Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Orang-Orang yang Tertipu

tertipu dunia

Natil bin Qais al-Hazami, seorang penduduk Syam pernah berkata kepada Abu Hurairah ra., "TuanGuru, mohon ajarkan kepada kami apa yang Anda dengar dari Rasulullah SAW. Abu Hurairah menjawab, ”Baik. Aku pernah mendengar Rasulullah SAW bersabda: “Orang yang pertama-tama diadili kelak pada Hari Kiamat ialah orang yang mati syahid. Orang itu dihadapkan ke Pengadilan Akhirat. Lalu ia diingatkan tentang nikmat-nikmat yang pernah dia peroleh di dunia. Dia pun mengakuinya. Ia lalu ditanya, "Apakah yang telah Engkau perbuat dari nikmat itu?' Ia menjawab, “Aku telah berperang untuk agama Allah hingga aku mati syahid!” Namun Allah berkata, “Engkau dusta! Sungguh Engkau berperang supaya dikatakan gagah berani dan gelar itu telah Engkau raih!” Kemudian dia diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke Neraka.

Kemudian dihadapkan pula orang alim yang belajar dan mengajarkan ilmunya serta Al-Qur’an. Dihadapkan kepada dia nikmat yang pernah dia peroleh di dunia. Semuanya dia akui. Dia lalu ditanya, “Apakah yang telah engkau perbuat dari nikmat itu?” Dia menjawab, “Aku belajar, mengajar dan membaca Al-Qur’an karena Engkau!”

Namun Allah berkata, “Engkau dusta. Sungguh Engkau belajar dan mengajar supaya disebut alim. Engkau pun membaca Al-Qur’an supaya dikatakan sebagai seorang qari (ahli membaca). Semua itu telah dipanggilkan orang kepadamu!” Lalu dia pun diseret dengan muka tertelungkup dan dilemparkan ke Neraka.

Selanjutnya dihadapkan pula orang yang diberi kekayaan oleh Allah dengan berbagai macam harta. Semua kekayaannya saat di dunia dihadapkan kepada dia. Diapun mengakuinya. Dia lalu ditanya, “Apakah yang telah Engkau perbuat dengan harta sebanyak itu?” Dia menjawab, "Setiap bidang tanah yang Engkau sukai tidak ada yang aku tinggalkan melainkan aku sumbang semuanya karena Engkau.” Namun, Allah berkata, “Engkau dusta! Sungguh Engkau melakukan semuanya itu supaya Engkau disebut orang dermawan dan gelar itu telah Engkau dapatkan!” Kemudian dia pun diseret dengan muka tertelungkup lalu dilemparkan ke Neraka.” (HR. Muslim).

Demikianlah gambaran orang-orang yang tertipu, sebagaimana dikisahkan dalam hadis di atas.

Ghurur (tertipu/terpedaya) adalah penyakit hati yang menimpa banyak kaum Muslim. Penyakit ini telah dijelaskan oleh Imam al-Ghazali di dalam-kitabnya, Ihya 'Ulum ad-Din. Penyakit ghurur ini tentu berbahaya. Pasalnya, kebanyakan orang yang menderita penyakit ini sering tidak menyadari bahwa dirinya tertipu/terpedaya. Menurut Imam al-Ghazali setidaknya ada empat empat golongan manusia yang terkena penyakit ghurur ini: (1) Golongan ulama; (2) Golongan orang yang rajin beribadah; (3) Golongan para sufi; (4) Golongan orang kaya.

Pertama: Golongan ulama, yakni ulama yang perilakunya tidak selaras dengan ilmunya. Mereka boleh jadi ulama yang tidak ikhlas, bangga dengan popularitas, suka merendahkan pihak lain, takabur, berakhlak buruk, dll.

Kedua: Golongan orang yang rajin beribadah. Contohnya adalah mereka yang sibuk dengan ibadah-ibadah sunnah tetapi melalaikan amalan-amalan wajib, seperti rajin melaksanakan ibadah sunnah tetapi enggan berdakwah; suka berzikir tetapi malas menuntut ilmu; rajin bersedekah tetapi mengabaikan nafkah keluarganya; rajin berdoa tetapi malas berusaha dalam hal wajib; rajin membaca Al-Qur’an tetapi enggan men-tadabur-i, memahami dan mengamalkan isinya; menunaikan ibadah haji dan umrah berkali-kali tetapi masih tetap korupsi dan terlibat riba, dsb.

Ketiga: Golongan para sufi, yakni mereka yang menggeluti dunia tasawuf tetapi banyak melakukan perkara bid'ah atau banyak meninggalkan syariah.

Keempat: Golongan orang kaya. Di antaranya orang kaya yang tidak pernah peduli bagaimana kekayaannya diperoleh, apakah dari jalan yang halal atau haram; lalai membayar zakat; kikir; rajin bersedekah tetapi sering dengan niat riya' dan sum'ah, dsb.

Lalu bagaimana agar kita tidak termasuk orang-orang yang menderita penyakit ghurur? Dalam hal ini, Allah SWT berfirman: ”Wahai orang-orang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara kaffah (menyeluruh), dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan” (TQS. al-Baqarah [2]: 208).

Melalui ayat ini Allah SWT menyeru hamba-hambaNya yang Mukmin dengan memerintahkan kepada mereka agar masuk ke dalam Islam secara menyeluruh, dengan tidak memilah-milah atau memilih-milih di antara syariah atau hukum-hukum-Nya. Melalui ayat ini Allah SWT pun melarang hamba-Nya untuk mengikuti jalan-jalan mereka yang selalu mengajak manusia pada kebatilan serta selalu menghiasai keburukan dan kejelekan (Lihat: Al-Jazairi, Aysar at-Tafasir, I/97).

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 191
---

Sebut Umat Islam Ancaman, Kapolri Bikin Gaduh


ideologi Islam umat Islam

Bukannya mendinginkan suasana, pernyataan Kapolri Jenderal Tito Karnavian justru menimbulkan kegaduhan. Saat berpidato di depan Rapat Pimpinan Polri 2017 di Perguruan Tinggi Ilmu Kepolisian, Jakarta Selatan, Rabu (25/1) ia menyebut aksi damai umat Islam 411 dan 212 berpotensi menggerus kebhinnekaan dan mengancam persatuan NKRI.

”Dua peristiwa penting Aksi 411 dan Aksi 212 walau ditangani dengan baik tapi menimbulkan indikator yang harus diwaspadai bersama. Ini menggerus toleransi, kebhinekaan dan berbahaya bagi NKRI,” kata Tito. Tito juga mengatakan bahwa intoleransi keberagaman menjadi tantangan sendiri bagi institusi Polri.

Juru Bicara Hizbut Tahrir Indonesia M Ismail Yusanto menyayangkan pernyataan Kapolri itu. Menurutnya, pernyataan tersebut malah akan menimbulkan kegaduhan baru dan menyakiti masyarakat.

”Saya pikir ini yang tidak boleh terus terjadi, sebab kalau terus dilakukan Kapolri. seperti itu, justru dia menyakiti masyarakat,” ungkapnya kepada Media Umat.

Sikap Kapolri membuat heran banyak pihak, kenapa aksi yang begitu damai dan tertib bahkan Kapolri pun menunjukkan apresiasi kepada para peserta aksi, sekarang malah membuat pernyataan yang terkesan sebaliknya.

”Jadi gak ngerti saya, kenapa Kapolri yang bersikap apresiatif terhadap aksi, kok terakhir-terakhir ini melontarkan pernyataan sebaliknya,” jelas Ismail.

Padahal aksi yang berlangsung damai tersebut murni hanya menuntut keadilan, yang diakibatkan kelambanan proses hukum terhadap kasus penistaan Al-Qur’an yang dilakukan oleh Ahok.

"Aksi itu tidak akan terjadi andai Ahok diproses hukum sebagaimana pelaku penistaan agama sebelum-sebelumnya. Karena itu sungguh aneh kalau dikatakan bahwa aksi ini menimbulkan atau didorong sikap intoleransi,” kata Ismail.

Menurut Ismail, justru tindakan menista agama dan Al-Qur’an itu adalah bentuk intoleransi. "Atau mereka yang melindungi penista Al-Qur’an itulah yang mempertahankan intoleransi atau menimbulkan sikap intoleransi,” ungkapnya.

Dan pada aksi damai 212, turut hadir Presiden Jokowi lalu memberikan pidato singkat. Dalam pidato tersebut secara langsung Presiden berterima kasih dan menunjukkan sikap respek.

”Bagaimana bisa aksi itu dikatakan menimbulkan intoleransi. Kalau begitu berarti secara tidak langsung Kepolisian atau Kapolri menuding Presiden berterima kasih terhadap aksi yang menimbulkan intoleransi,” kata Ismail.

Sikap inkonsistensi Kapolri menunjukkan adanya tekanan besar dari negara atau oknum-oknum tertentu yang memang menentang dari awal bentuk persatuan Islam. ”Ya pasti ada angin lain yang bertiup yang membuat dia melontarkan pernyataan seperti itu," ujar Ismail.

Seperti tudingan tidak berdasar Luhut Binsar Pandjaitan yang menyebut bahwa aksi-aksi besar itu digerakkan oleh kelompok radikal. Padahal aksi-aksi tersebut dihadiri oleh berbagai elemen, seperti Kapolri, bahkan Presiden sendiri. "Nyatanya Kapolri terbawa arus itu,” pungkas Ismail. []fatihsholahuddin

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 190
---

Muslim Pengusaha Atau Pengusaha Muslim?



Anda pengusaha? Bersyukurlah Allah memberikan kedudukan yang luar biasa pada diri Anda, tapi tidak sedikit juga umat Muslim yang memiliki usaha [baca: jadi pengusaha] takut menjadi pengusaha karena proses hisab yang luar biasa di Yaumil Akhir nanti. Nah Anda termasuk yang mana? Anda adalah Muslim yang kebetulan memiliki profesi sebagai seorang pengusaha? Atau seorang pengusaha yang kebetulan jadi Muslim? Jawaban atas pertanyaan ini menentukan apakah Anda menjadikan Islam sebagai sesuatu yang biasa atau jadi poros utama hidup Anda.

Dalam rentang lebih dari 13 abad Islam menaungi 2/3 dunia lama. Peradaban Islam telah banyak melahirkan pribadi-pribadi pejuang Islam. Salah satunya adalah sahabat Rasul SAW, yaitu Abdurrahman bin Auf. Dari dulu hingga sekarang, Ia dikenal sebagai ikon pengusaha Muslim yang sangat sukses. Ia adalah sebaik-baiknya pengusaha Muslim. Ia telah mengguncang dunia melalui keteladanannya sebagai Muslim sejati, termasuk dalam berbisnis yang dilakukannya pada abad 1 Hijriah.

Abdurrahman bin Auf hanya berbisnis dengan barang yang halal dan menjauhkan diri dari barang yang haram bahkan yang syubhat sekalipun. Keseluruhan hartanya adalah harta yang halal, sehingga sahabat lainnya, Utsman bin Affan ra. yang juga pengusaha sukses dan sudah sangat kaya pun bersedia menerima wasiat Abdurahman ketika membagikan 400 dinar bagi setiap veteran perang Badar. Ustman bin Affan berkata, ”Harta Abdurahman bin Auf halal lagi bersih, dan memakan harta itu membawa selamat dan berkah.”

Keuntungan bisnis yang didapat dinikmati dengan menunaikan hak keluarga dan hak Allah. Ia berkontribusi untuk berjuang di jalan Allah, baik secara perjuangan fisik maupun materi. Ketika Rasullullah SAW membutuhkan dana untuk perang Tabuk yang mahal dan sulit, Abdurrahman bin Auf menjadi penyandang dana pertama dengan menyumbang dua ratus uqiyah emas (1 uqiyah setara dengan 50 dinar). Sampai-sampai Umar bin Khattab berbisik kepada Rasulullah SAW, ”Sepertinya Abdurrahman berdosa kepada keluarganya karena tidak meninggali uang belanja sedikitpun untuk keluarganya.” Mendengar ini, Rasulullah SAW bertanya pada Abdurrahman bin Auf, ”Apakah kamu meninggalkan uang belanja untuk istrimu?" "Ya!” Jawab Abdurrahman, ”Mereka saya tinggali lebih banyak dan lebih baik dari yang saya sumbangkan.” ”Berapa?" Tanya Rasulullah. "Sebanyak rizki, kebaikan, dan pahala yang dijanjikan Allah,” jawabnya. Subhanallah.

Suatu saat ketika Rasullullah SAW berpidato menyemangati kaum Muslimin untuk berinfak di jalan Allah, Abdurrahman bin Auf menyumbang separuh hartanya senilai 2.000 dinar. Atas infak ini ia didoakan khusus oleh Rasulullah SAW: ”Semoga Allah melimpahkan berkah-Nya kepadamu, terhadap harta yang kamu berikan. Dan Semoga Allah memberkati juga harta yang kamu tinggalkan untuk keluarga kamu.”

Abdurrahman bin Auf pernah menyumbangkan seluruh barang yang dibawa oleh kafilah perdagangannya kepada penduduk Madinah, padahal seluruh kafilah ini membawa barang dagangan yang diangkut oleh 700 unta yang memenuhi jalan-jalan kota Madinah. Selain itu juga tercatat ia telah menyumbangkan antara lain 40.000 dirham, 40.000 dinar, 200 uqiyah emas, 500 kuda, dan 1500 unta.

Banyak dan sering sekali, ia infaqkan hartanya. Sampai-sampai ada penduduk Madinah yang berkata, ”Seluruh penduduk Madinah berserikat dengan Abdurrahman bin Auf pada hartanya. Sepertiga dipinjamkannya pada mereka, sepertiga untuk membayari utang-utang mereka, dan sepertiga sisanya dibagi-bagikan kepada mereka.”

Mari kisah sahabat tersebut kita refleksikan pada diri kita. Apa yang sedang Anda perjuangkan dari bisnis Anda? Apa sesungguhnya yang Anda bela dari bisnis Anda?

Ketika Islam dihujat, dimanakah posisi Anda? Ketika Ayat Allah dinistakan apa yang Anda lakukan untuk membelaNya? Ketika syariah dan khilafah sebagai pemersatu umat dijauhkan dari umat Muslim, apa yang bisa Anda perjuangkan?

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 190
---

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam