Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Tampilkan postingan dengan label neo-imperialism. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label neo-imperialism. Tampilkan semua postingan

Rohis Diawasi, Rezim Islamophobia?



Menteri Agama Lukman Hakim kembali melontarkan pernyataan nyinyir kepada umat Islam. Ia mengatakan bahwa kegiatan Rohis (Kerohanian lsIam) perlu diawasi dengan alasan ada bibit-bibit radikalisme lahir dalam kegiatan pembinaan agama Islam di sekolah-sekolah tersebut.

Meski membantah, Menteri Agama tetap menegaskan bahwa kepala sekolah atau madrasah haruslah mengawasi kegiatan keagamaan yang dibuat oleh para siswanya. "Sesungguhnya, yang benar adalah saya mengajak semua guru-guru untuk dapat memberikan perhatian penuh kepada siswa-siwa kita," ujarnya.

Jadi setiap madrasah, sekolah apapun jenjangnya, apakah dasar, menengah, atau atas, khususnya para kepala sekolahnya, menurut Lukman, harus lebih memberikan perhatian yang besar, khususnya terkait kegiatan keagamaan yang dilaksanakan para siswa-siswinya.

Tuduhan keji terhadap Rohis sebagai sarang bibit-bibit radikalisme bukan hanya kali ini. Sebelumnya, stasiun TV swasta Metro TV pernah menyebut bahwa terorisme masuk dari masjid-masjid sekolah dan kegiatan ekstrakurikuler agama di sekolah.

Upaya menyudutkan Rohis dan Islam juga terbukti dengan adanya survei yang dilakukan oleh Wahid Foundation. Dalam survei tersebut Wahid Foundation menyebut bahwa 86 persen Rohis ingin pergi berperang ke Suriah.

Diungkap Yenny Wahid, Direktur Wahid Foundation, dalam survei itu juga terpetakan karakteristik kelompok radikal di Indonesia yakni berusia muda dan laki-laki, cenderung memahami ajaran agama secara literalis. Mereka banyak terpapar informasi keagamaan yang berisi kecurigaan dan kebencian, cenderung mengingkari atau menentang pemenuhan hak-hak kewarganegaraan terhadap kelompok lain yang tidak disukai, cenderung membenarkan dan mendukung tindakan dan gerakan radikal.

Juru bicara Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia, Iffah Ainur Rochmah menyatakan bahwa salah kaprah apabila tuduhan-tuduhan tersebut ditujukan kepada anak-anak Rohis seluruhnya. Dalam sejarahnya, anak Rohis justru anak-anak yang membanggakan dan berprestasi dalam pendidikan.

”Jelas-jelas anak-anak Rohis adalah anak manis yang tidak memunculkan masalah apapun bahkan banyak yang prestasi akademisnya membanggakan. Kok malah dianggap berbahaya?” ungkapnya kepada Media Umat.

Iffah mengatakan faktor ditakutinya Rohis hingga harus diawasi oleh pemerintah karena anak-anak Rohis bisa menjadi generasi baru yang tulus dan peduli pada persoalan bangsa yang akan kritis pada negara.

”Kritis terhadap kezaliman rezim dan mendorong kembali pada syariat Islam secara kaffah. Kalau memang ini alasan di balik rencana pengawasan Rohis maka ini preseden buruk yang menunjukkan rezim hari ini mengidap Islamophobia!” tegas Iffah.

Rohis bisa menjadi harapan baru generasi Islam. Ditambah lagi, kondisi pendidikan Islam yang jauh dari aturan Islam di tengah gempuran sistem liberal yang mengatasnamakan kebebasan sedang merusak generasi Islam.

"Rohis meminimalisir dampak kerusakan bahkan memelopori komunitas pemuda yang beridentitas Islam di tengah gempuran identitas sekuler liberal, bahkan Rohis bisa turut menjadi bagian penting gerbong kebangkitan Islam,” kata Iffah.

Dalam perkembangan faktual sekarang, justru Islamlah yang dibutuhkan dalam sistem pendidikan sekarang, karena pendidikan sekuler sekarang jelas-jelas semakin banyak menghasilkan kebobrokan.

”Di antaranya tidak adanya semangat mendalami dan menguasai ilmu apalagi mengembangkan. Akhlak dan perilaku liberal, muncul banyak masalah baru di kalangan anak muda. Bunuh diri, plagiarisme, duta ide liberal, tren artis, aborsi remaja, narkoba, tawuran, dan lain-lain. Kondisi ini sangat membutuhkan Islam,” jelas Iffah.

Pernyataan pengawasan terhadap Rohis, menurut Iffah, dapat menjauhkan pendidikan Islam. Hal tersebut bisa memperburuk kondisi pelajar dan pendidikan saat ini. Bahkan mungkin juga bisa menghasilkan generasi yang justru antipati terhadap Islam.

Praktisi pendidikan SM Pertiwiguno mengatakan, Islam sangatlah berperan penting dalam ilmu dan pendidikan. Tidak ada dikotomi ilmu agama dan ilmu umum, semuanya terkait. Dan kalau ditanya seberapa pentingnya Islam dalam ilmu dan sistem pendidikan, kita tanya kembali seberapa inginnya Anda bahagia?” ungkapnya.

Menurutnya, ketika kita mempelajari ilmu Islam dan memakai sistem pendidikan Islam itulah jalan kebahagiaan yang sebenarnya. ”Itulah pentingnya pendidikan Islam, untuk menemukan sebuah kebahagiaan dalam menuntutut ilmu, yah kalau salah milih jalan kita nanti tidak akan bahagia," kata Kepala Sekolah salah satu sekolah Islam di kota Bogor tersebut. []fatihsholahuddin

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 200
---

Seruan Menteri Agama Kok Batasi Dakwah Islam?



Mengatasnamakan kerukunan dan persatuan bangsa, Kementerian Agama Republik Indonesia mengeluarkan seruan mengenai ketentuan ceramah agama di rumah-rumah ibadah. Beberapa seruannya yaitu materi yang disampaikan tidak mempertentangkan unsur SARA (suku, agama, ras, antargolongan) yang dapat menimbulkan konflik, mengganggu kerukunan ataupun merusak ikatan bangsa.

Lalu, yang disampaikan tidak bermuatan penghinaan, penodaan, dan/atau pelecehan terhadap pandangan, keyakinan dan praktek ibadah antar/dalam umat beragama, serta tidak mengandung provokasi untuk melakukan tindakan diskriminatif, intimidatif, anarkis, dan destruktif. Selain itu, materi yang disampaikan tidak bermuatan kampanye politik praktis dan/atau promosi bisnis.

Seruan tersebut merupakan tiga dari sembilan seruan yang ditulis dan ditandatangani Menteri Agama Lukman Hakim.

Menanggapi seruan tersebut, Ketua DPP Hizbut Tahrir Indonesia Rokhmat S. Labib mengatakan bahwa yang menjadi parameter seruan agama terutama Islam adalah hukum Islam itu sendiri. ”Mestinya hukum yang dibuat manusia itu disesuaikan dengan hukum dari Allah SWT, bukan malah kemudian anjuran yang membatasi,” ungkapnya saat dihubungi Media Umat.

Labib menjelaskan, perkara seperti ceramah di rumah ibadah teruntuk umat Muslim seperti khutbah Jum’at adalah bagian dari ibadah. "Yang pertama harus dipahami bahwa khutbah itu adalah bagian dari ibadah dalam Islam, jadi tanpa khutbah, shalat Jum’at tidak sah,” jelasnya.

Karena itu khutbah ini bagian dari Islam, lanjutnya, semestinya pengaturan khutbah itu dikembalikan ke dalam Islam itu sendiri, bukan kepada pengaturan siapapun, termasuk menteri agama. Andai ada pengaturan maka pengaturan tersebut tidak boleh bertentangan dengan Islam.

”Sebenarnya dalam khutbah sudah jelas yang harus disampaikan adalah wasiat takwa kepada Allah SWT. Apa itu? Wasiat takwa adalah menjalankan semua perintah Allah dan menjauhi semua yang dilarang Allah, atas dasar keimanan dan keinginan untuk mendapatkan ridha Allah SWT," ungkap Labib.

Maka semestinya khutbah Jum'at itu harus menyampaikan perintah-perintah Allah, dan ketika berbicara perintah Allah itu tidak ada batasan. ”Jangan sampai ada anjuran seperti ini "silahkan lakukan perintah Allah kecuali yang bertentangan dengan hukum manusia”. Kalau begitu di mana dong ketakwaannya?” kata Labib.

Labib juga menambahkan, khutbah adalah nasihat kepada kaum Muslim, terutama terhadap penguasa Muslim. Oleh karena itu, khutbah itu tidak boleh dibatasi hanya yang dianggap baik-baik saja.

"Maksudnya, tidak boleh dibatasi dengan apa-apa yang bertentangan dengan penguasa, justru penguasa inilah yang juga harus dinasihati untuk menerapkan hukum Allah, bukan malah membiarkan dan membenarkan penguasa yang bertentangan dengan hukum Islam,” tegasnya.

Maka jelas anjuran [menteri agama] seperti itu, menurut Labib, malah akan menjadi masalah. "Ya ini kan sebenarnya gara-gara ada anggapan bahwa rumah ibadah itu menjadi tempat menyebarkan ujaran kebencian untuk kelompok lain, digunakan untuk menyebarkan inteloransi. Ini kan sama seperti menuduh bahwa rumah ibadah dan khatib menjadi sumber masalah,” katanya. []fatihs

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 196
---

SMS/WA Berlangganan Tabloid Media Umat: 0857 1713 5759

Kibarkan Panji Islam Kok Dianggap Anti Keberagaman


Sosialisasi bendera Rasulullah SAW atau panji Islam merupakan langkah yang sangat bagus, mengingat akhir-akhir yang lalu sebagian umat Islam merasa asing, takut dan ngeri yang akhirnya memandang negatif, mengaitkan dengan kekerasan dan terorisme terhadap panji dan bendera umat Islam ini. Begitulah opini yang dinginkan oleh musuh-musuh Islam agar umat Muslim jauh, jauh, terus menjauh dari ajaran Islam.

Alhamdulillah, rangkaian awal sosialisasi #PanJiIsIam beserta #IndonesiaMoveUp di beberapa daerah di Indonesa sebagai pemanasan kegiatan kolosal Masirah Panji Rasulullah SAW (Mapara), sedikit banyaknya telah mengubah paradigma salah yang dihembuskan musuh-musuh Islam. Terlihat umat begitu antusias berfoto dan melakukan pawai (masyirah) tanpa rasa takut lagi dengan membawa bendera dan panji Islam. Bendera (liwa) berwarna putih dan panji (rayah) berwarna hitam terdapat kalimat syahadah di dalamnya adalah milik kita, milik umat Islam, benderanya negara (daulah) Islam.

Tentu saja musuh Islam meradang, tidak tinggal diam melihat umat yang damai dan bangga mengibarkan panji Islam tersebut. Melalui editorial di salah satu media cetaknya, pada 29 Maret 2017 mereka menuliskan serangan tersebut.

”Antikeberagaman kian tak terkendali ketika pola pikir yang keliru itu dipaksakan dalam kontestasi politik. Agama yang suci dan sakralpun dibajak lalu dijadikan amunisi untuk menghabisi lawan yang ujung-ujungnya hanya untuk meraup kekuasaan Pilkada DKI Jakarta merupakan contoh gamblang gambaran yang terang benderang betapa anti keberagaman betul-betul menjadi acaman tingkat dewa. Tak cuma orang dewasa, anak-anak telah pula terpapar virus jahat itu. Dalam video yang bertagar #IndonesiaMoveUp yang belakangan di medsos, misalnya beberapa anak berseragam sekolah dasar dengan penuh semangat meninggikan panji-panji agama tertentu.”

Sungguh itu tuduhan yang tidak benar. Pertama, Islam adalah satu agama yang universal, mengatur seluruh aspek kehidupan manusia mulai dari masalah ibadah ritual, cara berpakaian, makanan, ekonomi, sosial, budaya seluruhnya, hingga politik pun ada tatacaranya dalam Islam, lebih tepatnya, Islam adalah sebauh mabda' (ideologi).

Memang Islam adalah agama yang suci, bukan dipaksakan tapi memang mengatur perpolitikan. Seperti halnya ungkapan Imam Al-Ghazali, "Agama dan kekuasaan adalah seperti dua orang saudara kembar, keduanya tidak bisa dipisahkan. Jika salah satu tidak ada maka yang lain tidak akan berjalan dengan sempurna. Agama adalah pondasi sementara kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu tanpa adanya pondasi akan rusak dan jika tidak dijaga akan hilang."

Kedua, panji Islam adalah bagian dari ajaran Islam, memang sepantasnya setiap umat Islam memahami, mengetahui panji Rasulnya dan ditanamkan rasa cinta terhadap Allah SWT dan Rasul-Nya, merupakan hal yang seharusnya ditanamkan sejak usia dini.

Ketiga, sesungguhnya panji Islam terdapat kalimat tauhid, kalimat yang mempersatukan umat Islam sebagai satu kesatuan tanpa melihat lagi keanekaragaman bahasa, warna kulit, kebangsaan ataupun mazhab dan paham yang ada di tengah umat Islam. Imam Abdul Hayyi Alkattani mengatakan bahwa jika suatu kaum berhimpun di bawah satu bendera artinya bendera itu menjadi tanda persamaan pendapat kaum tersebut (ijtima'i kalimatihim) dan juga tanda persatuan hati mereka (ittihadi qulubihim). Dengan demikian kaum itu akan menjadi bagaikan satu tubuh dan akan terikat satu sama lain dalam satu ikatan kuat persaudaraan.

Keempat, kenapa pengibaran panji Islam ini dibenturkan dengam Pilkada DKI Jakarta khususnya dan dianggap mendiskriminasikan Ahok? Ini kegagalfokusan yang sangat parah. Ahok sudah jelas dari awal adalah tersangka atas pelecehan atau penghinaan Al-Qur’an, sudah jelas harus dihukum. Kenapa kondisinya saat ini umat malah yang disalahkan? Sekenarionya seperti tak cukup jika sekedar berupaya membersihkan nama Ahok si penista tapi juga harus mampu membekuk umat Islam hingga berbalik menjadi tersangka.

Silakan sebagai umat yang cerdas tentu mampu menimbang perkara ini dengan benar. Sungguh mengherankan, tuduhan antikeberagaman adalah tuduhan tanpa dasar dan merupakan bentuk kebencian yang nyata terhadap Islam.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 196
---

Sebut Umat Islam Ancaman, Kapolri Bikin Gaduh


ideologi Islam umat Islam

Bukannya mendinginkan suasana, pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian justru menimbulkan kegaduhan. Saat berpidato di depan Rapat Pimpinan Polri 2017 di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta Selatan, Rabu (25/1) ia menyebut aksi damai umat Islam 411 dan 212 berpotensi menggerus kebhinnekaan dan mengancam persatuan NKRI.

”Dua peristiwa penting Aksi 411 dan Aksi 212 walau ditangani dengan baik tapi menimbulkan indikator yang harus diwaspadai bersama. Ini menggerus toleransi, kebhinekaan dan berbahaya bagi NKRI,” kata Tito. Tito juga mengatakan bahwa intoleransi keberagaman menjadi tantangan sendiri bagi institusi Polri.

Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia M Ismail Yusanto menyayangkan pernyataan Kapolri itu. Menurutnya, pernyataan tersebut malah akan menimbulkan kegaduhan baru dan menyakiti masyarakat.

”Saya pikir ini yang tidak boleh terus terjadi, sebab kalau terus dilakukan Kapolri. seperti itu, justru dia menyakiti masyarakat,” ungkapnya kepada Media Umat.

Sikap Kapolri membuat heran banyak pihak, kenapa aksi yang begitu damai dan tertib bahkan Kapolri pun menunjukkan apresiasi kepada para peserta aksi, sekarang malah membuat pernyataan yang terkesan sebaliknya.

”Jadi gak ngerti saya, kenapa Kapolri yang bersikap apresiatif terhadap aksi, kok terakhir-terakhir ini melontarkan pernyataan sebaliknya,” jelas Ismail.

Padahal aksi yang berlangsung damai tersebut murni hanya menuntut keadilan, yang diakibatkan kelambanan proses hukum terhadap kasus penistaan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Ahok.

"Aksi itu tidak akan terjadi andai Ahok diproses hukum sebagaimana pelaku penistaan agama sebelum-sebelumnya. Karena itu sungguh aneh kalau dikatakan bahwa aksi ini menimbulkan atau didorong sikap intoleransi,” kata Ismail.

Menurut Ismail, justru tindakan menista agama dan Al-Qur’an itu adalah bentuk intoleransi. "Atau mereka yang melindungi penista Al-Qur’an itulah yang mempertahankan intoleransi atau menimbulkan sikap intoleransi,” ungkapnya.

Dan pada aksi damai 212, turut hadir Presiden Jokowi lalu memberikan pidato singkat. Dalam pidato tersebut secara langsung Presiden berterima kasih dan menunjukkan sikap respek.

”Bagaimana bisa aksi itu dikatakan menimbulkan intoleransi. Kalau begitu berarti secara tidak langsung Kepolisian atau Kapolri menuding Presiden berterima kasih terhadap aksi yang menimbulkan intoleransi,” kata Ismail.

Sikap inkonsistensi Kapolri menunjukkan adanya tekanan besar dari negara atau oknum-oknum tertentu yang memang menentang dari awal bentuk persatuan Islam. ”Ya pasti ada angin lain yang bertiup yang membuat dia melontarkan pernyataan seperti itu," ujar Ismail.

Seperti tudingan tidak berdasar Luhut Binsar Pandjaitan yang menyebut bahwa aksi-aksi besar itu digerakkan oleh kelompok radikal. Padahal aksi-aksi tersebut dihadiri oleh berbagai elemen, seperti Kapolri, bahkan Presiden sendiri. "Nyatanya Kapolri terbawa arus itu,” pungkas Ismail. []fatihsholahuddin

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 190
---

Waspadai Serangan Cina Rusak Holtikultura Indonesia



Lima ribu batang pohon cabai segar, dua kilogram benih cabai dan satu kilogram benih bawang daun dan sawi hijau berubah menjadi abu setelah dibakar di incinerator (tabung pemusnahan) Kamis (8/12/2016) di Kantor Instalasi Karantina Balai Besar Karantina Pertanian Soekarno-Hatta (IKBBKP SH), Tangerang, Banten.

Pemusnahan tersebut merupakan buntut dari ditangkapnya empat warga negara Cina yang tengah bercocok tanam di bukit terpencil Sukadamai, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, pada 10 November 2016 lalu.

Bukan saja bercocok tanam secara ilegal, berdasarkan hasil uji laboratorium yang diterbitkan oleh Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian pada 24 November 2016, ternyata benih yang mereka tanam pun positif terinfeksi bakteri Erwinia chrysantemi, organisme pengganggu tanaman karantina (OPTK) A1 golongan 1 dan sangat membahayakan produksi nasional petani cabai Indonesia.

”Belum ada di Indonesia dan tidak dapat diberikan perlakuan apapun selain pemusnahan,” ujar Kepala Pusat Karantina Tumbuhan dan Keamanan Hayati Nabati Antarjo Dikin.

Menurut Ketua Lajnah Siyasiyah DPP Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) Yahya Abdurrahman, ditemukannya warga negara Cina yang bercocok tanam cabai harus disikapi. Apalagi WN Cina melakukannya secara ilegal sebab visa mereka adalah visa kunjungan dan sudah lewat masa berlakunya. Kasus adanya WN Cina yang tetap tinggal secara ilegal itu sudah terjadi sebelumnya. Imigrasi Bogor juga telah merazia puluhan WN Cina yang menyalahi visanya.

”Kasus serupa mungkin saja juga terjadi di daerah-daerah lain,” ungkapnya kepada Media Umat, Ahad (11/12/2016).

Kasus ini, menurut Yahya, memberi sinyal bahwa serbuan warga Cina ke negeri ini bukan hanya isapan jempol. Warga Cina yang masuk itu bukanlah tenaga ahli yang belum ada di negeri ini. Jika melihat kasus-kasus yang ada membuktikan WN Cina itu banyak buruh kasar, kuli di proyek-proyek yang didanai dari Cina, dan sekarang petani yang menanam cabai, maka serbuan WN Cina itu jelas menjadi masalah.

Sebab negeri ini tidak kekurangan tenaga kasar untuk bekerja sebagai buruh pabrik, kuli proyek dan sejenisnya. Negeri ini juga tidak kekurangan petani, apalagi hanya untuk menanam cabai.

“Apa yang mereka lakukan itu sudah kriminal dan berpotensi membahayakan,” tegasnya.

Lebih berbahaya lagi, ternyata cabai yang mereka tanam membawa bakteri berbahaya yang belum ditemukan sebelumnya di negeri ini. Sebab bakteri berbahaya itu bisa saja menyebar seandainya tidak keburu diketahui.

”Kasus itu harus diusut tuntas. Jika ada kesengajaan dari mereka untuk menyebarkan bakteri berbahaya itu, maka itu benar-benar membahayakan,” tegasnya.

Jika benar benih cabai itu mereka bawa, itu menjadi indikasi bahwa tindakan itu telah mereka rencanakan sebelumnya.

Juga harus diusut, apakah mereka itu hanya petani biasa atau elemen tertentu misalnya elemen intelijen atau lainnya yang disuruh oleh pihak-pihak tertentu dari tempat asal mereka.

”Harus diwaspadai bahwa cara-cara itu mungkin saja merupakan bagian dari cara-cara perang modern. Perang modern untuk merusak sumber daya negeri target, dalam hal ini merusak potensi hortikultura. Sebab bisa saja, bakteri itu berbahaya tidak haya untuk cabai yang sudah dikembangkan di negeri ini, tetapi juga berbahaya untuk tanaman-tanaman lain,” ungkap Yahya.

Jika benih itu bisa lolos, maka ada masalah di pemeriksaan orang asing dan barang bawaan mereka di bandara atau di pintu-pintu masuk negeri ini.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 187
---

Ekonomi Indonesia 2017 Diprediksi Paceklik



Tahun 2016 adalah tahun pancaroba, cuaca ekonomi dunia tidak menentu, harga minyak naik-turun, nilai tukar dolar terhadap mata uang asing naik-turun, harga komoditas beberapa naik namun sebagian besar turun. Namun pada saat yang sama utang perusahaan global meningkat. Utang negara-negara juga meningkat. Bunga utang juga meningkat.

"Situasi pancaroba pada tahun 2016 akan berubah menjadi paceklik pada tahun 2017,” ungkap pengamat ekonomi dan politik Salamuddin Daeng kepada Media Umat, Ahad (1/1/2017).

Menghadapi situasi ini beberapa negara telah melakukan langkah radikal dengan mengevaluasi secara mendasar kebijakan ekonominya. Inggris -sebagai sebuah kekuatan ekonomi dunia yang paling berpengaruh- telah melakukan langkah kontroversial yakni keluar dari Brexit.

”Ini berarti Inggris sudah tidak lagi terikat kesepakatan perdagangan bebas dengan Uni Eropa dan tidak ikut terlibat menanggung risiko krisis yang akan dihadapi EU,” ungkapnya.

Sementara Amerika Serikat sebagai kekuatan ekonomi paling besar di dunia telah memilih Donald Trump sebagai presiden yang akan membawa negara tersebut dalam kebijakan yang proteksionisme.

“Donald Trump dalam berbagai pernyataannya menyatakakan akan melakukan tindakan balasan terhadap Cina dengan memberi tarif yang tinggi bagi perdagangan Cina di AS dan akan menarik perusahaan-perusahaan yang menggunakan fasilitas perbankkan AS kembali ke AS," ungkapnya.

Ekonomi Cina terus mengalami kemorosotan yang besar, dan terus berlanjut dari pertumbuhan double digit menjadi hanya satu digit. Pertumbuhan ekonomi Cina tahun 2017 diprediksi hanya 6,5 persen menurut perkiraan resmi pemerintah. Banyak analis menyebutkan bahwa jika pernyataan resmi pemerintah demikian maka pertumbuhan yang sebenarnya jauh lebih rendah. Padahal pada tahun 2010 pertumbuhan ekonomi Cina mencapai 10,61 persen.

“Jika Amerika serikat melancarkan proteksi kepada Cina maka pertumbuhan ekonomi Cina akan jauh merosot pada tahun 2017 mendatang,” prediksi Daeng.

Untuk mencapai tingkat pertumbuhan yang direncanakan maka Cina terus berusaha memburu pasar di luar Cina baik dalam rangka ekspansi investasi, perdagangan, keuangan, dan tenaga kerja mereka yang menganggur akibat pelemahan pertumbuhan ekonomi yang besar.

"Itulah mengapa banyak negara di dunia, khususnya di negara-negara tetangga Cina termasuk ASEAN mulai mengeluhkan ekspansi tenaga kerja Cina besar-besaran ke dalam negeri mereka,” terangnya.

Sementara Indonesia, meskipun pertumbuhan ekonomi mencapai 5,0 persen pada triwulan III tahun 2016, diprediksikan tidak mampu mengatasi ancaman paceklik. Mengingat pertumbuhan tersebut paling besar disumbangkan oleh pengeluaran konsumsi (53,8 persen) dan investasi (31,6 persen). Sehingga keduanya menjadi penggerak utama pertumbuhan ekonomi Indonesia di triwulan III tahun 2016. "Namun konsumsi maupun investasi terus mengalami penurunan lantaran melemahnya daya beli masyarakat dan semakin ketatnya liquiditas global," kata Daeng.

Kondisl makro ekonomi global yang memburuk dan pelemahan dalam ekonomi Indonesia pada akhirnya akan berdampak terhadap situasi fiskal nasional yang diperkirakan tidak akan lebih baik dibandingkan dengan tahun 2016.

Bahkan tahun 2017 kondisi fiskal diperkirakan akan terus memburuk. Selanjutnya penerimaan dari sektor sumber daya alam terutama migas akan semakin memburuk. Hal ini sebabkan harga minyak pada tahun 2017 tidak akan jauh berbeda dengan harga sepanjang tahun 2016.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 188
---

Intervensi Amerika Melalui Isu ISIS



Mereka Bicara
Intervensi Amerika

Ricky Fattamazaya, Ketua Umum PP Gema Pembebasan:
Isu ISIS, Jalan Masuk Amerika

Neoliberalisasi segala lini adalah target dari ideologi kapitalis demokrasi yang dipaksakan oleh Amerika agar dapat mengeruk seluruh sumber daya alam yang ada di negeri ini. Permintaan merevisi UU Minerba membuktikan kekuatan politik Amerika atas Indonesia sangat nyata dibaca sebagai pemaksaan dan penjajahan.

Saya juga melihat sedikitnya ada dua target yang akan diwujudkan terkait rencana latihan bersama antara militer Amerika dengan militer Indonesia. Pertama, memerangi Islam bukan memerangi ISIS, lihat saja belum apa-apa simbol dan aturan-aturan Islam dikatakan sebagai pemicu lahirnya embri-embrio teroris. Kedua, jalan masuk kekuatan militer Amerika Serikat untuk memperkokoh cengkeramannya atas Indonesia. []

Anton Tabah, Anggota Komisi Hukum MUI Pusat:
Perlu Diwaspadai

Walaupun kita juga anti ISIS tetapi psikologi sosial juga harus diperhatikan. Karena kerap isu ini digeneralisir sehingga terasa seperti mendeskreditkan umat dan ajaran Islam. Psikologis bangsa kita kan seperti itu, jangan ISIS, ISIS, ISIS terus seolah-olah Islam ini jahat sekali. Padahal ISIS ini kelompok kecil saja.

Dan kalau gedung Kedubes Amerika yang baru dengan 16 ribu staf jadi, ini merupakan desain besar, termasuk penempatan 25 ribu pasukan Amerika di Darwin Australia yang jaraknya relatif dekat dengan Indonesia karena tidak sampai satu jam perjalanan udara. Ini ada mata rantai, Indonesia ini kan negara Muslim terbesar di dunia dan akhirat. Makanya perlu diwaspadai, ada agenda apa? Harusnya negarawan seperti DPR dan eksekutif mencermati betul hal hal yang seperti itu, mempertanyakan ada apa? Ini ada tali-temali politik Pentagon. Karena Amerika sangat khawatir dengan terjadinya benturan peradaban seperti yang diteorikan Samuel Huntington. []

Adhie M Massardi, Jubir Presiden era Abdurrahman Wahid:
Mencerminkan Kebodohan Pemerintah

Ajakan Amerika agar melakukan latihan militer gabungan untuk perangi ISIS di Indonesia, menurut saya, merupakan pemyataan yang tolol tapi arogan. Padahal beberapa pejabat Amerika, dan juga mantan Menlu Amerika Hillary Clinton sudah menyatakan bahwa ISIS itu produknya Amerika. Tiba tiba sekarang Amerika mengajak kita latihan militer gabungan untuk menumpas ISIS. Sebenarnya kalau Amerika mau menghentikan gerak ISIS ya hentikan saja suplai logistiknya. Kalau kita mau ikut latihan gabungan menumpas ISIS, itu mencerminkan kebodohan pemerintahan kita sendiri. []

Tun Kelana Jaya, Kantor Media Pusat (CMO) Hizbut Tahrir Asia Tenggara:
Mencegah Khilafah yang Sesungguhnya

Dengan isu ISIS, Amerika sekarang mendapatkan peluang besar untuk terus mengecohkan pemahaman kaum Muslimin dari pemahaman Islam yang sesungguhnya. Alat bantu yang paling efektif tentu saja dengan menggunakan keberadaan pasukan khusus seperti Densus 88 yang dilatih Amerika tersebut. Dengan Operasi yang dilakukan Densus 88, Amerika memberikan kepastian kepada kaum Muslimin di Indonesia bahwa ISIS itu bukan hanya ada di Irak ataupun Suriah tetapi di Indonesia. Dan Amerika meyakinkan juga ISIS di Indonesia berbahaya.

Untuk memberikan efek yang lebih besar tentu saja tidak cukup sampai di situ, harus ada dukungan kuat dari militer. Makanya, ada rencana latihan gabungan antara militer Amerika dengan TNI. Bila kita lihat dalam kacamata kesadaran politik (wa'yu siyasi), adanya latihan gabungan militer Amerika dan TNI untuk memerangi potensi-potensi besar ISIS, bukanlah ISIS-nya itu, tetapi ISIS hanya sebagai pintu masuk untuk mempengaruhi pemerintah Indonesia untuk mencegah berdirinya khilafah yang sesungguhnya. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 148, April 2015
---

Menyoroti Ancaman Global Dunia Versi Kemenlu RI



Terorisme sepertinya masih menjadi daftar utama persepsi ancaman dunia saat ini. Seperti negara-negara lain, Indonesia pun menyatakan salah satu ancaman utama global dunia adalah terorisme yang berhubungan dengan ISIS dan teroris lintas negara. Hal ini diungkap Menteri Luar Negeri Retno Marsudi dalam pernyataan pers tahunan di Kementerian Luar Negeri RI Kamis (8/1/2015).

Menurutnya, beberapa tantangan dan ancaman global dunia yang dihadapi Indonesia pada tahun 2015 antara lain ancaman terorisme seperti munculnya ISIS (Islamic State of Iraq and al-Sham) dan foreign terrorist fighters (FTF), kejahatan narkoba, dan wabah Ebola. Sementara dalam bidang ekonomi, Kemenlu RI menyoroti krisis ekonomi dan keuangan global dunia yang belum menunjukkan pemulihan yang sempurna.

Rumusan persepsi ancaman versi Kemenlu RI jelas masih membebek pada negara-negara Barat yang selalu menjadikan terorisme menjadi ancaman utama mereka.

Bagi Barat, menjadikan terorisme sebagai ancaman global adalah sangat penting dalam mengokohkan kepentingan penjajahan negara-negara imperialis Barat di dunia. Isu perang kontra terorisme digunakan sebagai alat politik untuk menarik sebanyak mungkin dukungan negara-negara di dunia dengan dalih melakukan kerjasama internasional. Dengan alasan memerangi terorisme, Barat melakukan intervensi terhadap negara-negara lain menutupi maksud jahat penjajahan mereka sebenarnya.

Monsterisasi ancaman ISIS kemudian menjadi isu penting, pasca menurunnya pamor al-Qaeda yang sebelumnya dijadikan musuh nomor satu negara-negara Barat. Berbeda dengan al-Qaeda, isu ISIS juga digunakan oleh Barat untuk membangun stigma negatif terhadap negara Islam, khilafah, dan syariah. Padahal ISIS sendiri tidak bisa mewakili sistem khilafah 'ala minhajin nubuwah. Apalagi dalam beberapa aspek tindakan tandzim ISIS justru bertentangan dengan syariah Islam.

Membangun citra negatif terhadap khilafah dan syariah ini penting, sebab negara-negara Barat menyadari adanya keinginan yang kuat dari negeri-negeri Islam untuk menegakkan khilafah yang akan menerapkan syariah Islam secara totalitas. Namun, upaya Barat ini dipastikan gagal, karena semakin kuatnya kesadaran politik masyarakat akan segala makar negara-negara Barat.

Menjadikan terorisme dan ISIS sebagai ancaman global, jelas merupakan bentuk kepatuhan politik luar negeri Indonesia kepada Barat dan sebuah kesalahan fatal dalam perumusan persepsi ancaman global.

Pasalnya, ancaman terbesar dunia saat ini, justru adalah ideologi kapitalisme yang diemban oleh negara! negara imperialis Barat. Untuk mengokohkan kapitalisme dunia, negara-negara Barat menggunakan metode yang baku (tetap) yaitu penjajahan dalam berbagai bentuk, baik ekonomi, politik, sosial, maupun budaya.

Berbagai konflik dan perang di dunia, tidak lain merupakan buah dari kebijakan kapitalisme ini. Amerika Serikat dan negara imperialis Barat yang lain, kerap merancang berbagai kerusuhan, makar, adu-domba, di satu kawasan untuk menciptakan instabilitas. Setelah itu mereka melakukan intervensi dengan alasan untuk menjaga perdamaian. Seperti yang dilakukan di Pakistan, Yaman, dan Irak.

Krisis ekonomi dunia juga tidak bisa dilepaskan dari keserakahan negara-negara imperialis. Kebijakan ekonomi liberal seperti pasar bebas, perdagangan bebas, kebebasan investasi, rezim mata uang dolar, privatisasi BUMN, dan utang luar negeri, menjadi sarana penjajahan ekonomi. Dengan kebijakan neoliberal, Barat sukses merampok kekayaan alam dan memiskinkan penduduknya. Semua ini kemudian dilegalkan oleh negara yang terjajah melalui produk UU yang dilahirkan dari sistem demokrasi yang dikuasai pemilik modal. Seharusnya, ideologi kapitalis inilah yang dijadikan menjadi musuh nomor satu dunia termasuk oleh Indonesia.

Seharusnya, Amerika Serikat dan sekutu-sekutu imperialisnyalah yang menjadi ancaman utama dunia. Bukankah negara ini yang bertanggung jawab atas tertindasnya lebih dari 1 juta rakyat Irak akibat pendudukan Amerika, terbunuhnya ribuan umat Islam oleh pesawat tanpa awak Amerika di Pakistan dan Afghanistan? Bukankah negara ini pula yang mendukung penuh entitas penjajah Yahudi saat membantai ribuan umat Islam di Gaza tahun lalu? Bukankah negara-negara imperialis ini yang mendukung rezim-rezim kejam di dunia Islam seperti Husni Mubarak, As-Sisi, Karimov, Assad, Khadafi yang telah membunuh rakyatnya sendiri?

Tentu saja, untuk menghadapi negara-negara kapitalisme global ini, dibutuhkan negara global dengan ideologi global juga. Di sinilah letak penting, kenapa umat Islam membutuhkan negara khilafah. Negara global ini akan menjadi payung pemersatu dan perisai pelindung umat Islam dengan ideologi Islamnya. Negara Khilafah ini, insya Allah akan segera tegak menggantikan negara kapitalisme global. Kalau pemimpin-pemimpin negara teroris dunia bisa berbaris rapi dan bergandeng tangan membela demokrasi dalam solidaritas terhadap Charlie Hebdo di Paris baru-baru ini, kenapa kita tidak bisa bekerjasama dan bergandeng tangan untuk menegakkan khilafah? Allahu Akbar!

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 143, Januari-Pebruari 2015
---

Apa Puasa Tak Boleh Kritik Penguasa?


Katanyaa PUASA NDAK BOLEH KRITIK JOKOWI

Assalamualaikum..
Ini salah satu klaim dari Koordinator Pemuda Aswaja. Namanya Nur Khalim. Dia ngomong begini kepada suaranasional, Jumat 26-05-2017
“Puasa akan sia-sia tidak dapat pahala ketika di bulan Ramadhan cuma menggunjing termasuk mengkritik dan menjelekkan pemerintahan Jokowi. Bulan puasa harus banyak melakukan ibadah. Baca Al Quran, tarawih, termasuk kerja itu ibadah.."

Huhuy! Semenjak kapan puasa ndak boleh kritik penguasa? Dalilnya opo toh pak?
Emang sih om, bulan puasa ntuh harus banyak-banyak ibadah, baca quran dan tarawih. Tapi kok di persempitkan area amalannya?

Gini pak, biar anda ndak gagal fokus, maksud saya, biar anda ntuh ndak gagal paham, ta kasih contoh ringan yang mudah di pahami.
Kalau di bulan puasa, trus ada yang berzina di depan rumah anda. Apa ndak boleh di kritik?
Seandainya, istri anda buka aurat saat bulan puasa, atau anak anda berantem dengan anak tetangga, apa ndak boleh di kritik atau dinasehati?

Umpamanya, kalau tetangga anda berjudi dan mabuk-mabukkan di lingkungan anda saat puasa, apa ndak boleh di nasehati atau mengkritik perbuatannya itu?
Jika anda bilang " Boleh " apakah mengurangi pahala puasa anda? Tentu ndakkan? Justru pahalanya berlipat ganda toh, karna di bulan puasa anda sedang menjalani printah yang di wajibkan oleh Allah swt. Yaitu Dakwah! Atau Amar ma'ruf nahyi mungkar.

Nah kalau anda jawabnya " Ndak boleh " mengkritik penguasa atau dinasehati atau di dakwahi jokowi. Justru puasa anda itu yang ndak berpahala, karna membiarkan kemungkaran yang terlihat di depan mata anda. Sebab membiarkan atau mendiamkan kemungkan itu adalah kemungkaran yang sebenarannya.

Nabi saw bersabda:
“Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, hendaknya kalian benar-benar mengajak kepada yang ma’ruf dan benar-benar mencegah dari yang munkar atau jika tidak, niscaya Allah akan mengirimkan hukuman/siksa kepada kalian sebab keengganan kalian tersebut, kemudian kalian berdo’a kepada-Nya namun do’a kalian tidak lagi dikabulkan.” (HR. Tirmidzi dari Hudzaifah ibn al-Yaman, hadits no. 2095)

Hadist ini bentuknya umum, ndak di tentukan waktu dan tempatnya. Mau bulan puasa kek, bukan bulan puasa kek, mau rakyat jelata kek, mau penguasa kek. Wajib mencegah kedzaliman, kemaksiatan dan kemungkaran. Jika anda ndak melakukannya. Monggo, telan ntuh hadist di atas.
Justru di bulan puasa seperti ini lah kita giat mendakwahkan islam, mengkritik kebijakan penguasa, amar ma'ruf nahyi mungkar harus di tingkatkan berlipat ganda, biar pahalanya banyak.
Waktu Rasulullah, sahabat nabi dan para khalifah dulu kala. Saat puasa gini mereka gencar mendakwahkan islam, membongkar konspirasi bahkan berjihad untuk membebaskan manusia-manusia yang tertindas oleh penguasa dzalim.

Tercatatlah sejumlah peristiwa penting di bulan suci ini:
Perang Badar Kubra yang terjadi pada tanggal 17 Ramadhan 2 H/14 Maret 624 M.
Pembebasan Kota Makkah, dan jatuhnya kota suci ini ke tangan kaum Muslim tanpa darah, pada bulan Ramadhan 8 H/630 M.

Pengiriman Detasemen Sa’ad bin al-Asyhali untuk menghancurkan berhala Manat, pada tanggal 24 Ramadhan 8 H/630 M. Juga Detasemen Khalid bin al-Walid untuk menghancurkan berhala Uzza, pada tanggal 25 Ramadhan 8 H/630 M. Juga Detasemen ‘Amru bin al-‘Ash untuk menghancurkan berhala Sawa’, pada bulan dan tahun yang sama.

Perang Buwaib, kalum Muslim melawan bangsa Persia, di bawah pimpinan al-Mustni bin Haritsah, pada hari-hari terakhir bulan Ramadhan 13 H/633 M.
Dimulainya pengepungan Benteng Babilonia Mesir oleh tentara ‘Amr bin al-‘Ash pada akhir bulan Ramadhan 19 H/640 M.

Semenanjung Rodesia dikuasai oleh kaum Muslim pada zaman Khalifah Mu’awiyah bin Abi Sufyan, pada Ramadhan 53 H/674 M.
Penumpasan pasukan Bughat al-Mukhtar bin ‘Ubaid, pimpinan Sekte Khawarij, dan terbunuhnya sang pemimpin, tanggal 14 Ramadhan 67 H/687 M.

Pasukan Tharif bin Malik, dari Khilafah ‘Amawiyyah, tiba di pesisir Pantai Spanyol pada bulan Ramadhan 91 H/710 M.
Perang Balath as-Syuhada’, pada zaman Khalifah Hisyam bin ‘Abdul Malik, antara kaum Muslim dengan bangsa Perancis. Disebut Balath as-Syuhada’, karena banyaknya kaum Muslim yang gugur sebagai syuhada’. Tepatnya pada bulan Ramadhan 114 H/732 M.

Kemenangan Shalahuddin al-Ayyubi terhadap pasukan kaum Salib pada bulan Ramadhan 584 H.
Malik al-‘Adil telah berhasil menghalau kosentrasi pasukan kaum Salib di Kota Shuwar pada bulan Ramadhan tahun 595 H.
Proklamasi kemerdekaan Indonesia dari penjajahan Portugis, Belanda, Inggris dan Jepang tanggal 17 Agustus 1945 M/17 Ramadhan 1367 H.
Nah, siapa bilang aktivitas bulan puasa hanya untuk ibadah mahdah saja? Siapa bilang bilang di bulan puasa mengkritik kebijakan jokowi yang menyengsarakan rakyat mengurangi pahala puasa? Hanya orang yang gagal paham dan miskin ke ilmuan yang berkata demikian.

Bagaimana mungkin mengkritik kedzaliman, mendakwahkan kebenaran, menasehati atau amar ma'ruf nahyi mungkar di bulan puasa di sebutkan ndak berpahala? Dalilmu opo toh kang.. kang..!?
Trus, kalau pemerintah jual aset negara saat bulan puasa dibiarin gitu? Kalau pejabat negara korupsi di bulan puasa di biarin gitu? Ini yang saya sebut Men Sekularisasikan Ramadhan. Satu sisi anda berpuasa, satu sisinya lagi anda membiarkan kedzaliman penguasa. Anda waras!?
Jadi jangan samakan fakta menggunjing dan mengKritik. Keduanya memang terlihat sama, namun hukum dan dalilnya berbeda.

Pepatah klasik mengatakan:
Membiarkan kejahatan di depan mata adalah kejahatan sesungguhnya.
Membiarkan kedzaliman adalah kedzaliman itu sendiri.
Mendiamkan kemaksiatan adalah setan yang bisu.
Camkan ini pak!
#AdiRevolter

sumber: fb

Ancaman Komunisme Global


Komunisme merupakan ideologi sosial, politik, dan ekonomi yang saat ini menjadi landasan sejumlah negara di dunia seperti Republik Rakyat Cina, Kuba, Vietnam, Korea Utara, dan Rusia (dulu Uni Soviet).

Secara teoritis, komunisme ialah paham anti-kapitalisme yang memperjuangkan kesejahteraan ekonomi. Ideologi ini menentang kepemilikan akumulasi modal oleh individu yang memunculkan sistem kelas, yakni kelas borjuis sebagai kaum pemilik modal serta kekuasaan, dan kelas proletar sebagai kaum pekerja.

Adanya kelas-kelas tersebut, menurut kaum komunis, memunculkan kesenjangan kelas dan ketidakadilan bagi kaum proletar. Mereka berpandangan, kekayaan atau modal sejatinya milik rakyat dan oleh karenanya seluruh alat produksi harus dikuasai negara demi kemakmuran rakyat secara merata (komunal).

Pasca runtuhnya Uni Sovyet tahun 1990-an, komunisme dianggap bukan lagi ancaman global. Perang Dingin dianggap usai. Perang baru di mulai, dengan War on Terrorism, yang katanya adalah peperangan melawan “teroris”, pada kenyataannya yanng diperanngi adalah Islam dan umat Islam yang memegang teguh seluruh ajaran agamanya. Seperempat abad berlalu, kini Cina, negara komunis yang bercampur kapitalisme, mulai menggeliat menjadi penantang baru bagi hegemoni Amerika Serikat. Walau muncul dengan bungkus state-capitalism, paham komunisme sangatlah lekat dengan negara tirai bambu ini.

Komunisme Cina dibangun dengan modifikasi dari induknya. Mengandalkan kekuatan petani di pedesaan dan kalangan buruh di perkotaan. Cina berhasil memadupadankan proletarianisme komunis dengan praktek ekonomi dan teknologi ala Barat.

Walau demikian, partai komunis menjadi partai penguasa yang mengontrol secara ketat kehidupan politik warganya. Pemberangusan lawan politik menjadi ciri utama, sebagaimana yang diIakukan terhadap upaya pembebasan Tibet atau penindasan terhadap umat Islam di Uighur.

Cina menjadi penantang Barat secara ekonomi. Dengan terang-terangan Cina berulang menyatakan ketidaksependapatannya dengan regulasi ekonomi global yang ditopang oleh IMF, World Bank dan WTO. Bahkan Cina menggalang kekuatan baru dengan negara lain, seperti membentuk BRICS (Brazil, Russia, India, China, South Africa). Secara praktis, Cina juga getol melakukan hubungan dagang dan investasi di negara-negara Afrika, Amerika Latin, dan Asia.

Di Laut Cina Selatan, Cina dengan sengaja melakukan klaim teritorial, sehingga menimbulkan ketegangan dan sengketa dengan negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Persinggungan-persinggungan kerap terjadi dengan negara-negara di kawasan tersebut, terutama yang sebelumnya telah memiliki hubungan keamanan yang erat dengan Amerika Serikat seperti Thailand dan Filipina. Hal ini mendorong Amerika Serikat meningkatkan patroli keamanan lautnya di kawasan tersebut. Langkah Cina ini ditengarai karena Cina berambisi menjadi negara terkuat pada tahun 2020-an, sehingga membutuhkan arena untuk menguji kekuatan militer dan alutsistanya yang kian hari kian menguat.

Walau belum menunjukkan ambisi politik secara langsung untuk melakukan ekspor paham komunismenya ke negara-negara lain, sebagaimana halnya dulu yang dilakukan oleh Uni Sovyet dengan Pan Komunismenya, namun menguatnya kekuatan Cina mesti diwaspadai karena bagaimanapun komunisme adalah sebuah ideologi tertutup yang memiliki karakteristik disebarluaskan sebagaimana kapitalisme-liberalisme.

Terlebih pemerintah Indonesia saat ini sedemikian terlihat menguatkan hubungan dengan Cina, bahkan dengan alasan yang rasionalisasinya perlu dipertanyakan. Meski beralasan politik bebas aktif, perimbangan kekuatan, namun kemandirian penduduk negeri yang tidak bergantung kepada kekuatan manapun menjadi hal yang mutlak, apalagi Indonesia adalah negeri mayoritas Muslim yang sudah semestinya menjadikan Islam sebagai dasar untuk membangun kemandirian kekuatannya. []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 174, Mei-Juni 2016
---

Pesantren Di Jayapura Dibakar?



Baru sebulan kaum Muslimin di Tolikara diserang teroris Gereja Injili di Indonesia (GIDI) sehingga menghanguskan masjid satu-satunya di daerah minoritas Muslim tersebut, kini sebuah pesantren di Jayapura dilalap si jagomerah.

Kabid Humas Polda Papua Kombes Pol Patrige Renwarin menyatakan kebakaran yang terjadi pada Senin (24/8/2015) subuh di Pondok Pesantren Al Muttaqin, Waena, Jayapura tidak ada unsur kesengajaan tetapi dugaan sementara karena hubungan arus pendek listrik (korsleting).

Namun di lapangan, Media Umat menemukan indikasi-indikasi yang menunjukkan pesantren tersebut sengaja dibakar, bukan terbakar lantaran arus pendek listrik seperti yang diberitakan sejumlah media lokal Papua yang mengutip pernyataan pihak kepolisian. ”lni dibakar bukan terbakar sebagaimana yang ramai dimuat di berita,” ungkap Kepala MA Al Muttaqin Ustadz lis Sugianto kepada Media Umat, Sabtu (29/8) di tempat kejadian perkara (TKP).

Pertama, empat hari sebelum kejadian, ada orang pribumi Papua yang tidak dikenal datang ke kantin sekolah, sambil memperhatikan keadaan sekolah kemudian ditegur sama ibu kantin, tapi orangnya malah cuek dan berlalu begitu saja.

Kedua, kalau karena korsleting mengapa lampu tetap menyala? Pada hari kejadian santri pergi shalat subuh seperti biasanya, karena malam hujan deras santri tidak memakai teras asrama dan kelas sebagai tempat belajar seperti biasanya ketika selesai shalat subuh jadinya mereka agak berlama-lama di masjid. "Dari asrama yang berjarak 15 meter ke masjid tersebut, istri saya memanggil-manggil dan memberitahukan kalau asrama Al Jundi dan ruang kelas terbakar," ujar lis.

Anehnya, sumber api pertama kali malah terlihat dari bawah alias lemari yang berisi buku-buku, dll. bukan berasal di plafon atau lainnya. ”Dan ketika terbakar justru lampu dalam ruangan kelas dan asrama tetap menyala, saya sendiri malah yang menarik kabel yang dalam keadaan menyala-nyala agar tidak terjadi kosleting listrik,” aku Ustadz Yatiman, Pimpinan Ponpes Al Muttaqin.

Ketiga, ada upaya menutup-nutupi kejadian yang sebearnya. Siang hari setelah kejadian, TKP diberi garis polisi (police line). Dan menurut salah satu sumber yang juga mengajar di pondok tersebut bahwa kesepakatan dalam rapat mereka tetap tidak merobohkan bangunan bekas terbakar.

"Tapi Bapak Walikota dan Wakil Walikota turun ke TKP dan langsung menginstruksikan bangunannya dibongkar saja, padahal seharusnya TKP dan bukti-bukti kebakaran harusnya dibiarkan tetap ada,” ujar sumber tersebut.

Dibakar Lagi

Lima hari kemudian, tepatnya pada Sabtu (29/8/2015) subuh, Al Muttaqin kembali dibakar. Kata lis, pria asal Brebes yang dibesarkan di Cirebon ini menuturkan ketika itu santri sudah selesai shalat dan sudah berada di asrama yang sekarang sudah dirobohkan, ada seorang santri melihat kobaran api yang terlihat dari sudut kantin dekat jalan (kebetulan kantinnya dekat dengan jalan), lalu mereka ramai-ramai berusaha memadamkan api tersebut.

Dan santri menemukan bukti kuat bekas orang membakar kertas yang dipakai untuk membakar plafon kantin sekolah bahkan topi si pelaku tertinggal, di samping itu tampak pagar semak berlapis kawat besi berduri, terkoyak melengkung, bekas diinjak atau disibak menggunakan alat berat. ”Untungnya, kobaran api masih kecil belum menyebar ke seluruh ruangan kantin,” ujarnya kepada Media Umat pada hari itu juga.

Namun, sampai investigasi ini ditulis, belum diketahui siapa pihak yang bertanggung jawab dalam pembakaran ini. Tapi yang jelas, ada benang merah dari dua kebakaran tersebut. ”Ini bisa ditarik benang merah, ternyata kejadian pertama ada kaitan erat dengan kejadian yang kedua, artinya kejadian pertama memang benar dibakar bukan terbakar,” pungkas lis. []

Habib Idrus Al Hamid, Ketua STAIN Jayapura

Usut Aktor Intelektualnya

Kami mempertanyakan mengapa pemerintah Kota Jayapura, sehari setelah kejadian merobohkan TKP kebakaran yang masih terpasang police line? Gambaran kita TKP yang masih dipasang police line itu, harus koordinasi dan mendapatkan persetujuan dari pihak kepolisian. Meskipun ada niat baik untuk memulihkan kembali psikologis siswa atas peristiwa, tetapi di satu sisi ada fakta lain yang memang harus kita gali. Apakah ini memang korslet atau dibakar. Kalau korslet logika apapun tidak bisa dipakai karena lampu-lampu masih nyala. Kalau dibakar, siapa pelakunya? Tapi ada hal yang lebih penting lagi, siapa aktor intelektualnya siapa? Karena seribu pelaku pun yang ditangkap tidak akan menyelesaikan masalah kalau tidak aktornya yang diangkat. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 157, September 2015
---

Stigma Radikalisme Untuk Hadang Islam



Radikalisme, Alat Barat Hadang Islam

Salah satu alasan utama BNPT memblokir situs-situs media lslam adalah menyebarkan paham radikalisme. Sayangnya, ketika BNPT diminta menjelaskan definisi 'radikal' tersebut, instansi negara ini tak bisa menjawab dengan pasti.

Dalam sebuah diskusi di Jakarta, Ahad (5/4/2015) Kepala BNPT Saud Usman Nasution menjelaskan empat kriteria situs radikal. Pertama, menyebarkan konten yang mengajak atau mengarahkan tindakan anarkis dan terorisme, kedua, mengandung unsur SARA (suku, agama dan ras), ketiga, takfiri (mengkafirkan seseorang atau kelompok), dan keempat, melakukan propaganda yang mengandung unsur kebencian, kekerasan, ancaman, anjuran berjihad yang mengharuskan pergi ke negara-negara seperti Suriah.

"Itu tolak ukur kami, tapi ini bisa dibicarakan. Bahkan diperlukan pembicaraan, karena aturannya kurang tegas, maka perlu duduk bersama, jangan saling menyalahkan,“ kata Komisaris Jenderal ini.

Anehnya, justru situs-situs yang diblokir itu jauh dari kriteria tersebut. Mahladi, pemimpin redaksi hidayatullah online -salah satu situs yang diblokir-, pun menantang BNPT membuktikan itu. "Tolong buktikan Pak, satu saja konten berita kami mengajak ke ISIS. Dia tidak bisa jawab. Lalu saya tanya, kapan kami mengkafir-kafirkan orang? Tunjukkan kontennya yang mana? itu juga tidak dijawab. Jadi, kan tidak jelas mana barang buktinya, lagian, kafir dan tidak kafir kan wilayah agama, apa haknya BNPT mempermasalahkan itu?” jelas Mahladi menceritakan pertemuannya dengan Saud Usman kepada Media Umat.

Ia pun mempertanyakan kepada pengganti Ansyaad Mbai ini tentang maksud memaknai jihad secara sempit. Ditanya soal itu, Saud menjawab: "Ngajak-ngajak perang!" Mahladi kemudian menjelaskan, justru di dalam Al-Qur,an banyak ayat yang mengajak perang.

Fahmi Salim, anggota Komisi Pengkajian dan Penelitian MUl Pusat, menyatakan ada upaya menyimpangkan makna radikal menjadi pemaksaan kehendak untuk mencapai tujuan. ”Sehingga ketika mendengar

kata radikal yang terbayang adalah berbagai tindak kekerasan, memang itulah yang sengaja dicitrakan kepada kelompok-kelompok Islam selama ini dan sekarang kepada situs-situs Islam," katanya.

Makna Radikal

Kata radikal berasal dari kata radix yang dalam bahasa Latin artinya akar. Dalam kamus, kata radikal memiliki arti: mendasar (sampai pada hal yang prinsip), sikap politik amat keras menuntut perubahan (undang-undang, pemerintahan), maju dalam berpikir dan bertindak (KBBI, ed-4, cet.l, 2008).

Bila dikembalikan kata radikal kepada pengertian asalnya, maka kata radikal adalah sebuah kata yang bersifat 'netral', tidak condong kepada sesuatu yang bermakna positif atau negatif. Positif atau negatif tergantung dengan apa kata radikal itu dipasangkan. Contoh misalnya ”Muslim radikal", maka artinya adalah seorang Muslim yang sangat memegang prinsip hidupnya sesuai dengan keyakinannya yakni agama Islam. Semua keyakinan, ucapan, dan perbuatannya dikembalikan pada Islam sebagai bentuk prinsip hidupnya.

”Memang apa masalahnya dengan radikal? Radikal itu kan artinya mengakar," kata Fahmi. Maka, media Islam pun harus mengakar pada ajaran Islam, Al-Qur'an dan Sunnah. Dengan kata Iain harus mendasar, fundamental.

lstilah inipun, lanjutnya, sering dipakai pendeta Kristen dalam khutbahnya. Mereka berkata iman harus radikal. "Lantas mengapa orang Islam tidak boleh radikal? Justru yang jadi masalah kalau mengaku Islam tetapi tidak mengakar pada akidah Islam, kalau mengaku Muslim tidak menjadikan AI Qur'an dan Sunnah sebagai fundamen,” tandasnya.

Propaganda

Hanya saja, istilah radikal itu kini digunakan oleh Barat dan musuh-musuh Islam dengan makna yang keluar dari makna sebenarnya. Istilah radikal dan teroris kemudian menjadi alat propaganda yang digunakan oleh musuh-musuh Islam kepada kelompok atau negara yang berseberangan dengan ideologi dan kepentingan Barat.

Islam radikal kemudian digunakan secara sistematis terhadap pihak-pihak yang menentang sistem ideologi Barat (kapitalisme, sekularisme dan demokrasi), yang ingin memperjuangkan penerapan syariah Islam secara kaffah, khilafah Islam, menginginkan eliminasi negara Yahudi dan melakukan jihad melawan Barat. Khusus untuk Indonesia, istilah itu dilekatkan kepada siapa saja yang (dianggap) membahayakan keutuhan dan kedaulatan NKRI.

Dosen IAIN Sunan Ampel Surabaya, Dr Imran Mawardi MA, seperti dikutip hidayatullah.com mengatakan, istilah radikalisme sengaja dibuat oleh Barat untuk menghancurkan umat Islam. Sebab, pasca keruntuhan komunisme, satu-satunya ideologi yang menjadi ancaman paling menakutkan bagi dunia Barat adalah Islam.

Inilah pangkalnya. Jadi rezim Jokowi ikut arahan Barat? []

Barat yang Biadab!

Saat ini dunia Barat di bawah pimpinan Amerika Serikat selalu menampakkan diri seolah-olah sebagai negara yang berperadaban, senantiasa menjaga perdamaian, baik hati, dan sebagainya. Padahal di balik itu, mereka sebenarnya punya 'dosa besar' terhadap dunia.

Mereka banyak menumpahkan darah umat manusia sepanjang sejarah. Bahkan kekejamannya belum ada yang menandingi sebelumnya, oleh perabadan manapun. Sudah banyak jiwa manusia yang menjadi korban kebiadaban kaum imperalis itu akibat perang dan konflik yang mereka kobarkan di seluruh penjuru dunia.

AS adalah negara Barat paling kejam dan paling tidak berperikemanusiaan. Demi dominasi kaum kulit putih untuk memperoleh tanah dan kekuasaan secara paksa di benua Amerika, mereka banyak membunuh orang suku indian. Di Amerika Utara, orang Indian yang dibunuh mencapai 100 juta orang. Sedang di Amerika Selatan, orang Indian yang dibunuh mencapai 50 juta orang. Kebiadaban serupa juga dilakukan oleh Australia, yang telah membunuh 20 juta orang suku Aborigin.

Negara-negara Barat juga harus bertanggung-jawab terhadap puluhan juta korban jiwa pada dua perang dunia di abad ke-20. Pada Perang Dunia ll (1914-1918), korban jiwa yang tewas mencapai 20 juta orang, sedang yang luka-luka mencapai 15 juta orang. Sedang pada Perang Dunia ll (1939-1945) korban tewasnya mencapai 60 juta orang. Ketika AS pada tahun 1945 menjatuhkan bom atomnya di Hiroshima dan Nagasaki (Jepang), korban yang tewas totalnya mencapai 246.000 orang, yakni gabungan korban yang tewas di Nagasaki sebanyak 80.000 orang dan di Hiroshima sebanyak 166.000 orang.

AS sangat kejam kepada umat Islam. Contohnya, saat invasi AS ke lrak pada tahun 2003. Menurut BBC jumlah Muslim yang tewas di Irak akibat invasi itu mencapai 500.000 orang. Tapi data lain dari justforeignpolicy.org (2008) menyebutkan total warga Irak (sipil maupun tentara) yang tewas berjumiah 1.189.173 jiwa.[]

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 149, April 2015
---

Membantah Berita Dusta Tentang Hizbut Tahrir Di Media Turki


Kantor berita Dogan mempublikasikan berita pada Jum'at 24 Maret mengenai Hizbut Tahrir, yang didasarkan pada pernyataan dusta dan menyesatkan, "orang yang pergi ke Suriah untuk mendapatkan pelatihan senjata, dan kemudian kembali ke kota asalnya Rize, ditangkap dalam sebuah operasi oleh Kantor Keamanan Rize dan ditahan oleh pengadilan." Kantor berita itu mengatakan bahwa salah satu orang yang ditangkap adalah anggota Hizbut Tahrir dalam beritanya. Media-media massa semacam harian Sozcu dan Sputnik News bayaran Russia juga telah mempublikasikan berita bohong dari Dogan News Agency itu.

Hizbut Tahrir wilayah Turki mengungkap apa yang terjadi sebenarnya tentang hal ini kepada publik, khususnya mereka yang telah membuat dan menjadi bagian dari pembuatan berita itu dan kepada semua yang telah mempublikasikannya:

1. Pertama, kami mengingatkan Dogan News Agency, Sozcu Newspaper dan the Sputnik News yang mengatakan bahwa Hizbut Tahrir adalah "organisasi teroris" dalam berita mereka; (kepada mereka kami ingatkan) Hizbut Tahrir adalah partai politik ideologi Islam yang menolak menggunakan kekuatan fisik dan kekerasan, dan tidak menerima perjuangan bersenjata dalam metodenya (mendirikan kembali Khilafah), tapi hanya dengan metode intelektual dan politik. Meski kamu berusaha meneror Hizb dengan semua upayamu, kamu tidak akan mengubah fakta bahwa Hizbut Tahrir adalah partai politik. Kamu tidak akan bisa membuat orang percaya kebohongan bahwa Hizbut Tahrir adalah "organisasi teroris."

2. Orang yang dikatakan dibawa ke penahanan polisi oleh pasukan keamanan bukanlah seorang anggota Hizbut Tahrir dan tidak punya hubungan apapun dengan Hizbut Tahrir. Karena Hizbut Tahrir adalah partai Islam yang bergerak dengan ide-ide dan politik, ia tidak akan mengirim orang ke Suriah untuk mendapatkan pelatihan militer (kemudian pulang menjadi teroris). Jadi informasi ini adalah kebohongan dan informasi penyesatan. Tugasmu sebagai organ media yang telah membuat berita itu dan mempublikasikannya adalah mempublikasikan kebalikannya dan meluruskan perkara ini.

3. Dan kami seru mereka yang memintamu untuk mengadakan berita khayalan itu (kami katakan kepada mereka): Kamu berpikir menyenangkan Rusia dan Amerika yang telah membunuhi kaum Muslimin di Suriah dengan membuat berita-berita bohong semacam itu. Kamu menganggap seolah setiap Muslim yang pergi ke Suriah adalah teroris hanya karena tujuanmu untuk menyenangkan mereka (Rusia dan Amerika). Untuk bisa berkata bahwa kamu berjuang melawan terorisme, kamu menangkapi orang tak bersalah dan menindas kaum Muslimin dan menciptakan data statistik untuk memuaskan Barat. Dengan cara ini kamu secara terbuka mendukung perang melawan Islam oleh orang-orang kafir; Amerika, Barat dan Rusia. Maka takutlah kepada Allah dan hentikan hubungan dengan Aliansi Salibis segera yang mengingatkanmu bahwa mereka selalu memusuhi kaum Muslimin.

Sekali lagi kami nyatakan kepada masyarakat di Turki dan kami katakan: Hizbut Tahrir adalah (garda depan) memimpin yang tidak berbohong kepadamu. Hizbut Tahrir adalah partai baik yang melindungi ajaran-ajaran Islam dan urusannya. Kenalilah mereka yang ingin merusak kehormatannya, jangan tunduk kepada mereka yang mau membuat-buat skandal atasnya, jangan percaya berita-berita penyesatan yang telah dibuat terhadapnya. Hizbut Tahrir terus bekerja dengan semua kemampuannya untuk (tegaknya kembali) Khilafah rasyidah yang mengikuti manhaj kenabian, sebagai garda depan yang memimpinmu, sebagai pemandu di sisimu dan mendukungmu. Kemudian janganlah tertipu oleh berita-beritanya para pembohong dan pendusta.

bacaan: khilafah.com/refuting-the-misleading-news-about-hizb-ut-tahrir-in-the-turkish-media/
---

sebarkan Buku-Buku Supremasi Ideologi Islam

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam