Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Tampilkan postingan dengan label Be Business Owner. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Be Business Owner. Tampilkan semua postingan

Pengusaha Langit!



Oleh: Mujiyanto, Pengusaha travel umroh

Bisnis adalah urusan materi. Begitu kebanyakan persepsi yang ada di benak para pengusaha saat ini. Karena menyangkut materi, mereka berpikir bahwa pengembangannyapun tak perlu menyertakan tata aturan di luar dari urusan pengembangan materi. Tak perlu bawa agama.

Persepsi seperti ini melahirkan pengusaha yang materialistik, permisif, dan hedonis. Segala hal diukur dengan materi, yang akhirnya menimbulkan sikap kikir dan tidak peduli terhadap nasib kaum Muslim. Padahal di sisi lain, mereka mengaku sebagai Muslim. Jadilah mereka sebagai sosok dengan dua kepribadian.

Ini sangat berbeda dengan contoh pengusaha di era Nabi SAW. Abdurrahman bin Auf menjadi cermin seorang pengusaha yang mampu meletakkan usaha di bawah ketaatannya kepada Allah dan Rasul-Nya.

Abdurrahman memiliki semangat yang membara dalam berusaha. Namun ia tak pernah melepaskan diri dari agamanya dalam berusaha itu. Baginya perniagaan bukanlah media untuk memonopoli, atau untuk memupuk harta dan mencintai kekayaan, serta menggunakan hartanya untuk membeli berbagai macam properti untuk dibanggakan. Ia pun tak tertarik untuk berlomba dengan para pengumpul harta lainnya guna memuaskan nafsu pribadi.

Sahabat Nabi SAW ini berhasil melakukan perniagaan untuk mewujudkan panggilan langit, "Dialah yang menjadikan bumi untuk kamu yang mudah dijelajahi, maka jelajahilah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezekinya."

Ia pun mengamalkan arahan-arahan Nabi SAW: ”Tangan yang di atas lebih baik dari tangan yang di bawah,” atau, ”Alangkah baiknya harta yang baik pada tangan orang yang baik pula,” dan, "Harta paling baik yang dimakan oleh seorang laki-laki adalah yang ia dapatkan dari tangannya sendiri.”

Tak heran, Abdurrahman bin Auf seolah menjadi kantor kas tempat mengalirkan kekayaan bagi kaum Muslim. Ia sumbangkan hartanya untuk dakwah Islam, membantu kaum dhuafa, membebaskan budak, termasuk menyiapkan pasukan Islam. Sudahlah disumbangkan sangat banyak ternyata hartanya masih sangat banyak ketika Ia wafat.

Ia pun terjun langsung dalam medan jihad bersama Rasulullah dalam perang Uhud. Dalam perang itu ia mendapatkan 20 luka parah pada tubuhnya. Salah satunya bahkan menyebabkan dirinya pincang dan beberapa giginya rontok sehingga mengurangi kemamapuannya berbicara lancar. Tak ada kisah yang menceritakan misalnya, Abdurrahman bin Auf tak mau berjihad karena sedang sibuk berbisnis.

Sikap taatnya kepada perintah Allah dan Rasul-Nya ini sudah ia tunjukkan ketika hijrah. Panggilan hijrah ia laksanakan dengan ikhlas dan sabar kendati harus meninggalkan harta kekayaannya yang banyak di Makkah. Begitu pula sebelumnya, ketika ia ikut dalam rombongan Muslim hijrah ke negeri Habasyah, ia dengan senang hati menuruti perintah Nabi.

Abdurrahman bin Auf menjadi sosok pengusaha pejuang yang berhasil mendudukkan agama sebagai landasan meraih harta yang berkah. Ia tak takut sama sekali dengan kerugian meski terikat dengan aturan agama.

Pengusaha model seperti inilah yang seharusnya lahir di tengah-tengah umat. Pengusaha yang lebih cinta agamanya dibandingkan terbebani keinginan meraih harta sebanyak-banyaknya dan terkungkung oleh bisnis. Pengusaha yang mendedikasikan dirinya untuk memperjuangkan agama Allah dengan segala kemampuan yang dimilikinya.

Inilah pengusaha langit! []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 189
---

SMS/WA Berlangganan Tabloid Media Umat: 0857 1713 5759

Jangan Biarkan Ramadhan Berlalu Sia-Sia



Ada yang menulis: “Apabila seorang istri menyiapkan makan sahur dan berbuka dengan ikhlas untuk suaminya selama bulan puasa hingga terbit THR, maka semua pintu-pintu mal akan terbuka untuk istri dan bebas memilih masuk dari pintu mana saja," begitu kata ibu-ibu.”

Muslimpreneur

Kita mesti benar-benar bertaubat. Meski kini Ramadhan sudah memasuki paruh kedua, namun negeri ini sepertinya tak mau sungguh-sungguh menyambutnya dengan penuh ketaatan kepada Allah SWT. Nastaghfirullahal azhim!

Beragam kemaksiatan terus dipertontonkan dengan kasat mata: Kriminalisasi ulama dan ormas Islam tak kunjung berhenti. Islam terus menjadi bulan-bulanan fitnah, pelecehan, kezaliman, dan entah kemaksiatan apalagi. Suara ulama-ulama yang masih hanif tak digubris. Suara umat yang hanya menginginkan keadilan tak ditanggapi. Aparat yang tupoksinya melindungi dan mengayomi malah terkesan kuat membela pelaku kemungkaran, padahal jelas-jelas mereka juga Muslim.

Ramadhan tahun ini juga diwarnai dengan aksi pejabat publik di pusat Jawa Barat yang mengolok-olok ayat dan hadits dengan membuat 'hadits' di atas. Kebebasan yang dijamin oleh demokrasi. Bebas berpendapat apa saja. Bebas berbuat apa saja. Seolah tidak takut dengan ancaman Allah SWT dalam Al-Qur’an surat At Taubah ayat 55 dan 56 bahwa pelakunya disebut telah kafir sesudah beriman!

Masihkah ada Ramadhan di negeri ini?

Muslimpreneur

Negeri yang kita cintai ini, sepertinya memang telah menghalalkan dirinya untuk menerima azab dari Allah SWT! Sebagaimana sabda Nabi Muhammad SAW, ketika dua kemaksiatan, yakni perzinaan dan riba dibolehkan, bahkan merajalela mengurat akar dalam seluruh sendi kehidupan kita, maka saat itulah negeri ini mengundang azab Allah. Dua kemaksiatan jahiliyah inilah yang mengundang kerusakan peri kehidupan kita dari yang parsial hingga sistemik. Mengerikan!

Pun ketika secara individual, sebagian dari kita telah berhasil mengentaskan diri dari jeratan riba, debu riba tetap mengenai kita. ”Sungguh akan datang pada manusia, suatu masa (ketika) tiada seorangpun di antara mereka yang tidak akan memakan (harta) riba. Siapa saja yang tidak memakannya, maka ia tetap akan terkena debu (riba)nya.” (HR. an-Nasai, Ibnu Majah dan Abu Dawud).

Mengapa kita tak bisa melepaskan diri 100 persen? Itu karena sistem ekonomi yang dianut negeri kita ini kapitalisme. Sistem ekonomi kapitalisme sangat bergantung pada riba! Yap, begitulah, ibarat tubuh manusia, sistem ini memiliki anggota-anggota tubuh yang menyokongnya. Tubuhnya adalah pasar bebas, aliran darahnya adalah uang kertas, jantungnya adalah lembaga perbankan dan pemompa jantungnya adalah suku bunga (riba). Jadi sangat wajar, kalau debu riba ada di mana-mana.

Riba berikut debu-debunya akan hilang tak berbekas ketika sistem ekonominya Islam. Tubuhnya adalah penerapan politik ekonomi Islam, aliran darahnya adalah aliran uang emas dan perak, jantungnya adalah lembaga Baitul Maal dan pemompa jantungnya adalah kewenangan khalifah (dalam menerapkan syariah untuk melayani umat sepenuhnya). Masya Allah.

Muslimpreneur

Ramadhan adalah bulan ketaatan. Bulan yang dimuliakan Allah untuk kita. Bulan penghulu para bulan. Bulan yang masya Allah penuh dengan segala kebaikan di dalamnya. Bulan yang semestinya bisa menjadi momentum buat kita semua untuk kembali kepada Islam yang kaaffah dengan penuh kesadaran.

Pengusaha yang sudah terbiasa berani mengambil keputusan bisnis, berani mengambil risiko atas keputusan yang telah dibuat dan berani bertanggung jawab atas pilihannya, sudah selayaknya menjadi garda terdepan bagi perbaikan negeri ini. Tak cukup bagi kita jika hanya lepas riba sendirian. Tak cukup bagi kita jika hanya memikirkan keselamatan dunia-akhirat kita sendiri. Bagaimana dengan umat ini? Bagaimana dengan negeri ini? Tidakkah kita punya kepedulian untuk ini semua? Allah SWT menjanjikan Surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang kita pijak bagi mereka yang beriman dan beramal shalih. Tegakah kita untuk tidak peduli dengan umat kita yang tenggelam dalam kesalahannya?

Muslimpreneur

Mari kita benahi diri kita dengan mengkaji Islam kaffah sungguh-sungguh sembari mendakwahkannya ke seluruh penjuru hingga tak ada lagi rumah di negeri ini yang tidak menerima Islam kaaffah. Mari menjadi pengusaha pejuang syariah dan khilafah!

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 199
---

SMS/WA Berlangganan Tabloid Media Umat: 0857 1713 5759

Bersegera Menjadi Pengusaha Pejuang Syariah!



Oleh: Muhammad Karebet Widjajakusuma, Ketua Lajnah Khusus Pengusaha HTI, Praktisi bisnis syariah bidang konsultasi dan training manajemen dan motivaksi

“Dengan nama Allah, Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang, yaa Allah, jadikanlah kami orang-orang yang sempurna imannya, yang melaksanakan kewajiban-kewajiban terhadap-Mu, yang memelihara shalat, yang mengeluarkan zakat, yang mencari apa yang ada di sisiMu, yang mengharapkan ampunanMu, yang berpegang pada petunjuk, yang berpaling dari kebatilan, yang zuhud di dunia, yang menyenangi akhirat, yang ridha dengan ketentuan, yang bersyukur atas nikmat yang diberikan, yang sabar atas segala musibah, yang berada di bawah panji-panji (al-liwa) junjungan kami Nabi Muhammad SAW, pada Hari Kiamat, sampai kepada telaga (yakni telaga Nabi Muhammad) yang masuk ke dalam Surga, yang duduk di atas dipan kemuliaan, yang menikah dengan para bidadari, yang mengenakan berbagai sutra, yang makan makanan Surga, yang minum susu dan madu yang murni dengan gelas, cangkir, dan cawan bersama orang-orang yang Engkau beri nikmat dari para nabi, shiddiqin, syuhada dan orang-orang saleh. Mereka itulah teman yang terbaik. Itulah keutamaan (anugerah) dari Allah, dan cukuplah bahwa Allah Maha Mengetahui. Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

Muslimpreneur,

Itulah doa kamilin. Doa untuk memohon kesempurnaan iman. Doa yang biasa kita baca seusai shalat Tarawih yang kemudian dirangkai dengan doa witir. Jelas dan tegas disebutkan di situ bahwa salah satu kebaikan yang kita mohonkan kepada Allah adalah permohonan kita untuk dihimpunkan di bawah panji Rasulullah (al-liwa) saat Hari Kiamat itu datang.

Masih segar dalam ingatan kita, beberapa waktu lalu, panji-panji Rasulullah SAW yang dibawa kaum Muslimin dizalimi oleh oknum-oknum yang sangat tidak bertanggung jawab. Padahal banyak di antara mereka yang Muslim juga, baik sipil maupun aparat keamanan. Semoga dengan masuknya Ramadhan, mereka tersadarkan dan kembali ke pangkuan Islam. Insya Allah.

Muslimpreneur,

Doa kamilin menyadarkan kita untuk terus mengokohkan iman kita, menguatkan amal shalih kita, mendakwahkan Islam yang kaffah dan menegakkan panji-panji Rasulullah SAW yang kelak akan memayungi kita di yaumil akhir nanti.

Karenanya, tak cukup rasanya kalau kita hanya berhenti pada keshalihan individu, asal kita selamat dunia akhirat. Tak cukup! Sementara di depan mata kita kemaksiatan dalam segala bentuknya terus berlangsung secara masif, sistematis dan tak terkendali. Mau cari jenis dan bentuk kemaksiatan macam apa, ada semua. Kemunafikan pun sudah ditampakkan sedemikian rupa bahkan oleh sosok dan organisasi yang semestinya menjadi teladan publik. Tak cukup sampai di situ, ulama' dikriminalisasi, organisasi Islam dihalangi bahkan ajaran Islam dikebiri. Semua sudah serba hitam putih sekarang. Lantas mau sampai kapan kerusakan ini terjadi?

Muslimpreneur,

Ramadhan telah datang. Sungguh momentum yang sangat pas untuk hijrah kembali pada Islam kaffah, syariah dan khilafah. Doa kamilin-nya sudah, bahkan terus dibaca setiap malam-malam Ramadhan. Tinggal ikhtiarnya yang harus dimaksimalkan. Kita harus bersegera naik kelas dari hanya rindu syariah menjadi pengusaha pejuang syariah!

Muslimpreneur,

Mari bersegera menyambut seruan Allah SWT, tanpa nanti, tanpa tapi. Bersegera menjadi Pengusaha Pejuang Syariah! Jangan khawatirkan tentang rezeki kita. Imam Ibnul Qayyim sudah mewejang kita,

“Fokuskanlah pikiranmu untuk memikirkan apapun yang diperintahkan Allah kepadamu. Jangan menyibukkannya dengan rezeki yang sudah dijamin untukmu. Karena rezeki dan ajal adalah dua hal yang sudah dijamin, selama masih ada sisa ajal, rezeki pasti datang. Jika Allah dengan hikmahNya berkehendak menutup salah satu jalan rezekimu, Dia pasti -dengan rahmatNya- membukakan jalan lain yang lebih bermanfaat bagimu!” Allahu Akbar! []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 198
---

SMS/WA Berlangganan Tabloid Media Umat: 0857 1713 5759

Pengusaha (Seharusnya) Di Bawah Panji Rasulullah SAW



Oleh: Fahmi Shadry, Anggota DPP Lajnah Khusus Pengusaha HTI, Pebisnis di bidang Digital Communication Technology

Muslimpreneur rahimakumullah, sebagai Muslim sudah pasti kita selalu melaksanakan shalat Jum’at berjamaah di masjid. Kalau kita perhatikan pada akhir khutbah, salah satu doa yang sering dipanjatkan khatib adalah tahta liwa'i Sayyidina Muhammad (berada di bawah Liwa Rasulullah SAW) kelak di hari penghisaban.

Al-Hafizh Ibnu Hajar al-Asqalani di dalam Fathu al-Bari' (VI/126) menyebutkan: Al-Liwa' adalah rayah; juga disebut 'alam (bendera). Bendera ini dipegang oleh panglima tentara dan diemban di atas kepalanya. Ibnu Abbas ra. berkata: "Rayah Rasulullah berwarna hitam dan Liwa’ beliau berwarna putih; tertulis disitu La ilaha illa Allah Muhammad Rasulullah” (HR. Abu Syaikh al-Asbahani dalam Akhlaq an-Nabiy wa Adabuhuu). Kalimat tauhid inilah yang membedakan Islam dan kekufuran.
Panji ini akan dikibarkan oleh Rasulullah SAW kelak pada hari kiamat sebagaimana sabdanya: "Aku adalah pemimpin anak Adam pada hari kiamat dan tidak ada kesombongan. Di tanganku ada Liwa' al-Hamdi dan tidak ada kesombongan. Tidak ada nabi pada hari itu, baik Adam dan lainnya kecuali di bawah Liwa'-ku” (HR. at-Tirmidzi)

Liwa' dan Rayah Rasul merupakan kemuliaan bagi para pemegangnya. Rasulullah SAW menyerahkan ar-Rayah dalam berbagai peperangan kepada panglima pasukan. Ali bin Abi Thalib ra. mendapatkan kemuliaan dengan diserahi ar-Rayah oleh Rasulullah SAW untuk memimpin pasukan ke Khaibar. Dalam perang Badar al-Kubra, Ali ra. juga menjadi pemegang ar-Rayah dan sangat berperan dalam perang tersebut.

Rayah Rasulullah Saw. merupakan panji tauhid dan menjadi lambang eksistensi kaum Muslimin dalam peperangan maupun di luar peperangan. Para sahabat mempertahankan ar-Rayah dengan taruhan nyawa. Dalam perang Uhud, Mus'ab bin Umair mempertahankan ar-Rayah hingga kedua lengannya putus ditebas musuh, ia berusaha mempertahankan dengan menelungkupkan bendera itu di dada dan lehernya hingga akhirnya syahid. Lalu ar-Rayah itu dipegang oleh Abu ar-Rum hingga tiba di Madinah. Pada saat perang Mu' tah, Rasulullah Saw. menyerahkan ar-Rayah kepada Zaid bin Haritsah, dan beliau berusaha mempertahankannya hingga syahid, lalu digantikan oleh Ja'far bin Abi Thalib hingga syahid, kemudian dipegang oleh Abdullah bin Rawahah hingga syahid juga.

Para pengusaha Muslim generasi awal berada di garis terdepan sebagai panglima pasukan pembela panji Rasulullah. Rasulullah SAW memberikan panji kepada Abu Bakar Shiddiq ra. untuk memimpin ekspedisi militer ke Bani Kalb di Nejd. Umar bin Khattab ra. memimpin pasukan ke Turbah. Ali bin Abi Thalib ra. memimpin pasukan ke Khaibar, Fadak, Thaiy. Abdurrahman bin Auf ra. memimpin ekspedisi militer ke Daumatul Jandal. Zubair bin Awwam ra. menjadi pemegang panji Muhajirin pada saat fathu Makkah. Selain itu mereka juga tidak segan-segan mengorbankan jiwa dan hartanya untuk membela lslam, sebagaimana dilakukan oleh Utsman bin Affan yang sering menanggung biaya jihad, Thalhah bin Ubaidillah yang dijuluki Rasulullah sebagai syahid yang hidup, Saad bin Muadz yang kematiannya menggetarkan Arasy Allah.

Mereka adalah pengusaha yang tidak dilalaikan oleh perniagaan atau jual beli dari mengingat Allah, mereka berusaha mengamalkan firman Allah dalam surat An-Nuur:

“Laki-laki yang tidak dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat Allah, dan (dari) mendirikan shalat, dan (dari) membayarkan zakat. Mereka takut kepada suatu hari yang (di hari itu) hati dan penglihatan menjadi guncang (37); (Mereka mengerjakan yang demikian itu) supaya Allah memberi balasan kepada mereka (dengan balasan) yang lebih baik dari apa yang telah mereka kerjakan, dan supaya Allah menambah karunia-Nya kepada mereka. Dan Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa batas” (38).

Rasulullah SAW bersabda: ”Ketika Allah mengumpulkan manusia pertama hingga manusia terakhir pada hari kiamat nanti, maka akan terdengar suara penyeru yang dapat didengar oleh semua makhluk, ”Pada hari ini semua orang akan tahu, siapakah yang lebih berhak mendapatkan kemuliaan, yaitu hendaklah berdiri orang-orang yang tidak dilalaikan oleh perdagangan dan tidak pula oleh jual-beli karena mengingat Allah”. Maka hanyalah segelintir dari mereka yang berdiri, kemudian setelah itu akan dihisab semua makhluk" (HR. an-Nasa'i dan Ibnu Abi Hatim)

Semoga kita berada di bawah Liwa' al-Hamdi Rasulullah Saw. pada hari kiamat kelak dengan tetap istiqamah berjuang jiwa raga dan hartanya demi tegaknya Islam dan berkibarnya Liwa' dan Rayah di muka bumi dalam naungan khilafah 'ala minhajin nubuwwah. Aamiin.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 196
---

SMS/WA Berlangganan Tabloid Media Umat: 0857 1713 5759

Menjadi Pengusaha Mulia Mengemban Panji Rasulullah SAW


umat Islam berideologi Islam

Oleh: Supangkat Salim, Lajnah Khusus Pengusaha, HTI Tangerang Selatan, Founder Pengusaha Muslim Tangsel

Kemuliaan adalah salah satu nilai dan motivasi, yang ingin diraih dan mendorong seseorang menjadi pengusaha. Ada banyak perspektif, ukuran dan cara meraih kemuliaan di alam sekuler ini. Ada yang mengatakan to live, to love, to learn, to leave legacy, ada juga yang berkata harta, tahta, kata, dan cinta dsb. Demi mendapatkanya, sebagian pengusaha rela membayar mahal untuk mengikuti training atau coaching di dalam dan luar negeri.

Islam sebagai way of life tentu telah menetapkan ukuran yang clear tentang kemuliaan. Allah SWT berfirman: "Sesungguhnya orang paling mulia di kalangan kalian di sisi Allah ialah orang yang paling bertaqwa” (TQS. al-Hujurat: 13). Dan Islam tentunya memberikan banyak jalan bagi penganutnya untuk meraih kemuliaan walaupun tanpa membayar mahal.

Di antara kalangan para muttaqin adalah para Nabi, syuhada dan shalihin. Pada titik ini pengusaha memiliki peluang besar untuk meraih kedudukan seperti mereka, sebagaimana sabda Nabi SAW: ”Seorang pedagang Muslim yang jujur dan amanah (terpercaya) akan dikumpulkan bersama para Nabi, orang-orang siddiq dan orang-orang mati syahld pada hari kiamat” (HR. Ibnu Majah).

Jujur dan amanah adalah bagian dari perintah syara. Dengan kejujuran dan amanahnya, pengusaha Muslim akan berusaha mencari amal terbaik untuk mendapatkan kemuliaan terbaik. Sebagai pengusaha yang sudah terbiasa melakukan analisa bisnis, membuat perencanaan bisnis dan membangun budaya kerja. Tentu tidak sulit untuk merealisasikannya.

Untuk keselamatan dunia dan akhirat, tentu tidak mencukupi hanya jujur dan amanah dalam perniagaan, sementara tidak jujur dan amanah sebagai seorang Muslim. Seorang Muslim dituntut keberpihakannya pada tauhid Islam dan menolak kekufuran. Dengan demikian tanpa menjadi pejuang syariah dan khilafah tentu akan sulit bagi seorang pengusaha Muslim untuk menjadi jujur, amanah dan selamat dunia, akhirat.

Dengan kata lain seorang pengusaha Muslim sudah seharusnya menjadi pengemban panji-panji Rasulullah SAW. Karena antara panji Rasulullah dengan eksistensi syariah dan khilafah ibarat dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan.

Panji Rasulullah ada dua al-liwa (berwarna putih) dan al-rayah (berwarna hitam) pada keduanya tertulis kalimat syahadat: laa ilaha illallah Muhammad rasulullah, kalimat tauhid yang menyelamatkan manusia di dunia dan akhirat.

Sebagai simbol syahadat, Rasulullah SAW akan mengibarkan panji tersebut pada hari Kiamat. Kelak Rasulullah SAW menyebut bendera tersebut sebagai Liwa al-Hamdi. Sabda Rasulullah Saw.: "Aku adalah pemimpin anak Adam pada Hari Kiamat dan aku tidak sombong. Di tanganku ada Liwa al-Hamdi dan aku tidak sombong.” (HR. at-Tirmidzi)

Mulianya Kedudukan al-liwa dan ar-rayah serta pengembannya digambarkan dalam sabda Nabi SAW: ”Sungguh aku akan memberikan al-rayah kepada seseorang yang ditaklukkan benteng melalui kedua tanganya; Ia mencintai Allah dan Rasul-Nya; Allah dan Rasul-Nya pun mencintainya.” (HR. Muttafaqun 'alayh).

Dalam hadits di atas Rasulullah SAW memberikan keteladanan dalam mengemban al-liwa dan ar-rayah, sebagai tugas kenegaraan yang sangat mulia, yang tidak diemban kecuali oleh orang yang mulia. Dan para sahabat berharap mendapatkan kemuliaan tersebut. Inilah tren kekinian kaum Muslimin di Indonesia. Pengusaha tentunya tidak mau ketinggalan tren. Wallahua'lam bi ash-shawab. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 195
---

Belajar Dari Abdurrahman Bin Auf



Oleh: Fahmi Shadry, Anggota DPP Lajnah Khusus Pengusaha HTI, Pebisnis di bidang Digital Communication Technology

Abdurrahman bin Auf ra. menjadi orang kedelapan bersyahadat di hadapan Rasulullah SAW. Beliau menerima kabar Islam pertama kali dari sahabat karibnya, Abu Bakar ash-Shiddiq ra. yang telah lebih dahulu memeluk lslam. Kecintaan beliau terhadap Islam melebihi kecintaannya terhadap dunia dan harta bendanya. Beliau siap mengorbankan hartanya demi untuk mempertahankan keimanannya. Hal ini ditunjukkan ketika beliau hendak berhijrah ke Madinah, kaum kafir Quraisy merampas seluruh harta dan asset bisnisnya di Mekkah. Perampasan yang sama juga beliau alami sebelumnya ketika hendak berhijrah ke negeri Habasyah.

Abdurrahman bin Auf ra. merupakan seorang pebisnis yang brillian dan piawai dalam melakukan business revival, memulai bisnis dari nol. Ketika Hijrah, oleh Rasulullah SAW beliau dipersaudarakan dengan Sa'ad bin ar-Rabi'ak-Autsari, sosok kaya raya di Madinah. Sa'ad sempat menawarkan separuh hartanya kepada Abdurrahman sebagai modal memulai bisnis. Mendengar itu Abdurrahman menjawab, "Semoga Allah memberkahi keluargamu dan hartamu. Tunjukkan saja kepadaku, di mana pasar?” Selama di Madinah, Abdurrahman merintis perdagangan keju dan minyak samin, berkat kepiawaiannya dalam waktu tidak lama laba yang diperoleh semakin meningkat dan beliau kembali menjadi pengusaha sukses dan kaya raya.

Abdurrahman bin Auf ra. telah meneguhkan hatinya berjuang di jalan Allah dan siap mengorbankan jiwa, raga dan hartanya demi kejayaan Islam. Ketika bisnisnya telah berkembang pesat, Abdurrahman dianjurkan oleh Nabi SAW, ”Wahai Abdurrahman, kamu sekarang menjadi orang yang kaya raya dan kamu akan masuk surga dengan merangkak, pinjamkanlah hartamu kepada Allah agar lancar kedua kakimu” (Al-Hakim dalam al-Mustadrak).

Anjuran Nabi beliau laksanakan dengan berinfak dalam jumlah yang luar biasa. Abu Nuaim dalam kitab Al-Hilyah jilid 1 halaman 99 dari Az Zuhri katanya: ”Di masa Rasulullah SAW pernah 'Abdurrahman bin Auf menginfakkan 4000 Dirham (setara Rp280 juta jika 1 Dirham = Rp70.000), kemudian beliau berinfak 40.000 Dirham (setara Rp2,8 milyar jika 1 Dirham: Rp70.000), kemudian beliau berinfak 40.000 Dinar (setara Rp80 Milyar jika 1 Dinar: Rp 2 juta). Kemudian beliau menanggung dan menyiapkan lima ratus (500) ekor kuda lengkap dengan peralatannya untuk fi sabilillah. Kemudian beliau memberikan seribu lima ratus kendaraan untuk fi sabilillah, semua harta yang diberikan fi sabilillah tersebut diperoleh dari hasil bisnisnya.

Kecintaan Abdurrahman kepada Allah SWT dan Rasulullah SAW sungguh luar biasa. Beliau turut serta dalam berbagai peperangan bersama Rasulullah SAW. Dalam perang Uhud, Abdurrahman mendapatkan 20 luka parah pada tubuhnya. Salah satunya sampai menyebabkan dirinya pincang dan beberapa giginya rontok sehingga mengurangi kemampuan berbicara lancar.

Dalam sebuah riwayat dalam kitab ar-Riyadh an-Nadhirah fi Manaqibil 'Asyarah, ada hadits Nabi yang mengabarkan Abdurrahman bin Auf termasuk dalam 10 orang yang dijamin Surga, bersama Abu Bakar Ash-Shiddiq, Umar bin Khattab, Utsman bin Affan, Ali bin Abi Thalib, Thalhah bin ‘Ubaidillah, Zubair bin ‘Awwam, Sa'ad bin Abi Waqqash, Said bin Zaid dan Abu 'Ubaidah bin Jarrah.

Semoga kita bisa meneladani Abdurrahman bin Auf ra., seorang Entrepreneur As-Sabiqunal Awwalun yang tunduk pada kebenaran Islam, bersedia berjuang jiwa, raga dan hartanya demi tegaknya Islam di muka bumi. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita dan memberikan keistiqamahan untuk terus berjuang menegakkan syariah dalam naungan khilafah ‘ala minhajin Nubuwwah. Aamiiin. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 191
---

Muslim Pengusaha Atau Pengusaha Muslim?



Anda pengusaha? Bersyukurlah Allah memberikan kedudukan yang luar biasa pada diri Anda, tapi tidak sedikit juga umat Muslim yang memiliki usaha [baca: jadi pengusaha] takut menjadi pengusaha karena proses hisab yang luar biasa di Yaumil Akhir nanti. Nah Anda termasuk yang mana? Anda adalah Muslim yang kebetulan memiliki profesi sebagai seorang pengusaha? Atau seorang pengusaha yang kebetulan jadi Muslim? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan apakah Anda menjadikan Islam sebagai sesuatu yang biasa atau jadi poros utama hidup Anda.

Dalam rentang lebih dari 13 abad Islam menaungi 2/3 dunia lama. Peradaban Islam telah banyak melahirkan pribadi-pribadi pejuang Islam. Salah satunya adalah sahabat Rasul SAW, yaitu Abdurrahman bin Auf. Dari dulu hingga sekarang, Ia dikenal sebagai ikon pengusaha Muslim yang sangat sukses. Ia adalah sebaik-baiknya pengusaha Muslim. Ia telah mengguncang dunia melalui keteladanannya sebagai Muslim sejati, termasuk dalam berbisnis yang dilakukannya pada abad 1 Hijriah.

Abdurrahman bin Auf hanya berbisnis dengan barang yang halal dan menjauhkan diri dari barang yang haram bahkan yang syubhat sekalipun. Keseluruhan hartanya adalah harta yang halal, sehingga sahabat lainnya, Utsman bin Affan ra. yang juga pengusaha sukses dan sudah sangat kaya pun bersedia menerima wasiat Abdurahman ketika membagikan 400 dinar bagi setiap veteran perang Badar. Ustman bin Affan berkata, ”Harta Abdurahman bin Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkah.”

Keuntungan bisnis yang didapat dinikmati dengan menunaikan hak keluarga dan hak Allah. Ia berkontribusi untuk berjuang di jalan Allah, baik secara perjuangan fisik maupun materi. Ketika Rasullullah SAW membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang mahal dan sulit, Abdurrahman bin Auf menjadi penyandang dana pertama dengan menyumbang dua ratus uqiyah emas (1 uqiyah setara dengan 50 dinar). Sampai-sampai Umar bin Khattab berbisik kepada Rasulullah SAW, ”Sepertinya Abdurrahman berdosa kepada keluarganya karena tidak meninggali uang belanja sedikitpun untuk keluarganya.” Mendengar ini, Rasulullah SAW bertanya pada Abdurrahman bin Auf, ”Apakah kamu meninggalkan uang belanja untuk istrimu?" "Ya!” Jawab Abdurrahman, ”Mereka saya tinggali lebih banyak dan lebih baik dari yang saya sumbangkan.” ”Berapa?" Tanya Rasulullah. "Sebanyak rizki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah,” jawabnya. Subhanallah.

Suatu saat ketika Rasullullah SAW berpidato menyemangati kaum Muslimin untuk berinfak di jalan Allah, Abdurrahman bin Auf menyumbang separuh hartanya senilai 2.000 dinar. Atas infak ini ia didoakan khusus oleh Rasulullah SAW: ”Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu, terhadap harta yang kamu berikan. Dan Semoga Allah memberkati juga harta yang kamu tinggalkan untuk keluarga kamu.”

Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan seluruh barang yang dibawa oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah, padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Selain itu juga tercatat ia telah menyumbangkan antara lain 40.000 dirham, 40.000 dinar, 200 uqiyah emas, 500 kuda, dan 1500 unta.

Banyak dan sering sekali, ia infaqkan hartanya. Sampai-sampai ada penduduk Madinah yang berkata, ”Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya pada mereka, sepertiga untuk membayari utang-utang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan kepada mereka.”

Mari kisah sahabat tersebut kita refleksikan pada diri kita. Apa yang sedang Anda perjuangkan dari bisnis Anda? Apa sesungguhnya yang Anda bela dari bisnis Anda?

Ketika Islam dihujat, dimanakah posisi Anda? Ketika Ayat Allah dinistakan apa yang Anda lakukan untuk membelaNya? Ketika syariah dan khilafah sebagai pemersatu umat dijauhkan dari umat Muslim, apa yang bisa Anda perjuangkan?

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 190
---

Quranic Entrepreneur (Spirit 212)



Oleh: Fahmi Shadry, Anggota DPP Lajnah Khusus Pengusaha HTI, Pebisnis di bidang Digital Communication Technology

Aksi Bela Islam (ABI) III sangat fenomenal dan luar biasa. Aksi massa terbesar di dunia yang pernah ada, diperkirakan hingga 7 juta kaum Muslimin hadir karena tidak rela Al-Qur’an dihinakan. Mereka semua -termasuk kalangan pengusaha-bergerak mengorbankan segala yang mereka punya; harta, tenaga, pikiran dan waktu untuk menunjukkan sikap pembelaan mereka terhadap kitab sucinya.

Aksi 212 menunjukkan bahwa ummat Islam bisa bersatu dan bergerak membela kitab sucinya, ketika QS. Al-Maidah ayat 51 (tentang keharaman pemimpin kafir) dinistakan. Oleh karena itu, dengan kesadaran yang sama seharusnya umat bergerak untuk memperjuangkan seluruh isi Al-Qur’an agar dapat diterapkan dalam kehidupan, sebagai wujud keimanan yang hakiki. Haram bagi umat Islam mengimani sebagian ayat dan mendustakan ayat-ayat yang lain, sebagaimana ditegaskan dalam firman-Nya: “Apakah kamu beriman kepada sebagian Al-Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (TQS. Al-Baqarah[2]: 85)

Muslimpreneur, kita sadari bahwa saat ini Islam belum diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan. Dunia bisnis saat ini didominasi oleh sistem ekonomi kapitalis sekuler. Bahkan sebagian pengusaha Muslim saat ini menjadi pendukung sistem ekonomi tersebut. Mereka tidak menggunakan syariah Islam dalam memperoleh maupun membelanjakan hartanya.

Muslimpreneur, dalam Sistem Ekonomi Islam hanya dikenal bisnis sektor riil, sebaliknya sistem ekonomi kapitalis lebih didominasi oleh sektor non-riil seperti perbankan (ribawi), pasar modal, pasar valas, asuransi, bursa berjangka dll. Aktivitas bisnis sektor non-riil ini mengandung unsur riba, maisir (judi) maupun gharar. Akibatnya sektor non-riil sering menjadi penyebab utama terjadinya krisis ekonomi dunia yang berulang-ulang, yang mengakibatkan sebagian besar umat manusia menderita. Sebagian aktivitas bisnis sektor non-riil yang berusaha disyariahkan dengan memberikan label Islami.

Muslimpreneur, Aksi 212 menunjukkan bahwa kita tidak rela satu ayat Al-Qur’an dihinakan, padahal penghinaan terbesar terhadap Al-Qur’an itu adalah tidak mau menerapkan hukum-hukum dari Al-Qur’an. Sebagai konsekuensi spirit Aksi 212, kita harus siap untuk meninggalkan segala aktivitas (termasuk bisnis) yang bertentangan Al-Quran kan menolak segala macam bisnis yang mengandung riba, maisir dan gharar bahkan yang subhat sekalipun.

Maka untuk meningkatkan level Aksi 212, penegakan kembali Al-Qur’an secara sempurna mutlak dilakukan. Allah telah mewajibkan kita untuk berhukum dengan apa yang diturunkan oleh Allah SWT (QS. al-Maidah [5]: 48, 49). Hukum Allah harus diterapkan secara sempurna dan paripurna (syamil[an] wa kamil[an]). Hal ini hanya mungkin dilakukan dalam institusi Khilafah Islamiyah.

Para pengusaha Muslim generasi sahabat menjadi garda terdepan upaya menegakkan Khilafah Islamiyah. Sungguh mereka telah mengamalkan seruan Allah SWT:

“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang Mukmin, diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka. Mereka berperang pada jalan Allah; lalu mereka membunuh atau terbunuh. (Itu telah menjadi) janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al-Qur’an. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya (selain) daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu, dan itulah kemenangan yang besar.” (TQS. At-Taubah [9]:111)

Muslimpreneur, marilah kita berperan aktif dalam perjuangan menerapkan Al-Qur’an dan Sunnah dalam naungan Khilafah Islamiyah. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita. Aamiin.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 187
---

Celestial Entrepreneur (5) Belajar Dari Abu Bakar As-Shiddiq



Oleh: Fahmi Shadry, Anggota DPP Lajnah Khusus Pengusaha HTI, Pebisnis di bidang Digital Communication Technology

Abu Bakar As Shiddiq adalah sahabat Nabi SAW yang merupakan orang ketiga yang menerima dakwah Nabi Muhammad SAW. Ketika Rasulullah SAW menyampaikan dakwah kepada Abu Bakar, ia menyimak dengan cermat apa yang diucapkan Nabi Muhammad SAW. Tak sedikitpun keraguan ada di dalam dirinya. Ia yakin, perkataan itu benar karena Rasulullah SAW tidak pernah berbohong. Tanpa banyak cakap, Abu Bakar langsung bersyahadat. Rasulullah SAW terlihat gembira menyambut keIslaman Abu Bakar, sosok pengusaha sukses yang sangat dihormati di Makkah.

Ia telah dikenal oleh kaumnya sebagai orang mulia, berbudi luhur, dan selalu menolong orang lain. Sehingga banyak orang yang selalu mendatanginya baik untuk minta tolong maupun untuk keperluan bisnis. Dalam kesempatan baik seperti ini ia selalu mengajak teman akrabnya untuk masuk Islam. Sungguh luar biasa setelah satu minggu Abu Bakar masuk Islam, ada enam sahabat karibnya dari kalangan pengusaha yang juga masuk Islam, dengan sebab dakwahnya. Mereka juga termasuk enam dari 10 orang yang dijanjikan oleh Allah masuk Surga, yaitu 'Utsman bin Affan, Thalhah bin 'Ubaidillah, Zubair bin 'Awwam, Abdurrahman bin Auf, Sa'ad bin Abi Waqqash dan Abu 'Ubaidah bin Jarrah.

Abu Bakar sangat memperhatikan nasib orang lemah, kaum miskin dan para budak. Seperti diceritakan oleh Ibnu Katsir, berkaitan dengan firman Allah SWT, "Dan kelak akan dijauhkan orang yang paling takwa dari neraka, yaitu orang yang mengeluarkan hartanya (di jalan Allah), untuk menyucikan jiwanya. Dan ia tidak mengharapkan balasan untuk kebaikannya, selain menghendaki wajah Tuhannya yang Mahatinggi. Dan pasti ia kelak mendapat Keridhaan” (TQS. al-Lail [92]: 17-21). Telah disebut oleh beberapa mufassir bahwa ayat tersebut menjelaskan tentang sikap Abu Bakar yang sangat spektakuler dalam memanivestasikan keimanan dan ketakwaannya melalui harta yang dimilikinya. Ibnu Abi Hatim meriwayatkan dari Urwah bahwa Abu Bakar ra. telah memerdekakan tujuh orang budak yang disiksa oleh pemiliknya karena beriman kepada Allah SWT, termasuk di antaranya Bilal bin Rabah. Al-Hakim meriwayatkan dari Amir bin Abdullah bin Al Zubar dari bapaknya, bahwa Abu Quhafah, ayah Abu Bakar, berkata kepada Abu Bakar, "Aku lihat engkau memerdekakan budak-budak yang lemah. Anakku, sekiranya kau memerdekakan budak-budak yang kuat, pasti mereka akan membela dan mempertahankanmu.” Mendengar ucapan ayahnya, Abu bakar berkata, ”Ayah, aku hanya mengharapkan apa yang ada di sisi Allah.” Maka, turunlah ayat di atas yang membenarkan sikap Abu Bakar.

Abu Bakar merupakan sahabat Nabi yang turut menemani Rasulullah ketika berhijrah. Ia berkorban jiwa dan raga untuk melindungi Rasulullah selama perjalanan hijrah. Selain itu ia membawa hartanya sebanyak 6000 dirham perak (setara Rp420 juta) sebagai bekal berhijrah.

Pada suatu waktu ia pernah menginfakkan seluruh hartanya untuk dakwah Islam. Ketika Rasulullah SAW bertanya, ”Wahai Abu Bakar apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu”, ia menjawab singkat, ”Allah dan Rasulnya". Sikap ini yang membuat Umar bin Khattab tercengang ketika itu dirinya hanya sanggup menginfakkan separuh hartanya.

Ia adalah khalifah pertama setelah Rasulullah SAW wafat. Kecintaan Rasulullah SAW kepadanya dilukiskan dalam sabdanya, ”Andai kuambil kekasih di antara manusia pasti kujadikan Abu Bakar sebagai khalilku.”

Semoga kita bisa meneladani Abu Bakar As Shiddiq ra., seorang pengusaha Muslim generasi awal yang tunduk pada kebenaran Islam, bersedia berjuang jiwa raga dan hartanya demi tegaknya Islam di muka bumi. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita dan memberikan keistiqamahan untuk terus berjuang menegakkan syariah dalam naungan khilafah. Aamiin. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 186
---

Pengusaha Buat Resolusi Takwa



Buat Resolusi Takwa, Bukan Sekadar Profit!

Oleh: Risky Irawan, Ketua Lajnah Khusus Pengusaha HTI Kota Bogor, Praktisi Bisnis Syariah

Pengusaha-pengusaha Muslim saat ini dalam kondisi yang terpuruk. Bagaimanapun tidak, negeri-negeri Islam sekarang berada pada keadaan politik yang semakin terperosok bahkan bisa dikatakan paling buruk, karena pada hakikatnya mereka masih dijajah dan bahkan dikuasai oleh negara-negara kapitalis. Mereka tunduk di bawah kepemimpinan berpikir demokrasi kapitalis. Memang betul adanya para penjajah tidak lagi bercokol di negeri-negeri Islam, tetapi secara de facto, mereka masih mengeksploitasi negeri-negeri Muslim.

Jujur saja, betapa sulitnya Anda berkompetisi dengan kekuatan ekonomi asing dan aseng bukan? Terlebih kaum Muslim sendiri masih banyak yang berkompetisi di saat kita semua perlu berkolaborasi. Bagaimana dengan tekanan dari internal pemimpin negeri ini? Pengusaha semakin diberatkan dengan pajak yang mencekik. Padahal sama-sama kita ketahui dalam Islam, pajak bukanlah sumber utama pembangunan. Anda sebagai pengusaha dituntut untuk menyejahterakan karyawan, tapi pemerintah sendiri seolah-olah malah lari dari kewajibannya memberikan pelayanan kesehatan bagi seluruh rakyatnya dengan memberikan wewenang penuh kepada pihak swasta untuk membisniskan jaminan kesehatan baik bagi si kaya maupun si miskin.

Bagaimana dalam melakukan perizinan? Apakah sudah betul-betul menjaga para pejabatnya dari praktek riswah (suap-menyuap)?

Bagaimana dengan praktek perbankan yang masih didominasi oleh riba? Alih-alih ingin membantu para pebisnis UMKM dari keterbatasan modal, malah menjebaknya dalam lubang dosa yang amat sangat pedih.

Kita semakin dipaksa didekatkan dengan kubangan dosa, dan dijauhkan dari Islam.

Dengan beberapa fakta diatas apa yang bisa kita lakukan? Diam saja dari pola yang terstruktur ini? Memang sih ada yang bertahan, tapi sampai berapa lama? Mari kita berjuang bukan hanya untuk omzet Anda saja, bukan hanya untuk laba dan popularitas bisnis Anda saja. Tapi pengusaha Muslim sejati harus bisa lebih dari itu. Bagaimana kita betul-betul bisa mengontribusikan diri berada di jalan Allah dengan segenap kemampuan yang ada. Bukan dengan apa yang Anda bisa lakukan, tapi lakukan dengan segenap kekuatan Anda. Lakukan dengan penuh ketakwaan, ikut berkontribusi aktif memperjuangkan Islam, memperjuangkan agama Allah. Sudah sepatutnyalah kita kembali kepada rules Allah. Menjalankan bisnis yang berporos pada ketakwaan kepada Allah SWT. Takwa dalam arti yang sebenar-benarnya.

Bagaimana pengusaha yang bertaqwa itu?

Umar bin Abdul Aziz rahimahullah, sebagaimana dikutip Imam as-Suyuthi dalam Ad-Durr al-Mantsur, berkata, ”Takwa kepada Allah itu bukanlah berpuasa pada siang hari, shalat pada malam hari dan memadukan keduanya. Namun, takwa kepada Allah itu adalah meninggalkan apa saja yang telah Allah haramkan dan menunaikan apa saja yang telah Allah wajibkan."

Ibnu al-Qayyim al-Jauziyyah rahimahullah dalam kitabnya, Zad al-Muhajir ila Rabihi, juga berkata, "Hakikat takwa adalah menaati Allah atas dasar iman dan mengharapkan ridha-Nya, baik atas perkara yang Allah perintahkan maupun Allah larang.”

Orang yang bertakwa juga tidak akan berani memakan harta dan melakukan transaksi riba. Orang yang bertakwa tidak akan mau menghalalkan segala cara dalam melakukan aktivitas hidupnya. Ia senantiasa menggunakan rules dan menghadirkan Allah dalam setiap hembusan nafas. Ia akan menolak segala sesuatu yang bertentangan denganlslam.

Orang yang bertakwa juga tidak akan menolak Islam. Orang yang bertakwa pun tidak akan mempersempit makna Islam sebagai agama yang mengatur urusan pribadi. Ia akan menggunakan Islam sebagai agama yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Ia berupaya mengamalkan Islam sekuat tenaga.

Orang bertakwa pasti menginginkan syariah diterapkan secara menyeluruh dalam semua aspek kehidupan. Dan tentunya semua itu akan terjadi dalam naungan khilafah. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 188
---

Bisnis Bukan Sekadar Bicara Untung-Rugi Tapi Bicara Surga-Neraka



Agama Islam sangatlah menganjurkan setiap umat untuk selalu bekerja memenuhi berbagai kewajiban. Tidak ada satu katapun yang menyebut bahwa orang Islam yang beriman itu disarankan untuk menjadi pemalas, sibuk hanya dalam hal sia-sia.

Begitu pentingya perilaku yang menjunjung tinggi etos kerja agar manusia selalu mengerjakan apa-apa yang berguna, -terlebih yang wajib- termasuk dalam mencari nafkah. Rasulullah Muhammad SAW bersabda: ”Bekerja mencari rezeki yang halal merupakan kewajiban, setelah kewajiban ibadah.” (HR. Ath-Thabrani dan Baihaqi).

Dari sini, pengertian bisnis syariah Islam adalah aktivitas bisnis ekonomi dengan berbagai bentuk sesuai syariah Islam dalam hal kepemilikan harta baik itu jasa maupun barang, dalam hal cara memperoleh, dan pendayagunaan harta.

”Akan datang pada manusia suatu zaman, ketika seseorang tidak peduli akan apa yang dia ambil, apakah dari yang halal ataukah dari yang haram." (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam Islam telah dijelaskan bahwa, dengan menelaah hukum-hukum syariah yang menjelaskan kepemilikan seseorang atas harta, akan tampak jelas bahwa sebab-sebab kepemilikan harta terbatas pada lima sebab berikut ini : (1) Bekerja, (2) Pewarisan, (3) Kebutuhan akan harta untuk menyambung hidup, (4) Pemberian harta Negara untuk rakyat, dan (5) Harta-harta yang diperoleh tanpa mengeluarkan kompensasi berupa harta atau tenaga. (Syeikh Taqiyuddin An-Nabhani, terj., Nizhom al-Iqtishadi-fi al-Islam, hal.95)

Inilah tuntunan yang telah dijelaskan tentang cara pemilikan harta bagi seorang Muslim secara umum dan bagi seorang pengusaha atau pebisnis secara khusus. Sehingga dalam mencari kekayaan bagi pebisnis adalah dengan menjual produknya dengan meningkatkan kualitas dan kuantititasnya. Seorang pengusaha menciptakan inovasi dalam memasarkan produk atau jasanya sehingga konsumen akan mendapatkan kepuasan dari produk yang ditawarkan.

Dalam menjalankan usaha atau bisnis, pengusaha atau pebisnis akan tidak lepas berbicara profit (keuntungan). Tetapi pandangan seorang pebisnis Muslim tidak hanya berorientasi pada keuntungan semata tanpa memandang bagaimana cara memperoleh dan mengembangkannya. Sehingga pebisnis Muslim tidak boleh menghalalkan segala cara dalam memperoleh keuntungan bisnis, bahkan dalam mengembangkan keuntungan. Syariat Islam adalah tuntunan yang harus dipegang kuat walaupun di depan mata ada keuntungan (profit) besar menggodanya.

Syariah Islam telah menjadikan masalah pengembangan pemilikan terikat dengan hukum-hukum tertentu yang tidak boleh dilanggar. Syariat Islam telah melarang individu untuk mengembangkan kepemilikan harta dengan cara-cara tertentu yaitu (1) Perjudian, (2) Riba, (3) Al-Ghabn al-Fahisy (trik yang keji), (4) Tadlis (menipu) dalam jualbeli, (5) Penimbunan dan (6)Pematokan harta. (Syeikh Taqiyuddin An Nabhani, terj., Nizhom al-Iqtishadi fi al-Islam, hal.95)

Rasulullah SAW telah memberikan gambaran kondisi ummat Islam dalam hadist bahwa, ”Sungguh akan datang pada manusia suatu zaman, ketika tidak tersisa seorangpun kecuali pasti makan riba. Yang tidak makan riba pun tetap terkena debu riba.” (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah).

”Mencari yang halal adalah wajib hukumnya atas setiap muslim.” (HR. Thabrani).

Semoga tulisan ini menjadikan motivasi kuat bagi seorang pengusaha atau pebisnis Muslim, bahwa perjuangan dalam menjalankan bisnis dengan berpegang teguh kepada syariat Islam adalah perjuangan yang besar. Karena tantangan pengusaha atau pebisnis Muslim yang taat syariat dalam kungkungan sistem kapitalis adalah tantangan yang besar.

Bergembiralah wahai pengusaha Muslim bahwa Rasulullullah SAW memberi kabar gembira, ”Pedagang yang jujur dan amanah akan bersama para nabi, orang-orang Shiddiq, dan para syuhada." (HR. Tirmidzi)

Inilah balasan bagi pengusaha yang taat terhadap syariat Islam, yang kedudukannya disandingkan dengan para nabi, orang-orang shiddiq dan para syuhada. Mereka turut berjuang untuk tegaknya syariat Islam dalam semua segi kehidupan, sehingga kekuasaan sistem Islam mewujudkan rahmatan lil alamin.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 172
---

Kembali Pada Fitrah Pengusaha Muslim


Muslimpreneur,

Di bulan yang agung, penuh dengan limpahan rahmat, ampunan dan dijauhkannya kita dari siksa neraka, kita penuh harap agar semua amal kita dalam bulan yang mulia ini diterima seluruhnya oleh Allah Dzat Pencipta dunia dan seisinya. Penuh hikmah, agar kita dilayakkan untuk menyandang gelar takwa dari Allah DzatYang Maha Rahman dan Rahim. Aamiin Allahumma aamiin.

Kita pun akan memasuki bulan pembuktian pasca Ramadhan. Yap, dimulai bulan Syawal ini sampai dengan 11 bulan berikutnya, kita dengan penuh iman dituntut untuk bisa membuktikan hasil pendidikan dan latihan super intensif yang digelar Allah SWT 1 bulan penuh. Pembuktian dengan hanya satu kata, takwa. Maka dimulailah hari-hari penuh aktivitas dengan dua kata yang selalu akan dan harus melekat pada diri kita, yaitu iman dan takwa.

Dua kata inilah juga sesungguhnya fitrah kita. Fitrah ini pernah terjaga sempurna selama 14 abad. Karena fitrah inilah berkah Allah SWT diturunkan dari langit dan dikeluarkan dari bumi. Berikut salah satunya seperti yang dituturkan Musa bin Ayya, "Pada zaman Khalifah Umar bin Abdul Aziz kambing kami digembala bersama-sama dengan serigala. Namun pada satu malam seekor serigala telah menerkam kambing kami. Tidak lain pasti lelaki shalih ini (Umar bin Abdul Aziz) telah wafat." Dan memang mereka mendapatkan beliau wafat pada malam tersebut. Beliau wafat tahun 101 H dalam usia 39 tahun, pemerintahannya penuh berkah meski hanya berlangsung 2 tahun.

Yap, berkah dari iman dan takwa dalam naungan khilafah telah membuat dua hewan berbeda tabiat ini 'bersaudara'. Berkah yang amat menakjubkan yang tak hanya dirasakan oleh umat manusia, tapi juga hewan, sesuatu yang berada di luar jangkauan akal kita. Masya Allah.

Berkah lain yang juga mencengangkan di zamannya bahkan hingga kini belum bisa ditandingi oleh peradaban manapun adalah tingkat kesejahteraan yang diberikan khilafah untuk seluruh warga negaranya baik yang Muslim maupun kafir dzimmi.

Salah satunya dicerminkan dari APBN yang digunakan untuk mengurusi rakyatnya. Di era Khalifah Harun Al Rasyid, misalnya, didapati surplus APBN sebesar 900 juta dinar emas atau senilai Rp1.912,5 trilyun. Nilai surplus ini masih lebih besar dari nilai APBN Indonesia di tahun 2013 Ialu sebesar Rp1.683 trilyun. Semakin mencengangkan karena pendapatan negara khilafah didapatkan dari sumber-sumber yang halal, sementara APBN negeri ini justru bertumpu pada duet maut utang luar negeri berbasis riba dan pajak!

Muslimpreneur,

Cukuplah dua contoh di atas (dari berjuta contoh teladan peradaban Islam) untuk menyadarkan dan menguatkan kita untuk kembali pada fitrah kita, yakni Muslim yang beriman dan bertakwa seutuhnya. Mari siapkan 11 bulan pasca Ramadhan dengan mindset fitrah yang utuh, Islam yang kaffah di mana bisnis kita menjadi bagiannya yang tak terpisahkan. Kita perjuangkan penegakan kembali Islam yang kaffah dengan segenap jiwa dan raga. Yakinlah, era peradaban Islam dalam naungan khilafah yang sesungguhnya akan segera datang.

”Hai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian.” (TQS. Muhammad: 7).

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 155
---

Sukses Dan Mulia Bersama Karyawan



Kesejahteraan hidup adalah impian semua orang, karyawan menghabiskan tenaga dan waktu untuk bekerja pastilah dilandasi harapan untuk menyejahterakan diri dan keluarganya. Begitu pula pemilik usaha, bekerja keras semata untuk kebahagiaan keluarga. Siapapun orangnya yang terlibat dalam dunia usaha baik owner maupun pekerja dalam bidang apapun yang dituju adalah kesejahteraan hidup, memperoleh materi dan mendapatkan manfaat dari materi yang didapatnya. Bagi pejuang Islam tentunya harta tersebut digunakan untuk berdakwah atau aktivitas sosial yang membawa manfaat serta kebarakahan.

Karyawan Berhak Sukses

Sudah sering kita dengar kisah sukses karyawan meng-copy paste usaha bosnya, atau seorang karyawan yang membuat jenis bisnis baru dan sukses melebihi bos lamanya.

Bila ditelisik lebih dalam, antara bos dan karyawan memiliki kesamaan yaitu sama-sama makhluk Allah sama-sama hidup di bumi Allah, dan sama-sama menikmati karunia dari Allah. Hanya beda status saja. Perbedaannya pemilik usaha adalah yang menggaji dan karyawan adalah pihak yang digaji. Antara keduanya saling terikat akad dan wajib memenuhi segala akad. Bedanya owner berkewajiban mengompensasi tenaga dengan upah (ujrah) sedangkan karyawan mengompensasi uang dengan tenaga/skill yang ia miliki termasuk di dalamnya waktu dan pemikirannya.

Saat ini ada beberapa kasus posisi karyawan selalu di bawah, terjepit, dihimpit aturan, dikekang dan segala bentuk penindasan lainnya yang tak manusiawi. Hal ini dapat terjadi di dunia industri baik skala besar maupun kecil, seolah karyawan tak berhak untuk sukses, dan seolah karyawan adalah budak bagi tuannya. Apakah memang karyawan ditakdirkan untuk tersiksa? Tentu jawabannya tidak. Karyawan adalah mitra dan bagian terpenting dari kesuksesan kita. Itu artinya semua orang memiliki hak untuk mendapatkan kesuksesan, dan hanya orang yang bersungguh-sungguhlah yang dapat menempuh kesuksesan, baik secara materi maupun kesuksesan lainnya.

Bagaimana caranya?

Tempuhlah dengan jalan yang sungguh-sungguh, ikuti kaidah sebab-akibatnya, bila ingin meniru usaha bosnya, baiknya baik-baik dikomunikasikan agar mendapat dukungan baik dukungan produk juga network, atau barangkali bisa disinergiskan menjadi pendukung bisnis dari bosnya sehingga tercapai keselarasan. Pelajari ilmu bisnisnya dan amalkan (banyak ilmu bisnis yang gratis tanpa perlu bayar mahal-mahal yang harganya terkadang tak masuk akal untuk kalangan pemula), selalu berpikir positif dan bekerja keras dan cerdas juga menempuh jalan keridhaan Allah SWT.

Awali dengan ridha ibu dan bapak dan tebarkan kebaikan pada semua orang semata karena Allah SWT. Jadi insya Allah biar Allah yang membukakan pintu kesuksesan itu, namun jangan lupa tatkala sudah sukses jangan sampai takabur.

Bagaimana Islam memandang seorang pekerja? Islam sangat memuliakan para pekerja. Islam mengajarkan seorang untuk berbelas kasih pada pegawai.

Rasulullah SAW bersabda, ”Janganlah kalian membebani mereka dengan sesuatu yang mereka tidak mampu, jika kalian membebankan sesuatu kepada mereka, maka bantulah”. Terkait upah, Islam menuntut seorang segera memberikan hak pekerja.

Bisa Mulia

Apakah para pekerja tidak bisa mendapatkan kemuliaan? Tentu sangat bisa, karena Allah SWT tidak pernah menjadikan harta sebagai ukuran kemuliaan tapi menjadikan takwa parameternya. Tatkala seorang pekerja beriman pada Allah dan menjalankan tugas-tugasnya dengan baik. Ia bekerja semata mengharap ridha Allah maka ia pantas mendapatkan kemuliaan dari para penghuni langit. Bahkan Nabi SAW pernah mencium tangan kasar seorang pekerja.

Walhasil, dengan kesabaran, keuletan dan ketekunan keberhasilan sangatlah dekat, sukses dan mulia milik semua orang maka berbagilah kepada para karyawan. Hal ini dapat kita lakukan meski khilafah belum tegak dan tidak ada alasan bagi para pengusaha Muslim untuk tidak menyejahterakan para karyawannya. Satu keharusan bagi para pemilik bisnis untuk berpikir keras memajukan mereka dan semoga Allah menambahkan kebarakahan pada usaha kita. Jangan lupa terus berjuang untuk tegaknya syariah khilafah agar kemuliaan dan kesuksesan menjadi sempurna. Wallahu‘alam bisshawab.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 125 April 2014
---

Ketika Pengusaha Tidak Menjadi Penguasa, Melawan Praktik Negara Korporasi (Jilid 3)



Oleh: Muhammad Karebet Widjajakusuma, Ketua Lajnah Khusus Pengusaha HTI, Praktisi bisnis syariah

Muslimpreneur,

Seperti dua sosok agung yang telah diulas serba ringkas sebelumnya, Utsman bin Affan pun memiliki karakter pengusaha Muslim yang penuh berkah dan pejuang. Kekayaannya berpadu dengan ketaatannya pada Islam. Kewibawaannya berpadu dengan pengorbanannya bagi Islam. Ketokohannya berpadu dengan keteladan sikapnya dalam menerapkan Islam kaffah, baik semasa Rasul SAW masih hidup maupun telah tiada.
Pengusaha yang dibaiat menjadi penguasa penuh amanah. Bukan pengusaha yang menjadi penguasa penuh kezaliman. Totalitas pada penerapan syariah Islam dalam bingkai khilafah tampak jelas tak terbantahkan. Jauh dari retorika, dan puja-puji dunia yang tak ada arti!

Ada satu episode kehidupan beliau yang bisa menjelaskan bagaimana sikapnya terhadap harta kekayaannya dalam perjuangannya di jalan Allah SWT. Pada masa Khalifah Abu Bakar As-Siddiq ra., kaum Muslimin pernah dilanda kemarau dahsyat. Dalam kondisi mencekam seperti itu, sebuah kafilah bisnis dengan 1.000 unta mengangkut gandum, minyak dan kismis berhenti di depan rumah Utsman, lalu mereka menurunkan muatannya. Setiap unta membawa setengah ton muatan. Artinya ada 500 ton gandum dan bahan pangan lainnya!

Tak lama kemudian pedagang datang menemui Utsman, dengan maksud ingin membeli barang itu dengan memberi penawaran yang menggiurkan. Namun Utsman tegas menolak, namun tetap santun, "Allah SWT memberi kepadaku 10 kali lipat, apakah kalian dapat memberi lebih dari itu?” Mereka serentak menjawab, ”Tidak!" Utsman berkata lagi, “Aku menjadikan Allah sebagai saksi bahwa seluruh yang dibawa kafilah itu adalah shadaqah karena Allah, untuk fakir miskin.”
Petang itu juga, Utsman ra. membagi-bagikan seluruh makanan yang dibawa unta tadi kepada setiap fakir dan miskin. Mereka semua mendapat bagian yang cukup untuk keperluan keluarganya masing-masing dalam jangka waktu yang lama. Terhindarlah ancaman bencana kelaparan yang dahsyat itu. Subhanallah.

Tak hanya itu, di episode lainnya, sewaktu Nabi Muhammad SAW kekurangan dana untuk membiayai pasukan besar menuju perang Tabuk pada tahun 9 H/631 M, pertempuran pertama dengan adidaya dunia Bizantium (Romawi Timur), maka Abu Bakar datang menyerahkan seluruh hartanya 40.000 dirham. Umar menyumbangkan separuh dari hartanya, Abdurrahman Bin Auf menyerahkan 200 goni gandum dan Utsman ibn Affan memikul sepertiga dari keseluruhan biaya pasukan besar itu, dengan menyerahkan 950 ekor unta dan 50 ekor kuda dan uang tunai sebesar 1 .000 dinar. Subhanallah.

Saat dibaiat menjadi khalifah, usia beliau sudah 70 tahun! Usianya 5 tahun lebih muda dari Rasulullah SAW. Menjadi khalifah selama 12 tahun. Umur yang tak lagi muda tidak menghalanginya untuk mengemban amanah dengan penuh prestasi dan keberkahan!

Di masanya, sejumlah prestasi ditorehkan. Di antaranya, kodifikasi Mushaf Al-Qur’an, renovasi Masjid Nabawi, pembentukan angkatan laut seiring dengan makin luasnya wilayah Islam hingga Armenia, Azerbaijan, Siprus hingga mendekat ke Konstantinopel.

Muslimpreneur,

Begitulah mestinya pengusaha Muslim saat ini, meneladani jejak pengusaha era Nabi SAW: Abu Bakar, Umar, dan Utsman. Karenanya, jadilah pengusaha pejuang bagi berlangsungnya khilafah yang sudah jelas sesuai syariah, bagus dan menyejahterakan. Bukan malah melanggengkan negara korporasi yang bertentangan dengan syariah, rusak dan zalim.

Semoga Allah SWT menjadikan kita Pengusaha Pejuang Syariah dan Khilafah yang setia pada syariat serta teladan bagi umat. Aamiin allahuma aamiin. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 146, Maret 2015
---

Memuliakan Karyawan Dan Pelanggan Sama Pentingnya



Oleh: Wari Al-Bantany, Ketua Lajnah Khusus Pengusaha DPD I HTI Banten

Muslimpreneurs yang dirahmati Allah SWT, sudah hal umum, siapapun orangnya saat ditanya, apa yang mendasari Anda menjadi entrepreneurs, tentu salah satu jawabannya adalah, agar bisa memberdayakan banyak orang, mengurangi pengangguran.

Sungguh, niat yang sangat mulia dan patut kita doakan akan terwujud. Akan tetapi di lapangan tentu tidak mudah merealisasikannya. Ini tergantung ritme usaha, kemauan dan pemahaman owner dalam memosisikan karyawan. Ada yang berhasil dan ada yang tidak berhasil mewujudkan mimpi besarnya.

Karyawan adalah Manusia

Sebagaimana kita makan, tidur dan memerlukan segala kebutuhan hajatul udhawiyah. Karyawanpun memiliki karakteristik yang sama seperti kita, ia perlu makan, tidur, istirahat dan segala kebutuhan hajatul udhowiyah lainnya. Sebagaimana kita memperlakukan diri kita dengan sebaik-baiknya maka memperlakukan karyawan dengan baik adalah sikap yang harus dilakukan oleh para owner saat berinteraksi dengan karyawan. Karyawan sama persis dengan kita, ia adalah manusia yang memiliki pikiran dan perasaan. Jadi memuliakan karyawan wajib dilakukan oleh siapapun yang bergelut dalam bisnis yang tidak mampu dikelola sendiri, termasuk menjaga perasaannya.

Islam mengajarkan untuk memuliakan karyawan, di antaranya dengan:

Pertama, memberi gaji pada waktunya, Nabi SAW menegaskan ”Berikanlah kepada pekerja upah kerjanya, sebelum kering kerlngatnya. Dan beritahukan besarnya upah kerja pada saat dia sedang bekerja” (HR. Imam Ad-Dailami, Al-Baihaqi).

Kedua, meringankan beban karyawan dan diberikan pekerjaan sesuai kemampuannya.

Ketiga, tidak menzalimi karyawan dengan memenuhi segala hak-haknya, ”Jangan dzalimi mereka, perlakukan secara baik. “Menzhalimi upah terhadap buruh termasuk dosa besar” (HR. Ahmad).

Kunci Keberhasilan Bisnis

Agar usaha berjalan dan berkembang sesuai keinginan pelanggan, tentunya kita harus menemukan apa yang diinginkan oleh karyawan. Karyawan adalah kunci untuk meningkatkan kesetiaan pelanggan, bagaimana cara mereka memperlakukan pelanggan akan membuat kesan yang mendalam. Karyawan adalah lebih dari perwakilan dari bisnis kita.

Banyak langkah untuk memuliakan karyawan selain memenuhi hak-hak pokok dari karyawan berupa gaji, insentif, bonus dan tunjangan kerja serta tunjangan kesehatan juga tunjangan hari raya. Dapat juga diberikan tunjangan modal berupa uang tabungan yang digunakan tidak untuk konsumtif tetapi lebih produktif dengan membuka usaha kecil di rumahnya, sehingga ia dapat mendapatkan penghasilan untuk memenuhi kebutuhan dasar dan menabung uang untuk keperluan lainnya.

Lalu, apakah cukup dengan materi? Tentu tidak, pendekatan non-materi berupa kehangatan dari perusahaan, kenyamanan tempat bekerja, perhatian dan empati atas segala hal yang dirasakan karyawan sangatlah penting. Dan yang tidak kalah penting setiap karyawan mendapatkan edukasi dari perusahaan melalui penanaman nilai-nilai perusahaan dan budaya perusahaan yang berbasis syariah Islam. Karyawan diajak bertaqarrub kepada Alah misalnya dengan pengajian bulanan, mingguan serta dibuat sistem pendampingan (mentoring). Insya Allah, langkah tersebut dapat meningkatkan semangat kerja karyawan, inovasi, serta keikhlasan dalam bekerja.

Karyawan Bahagia, Pelanggan Setia

Ketahuilah teramat banyak manfaat yang akan didapat dengan jalan memuliakan karyawan. Sebagai Muslim kita telah menjalankan muamalah dengan baik danberpahala. Dari sisi bisnis tentu hasil yang tidak kita duga akan kita peroleh, memang secara kuantitatif terjadi peningkatan biaya, tetapi di sisi perusahaan secara bertahap dan tidak langsung akan terjadi penambahan kesetiaan pelanggan (customer loyalty) pada kita. Ini akan berdampak pada peningkatan pendapatan dan profit margin.

Mengedukasi karyawan tentang empati, tentang produk juga tentang nilai-nilai syariah di perusahaan (syariah values) dapat membuat nyaman karyawan apalagi bila karyawan beserta keluarganya diberi diskon bila membeli produk yang kita jual, bila karyawan bahagia pelangganpun akan setia, bila pelanggan setia maka insya Allah bisnis dapat diprediksi bisa langgeng (sustainable).

Semoga Allah menjadikan kita termasuk pelaku bisnis yang memuliakan karyawan, sebagai bentuk ketaatan kita pada Allah SWT, di samping itu kitapun masih tetap konsisten dalam perjuangan dakwah penegakan Khilafah islamiyah. Wallahua'lam bisshawab. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 143, Januari-Pebruari 2015
---

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam