yang atas itu adalah istilah Sunda, maksudnya janganlah jadi bebek yang suka ngikut trend yang gak jelas. Pis ah!

Sob, ingetin temenmu yang belom pada ngerti akan ajaran Islam tentang tata cara berhias dan berpakaian. Ajaklah kawan perempuan yang berpakaian irit bahan dan berventilasi untuk mengenakan jilbab dan kerudung yang syar'i. Jadi, gak asal membungkus aurat. Ingetin juga untuk tidak asal bersolek. Kamu udah punya jawaban kan kalo mereka nanya apa arti tabarruj? Siip!

Temenmu yang cowok juga belum tentu pakaiannya pantes. Meski batas aurat laki-laki lebih sempit, tak berarti shalat cukup pake boxer selutut dan kaos oblong. Jangan juga salah kostum seperti setelan preman dengan rambut diukir gak karuan. Sob, kamu yang ikhwan boleh ngasih contoh tuh pakai jubah, sorban, dan kopiah putih. Pasti membuatmu nampak kinclong dan keren bangeuh!

Berpakaianlah yang benar dan santun, bukan demi gengsi dan pamer. Jangan seperti artis yang ngabisin banyak duit untuk mesen wardrobe rancangan disainer terkenal. Padahal, makenya cuma sekali coz malu jika dipake di acara lain. Mubazir, ya? Boleh aja setaun sekali punya baju baru yang nyaman di segala suasana. Sebagai penghias diri saat beribadah di masjid, pantes dipake ngaji, juga buat gaul sehari-hari. Nilai plus buat kamu jika ngerti selera berbusana yang apik.

Siapa tau ada yang berbakat jadi penampil dalam dakwah. Misalnya, dengan keilmuan dan keahlian public speaking yang dimiliki, kamu bisa berceramah di kajian remaja masjid atau berorasi dalam kampanye anti gaul bebas. Jika ditunjang appearance yang bisa bikin pede, OK lah, ya? Walaupun tampil simpel tapi elegan dengan batik dan tanpa polesan, kamu tetep bintang dan ganteng koq. Ciee

Apapun kemampuan yang dimiliki, berikanlah untuk dakwah! Mungkin masih malu jika berbicara di depan umum, bisa jadi passion-mu adalah menulis. Mading sekolah, medsos, tabloid, dll bisa dimanfaatkan. Berkarya di 'belakang panggung' dalam dakwah berjamaah juga berkontribusi besar.

Menjadi panitia pengajian, nyebarin buletin dakwah, ngontak temen biar ikutan ngaji, nyisihkan uang jajan buat infaq, atau 'sekadar' megang poster dalam aksi damai bela Islam. Lebih bangga lagi jika , berkesempatan untuk mengibarkan bendera Islam, Liwa’ dan Rayah. Pengemban panji Rasulullah adalah orang pilihan yang mencintai serta dicintai Allah dan Rasul-Nya.

Sob, ketaatan terhadap Allah akan membentengi diri kita dari bahaya liberalisme. Takwa adalah pakaian terbaik. Remaja yang bertakwa takkan dipusingkan dengan pergantian trend dan mode di setiap harinya, tapi akan disibukkan dengan berbekal amal shalih yang senantiasa lebih baik dari sebelumnya. Ia juga ikut berperan untuk mewujudkan ketakwaan kolektif. Berjuang agar aturan Islam diterapkan dalam seluruh aspek kehidupan. Oke, remaja Smart, tampilkan dakwahmu!

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 193
---

Memadukan Kuliah Dan Dakwah



Rubrik Konsultasi diasuh oleh: dra. (Psi) Zulia Ilmawati

Assalaamu‘alaikum, Wr. Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, saya seorang mahasiswa sebuah PT di Yogya, yang saat ini mempunyai beberapa permasalahan. Bagaimana menyinergikan antara kuliah dan dakwah, agar keduanya dapat berjalan dengan baik? Bagaimana pula agar bisa tetap istiqamah di jalan dakwah? Syukran atas jawabannya. Semoga dengan solusi yang diberikan menjadikan saya dan pengemban dakwah lainnya yang memiliki permasalahan yang sama dapat lebih konsisten dan istiqamah lagi dalam berjuang.

Wassalaamu’alaikum Wr. Wb.
MZ - Yogya

Wa'alaikumsalam Wr Wb.

MZ yang baik,

Alhamdulillah, saya sangat bersyukur dengan kepedulian Anda pada aktivitas dakwah. Rasanya tidak banyak mahasiswa yang mau meluangkan waktunya untuk aktivitas semacam ini. Kalau toh mereka memilih kegiatan ekstra selain kuliah, maka lebih banyak memilih kegiatan yang hanya sekadar untuk menyalurkan bakat dan minat. Dengan kepedulian semacam ini, Insya Allah Islam akan kembali dapat ditegakkan. Kampus merupakan tempat yang sangat strategis untuk pembinaan dan pembentukan kader dakwah. Sejatinya dakwah di kampus sangat menjanjikan. Kuliah dan dakwah tentunya harus seiring sejalan. Sebagai mahasiswa, Anda tentu punya kewajiban untuk menjalani kuliah dengan baik. Dan sebagai seorang Muslim yang sadar akan tanggung jawabnya juga mempunyai kewajiban untuk berdakwah.

MZ yang baik,

Agar keduanya berjalan sinergis dibutuhkan kedisiplinan. Terutama dalam mengatur waktu. Mulailah dengan memilah-milah atau mengurutkan aktivitas berdasarkan skala prioritas. Buatlah rencana harian, dan berusahalah untuk konsisten dengan jadwal yang sudah dibuat. Satu hal yang juga sangat penting, kerja sama dengan teman sesama jamaah dakwah. Dengan kerjasama yang baik, jika suatu saat Anda tiba-tiba-harus mengikuti kuliah tambahan atau praktikum dadakan misalnya, dan berbarengan dengan jadwal aktivitas dakwah, maka aktivitas dakwah tetap bisa berjalan dengan digantikan sementara oleh teman lain satu jamaah. Sehingga Anda tidak perlu bolos kuliah karena alasan dakwah, dan dakwah tetap bisa berjalan.

MZ yang baik,

Sikap istiqamah dalam dakwah sejatinya dapat dipupuk dengan terus-menerus melakukan pembinaan secara intensif, dan saling mengingatkan sesama kader dakwah. Tidak semestinya sebagai seorang Muslim cuek atau tidak peduli terhadap nasib kaum Muslimin atau kemaksiatan yang semakin merajalela saat ini. Jangan sampai kita sebagai Muslim hanya merasacukup mengerjakan kewajiban-kewajiban yang berkaitan dengan ibadah ritual seperti shalat, puasa, zakat dan haji. Sesungguhnya dakwah adalah aktivitas yang sangat penting jika tidak ingin nasib umat semakin terpuruk.

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu dia berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Barangsiapa di antara kalian yang melihat kemungkaran, hendaklah dia mengubahnya dengan tangannya. Apabila tidak mampu maka hendaknya dengan lisannya. Dan apabila tidak mampu lagi maka dengan hatinya, sesungguhnya itulah selemah-lemah iman. (HR. Muslim)

MZ yang baik,

Banyaklah belajar dan bergaul dengan orang-orang yang memilih hidupnya di jalan dakwah. Jadikan mereka inspirasi dan contoh agar semangat dakwah terus menyala. Ada keutamaan-keutamaan buat orang yang giat melakukan aktivitas dakwah. Dakwah merupakan amal yang sangat baik, karena dengan dakwah akan menjauhkan umat dari kebatilan dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Allah SWT berfirman:

”Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shalih dan berkata, ”Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerahkan diri” (TQS. Fushilaat: 33). []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 188
---

Kembalikan Jati Diri Remaja Kepada Islam



Sobat, seperti yang sudah-sudah, perayaan tahun baru di negeri Muslim ini selalu saja diwarnai dengan, kalau nggak petaka, ya kemaksiatan. Salah satunya adalah di kawasan Puncak, Bogor, ribuan pengunjung yang meninggalkan tempat usai merayakan malam pergantian tahun baru 2016, bukan hanya meninggalkan tumpukan sampah berserakan di sepanjang jalur ini, tapi juga meninggalkan ceceran kondom dan celana dalam di sekitar areal perkebunan.

Tidak hanya di Bogor, fenomena serupa kita dapati juga di Batam. Dikutip dari okezone. com, masyarakat di Perumahan Bengkong Palapa, Batam, merayakan tahun baru dengan menyalakan puluhan petasan. Naasnya, beberapa pemuda terkena ledakan petasan ini, bahkan sampai menimbulkan korban jiwa dan luka-luka. Dua berita di atas hanyalah seperti puncak gunung es yang terlihat. Berita-berita lain yang lebih parah juga terjadi di berbagai belahan dunia ini, yang ironisnya terjadi di negeri-negeri Muslim.

Apa benar Islam mengajarkan tingkah Iaku yang demikian? Tentu tidak. Gaya hidup bebas ini berasal dari gaya hidup remaja dan pemuda di Barat yang kental akan liberalismenya. Serangan liberalisme ini kita kenal dengan istilah 3F: Food, Fun, and Fashion. Perhatiin aja deh sama sobat. Jaman sekarang, kalau mau disebut anak gaul, baik dari makanan, kesenangan, maupun gaya berpakaian, mestilah mengikuti Barat.

Belum lagi terkait perayaan-perayaan yang diadopsi dari kebudayaan Barat, seperti New Year Event, V-Day, April Mop, dan Halloween. Seolah-olah kudu hukumnya bagi remaja-remaja muslim di negeri ini untuk ikut serta meramaikan hari-hari macem begitu. Padahal, gaya hidup seperti inilah pangkal masalah yang menjadikan remaja yang bermoral rusak, bejad dan jauh dari Islam, masa depan Akhiratnya suram.

Pada dasarnya, masa muda adalah masa untuk menemukan jati diri. Wajar bagi seorang remaja untuk mencoba hal-hal baru. Namun, apabila naluri ini tidak diarahkan sesuai dengan Islam, maka para remaja akan salah dalam menentukan arah hidupnya, dan inilah yang menjadikan kondisi remaja Muslim seperti saat ini.

Sudah cukup banyak survei yang menyorot soal kerusakan remaja, dari soal besarnya jumlah pelaku seks bebas di kalangan remaja, jumlah pelaku aborsi, jumlah pengonsumsi narkotika dan miras, banyaknya kasus tawuran antar sekolah, dan lain-lain.

Sobat, yuk kita sama-sama renungkan kembali, sebenarnya untuk apa sih tujuan penciptaan kita di dunia? Allah SWT berfirman dalam surat adz-Dzariyat ayat 56, yang artinya “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka mengabdi kepada-Ku”.

Tapi jangan salah sob, yang namanya ibadah, bukan hanya ibadah mahdah, melainkan 'ibadah ghair mahdah. Artinya, dari seluruh aspek kehidupan kita harus mengikuti aturan Islam, itulah kesempurnaan ibadah itu sendiri. Dengan mewujudkan hal inilah, lahir generasi remaja Muslim yang cerdas, berakhlak mulia, dan menjadi harapan yang akan mengangkat kembali kejayaan Islam ini.

Di momentum tahun baru yuk kita bermuhasabah. Sudah berapa modal (usia) yang kita habiskan sampai saat ini? Apakah dengan bertambahnya usia, bertambah pulakah ketakwaan kita atau justru malah tambah kemaksiatan? Apakah kita hanya mementingkan dunia dan mengabaikan Akhirat, atau berusaha meraih keduanya dengan jalan yang diridhoi Allah?

Ingat sob, hanya akan ada tiga tipe dalam diri kita. Pertama, apabila justru kemaksiatan kita semakin bertambah di tahun ini, maka kita digolongkan menjadi orang yang celaka. Kedua, apabila tidak ada perubahan, kemaksiatan tetap kita kerjakan, amalan sholeh kita masih segitu-segitu aja, maka kita digolongkan menjadi orang yang rugi.

Dan ketiga, apabila di tahun ini kita berubah menjadi lebih baik, semakin gencar dalam mengajak orang-orang untuk mendakwahkan Islam, menjadi muslim pejuang yang menginginkan perubahan, maka insya Allah kita akan digolongkan menjadi orang yang beruntung.

Akan jadi yang manakah kita, semua itu murni merupakan area yang kita kuasai, pilihan kita. Life is choice, brother. Tapi ingat, setiap pilihan akan kita pertanggungjawabkan. Yuk satukan visi dan misi kita sebagai remaja pejuang syariah, dan bersama-sama kita meraih ketaqwaan hakiki kepada Allah Swt. Aamiin.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 166
---

Pesantren Al-Hidayah Tempat Anak Yatim Dan Dhuafa Dibina



Ustadz Abdul Haris Bustan, Pimpinan Ponpes Al-Hidayah Abepura
Hukum Allah Tidak Bisa Ditawar-Tawar

Ustadz Abdul Haris Bustan menyatakan, sebagai makhluk ciptaan Allah SWT mau tidak mau manusia wajib tunduk kepada hukum Allah. “Itu tidak bisa ditawar-tawar lagi,” ujarnya.

Oleh karena itu syariat Islam harus dibumikan yang tentunya harus melalui dakwah yang intensif dan terarah. Yang pada akhirnya tatkala syariat Islam sudah dipahami oleh masyarkat kemudian diadopsi oleh institusi negara dalam sebuah negara Islam. “Maka saat itulah syariat Islam menjadi tegak dan dengan sendirinya membawa rahmat bagi seluruh alam sebagaimana yang disebut Allah SWT dalam Al-Qur’an, ” bebernya. []agus purnomo/joy

Pondok Pesantren Al-Hidayah, Abepura, Jayapura

Meski langit mendung dan matahari enggan mengeluarkan sinarnya, sore itu Media Umat tetap meluncur ke Abepura untuk beranjangsana ke Pondok Pesantren Al-Hidayah. Untung saja hujan tak segera turun hingga Media Umat diterima hangat Pimpinan Pondok Pesantren Al-Hidayah Ustadz Abdul Haris Bustan di Ponpes yang terletak di sebuah kompleks pemukiman padat penduduk di Jalan Baru Tembus Melati No.41.

Suasana langsrmg cair, keakraban begitu terasa. Ketika perbincangan menyinggung pesantren, Ustadz Abdul Haris pun bercerita Al-Hidayah didirikan oleh Ustadz Drs Syukri HC, MA. Ustadz Syukri mendirikan pesantren ini lantaran melihat besarnya motivasi masyarakat sekitar yang sebagian besar berasal dari keluarga yang tidak mampu (yatim dan dhuafa) untuk menganyam pendidikan agama.

“Ini sebagai wadah untuk membantu anak-anak yang putus sekolah dan yatim piatu dari keluarga tidak mampu untuk bisa mendapatkan pelayanan pendidikan dan hak asuh seperti anak-anak pada umumnya,” ungkap Ustadz Haris.

Dirintis pada 1998, yang pada awalnya hanya melalui pengajian di TPA dan TPQ, lalu pada tahun 1999 dimulai dengan lokasi 1.500 meter inilah sekolah formal Madrasah Ibtidaiyah, dan Madrasah Tsanawiyah mulai diresmikan di bawah naungan Yayasan Al-Hidayah.

Meski animo masyarakat yang menyekolahkan anaknya ke ponpes cukup besar namun tidak semuanya dapat diterima. Mengingat ruang kelas yang tersedia memang terbatas serta biaya operasional yang didapat masih minim.

Santri madin hingga saat ini santri Madrasah Diniyah 100 orang, TK 36 orang, MI 180 orang, MTs 84 orang. Mereka semua ditangani oleh sekitar 30 tenaga pengajar yang rata-rata lulusan sarjana di bidangnya masing-masing.

Ponpes Al-Hidayah dikenal oleh masyarakat sekitar sebagai Ponpes yang bebas biaya alias gratis, karena memang Al-Hidayah tidak memungut biaya kepada orang tua santri. Sedangkan dana operasional murni didapat dari para donatur tetap dan infak dari masyarakat. Mengingat banyak santri yang berasal dari keluarga yatim dan tidak mampu, maka pihak Ponpes tidak ingin memberatkan para orangtua santri.

Dalam keseharian, Al-Hidayah bukan hanya mengajari, tetapi mendidik santri untuk taat beribadah, di antaranya shalat lima waktu dan sunnah rawatib. Oleh karena itu Ustadz Abdul Haris memberikan peraturan yang tegas dalam mendidik para santri. Sanksi yang diberikan kepada santri yang melanggar aturan Ponpes beragam, mulai dari ditambahnya hafalan bagi yang terlambat masuk kelas hingga bersih-bersih WC bagi santri yang bertengkar. Tempaan itu merupakan bentuk pembinaan agar mereka disiplin.

Menurut Ustadz Haris, saat ini alumni Ponpes telah ada yang menempuh pendidikan ke jenjang S2 di Makassar. Prestasi dari para santri yang patut diapresiasi yaitu sering mendapat juara untuk perlombaan MTQ tingkat distrik kota bahkan propinsi. Serta setiap dua pekan sekali mereka rutin mengisi kajian di Majelis Taklim. []agus purnomo/joy

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 172
---

Save Our Generation Selamatkan Generasi Muslim



Save Our Generation

Berita duka menyelimuti umat Islam di penghujung tahun lalu. Dilansir oleh middleeastmonitor. com, tentara laknatullah Israel telah menahan 1.266 anak Palestina selama menduduki Tepi Barat dan Jerussalem tahun 2014 lalu.

Abdel Nasser Farawna, Ketua Palestina Liberation Organization (PLO) menyatakan dalam-sebuah press release bahwa mayoritas penahanan besar-besaran ini terjadi pada pertengahan tahun 2014. Ia juga menegaskan bahwa sejak tahun 2011 tentara Israel telah menahan 87 persen lebih banyak anak-anak dibandingkan tiga tahun sebelumnya.

Cukup tragis ketika remaja-remaja di negeri kita banyak yang menghabiskan malam pergantian tahun dengan berpesta-pora sementara ribuan anak dan remaja di Palestina justru menghabiskan setiap malamnya dalam dekaman gelap dan dinginnya penjara Israel. Keadaan mereka mengenaskan. Perut keroncongan mereka tak berhenti berbunyi. Mata mereka nanar.

Hati mereka bertanya-tanya, ”Di mana saudara-saudaraku yang akan menyelamatkanku? Bukankah Rasulullah SAW bersabda bahwa kaum Muslim satu dan yang lainnya bagaikan satu tubuh, yang jika satu bagian anggota tubuh sakit maka akan merasa sakit seluruh tubuh dengan tidak bisa tidur dan merasa demam?"

Sahabat, tahukah kalian pada tahun 1901, gegedug Zionisme, Theodore Hertzl, pernah menemui pemimpin Negara Khilafah saat itu, Khalifah Abdul Hamid II. Ia menawarkan 150 juta pound emas untuk membeli tanah Palestina. Bukan harga yang sedikit, apalagi saat itu kondisi khilafah sedang terhimpit utang yang begitu besar. Namun, Hertzl bodoh apabila menyangka khalifah akan bergeming dengan tawaran harta. Alih-alih menemui langsung, khalifah hanya menitipkan surat pada sekretaris negara untuk Hertzl.

”Saya tidak bisa memberikan sejengkalpun tanah yang bukan milik saya sendiri, tapi milik umat Islam. Untuk mendapatkan tanah itu, umat Islam berjuang mengorbankan jiwa. Darah mereka tertumpah di atas tanah itu. Tapi, selama saya masih hidup, saya lebih baik menusukkan pedang ke tubuh saya daripada menyaksikan tanah Palestina dicabut dari Daulah Islamiyah. Ini tidak akan terjadi. Saya tidak akan memulai memotong tubuh kami, selama kami masih hidup.” Tak pelak, Hertzl pulang dengan tangan hampa dan diri terhina membawa harta yang tidak mampu membeli barang sejengkal pun tanah Palestina, Jleb!

Sahabat, perlindungan terhadap anak-anak di Palestina dan Muslim di manapum mereka berada sejatinya hanya akan terwujud saat khilafah yang menerapkan Islam secara total tegak. Khalifah sebagai junnah (benteng) bersama tentara Muslim akan datang kepada mereka, menggempur kafir harbi Israel dan siapa saja yang bersekutu dengannya menggunakan persenjataan yang sepadan, kemudian menancapkan al-Liwa' menandai kekuasaan dan perlindungan Islam di bawahnya.

Inilah mimpi buruk dedengkot kapitalis Amerika Serikat dan Israel serta sekutunya! Dan tanda-tanda mimpi buruk mereka sudah mulai tampak. Hari ini, sebagian kaum Muslim sudah sadar akan wajibnya penerapan khilafah dan syariah Islam secara total. Mereka bukan hanya kaum Muslim dari kalangan ulama saja, tetapi kalangan buruh, petani, pengusaha, intelektual, mahasiswa, bahkan remajanya yang merupakan calon pemimpin di masa depan. Insya Allah, penantian para pejuangnya yang sudah cukup lama akan terhenti, dan khilafah rasyidah yang sesuai manhaj kenabian akan tegak kembali.

”Sungguh perkara ini akan sampai ke seluruh dunia sebagaimana malam dan siang. Allah tidak akan membiarkan satu rumah pun baik di kota maupun di desa kecuali Allah akan memasukkan agama ini dengan kemuliaan yang dimuliakan atau kehinaan yang dihinakan: kemuliaan yang dengannya Allah memuliakan Islam dan kehinaan yang dengannya Allah menghina-dinakan kekufuran.” (HR. Ahmad, al-Baihaqi)

Sahabat, aksi genocide (penghapusan etnis) yang dilakukan tentara zionis laknatullah 'alaih terhadap anak-anak di Palestina sejatinya juga dilakukan musuh Islam di negeri Muslim lain. Bentuknya tidak secara fisik tapi melalui serangan budaya dan pemikiran. Kehadiran khilafah kelak seperti dijanjikan Allah dan Rasul-Nya, tak hanya akan melindungi generasi muda aksi genocide di negeri-negeri Muslim yang dilanda konflik. Tapi juga melindungi akidah dan identitas remaja. Muslim dari serangan budaya dan pemikiran Barat yang sesat dan menyesatkan. Mari, kita selamatkan remaja dengan ikut ambil bagian dalam barisan perjuangan menegakkan syariah dan khilafah. Yuk! []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 143, Januari-Pebruari 2015
---

Pelajar Dan Dakwah



Ujian Nasional bagi sahabat sahabat SMA telah usai. Plong rasanya, setelah berjibaku untuk beberapa lama ikut bimbingan belajar atau les di sekolah. Saat pengumuman kelulusan ini sebentar lagi tiba. Tapi jangan senang dulu.

Jika dinyatakan lulus usai ujian nasional, lantas mau apa? Tentunya, bukan corat-coret pakaian, konvoi ugal-ugalan, atau pesta maksiat demi kegembiraan sesaat. Seorang pelajar pasti berkeinginan untuk melanjutkan pendidikan hingga ke jenjang paling tinggi.
Menuntut ilmu lahir dari motivasi karena Islam mewajibkan thalabul 'ilmi, bahkan untuk semua generasi. Ketika masa kejayaan Islam, kebutuhan umat akan pendidikan dijamin oleh seorang Imam/kepala Negara Islam. Dunia mengakali kontribusi para ilmuwan Muslim bagi peradaban, dan alam merasakan kerahmatan Islam.

Sahabat, kita berharap lahirnya kembali generasi muda Muslim terpelajar yang akan membangun kemajuan umat ke depan. Mereka calon pakar dalam berbagai bidang keahlian, seperti insinyur, dokter, arsitek, dan lain-lain.

Namun, potret pendidikan sekarang menggambarkan cerita lain. Sekolah berkualitas sulit dijangkau rakyat. Banyak potensi tersia-siakan, dan banyak cita-cita luhur terkubur karena biaya yang membentur. Bocah putus sekolah menjadi anak jalanan yang terlunta-lunta, ada yang terpaksa bekerja karena kebutuhan memaksa, sarjana pun menjadi pengangguran intelektual karena gagap menghadapi dunia nyata.

Hendaknya, pelajar peka terhadap problematika di depan mata, dan tak terlena oleh dunia maya. Pelajar dituntut berperan serta membawa perubahan. Dengan cara apa? Yang pasti, tidak cukup sekadar rajin belajar untuk meraih nilai kelulusan yang tinggi. Jalan perubahan mesti ditempuh dengan cara dakwah. Kenapa harus dakwah?

Sederhananya, dakwah adalah mengajak kepada kebaikan, seperti mengingatkan teman untuk tidak pacaran, mengajak untuk rajin dzikir, ibadah, dan mengajarkan akhlakul karimah. Lebih dari itu, dakwah lebih luas cakupannya.

Siapa yang tak ingin sekolah atau kuliah yang berkualitas dengan biaya ditanggung negara sepenuhnya? Ijazah dan gelarnya tidak sia-sia, karena dunia karya dan kerja sangat terbuka. Siapa yang tak tertarik untuk hidup sejahtera, karena semua kebutuhan dipenuhi selayaknya? Meskipun dakwah yang kita lakukan mungkin baru membuahkan hasil kesejahteraan hidup bagi generasi mendatang, di mana mereka bisa sungguh-sungguh mendapatkan limpahan keberkahan dalam naungan sistem Islam, tetap saja limpahan pahala dan ridha Allah akan mengalir terus pada kita.

Apakah bisa semuanya diwujudkan 'hanya' dengan dakwah? Sangat bisa, tentunya dengan dakwah untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam. Islam yang akan menggantikan ideologi rusak kapitalisme yang gagal menciptakan kesejahteraan sekarang ini. Sebagai ideologi, Islam akan mewujudkan kebangkitan yang hakiki. Dengan dakwah, syariah akan diterapkan sempurna dalam khilafah. Di saat keduanya terjalin, baru terwujud lslam yang rahmatan lil 'alamin.

Beruntunglah bagi pelajar, baik tingkat SMP maupun SMA yang telah menyadari kewajiban dakwah seperti ini. Kewajiban utama yang dengannya akan terlaksana berbagai kewajiban lainnya. Dengan terlibat dakwah, potensi mereka digali sedari dini. Betapa hebatnya, jika terus ditumbuhkembangkan walau status sudah berubah, baik menjadi mahasiswa, pekerja hingga tiba di usia senja.

Sebagaimana keinginan untuk mencapai pendidikan tinggi, ataupun pascasarjana, sampai meraih gelar guru besar, mestinya kita lebih mau berinvestasi untuk mengembangkan kapasitas diri hingga menyandang gelar yang prestige dan mulia dalam pandangan Allah, yakni sebagai pembela Islam. Betapa keutamaan akan Allah anugerahkan, bagi pelajar yang istiqamah dalam dakwah.

Kepada sahabat pelajar di seantero negeri, hendaknya termotivasi untuk segera merapatkan diri. Berjuang dalam barisan dakwah dengan konsistensi, sambil belajar meraih prestasi, menjadi para ahli, hingga memiliki kepantasan diri untuk menyambut peradaban mulia nanti. Tunggu apalagi. Yuk, Ngaji!

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 174, Mei-Juni 2016
---

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam