Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Tampilkan postingan dengan label Power to Influence. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Power to Influence. Tampilkan semua postingan

Meneladani Nabi, Menerapkan Syariah Islam Dan Khilafah



Kita harus meneladani Rasulullah SAW, pernyataan yang sering kita dengar setiap kali diadakan peringatan Maulid Nabi SAW. Bukan hanya disampaikan oleh ulama atau mubaligh, tapi juga disampaikan para pejabat, dari lurah hingga presiden.

Meneladani Rasulullah SAW merupakan kewajiban seorang Muslim, siapapun dia. Karena Rasulullah SAW adalah suri teladan kita, sebagai uswatun hasanah. Sebagaimana firman Allah SWT, "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah” (TQS. Al-Ahzab: 21)

Allah SWT juga memerintahkan kita untuk mengikuti Rasulullah SAW sebagai bagian dari yang tidak terpisahkan dari kecintaan kepada Allah SWT. Siapapun yang mencintai Allah SWT, dia harus mengikuti Rasulullah SAW. Firman Allah SWT: ”Katakanlah (hai Muhammad), jika kalian (benar-benar) mencintai Allah maka ikutilah aku (Nabi SAW), niscaya Allah akan mencintai kalian dan Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian, dan Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (TQS. Ali Imran: 31)

Terkait dengan ayat Al-Hafizh Ibnu Katsiir rahimahullah menerangkan, “Ayat yang mulia ini menjadi hakim atas orang-orang yang mengaku mencintai Allah namun ia tidak berjalan di atas sunnah Nabi-Nya, Muhammad SAW. Maka sesungguhnya ia telah berdusta dalam pengakuannya itu, kecuali ia telah benar-benar mengikuti syariah dan agama Muhammad SAW dalam segenap perkataannya dan keadaan dirinya.”

Dengan demikian, bukti kecintaan seorang hamba kepada Allah dan Rasul-Nya, haruslah taat kepada perintah Allah dan RasulNya. Dengan kata lain, dia harus menjalankan seluruh syariah Islam. Karena itu, tentu sangat menyedihkan dan patut dipertanyakan, mereka yang mengatakan harus meneladani Rasulullah SAW tapi tidak mau mengikuti perintah Allah dan Rasul-Nya, tidak mau menjalankan syariah Islam yang bersumber dari Allah dan RasulNya.

Dan kita perlu tegaskan, berhukum kepada syariah Islam, tentu bukan hanya dalam persoalan pribadi, moralitas, atau ibadah ritual. Namun secara totalitas. Sebagaimana firman Allah SWT: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu, Maka terimalah. dan apa yang dilarangnya bagimu, maka tinggalkanlah dan bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Amat keras hukumannya.” (TQS. Al-Hasyr [59]: 7). Artinya, kita harus juga mengikuti syariah Islam dalam segala perkara, termasuk ekonomi, politik, sosial, dan bernegara.

Sungguh sangat mengherankan, siapapun yang mengklaim mencintai Allah dan Rasul-Nya, justru menolak syariah Islam diterapkan secara totalitas oleh negara. Padahal Rasulullah SAW saat di Madinah telah mencontohkan, bagaimana syariah Islam, bukan hanya mengatur masalah pribadi, tapi juga ekonomi, politik baik dalam maupun luar negeri, sampai uqubat (sanksi).

Termasuk meneladani dan mencintai Rasulullah SAW adalah menegakkan negara khilafah di tengah-tengah umat. Sebab, negara khilafah satu-satunya institusi politik yang sesuai dengan syariah Islam yang akan menerapkan seluruh hukum-hukum Allah SWT. Khilafah juga akan menyatukan dan melindungi umat Islam.

Para sahabat, imam madzhab dan ulama telah menegaskan kewajiban ini, sebagaimana yang disebutkan Imam Nawawi (w. 676 H) dalam Syarah Shahih Muslim, "Mereka [para shahabat] telah sepakat bahwa wajib atas kaum Muslimin mengangkat seorang khalifah.”

Lebih parah lagi, kalau menganggap penerapan khilafah di Indonesia merupakan ancaman bagi negeri ini. Sekali kita tanya, bagaimana mungkin keberadaan institusi khilafah yang menerapkan syariah Islam secara totalitas yang bersumber dari Allah SWT dikatakan mengancam. Padahal sistem khilafah inilah yang diterapkan Khalifah Abu Bakar ra., Umar bin Khaththab ra., Utsman bin Affan ra., Ali bin Abi Thalib ra., dan dilanjutkan oleh para khalifah berikutnya.

TIdak hanya itu, ada yang secara terbuka mengkriminalisasi sistem khilafah yang diwajibkan Allah SWT. Itu dilakukan dengan cara mengaitkannya dengan terorisme atau gerakan ISIS. Kita perlu tegaskan, yang ingin kita perjuangkan adalah khilafah ala minhajin nubuwah, bukan khilafah ala “ISIS” yang sebenarnya tidak bisa disebut khilafah.

Kita mengingatkan perbuatan mengkriminalisasi syariah Islam, termasuk khilafah, adalah perbuatan keji yang tidak pantas dilakukan oleh seorang Muslim. Terakhir, perlu kembali kita tegaskan khilafah bukan hanya kebutuhan umat Islam, tapi juga merupakan kewajiban syariah Islam. Kembalinya khilafah merupakan janji Allah dan kabar gembira dari Rasulullah SAW. Dan wajib bagi umat Islam untuk memperjuangkannya. Allahu Akbar! []farid wadjdi

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 187
---

Felix Siauw: Revolusi Di Ujung Jari


muktamar khilafah

Dulu saya selalu bertanya-tanya, bagaimana mungkin kita dapat mengopinikan Islam, padahal media-madia hampir semuanya dimiliki oleh pihak yang anti kepada Islam? Yang alih-alih mengopinikan Islam secara baik, bahkan justru sebisa mungkin memberikan stigma negatif bagi Islam dan kaum Muslim.

Kita bisa lihat dalam pemberitaan-pemberitaan yang lalu. Saat ditangkap seorang yang diduga teroris misalnya, media langsung menyorot segala sesuatu yang berkaitan dengan Islam seperti sajadah, buku-buku Islami sampai gambar Ka'bah. Seolah-olah ingin mengopinikan, semakin Islami Anda maka akan semakin dekat Anda dengan terorisme.

Pernyataan yang menyudutkan Islam ditayangkan terus-menerus, tak berimbang dengan pernyataan lain yang lebih logis tapi membela Islam. Media berseberangan dengan Islam, dan pasalnya kebanyakan orang dipengaruhi oleh media, bagaimana caranya?

Tapi saya yakin, Allah ya pasti punya cara, yang perlu kita lakukan toh hanya perintah Allah yaitu beriman dan meyakini akan pertolongan Allah itu, dan beramal seshalih-shalihnya, semaksimal mungkin yang kita mampu. Pasti ada jalannya, Rasulullah dan sahabatnya pun sudah berkali-kali membuktikannya.

Siapa sangka itu terjadi di zaman kita. Revolusi komunikasi via media sosial menjungkirbalikkan semua logika. Media mainstream semisal TV dan koran kehilangan pangsa pasar yang sangat besar, generasi baru digital lebih banyak menghabiskan waktunya di internet, di media sosial.

Yang berarti, informasi menjadi sesuatu yang lebih egaliter, tidak lagi didikte dari atas ke bawah, tapi horizontal antar kita. Artinya, umat lebih mudah untuk mendapatkan kebenaran, sebab siapa saja pada zaman media sosial ini bisa menjadi sumber berita.

Memang ada kurang dan lebihnya, hoax yang semakin umum di antara kita, cyber-bullying, sampai tiadanya privasi menjadi kekurangan. Hanya saja kelebihannya juga banyak, opini bisa cepat dibentuk di antara umat, dan umat lebih bisa satu perasaan.

Lihat saja, bagaimana heroisme para mujahid Ciamis. Opini umum yang tadinya buruk terhadap aksi #BelaQuran 212, sebab dikaitkan dengan makar, menggoyang negara, dan sarat politis, dihabisi bahkan dibalikkan secara indah lewat langkah-langkah kaki mereka. Bahasa medianya killer content.

Walau media mainstream menutupi, tapi jiwa-jiwa yang jujur tidak bisa tidak, tertaut satu sama lain, haru bercampur bangga juga malu menjalar dengan cepat, menggerakkan para mujahid Bogor, Tangerang, Bekasi, Depok, untuk melakukan hal yang serupa, berjalan kaki berjamaah menuju ibukota. Mereka ingin membuktikan, tak ada yang bisa melawan panggilan iman. Epik!

Peserta Aksi #BelaQuran 212 menjadi saksi bagaimana saat perasaan umat menjadi satu sebab opini umum berpihak pada mereka. Jutaan massa yang berkumpul di ibukota tak buyar oleh panas, tetap khusyuk dalam hujan, tetap damai walau hati mereka terluka, tetap berbagi walau mereka berkekurangan.

Allah punya cara, dan kita tak punya kesempatan lebih baik daripada hari-hari ini dalam membentuk opini positif bagi Islam dan perjuangan dakwah. Sebab hari-hari ini bukan awak media yang menentukan apa yang jadi pembicaraan, tapi ide dan jari-jari kitalah yang menentukan. Opini ada di ujung jari, tergantung kita mau berpartisipasi atau hanya jadi penonton.

Bendera Rasulullah yang dulu ditakuti dan diopinikan negatif, bisa disukai, diarak, digiring, diangkat dengan bangga oleh kaum Muslim, bahkan ibu-ibu pun berfoto welfie dengan bangga dengan bendera itu. Beberapa channel televisi nasional dan merek roti terkenal sudah merasakan efek kebangkitan opini umum kaum Muslim ini.

Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita turut serta membentuk opini positif ini, terus-menerus berjuang sampai umat sepakat dengan penegakan syariah dan khilafah? Walau hanya dengan mengklik like dan share postingan positif tentang Islam? Kalau belum, bisa jadi Anda belum serius dalam dakwah!

Felix Y. Siauw: Member @YukNgajiID
---

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 187

Indahnya Menikah Dalam Agama



Kabar bahagia datang dari dai kondang Aa Gym. Anak keempatnya, Ghaitsa Zahira Shofa, telah melepas masa lajang, Sabtu (7/3/2015). Yang istimewa, pernikahan ini adalah antara hafizh dan hafizhah Al-Qur’an. Kedua mempelai kenal saat mengaji pada guru yang sama di sebuah pesantren. Pernikahan Ghaitsa dan Maulana menuai sorotan di jejaring sosial. Pasalnya, menantu Aa Gym, Maulana Yusuf, ini melafalkan 30 juz Al-Qur’an, 24 jam sebelum prosesi ijab-kabul. SaatYusuf membacakan hafalan Al-Qur’an, banyak yang menangis haru.

Yusuf mempersembahkan mas kawin emas 10 gram dan 1 dirham. "Alhamdulillah Aa sangat bersyukur Ghaitsa Zahira Sofa mendapatkan jodoh yang sama-sama penghafal Qur’an, semoga menjadi pengamal Al-Qur’an," ucap Aa Gym.

Duhai, siapakah yang tidak ingin sebahagia Aa Gym? Di zaman serba kapitalis saat ini, ada sepasang pengantin yang menikah atas dasar agama dengan begitu khidmat dan syahdu. Tanpa kemewahan dan hura-hura. Semua orang pun mendoakan, meyakini dan optimistis bahwa pernikahan dua sosok yang taat pada agama ini akan mampu membentuk keluarga sakinah, mawadah, dan rahmah.

Bukan hanya itu, semua juga sangat yakin, mempelai ini akan membentuk keluarga yang langgeng sampai akhir hayat. Mereka pasti akan melahirkan generasi-generasi emas yang kelak menjadi manusia bertakwa dan pejuang agamanya.

Nah, seharusnya pernikahan seperti ini yang menjadi teladan masyarakat. Bukan pernikahan ala artis yang dibesar-besarkan. Ya, bandingkan dengan perhelatan nikah Raffi Ahmad-Nagita Slavina misalnya. Selain dipuji fans-nya, kemewahan dan kehebohan prosesi nikah mereka justru menjadi cibiran. Banyak yang tak yakin pernikahan itu akan langgeng. ”Ah, nikahnya saja heboh, ntar juga cerai,” begitu komentar miring banyak orang. Apalagi yang sedang ramai diperbincangkan saat ini, pernikahan artis Jessica Iskandar -meskipun non Muslim- yang penuh rekayasa. Selain didahului hamil di luar nikah, juga penuh kebohongan. Sungguh tidak layak dijadikan teladan.

Begitulah, betapa indahnya jika pernikahan yang sakral itu dilakukan dua insan yang sama-sama bertakwa. Dilandasi oleh agama, bertujuan untuk mengejar akhirat. Nah, bisakah kita, sebagai orangtua, memiliki anak menantu seperti ini? Atau kita sebagai anak, mendapatkan jodoh yang shaleh/shalihah?

Sebagai orangtua, kita memiliki peran menyiapkan generasi cemerlang yang berkepribadian Islam. Mendorong anak untuk memantaskan diri menjadi pribadi mulia yang layak mendapatkan jodoh terbaik. Bukankah pepatah mengatakan, buah tak jatuh jauh dari pohonnya? Jika mengharapkan anak menantu yang shalih-shalihah, orangtua harus menjadi shalih-shalihah juga. Orang tua juga bergaul dan membangun relasi dengan orang yang shalih-shalihah. Sebagai anak, juga selayaknya memantaskan diri menjadi pribadi shalih/shalihah. Menempa diri dengan ilmu agama, intim dengan Al-Qur’an, bersahabat dengan pengajian dan bergaul dengan teman-teman yang juga shalih-shalihah. Anak yang taat pada Allah SWT, meneladani Rasulullah SAW dan berbakti pada orangtua. Anak yang senantiasa menjaga harga diri, nama baik dan kehormatan diri dan keluarga.

Demikianlah, orangtua dan anak seharusnya berlomba-lomba menjadi manusia terbaik di mata Allah SWT. Niscaya Allah SWT akan memberikan menantu atau jodoh terbaik pula. Wallahu'alam. [] kholda

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 147, Maret-April 2015
---

Potensi Media Massa Dalam Kehidupan



Oleh: Isti Shofiah, SP.d., Aktivis Dakwah tinggal di Pasuruan

Media massa merupakan sarana efektif yang mampu menjangkau massa dalam jumlah yang besar dan luas. Media jelas memberikan pengaruh besar pada corak dan warna kehidupan politik dan budaya masyarakat di manapun berada. Media massa memengaruhi semua kelas sosial masyarakat tanpa memilah usia dan latar belakang. Lihatlah bagaimana media diakses mulai dari anak-anak hingga kalangan lanjut usia.

Menurut McQuail (2000: 102) “media massa bertanggung jawab atau mempunyai peran besar terhadap apa yang disebut kebudayaan massa atau budaya populer, dan dalam prosesnya media massa telah 'menjajah' bentuk budaya lain”. Artinya media massa dapat mempengaruhi gaya hidup seseorang bahkan budaya di dalam kehidupan masyarakat. Lihatlah gaya hidup Barat yang mendunia seperti makanan (food), hiburan (fun) dan busana (fashion). Tiga F tersebut dalam menjajakannya tidak lepas dari peran media.

Media massa bukanlah produk bebas nilai. Semua produk media pasti membawa nilai-nilai dan mengajarkan gaya hidup tertentu. Karena itu media memiliki dua potensi di dalam kehidupan. Yakni berpotensi untuk mengajak ke neraka dan ke surga.

Mengajak ke Neraka

Anggota KPAI Maria Ulfah mengatakan bahwa kekerasan pada anak dimulai dari internet (29/4/2015). Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat selama 4 tahun terakhir jumlah kekerasan kepada anak terus meningkat. Terakhir di 2014 ada 5.066 kasus. Sebanyak 322 kasus kekerasan pada anak di tahun 2014 dipicu dari sosial media dan internet.

Media di dalam sistem kapitalisme ini hanya menjadi alat penjajahan budaya Barat atas budaya-budaya lain, khususnya budaya di negeri-negeri Islam. Bagaimana tidak, film-film produksi Barat (Amerika) sangat mendominasi pembentukan budaya global. Kemudahan akses untuk menonton maupun mengunduh video-video tak pantas pun meracuni bahkan merusak pemikiran masyarakat, khususnya anak-anak.

KPAI mencatat bahwa kejahatan seksual lewat internet menjadi kategori kasus yang tinggi. Semisal jumlah korban kejahatan seksual terus naik. Sampai tahun 2014 ada 53 anak yang menjadi korban. Sementara anak pelaku kejahatan seksual online ada 42 anak, anak korban pornografi dari media sosial ada 163 orang. Terakhir anak pelaku kepemilikan media pornografi di video dan diunggah di media sosial ada 64 anak.

Media massa juga merupakan hal yang utama dalam menciptakan opini publik demi terwujudnya dukungan terhadap invasi yang mereka (asing) lakukan ataupun membendung opini yang akan membangkitkan ideologi Islam yang mampu menggeser dominasi ideologi mereka. Masih ingat di benak kita bagaimana pemberitaan bom Prancis beberapa waktu lalu yang menjadi headline news secara bersamaan di setiap media massa.

Namun lain halnya jika itu terjadi pada kaum Muslim seperti di Palestina yang setiap hari ada ratusan jiwa yang meninggal karena serangan zionis Israel. Tak semua media menayangkan kdndisi yang terjadi pada saudara-saudara Muslim di sana. Begitulah media massa kapitalis yang selalu memihak pada kepentingan asing tanpa peduli baik buruknya pada kehidupan masyarakatnya.

Hal tersebut menunjukkan lemahnya negara dalam mengatur media yang ada karena tidak membatasi konten media secara tegas. Memang ada aturan seperti UU penyiaran namun aturan yang ada bersifat lentur, mudah disiasati sehingga tulisan dan tayangan yang merusak akidah, menyebarkan paham kebebasan, mengandung pornografi dan kekerasan masih mendominasi.

Negara tidak mampu melindungi masyarakat khususnya ibu dan generasi bahkan sebaliknya menjerumuskan mereka dalam kehancuran akibat media yang meracuni pemikiran dan menghasilkan prilaku merusak. Walhasil, media dalam konteks tersebut mengajak manusia ke neraka.

Mengajak ke Surga

Dalam pandangan Islam media massa merupakan media komunikasi massal yang berfungsi dalam menciptakan opini publik yang kemudian akan menjadi opini umum.

Media massa sesuai perspektif Islam sangat diperlukan sebagai sarana menjelaskan semua tuntunan hidup yang bersumber dari syariat, berupa nilai-nilai dan panduan bersikap dalam semua aspek kehidupan serta dorongan berprilaku sesuai panduan tersebut. Media massa juga mendorong peningkatan kualitas hidup melalui penggambaran yang benar untuk memanfaatkan ilmu pengetahuan dan teknologi. Sehingga, betul-betul menjadi media yang sehat dan mencerdaskan masyarakat.

Dalam kacamata Islam, media massa memiliki peran strategis dalam mencegah kemungkaran serta mengajak kemakrufan di tengah-tengah masyarakat. Media massa ada untuk mengajak masyarakat untuk lebih ber-taqarrub dan bertakwa kepada Allah SWT. Tentunya dalam mewujudkan media massa yang ramah masyarakat khususnya ibu dan generasi serta mampu mengajak ke Surga-Nya hanyalah dengan kembali pada lslam, menata media sesuai dengan Islam dan menghadirkan kembali Khilafah Islamiyah. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 165, Januari 2016
---

Inilah Pandangan HTI Tentang Nasionalisme



Sebelum jelas pengertian nasionalisme, tidak bisa dikatakan bahwa Islam dan umat Islam itu menerima nasionalisme atau tidak, “Juga, seseorang atau sebuah kelompok, termasuk Hizbut Tahrir Indonesia (HTI) itu, memiliki atau tidak memiliki jiwa nasionalisme,” ujar Juru Bicara HTI Muhammad Ismail Yusanto dalam Dialog Nasional: Nasionalisme dan Agama, Ahad (29/2/2016) di Jakarta, di hadapan ratusan peserta Musyawarah Kerja Nasional (Mukernas) Baitul Muslimin Indonesia (Bamusi) Partai PDI Perjuangan tersebut.

HTI sebagai bagian dari umat Islam pun sesungguhnya sedang bekerja untuk membawa negara ini ke arah kebaikan dan menyelamatkan, menjaga negara ini dari segala bentuk penjajahan dan ancaman seperti kapitalisme, liberalisme dan sekularisme melalui penegakan syariah.

Sesungguhnya penjajahan yang paling nyata, setelah penjajahan fisik (militer) berakhir, adaIah melalui penerapan sistem sekuler, utamanya di bidang ekonomi dengan kapitalisme, dan di bidang politik dengan sekulerisme dan liberalisme politik yang terbukti telah menimbulkan berbagai bentuk kerusakan (fasad). ”Semua usaha itu sesungguhnya merupakan bentuk kepedulian HTI terhadap keadaan negeri ini dan masa depannya,” jelasnya.

Dengan semangat kecintaan pada negeri ini, HTI berjuang melalui dakwah fikriyah (menebarkan pemikiran dan pemahaman Islami), dakwah siyasiyah (untuk terbentuknya kesadaran dan perubahan politik) dan la unfiyah (non kekerasan). Ini juga merupakan bentuk syukur kepada Allah SWT yang telah menganugerahkan kemerdekaan.

”Kita sering mendengar seruan untuk bersyukur terhadap kemerdekaan yang telah didapat tapi bagaimana syukur itu harus diwujudkan tidak pernah ditunjukkan dengan jelas. Yang sering terjadi, justru banyak kegiatan untuk merayakan dan mengisi kemerdekaan yang bertentangan dengan ketentuan-ketentuan Allah SWT,” ujarnya.

Secara faktual, HTI memandang Indonesia adalah negara yang sedang terus berproses, berkembang dan berubah, dibuktikan dengan empat kali amandemen UUD 45 yang berimplikasi pada banyak sekali aspek kehidupan bermasyarakat dan bernegara.

"Logikanya, bila konstitusinya saja terus diubah, bagaimana bisa negara ini disebut sudah final? Lebih tepat negara ini disebut sedang terus berproses, berkembang dan berubah,” beber Ismail.

Oleh karena itu, HTI ingin menghela perubahan itu ke arah yang baik. Dan itu mestinya ke arah yang diridhai oleh Sang Pemberi Berkah kemerdekaan. Itulah Allah SWT. Bukan ke arah sosialisme ataupun kapitalisme. ”Hanya ke arah sana sajalah kita bisa berharap terciptanya baldah thayyibah wa rabbun ghafur yang rahmatan lil alamiin. Di situlah relevansi nyata dari usaha penegakan syariah," kata Ismail.

Menurutnya, syariah sesungguhnya adalah ilaju al-musykilati al-hayati al-insani (solusi persoalan hidup manusia). Sebagai solusi persoalan kehidupan manusia, syariah yang diturunkan oleh Allah yang Maha Tahu pasti membawa rahmat, bagi Muslim maupun non-Muslim. Jadi, perjuangan penegakan syariah sesungguhnya adalah bentuk kecintaan terhadap negeri ini.

”Inilah semangat nasionalisme yang benar, yakni semangat untuk membawa negeri ini kepada penghambaan yang hakiki kepada Allah SWT, Dzat yang telah memberikan kemerdekaan dari penjajahan, melalui penerapan syariah dalam seluruh aspek kehidupan. Indonesia adalah bagian dari bumi Allah, milik Allah, maka mestinya ditata dengan aturan Allah (syariah)," tegasnya.

Tapi, lanjut Ismail, bila nasionalisme diartikan sebagai ketundukan pada sekulerisme, maka HTI tidak akan bisa terima. Karena sekulerisme berarti pengabaian terhadap aturan-aturan agama Islam. Tapi dengan menolak sekulerisme, tidak berati umat Islam tidak memiliki jiwa nasionalisme, karena justru sekulerisme itulah yang diyakini selama ini menjadi biang dari kerusakan negeri ini baik di lapangan ekonomi, sosial budaya, politik maupun di bidang lainnya.

“Menolak sekulerisme harus diartikan sebagai menolak sumber kerusakan, yang dilakukan tak lain demi kebaikan negeri ini. Inilah esensi dari nasionalisme sejati,” kata Ismail.

Selain Ismail, hadir pula 13 pembicara lainnya termasuk dari MUI, NU, Muhammadiyah bahkan dari aliran sesat Ahmadiyah.

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 169, Maret 2016
---

Acara HTI Jadi Trending Topic Twitter Di Indonesia



Jadi Trending Topic Di Jagad Maya

Berbarengan dengan suksesnya acara Muktamar Tokoh Umat (MTU) 1437H: Syariah dan Khilafah Mewujudkan Islam Rahmatan lil 'Alamin di dunia nyata, kampanye yang diselenggarakan Hizbut Tahrir Indonesia tersebut menjadi topik yang paling banyak dibicarakan (trending topic) oleh para pengguna twitter di Indonesia.

Ketika hari pertama MTU digelar, Sabtu (23/4/2016) di Jakarta, Jambi dan kota kabupaten lainnya kata kunci tautan (hash tag) #IslamRahmatanLilAlamin langsung menjadi topik bahasan nomor satu para pengguna jejaring sosial twitter di lndonesia (trending topic Indonesia/TTI). Ketika mediaumat.com mengeceknya melalui program penghitung (tools) brand24, hash tag tersebut jangkauannya hingga 2.941.162 pengguna internet (netizen).

Sedangkan ketika hari kedua MTU digelar, Ahad (24/4/2016) di Yogyakarta dan beberapa kota kabupaten lainnya, hash tag #MTU1437H menjadi TTI nomor satu dengan jangkauan hingga 7.884.507 netizen. Sedangkan kata "khilafah” meski masuk nomor urut sembilan tetapi jangkauannya sangat signitikan yakni 4.268.279.

Berikut beberapa kutipan kicauan para netizen di akun twitter mereka:

@aminudincs: "penerapan syariah secara total akan mewujudkan Islam rahmat bagi alam semesta #Islamrahmatanlilalamin."

@felixsiauw: "Semoga dengan Muktamar Tokoh Umat #MTU1437H ini, Allah menautkan hati-hati ulama dengan ukhuwah, merapatkan barisan untuk kebangkitan Islam.“

@youblack88: "nah, sebagai brang Palembang, saya punya tanggung jawab menyemarakkan agenda syariah-khilafah disini :) | meninggikan kalimatullah disini."

Ngetren Lagi

Tak berhenti sampai di situ, ketika MTU digelar di Banda Aceh, Bandung, Samarinda, Sorong dan kota kabupaten lainnya pada 1 Mei, #MTU1437H menjadi trending topic lagi di jejaring sosial media.

Di hari terakhir pelaksanaan MTU di 61 kota kabupaten tersebut, #MTU1437H bertengger pada urutan tiga TTI, dengan jangkauan 1.965.991 netizen. Hashtag #IslamRahmatanLilAlamin ramai juga dibicarakan dengan jangkauan 1.642.887 netizen.

Selain dua hashtag di atas, selama 5 jam 3.556.488 netizen membicarakan hashtag #hizbuttahrir.

Muncul pula hash tag #IndonesiaCintaHTI yang sempat masuk empat besar TTI dan dibicarakan oleh 632.414 netizen selama 4 jam 55 menit.

Bahkan #jabarbersyariah, merujuk pada penyelenggaraan MTU Bandung, jangkauan 4.680.982 netizen.

"Penasaran dengan Hizbut Tahrir? Mari ikut dan simak #MTU1437H di berbagai tempat,” cuit pemilik akun @fatama1453 di twitter.
”Alhamdullillah sukses acara #MTU1437H Gorontalo Syariah dan Khilafah Mewujudkan #IslamRahmatanLilAlamin,” ujar @afnigates di akunnya.

Terkait fenomena di atas, pengamat sosial media Ihsanul Muttaqien menyatakan pendapatnya. "Menurut saya ada dua hal yang bisa dicermati dalam hal ini,” ungkapnya kepada Media Umat, Selasa (3/5/2016).

Pertama, para aktivis HTI sudah mulai terjun dan aktif berdakwah di sosial media untuk menyampaikan ide-idenya. "Hal ini tentu sangat baik, karena akan banyak orang yang mungkin tidak bersinggungan langsung dengan HTI di dunia nyata akhirnya bisa mengetahui ide Islam rahmatan lil 'alamin, khilafah dan ide lainnya yang dibawa oleh HTI melalui sosial media,” ujarnya.

Kedua, trending topic yang berturut-turut dalam tiga hari ini menandakan bahwa tanggapan netizen positif terhadap HTI dan ide-idenya. ”Bisa dilihat juga dari jangkauan masing-masing hashtag yang sampai jutaan, ini berarti banyak yang meretweet atau men-share ulang," pungkasnya. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 173, Mei 2016
---

Terkenal Dirindukan Umat, Bukan Diidolakan


Memilih jalan dakwah, memang bisa berefek pada kepopuleran. Benar. Karena seringnya kontak, mengisi pengajian, update status Islami, memajang foto-foto kegiatan keislaman dan sejenisnya, berefek pada popularitas. Itu sebuah keniscayaan. Efek samping yang tak diharapkan. Mau tidak mau, terjadi, berbanding lurus dengan seringnya melakukan interaksi dakwah dengan masyarakat.

Entah tingkat kepopulerannya di dunia nyata, baik di level sekolahan, kampus, kantor, RT, RW, kelurahan, kecamatan, kota/kabupaten, provinsi, nasional maupun internasional. Entah populer di media seperti di koran, radio atau televisi. Entah kepopulerannya di dunia maya seperti Facebook, Twitter, Youtube, Instagram dan sejenisnya.

Entah populer dengan brand-brand yang berbeda-beda sesuai keahlian. Ada yang dilabeli pakar zikir, pakar sedekah, pakar keluarga, pakar anak, pakar wanita, pakar ekonomi Islam, dll. Entah terkenal dengan brand sebagai trainer, praktisi, inspirator, penulis, pengisi ceramah atau sekadar statuser (pembuat status, red).

Nah, menjadi terkenal –walau bukan tujuan utama (dan jangan sampai jadi tujuan)-itu tidak mudah. Sudah banyak orang-orang terkenal yang mengakui, menjadi populer itu sejatinya menyiksa. Lantas bagaimana menyiasati ”keterkenalan” tersebut?

1. Jaga Diri

Harus ekstra hati-hati dalam segala hal. Baik bersikap, berucap maupun bertindak. Jangan sampai keseleo lidah atau salah langkah. Apalagi di era digital, di zaman media sosial, setiap orang telah menjelma menjadi selebritas. Postingan apapun jadi perhatian para followernya. Salah jempol bertindak, rusak susu sebelanga. Begitulah risiko orang terkenal. Apalagi terkenal dengan brand sebagai ”orang saleh”.

2. Jaga Attitude

Harus membiasakan diri tampil menyenangkan semua orang. Bersikap lebih ramah, lebih antusias, lebih perhatian dan lebih baik lagi. Bukankah berakhlak mulia memang perintah agama? Walaupun, mungkin karakter dasar kita memang tak bisa ditinggalkan. Artinya, tetaplah menginjak bumi, menjadi diri sendiri. Tidak pura-pura, tapi tulus melakukannya.

3. Jaga Image

Inilah tantangan orang terkenal. Harus mampu menjaga citra, walaupun tak perlu melakukan pencitraan. Terus memantaskan diri menjadi pribadi terbaik, tapi tidak dengan berpura-pura menjadi baik. Caranya, menjaga aktivitas sesuai prioritas hukum syara'. Karena, hal mubah saja, terkadang dipersoalkan dan bisa menjatuhkan image. Memang, kita adalah manusia biasa. Tak luput dari salah dan dosa. Tidak sempurna.

4. Jaga Hati

Ini yang sangat sulit, karena hanya dia dan Allah yang tahu. Menjaga diri dari penyakit riya', gila sanjungan dan haus pujian. Juga, menjaga kelurusan niat, bahwa kita melakukannya demi ridha Allah SWT. Bukan demi eksistensi diri, demi dipuji, apalagi demi materi. Sudah menjadi kelaziman, semakin terkenal seseorang, "tarifnya" kian melangit. Niatnya kok jadi ke duit. Ini yang tidak boleh terjadi.

5. Jaga Privasi

Begitu nama mulai menanjak, biasanya masyarakat mulai kepo. Ingin tahu luar dalam tentang si terkenal. Baik profil lengkap dirinya maupun keluarganya. Baik aktivitas kesehariannya maupun isi pikirannya. Dipantengi kegiatannya atau status-status di DP atau media sosialnya. Bahkan dikorek pula masa lalunya. Begitulah ulah orang yang sudah mulai mengidolakan. Ya, jangan salah! Pengemban dakwah pun punya penggemar.

Nah, di sinilah kita harus berhati-hati menjaga privacy. Mampu memilah mana yang bisa dibagikan ke masyarakat, mana yang tidak. Misal saat ceramah, apakah perlu menjadikan pengalaman hidup kita sebagai contoh? Apakah itu akan memperkuat keyakinan jamaah, atau sebaliknya, malah meruntuhkan keyakinan mereka terhadap kita? Nah, kita harus pandai-pandai memilah dan menelaahnya.

Demikianlah, semoga kita menjadi pribadi yang kian mawas diri.Tak takut melakukan aktivitas dakwah dan siap menerima risiko. Selalu ingat Allah SWT, sebaik-baik penjaga hati. Seraya penuh harap, agar kita menjadi ustadz/ustadzah yang dirindukan umat. Bukan merindu diidolakan, tapi dijadikan rujukan kebenaran. []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 174, Mei-Juni 2016
---

Remaja Aktivis Dakwah



Sahabat, seiring pergantian tahun, berganti pula tren gaya hidup remaja Muslim. Remaja alay? Lewat! Remaja cabe dan terong? Busuk! Remaja sekuler? Ndeso! Lalu, apa dong gaya hidup terbaru remaja Muslim saat ini? Tidak lain dan tidak bukan, gaya hidup yang lagi in buat para remaja adalah remaja aktivis dakwah!

Ciyus?! Kok bisa? Kenapa nggak. Berdasarkan penerawangan, ada tiga faktor yang bikin remaja Muslim kepincut dengan aktivitas dakwah. Pertama, manusia memang diciptakan untuk cenderung mendekati kebenaran. Dan tak ada cahaya kebenaran yang lebih terang daripada cahaya dakwah Islam. Fitrahnya, saat dakwah datang kepada seorang remaja Muslim dan tak ada rasa sombong yang bersemayam di hatinya, so pasti doi nggak punya alasan untuk menolak dakwah itu.

Apalagi sebagai seorang remaja, lagi getol-getolnya mengekspresikan diri demi mencari jati diri. Sebentar ingin mencoba yang ini, sebentar lagi mencoba yang lain. Hasilnya, ekspresi remaja sering tersalurkan ke aktifitas yang justru minim manfaat malah cenderung maksiat. Nah, aktivitas dakwah inilah ibarat kepingan puzzle yang paling pas dan cocok untuk menemukan jati diri sejati remaja Muslim. Karena dakwah bukan hanya aktivitas biasa yang bisa dikerjakan di waktu senggang, melainkan gaya hidup yang meneladani Rasulullah SAW, idola remaja Muslim. Catet tuh!

Kedua, sudah fitrahnya kalo dakwah Islam itu bisa diterima siapa saja tanpa mengenal usia, keturunan, gender, maupun profesi. Dalam dakwah, dikenal ranah uslub (cara) dan thariqah (metode). Pada ranah uslub inilah, para pengemban dakwah bisa berkreasi agar pesan dakwah ini bisa sampai dengan baik pada obyek dakwahnya. Untuk para remaja misalnya, berbagai uslub seperti training, mabit, hiking, jalan-jalan santai, bahkan ngerujak bareng adalah sebagian dari kegiatan yang digelar oleh para aktivis dakwah remaja. Sehingga menarik perhatian dan penyadaran generasi remaja dengan Islam yang kaffah ini semakin meluas tanpa harus meninggalkan sisi hiburannya. Keren kan?

Dunia sosmed yang identik dengan remaja pun tak ketinggalan dijabanin oleh para remaja aktivis dakwah sebagai sarana untuk menyampaikan Islam. Mulai dari sosialisasi agenda, share ayat-ayat dan berita terbaru, hingga membangun opini umum bahwa Islam satu-satunya solusi seluruh problematika umat dan remaja!

Dan ketiga, sifat dari dakwah yang no compromize bikin beda di mata remaja. Generasi muda Islam diajak untuk memahami bahwa dakwah nggak bisa ngikutin situasi dan kondisi. Tapi mesti fokus dengan masalah inti seperti yang dicontohkan Nabi. Sehingga dakwah benar-benar mengena inti problematika umat Islam, disampaikan dengan cara yang tegas, tanpa kompromi, dan mencerahkan.

Dakwah Islam yang tegas demi meraih perubahan yang besar dan totalitas inilah yang pas dengan karakter remaja Muslim. Nggak asal bunyi dalam menyampaikan kebenaran, tapi menyeru umat Islam untuk mengganti sistem pemerintahan demokrasi kapitalisme ini menjadi syariah Islam secara kaffah dalam bingkai Daulah Khilafah. Institusi tertinggi yang akan membebaskan dan melindungi umat Islam di manapun mereka berada dan mewujudkan rahmat kepada warganya baik yang Muslim maupun non Muslim. Keren kan?

Nah, tiga faktor di atas menjadikan dakwah bagian dari gaya hidup remaja Islam. Cita-cita besar untuk mengembalikan kejayaan Islam dan kaum Muslimin ini nggak bisa direalisasikan kalau kita berjuang sendiri-sendiri. Di sinilah pentingnya kita menyatukan visi, misi, dan geraknya para remaja agar menjadi sebuah kegiatan dakwah yang besar, terorganisir dan terarah. Event akbar Muslim Youth Movement (MYM) yang digelar bulan Februari 2015 di puluhan kota besar. MYM bukanlah event emosional sekadar ngumpulin remaja untuk berpesta-pora yang menginginkan perubahan seadanya. Tapi gerakan solid bin visioner yang menyatukan geliat remaja nusantara dalam satu barisan perjuangan demi tegaknya syariah di bumi Allah tercinta.

Allah SWT berfirman (artinya), "Dan hendaklah ada segolongan umat di antara kalian yang mengajak kepada kebaikan, memerintahkan berbuat ma’ruf, dan mencegah dari berbuat munkar, dan mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (TQS Ali Imran:104)

Kamulah pemimpin masa depan. Hamasah! []

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 144, Februari 2015
---

Khilafah Menaklukkan Penguasa Zhalim Mamalik



Runtuhnya Kesultanan Mamalik

Setelah Sultan Salim l mampu mengalahkan pemerintahan Safawid Syiah sesat di bagian Utara dan Barat Iran, Sultan mulai bersiap-siap untuk menaklukkan pemerintahan Mamalik di Mesir. Usaha penaklukan ini disebabkan oleh beberapa faktor:

Pemerintahan Mamalik (Mamluk) menunjukkan sikap permusuhan kepada Khilafah, ketika Sultan Qanshuh Al-Ghauri, memilih bersekutu pangeran-pangeran yang melarikan diri dari Sultan Salim l. Pelarian yang paling utama adalah pangeran Ahmad, saudara Sultan sendiri. Sultan Al Gahuri menerima para pangeran pelarian itu dengan tujuan, agar semua itu semakin menekan posisi Sultan Salim. Di sisi lain, pemerintahan Mamalik bersikap pasif terhadap pemerintahan Safawid. Malah mereka tampak memberikan dukungan moral kepada Safawid Syiah.

Adanya sikap mendua dari negeri-negeri kecil dan kabilah-kabilah, apakah mereka akan berpihak kepada Khilafah Utsmani atau Mamalik di Mesir. Hal ini jelas memunculkan konflik politik antara kedua kekuasaan. Tidak mengherankan jika pemerintahan Mamalik berusaha mendukung siapa saja yang memusuhi pemerintahan Utsmani. Apalagi Sultan Salim sendiri sejak awal ingin menundukkan daerah-daerah itu.

Persoalan menjadi semakin sulit, ketika pemerintahan Mamluk terbukti banyak berbuat zhalim kepada rakyat di wilayah Mesir dan Syam. Hal itu membuat para ulama, hakim, orang-orang terpandang, cendikiawan, dan rakyat berkumpul membahas kezhaliman pemerintahan Mamalik. Lalu mereka mengutus hakim empat madzhab dan ulama menjadi wakil mereka, untuk menulis surat laporan kepada Sultan Utsmani. Dalam surat itu diberitahukan, bahwa penduduk Suriah telah merasakan pahitnya kekejaman pemerintahan Mamluk dan bahwa para penguasa Mamalik telah nyata-nyata melanggar Syariah yang mulia. juga diberitahukan, jika Sultan Utsmani mau menyerang kekuatan Mamalik, penduduk Suriah akan mendukung.

Sebagai bukti dukungan, mereka akan mengutus wakil-wakil dari setiap kelompok untuk pergi ke Ayniyat, sebuah tempat yang cukup jauh dari Aleppo. Di sana mereka meminta bertemu dengan utusan resmi Sultan Salim I dalam suatu pertemuan rahasia. Mereka menginginkan adanya perjanjian keamanan, sehingga hati mereka menjadi tenang. (AI-Utsmaniyyun fit Tarikh Wal Hadharah, hlm. 170.)

Disebutkan oleh Dr. Muhammad Harb, bahwa dokumen perjanjian kesepakatan itu ada dalam arsip Utsmani di museum Thub Kabi, di Istanbul dengan no.11634/ 26. Dia menjelaskan, isi perjanjian kesepakatan itu (setelah diterjemahkan dari bahasa Utsmani ke bahasa Arab) antara lain sebagai berikut:

“Semua penduduk Aleppo, dari kalangan ulama, pemuka masyarakat, dan orang-orang terhormat menyatakan kesetiaan mereka secara penuh kepada Sultan -semoga Allah menolongnya-. Dengan ijin mereka semua, kami menulis kertas ini untuk dikirimkan pada Sultan yang mulia. Sesungguhnya semua penduduk Aleppo, dan mereka menyatakan kesetiaan kepada Tuan, memohon Sultan untuk memberikan rasa aman. jika Tuan memberikan keterangan yang jelas, maka kami beritahukan bahwa kami kini berkuasa atas orang-orang Syarakis. Dan kami akan menyerahkannya kepada Tuan, atau kami akan mengusir mereka. Semua penduduk Aleppo siap menerima kedatangan Tuan. Saat Tuan menginjakkan kaki di Ayniyat, maka kami akan melepaskan kekuasaan kami di Syarakis. Kami minta Tuan memberikan perlindungan kepada kami dari orang-orang kafir sebelum datangnya orang-orang Turkman.

Dan perlu Sultan ketahui, bahwa Syariah Islam di sini tidak berjalan sebagaimana mestinya. Syariah Islam di sini macet total. Sesungguhnya orang-orang Mamalik, jika tertarik pada sesuatu yang bukan miliknya, mereka akan mengambilnya dengan paksa, baik itu berupa harta-benda, wanita, atau kerabat. Mereka tidak lagi memiliki perasaan kasih. Mereka adalah orang-orang zhalim. Mereka meminta satu orang laki-laki dari tiga rumah, namun kami tidak penuhi permintaan itu. Maka mereka menampakkan permusuhan kepada kami dan mereka mampu menguasai kami. Maka kami ingin sebelum Turkman berangkat, Tuan bisa mengirim seorang menteri yang Tuan percayai untuk memberi jaminan rasa aman bagi kami, keluarga, dan kerabat kami.

Kirimkanlah kami seorang laki-laki yang Tuan percaya dan datanglah kepada kami secara sembunyi-sembunyi. Mari kita bertemu dan berjanjilah untuk memberikan rasa aman kepada kami, agar hati penduduk yang menderita menjadi tenang. Semoga salam dan kesejahteraan terlimpahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, dan para keluarganya semua.” (AI-Utsmaniyyun fit Tarikh Wal Hadharah, hlm. 170-171.)

Sedangkan sikap para ulama dan fuqaha' Mesir tidak jauh berbeda dengan sikap orang-orang Suriah (Syam). Dr. Abdullah bin Ridhwan menyebutkan dalam bukunya Tarikhu Mishra (manuskrip no. 4971) yang berada di perpustakaan Bayazid di Istanbul, bahwa ulama-ulama Mesir selalu menemui utusan Utsmani yang datang ke Mesir dengan cara rahasia. Mereka mengisahkan kepada utusan itu tentang penderitaan mereka akibat kezhaliman penguasa Mamalik, dan mereka meminta agar Sultan Salim segera datang ke Mesir untuk mengambil Mesir. Selain itu, ulama-ulama Mesir juga sering mengirim surat kepada Sultan Salim dan memintanya agar datang membawa pasukan ke Mesir untuk mengusir orang-orang Mamluk itu. (AI-Utsmaniyyun fit Tarikh Wal Hadharah, hlm. 169.)

Para ulama Utsmani berpandangan, jika Mesir dan Suriah bisa dimasukkan ke dalam wilayah kekuasan Utsmani, hal itu akan banyak memberikan manfaat bagi umat. Dasar pemikirannya, selama ini ada ancaman bahaya dari orang-orang Portugis di Laut Merah, dan juga Pendeta Johannes di Laut Tengah. Maka setelah jatuhnya pemerintahan Mamluk, pemerintahan Utsmani menanggung semua beban ancaman itu sendirian. (Qiraat jadidah fit Tarikh Al-Utsmani, hlm. 70.)

Pendapat kami ini bisa dibuktikan oleh perkataan Sultan Salim I kepada Thuman Bey, pemimpin terakhir Pemerintahan Mamalik, setelah dia dikalahkan dalam peperangan Rayadaniyah. Di sana Sultan berkata: ”Saya tidak datang kepada kalian, kecuali setelah saya mendengar fatwa ulama di seluruh negeri. Saya semula berangkat untuk berjihad melawan orang-orang Rafidhah (Syiah Safawid) dan orang-orang kafir (Portugis dan Pendeta Johannes). Namun tatkala pemimpin kalian Al-Ghauri melakukan pembangkangan, datang membawa pasukan ke Aleppo, dan bersepakat dengan orang-orang Rafidhah untuk menyerang kerajaanku, yang merupakan peninggalan ayah dan moyangku; maka setelah semua urusan selesai dan orang-orang Rafidhah telah dikalahkan, maka kini saya datang menuju kepada kalian.” (Qiraat jadidah fit Tarikh Al-Utsmani, hlm. 71.)

Momen Terjadinya Benturan

Setelah terjadi berbagai peristiwa konflik antara pemerintahan Utsmani dan pemerintahan Safawid, maka Sultan Mamluk Qansuh Al-Ghauri wajib mengambil sikap, antara berpihak ke pemerintahan Utsmani dalam melawan pemerintahan Safawid. Atau berpihak kepada Safawid dalam melawan pemerintahan Utsmani. Atau bersikap netral di antara keduanya.

Al-Ghauri memilih bersikap netral secara zhahir. Namun mata-mata Utsmani menemukan bukti berupa surat-surat yang menunjukkan, bahwa pemerintahan Mamluk menjalin hubungan rahasia dengan pemerintahan Safawid. Surat itu kini masih tersimpan dengan baik di arsip Thub Qabi di Istanbul, Turki. Sultan Salim semula ingin melakukan serangan besar-besaran kepada pemerintahan Safawid yang berada di Persia. Namun setelah adanya berbagai peristiwa, dia memandang perlu untuk menyelamatkan "punggungnya” dengan cara menggabungkan wilayah Mamluk ke dalam pemerintahannnya.

Tidak ada jalan lain bagi Utsmani selain menyerang pemerintahan Mamluk (Mamalik) yang berkuasa di Suriah (Syam). Pasukan Sultan Salim dipersiapkan dengan baik menghadapi peperangan ini. Akhirnya, kedua pasukan bertemu di Marj Dabiq, dekat Aleppo pada tahun 1517 M. Di sana terjadi pertempuran sengit. Dengan ijin Allah, tentara Utsmani berhasil mengalahkan Mamluk. Sultan Al-Ghauri sendiri terbunuh. Sebagai bentuk penghormatan, pasukan Utsmani menyalatkan jenazah Sultan Al-Ghauri dan menguburkannya di dekat Aleppo. Setelah itu Sultan Salim memasuki Aleppo, lalu Damaskus.

Pasca kemenangan besar ini, nama Sultan Salim semakin harum. Dia didoakan oleh para khatib dan kaum muslimin di masjid-masjid. Ulama dan rakyat yang semula sangat menderita di bawah kekuasaan Sultan Mamluk, mereka tak henti mendoakan kebaikan baginya. Nama Sultan dicetak dalam mata uang, baik dengan sebutan Sultan atau Khalifah. (Qiraat jadidah fit Tarikh Al-Utsmani, hlm. 71.)

Sultan Salim memutuskan untuk melanjutkan peperangan dan mulai bergerak ke Mesir dengan melintasi gurun-gurun Palestina. Di tengah perjalanan menuju Mesir, hujan turun di tempat-tempat pasukan Utsmani sehingga sangat memudahkan pasukan Utsmani untuk bergerak melewati pasir-pasir. Sejarawan Salahatsur, penulis manuskrip Fath Namah Diyar Al Arab, yang ketika itu berada bersama Sultan Salim, dia menceritakan bahwa Sultan Salim menangis dalam doanya, di Masjid Shakhrah Al Quds Palestina.

Dia melakukan shalat hajat di masjid suci itu, seraya memohon kepada Allah agar dia diberi kemenangan saat menghadapi pasukan Mesir. (AI-Utsmaniyyun fit Tarikh WaI Hadharah, hlm 30.)

Untuk kesekian kalinya, gerakan pasukan Ustmani berjalan mulus, dengan pertolongan Allah Ta'ala. Pasukan Utsmani berhasil mengalahkan pasukan Mamalik di perang Giza, kemudian perang Raydaniyyah. Banyak faktor teknis yang dianggap sebagai sebab manusiawi kemenangan pasukan Utsmani, antara lain:

1. Keunggulan militer pasukan Utsmani. Misalnya, meriam yang dimiliki pasukan Mamluk rata-rata meriam besar yang tidak bergerak, sedangkan meriam-meriam pasukan Utsmani selain bersifat ringan, juga bisa digerakkan ke semua arah.

2. Keunggulan strategi pasukan Utsmani. Pasukan Utsmani mampu menempuh perjalanan panjang dalam jangka waktu cepat. Kecepatan ini menjadi keuntungan tersendiri, sehingga pasukan Utsmani bisa mengatur strategi lebih lama, sebelum momen peperangan terjadi. Selain itu pasukan Utsmani bergerak di belakang pasukan meriam, sehingga posisi mereka aman. Kemudian datang bala bantuan pasukan Utsmani dari arah Muqattham.

3. Kokohnya mentalitas pasukan Utsmani dan buah dari tarbiyah jihad yang begitu baik. Mereka meyakini sedang berjihad demi menegakkan keadilan.

4. Komitmen pasukan Utsmani untuk berpegang-teguh kepada Syariah dalam semua aspek kehidupan, serta kepedulian mereka yang tinggi terhadap prinsip keadilan. Sebaliknya, pemerintahan Mamluk jauh menyimpang dari Syariah yang mulia dan berlaku zhalim. (AI-Utsmaniyyun fit Tarikh WaI Hadharah, hlm. 31.)

5. Sejumlah pemimpin Mamluk memutuskan bergabung kepada tentara Sultan Salim. Mereka siap bekerjasama dengan pemerintahan Utsmani dan menjadikan wilayahnya berada di bawah pemerintahan Utsmani. Di antara pemimpin itu ialah adalah Khayir Beik, yang kemudian diangkat Sultan Salim menjadi penguasa Mesir, dan Janbarad Al-Ghazali yang diserahi Sultan Salim untuk memerintah di Damaskus. (AI-Syu'ub AI-Islamiyyah, Dr. Abdul Aziz Nawaz, hlm. 93.)

Pemerintahan Mamluk di Mesir mengalami kekalahan telak pada tahun 1516 M. Kemudian pemerintahannya mengalami kemundurun dan menyudahi halaman-halaman riwayat sejarahnya yang semula memiliki kekuasaan besar di wilayah Timur Tengah ataupun dunia secara umum. Mereka kehilangan vitalitas dan kemampuannya untuk kembali meremajakan pemerintahannya. Maka ambruklah pemerintahan Mamluk dan sirnalah negeri-negeri yang semula berada di bawah kekuasaanya. Semua negeri itu lalu berada di bawah pemerintahan Utsmani. (AI-Syu'ub AI-Islamiyyah, Dr. Abdul Aziz Nawaz, hlm. 92.)

Dr. Ali Hasun menukil dari Al-jabarati dari bukunya yang berjudul Tarikh Ajaib AI-Aatsar Fi AI-Tarajim wa AI-Akhbar, pada jilid pertama saat menggambarkan masa pemerintahan Utsmani di Mesir di masa pemerintahan Sultan-sultan besar. Di sana dia mengatakan:
"Mesir kembali berada di bawah kekuasaan besar, sebagaimana terjadi di awal masa-masa pemerintahan Islam. Tatkala Mesir berada sepenuhnya di tangan Sultan Salim I, dia mengampuni orang-orang Mamluk dan anak-anak mereka. Dia sama sekali tidak menyentuh wakaf para Sultan Mesir, bahkan sebaliknya dia menentukan distribusi uang untuk wakaf dan amal-amal kebaikan, untuk makanan hewan, dan jatah untuk minuman pendudukan Haramain dan Anhar. Dia juga mengalokasikan dana untuk anak-anak yatim, orang-orang yang sudah tua dan jompo. Demikian pula dia mengalokasikan dana untuk benteng-benteng, dan orang-orang yang disiapkan untuk berperang. Dia juga menghapus semua bentuk kekejaman, cukai dan hutang-hutang.

Tatkala Sultan meninggal, anaknya yang bernama Sulamain Al-Ghazi -semoga Allah merahmatinya- menggantikan dirinya. Dia membangun pilar-pilar dan menyempurnakan tujuan-tujuan yang akan dicapai. Dia mengatur pemerintahan dan menerangi kegelapan. Dia tinggikan menara agama dan dia padamkan api orang-orang kafir. Negeri-negeri itu teratur rapi di bawah pemerintahan mereka dan berjalan lurus di bawah kekuasaannya. Di masa awal pemerintahannya dipegang oleh orang-orang yang mampu mengemban amanah umat sebaik-baiknya, setelah para Khulafaur Rasyidin yang mendapat petunjuk. Mereka adalah orang-orang yang peduli terhadap agama dan orang yang paling getol berjihad melawan orang-orang kafir. Oleh sebab itu, pemerintahan mereka semakin meluas, berkat rahmat Allah. Demikianlah apa yang terjadi dan mereka tidak lalai untuk menjaga wilayah dan perbatasan negerinya, serta menyemarakkan syiar-syiar Islam dan sunnah-sunnah Rasulullah. Tidak lupa pula mereka menghormati para ulama, para ahli agama, serta berkhidmat untuk dua kota suci Makkah dan Madinah.” (AI-Syu'ub AI-Islamiyyah, Dr. Abdul Aziz Nawaz, hlm. 92)



Referensi: Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi
-----





Kemenangan Khilafah Utsmani Melawan Pasukan Nasrani Bersatu di Wadil Makhazin Afrika Utara



Pasukan Nasrani Bersatu

Sebastian berhasil mengumpulkan puluhan ribu pasukan Nasrani yang berdatangan dari Spanyol, Portugis, Italia dan Jerman. Dia mempersiapkan puluhan ribu pasukan, dengan senjata paling canggih di zamannya dan mempersiapkan 1000 kendaraan untuk mengangkut seluruh tentara menuju Maghrib. (Waadi AI-Makhazin, hlm.49.) Pasukan Nasrani ini sampai di Thanjah dan Ashila pada tahun 1578 M.

Pasukan Maghrib

Seruan yang demikian kencang terdengar di Maghrib, “Pergilah kalian ke Wadil Makhazin untuk berjihad di jalan Allah.”

Pasukan Maghrib berhimpun di bawah komandan Abdul Malik Al-Mu'tashim Billah. Sedangkan Al-Mutawakkil yang dicopot dari kekuasaannya, berusaha memecah-belah pasukan Maghrib. Maka dia segera menulis surat kepada penduduk Maghrib dengan mengatakan: "Saya tidak pernah meminta bantuan pada orang-orang Nasrani, kecuali saat tidak dapat bantuan lagi dari kaum muslimin. Bukankah para ulama mengatakan, “Boleh saja bagi manusia meminta bantuan pada siapa saja atas orang yang merampas haknya dengan semua cara yang bisa dia lakukan. Dia pun mengancam mereka dengan mengutip firman Allah Swt.,

"Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al-Baqarah: 279)

Apa yang dia katakan, segera mendapat reaksi keras dari para ulama di Maghrib. Surat yang dia kirimkan dibalas dengan surat lain yang menungkapkan kebatilan-kebatilannya dan menyingkap penipuan dan kebohongannya. Salah satu surat jawaban tersebut sebagai berikut:

“Segala puji bagi Allah, yang layak bagi keagungan-Nya. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw., penghulu para Nabi dan Rasul. Dan semoga keridhaan selalu terlimpahkan padanya. Hingga Allah membangun agama Islam dengan syarat-syarat kesahan dan kesempurnaannya. Wa Ba’du.

Ini merupakan surat jawaban dari para pemuka masyarakat, ulama, dan orang-orang saleh, serta pasukan-pasukan di Maghrib. Andaikata kau menimpakan celaan dan hinaan pada dirimu sendiri, maka engkau akan tahu bahwa sesungguhnya engkau kini sedang terhijabi dan engkau sedang mendapat ujian.

Sedangkan perkataanmu tentang orang-orang Nasrani, maka sesungguhnya mereka adalah para musuh, dan kau merasa keberatan untuk menamakannya sebagai orang-orang Nasrani.“ Di dalam ungkapanmu, sebenarnya terdapat kebencian yang tidak bisa kau sembunyikan. Adapun perkataanmu bahwa kau kembali pada mereka tatkala tidak ada lagi pertolongan dari kaum muslimin, maka di dalamnya ada larangan yang akan mendatangkan kemurkaan Rabb-mu. Salah satunya adalah karena engkau meyakini bahwa sesungguhnya semua kaum muslimin berada dalam kesesatan, dan sesungguhnya kebenaran tidak bisa ditegakkan kecuali dengan bantuan orang-orang Nasrani. Kita berlindung kepada Allah.

Kedua, sesungguhnya kamu meminta pertolongan pada orang-orang kafir untuk memerangi kaum muslimin. Padahal Rasulullah telah bersabda:

”Sesungguhnya aku tidak pernah meminta pertolongan kepada orang musyrik"

Meminta pertolongan kepada mereka untuk memerangi orang-orang muslim, tidak akan pernah terlintas kecuali di dalam dada orang yang hatinya berada di balik lisannya. Sebagaimana ungkapan orang dahulu menyebutkan: “Lidah seorang berakal berada di belakang hatinya.” Sedangkan kutipanmu terhadap firman Allah, ”Bahwa jika mereka tidak meninggalkan sisa riba itu, maka Allah dan Rasul-Nya akan memerangi mereka.” Bagaimana engkau mungkin bersama Allah dan Rasul-Nya? Apa yang kau katakan itu tidak akan didengar oleh tentara-tentara Allah, dan pembela agama-Nya, serta pelindung agama-Nya yang berasal dari orang-orang Arab dan non-Arab. Mereka adalah orang-orang yang di dalam dadanya bergelora semangat Islam dan bara keimanan. Di dalam dada mereka bersemi keimanan yang memancarkan lentera keyakinan. Di antara mereka ada yang mengatakan, “Tidak ada agama, selain agamanya Muhammad." Di antara mereka ada yang mengatakan, "Kalian akan melihat apa yang akan saya lakukan tatkala saya bertemu musuh.” Di antara mereka ada pula yang mengatakan dengan mengutip firman Allah,

"Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman; dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik (Al-Ankabut: 11)

Engkau sendiri telah membanggakan diri dalam suratmu dengan gerombolan orang-orang Romawi yang kini berada bersamamu. Dan kau merasa terangkat dengan datangnya raja itu dengan tentaranya. Lalu bagaimana posisimu terhadap firman Allah berikut, (Waadi AI-Makhazin, hlm. 53.)

”Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. " (At-Taubah:32)

Tatkala orang-orang Istana Besar melihat pasukan Nasrani dan mereka tidak melihat Sultan Abdul Malik segera datang, mereka akan lari dan akan bersembunyi di gunung-gunung. Saat itulah Syaikh Abul Mahasin Yusuf Al-Fasi bangkit menenangkan penduduk.”

Abdul Malik Billah Al-Mu'tashim Billah juga menulis surat dari Marakisy kepada Sebastian, "Sesungguhnya pengaruhmu telah tampak sejak engkau pertama kali keluar dari negerimu, sedangkan engkau membawa permusuhan. Maka janganlah engkau bergerak dahulu sebelum kami datang padamu. jika itu yang engkau lakukan, maka engkau benar-benar seorang Nasrani pemberani. Dan jika tidak, maka sebenarnya engkau tak lebih dari anak anjing. Bukanlah sikap pemberani atau sikap seorang ksatria jika seseorang datang ke penduduk suatu tempat yang tidak terlindungi dan dia tidak menanti orang-orang yang siap berperang.”

Surat ini berdampak kuat yang membuat Sebastian marah besar. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu, walaupun kebanyakan dari komandan-komandan tempurnya tidak setuju dengan keputusannya. Mereka malah menasehati agar dia segera melakukan pendudukan di Thatwan, Al-Araisy dan Al-Qashr. (Waadi AI-Makhazin, hlm. 53-54.) Maka berangkatlah pasukan Abdul Malik Al-Mu'tashim Billah. Sedangkan saudaranya Ahmad Al-Manshur menjadi komandan untuk wilayah Fas dan sekitarnya. Kedua pasukan bertemu di Istana Besar.

Perbandingan Kekuatan Mujahidin Maghribi Vs Nasrani Portugis

Pasukan Portugal

Pasukan Portugal terdiri dari 125.000 personil dengan semua perlengkapan perangnya. Setelah menuai kekalahan telak, sejarah-sejarah Eropa berusaha menyedikitkan jumlah pasukan itu dan sebaliknya membesar-besarkan tentara Maghrib. Riwayat-riwayat tersebut menyebutkan, jumlah tentara mereka hanya terdiri dari 14.000 pasukan jalan kaki, 2000 pasukan berkuda, 36 meriam melawan 50.000 pasukan jalan kaki Maghrib, 22.000 atau 15.000 pasukan pemanah dan ahli pengguna senjata api, serta 20 meriam.

Abu Al-Qadhi dalam bukunya AI-Muntaqaa AI-Maqshur menyebutkan: "Jumlah pasukan Portugis adalah 125.000 tentara.” (Waadi AI-Makhazin, hlm. 56.) Sedangkan Abu Abdullah Muhammad Al-Arabi Al-Fasi dalam bukunya Mir'atu AI-Mahasin mengatakan: "jumlah pasukan mereka adalah 125.000 personil. Atau paling sedikit jumlah mereka adalah 80.000 prajurit." (AI-Istiqsha', hlm. 5 / 69. Saya kutip dari Waadi AI-Makhazin, hlm. 56.)

Pasukan Portugis didukung 20.000 prajurit tempur Spanyol, 3.000 prajurit jerman, 7.000 pasukan Italia dan yang lainnya dalam jumlah besar. Ribuan kuda juga mereka persiapkan, disertai lebih dari 40 meriam menjadi senjata andalan. Semua kekuatan ini berada di bawah komando Sebastian. Bersama mereka juga terdapat pasukan pimpinan Al-Mutawakkil yang dicopot dari jabatannya dengan hina, yang membawa 300-600 tentara. (Waadi AI-Makhazin, hlm. 56.)

Pasukan Maghrib

Pasukan Maghrib berjumlah 40.000 personil mujahid. Mereka memiliki kelebihan pasukan kuda. Sedangkan meriam yang mereka bawa hanya berjumlah 34. Kondisi jiwa dan spiritual mereka demikian hebat. Hal ini disebabkan beberapa hal:

1. Mereka telah merasakan kemenangan gemilang melawan pasukan Nasrani yang pernah menduduki negeri mereka. Dan mereka mampu mengambil-alih beberapa benteng yang dikelilingi tembok-tembok tinggi dan parit-parit sangat dalam.

2. Semua rakyat mendukung satu pimpinan, bersatunya kabilah-kabilah, para pemimpin tarekat dan tasawuf, serta penduduk berbagai kota. Sebab, perang ini merupakan perang yang sangat menentukan dalam sejarah Islam dan merupakan perang yang sangat krusial bagi penduduk Maghrib. Syaikh Abul Mahasin Al-Fasi, pemimpin tarekat Syadziliyah Jazuliyah, tidak pernah letih dan lelah untuk mengobarkan semangat juang kaum muslimin. Syaikh sendiri memimpin salah satu sayap pasukan Maghrib. Dia berjuang mati-matian dan kokoh dalam perjuangannya hingga Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin. Pasukannya dengan tangkas dan trengginas menumpas musuh, membabat, dan menawan mereka. Syaikh sendiri dengan sikap wara'nya tidak mengambil harta rampasan perang, setelah Allah berikan kemenangan besar. Dia sama sekali tidak mengambil dari harta rampasan perang. (Waadi AI-Makhazin. hlm. 58.) Sementara itu, Abdul Malik Al-Mu'tashim Billah dan saudaranya Abul Abbas serta pada pimpinan Utsmani memperlihatkan kecemerlangannya di medan perang tersebut.

Pelajaran dari berbagai medan perang mengajarkan kepada Abdul Malik Al-Mu'tashim Billah untuk bertindak arif dan taktis dalam perang tersebut. Dia mengisolasi musuh dari armadanya di pesisir dengan sebuah tipu-muslihat jitu dan dengan taktik yang dipelajari sebaik-baiknya, yaitu ketika dia berhasil mengajak Sebastian ke tempat yang ditentukan Abdul Malik sebagai medan perang. Pengisolasian musuh dari armadanya merupakan langkah yang sangat tepat dan mujarab, tatkala Abdul Malik memerintahkan pada pasukannya untuk merusakkan jembatan dan dia mengirimkan pasukan berkuda yang dipimpin saudaranya Al-Manshur yang kemudian berhasil menghancurkan jembatan. (Waadi AI-Makhazin, hlm. 62.)

Abdul Malik mengatur tentara dengan formasi sebagai berikut. Meriam dia tempatkan di bagian depan, kemudian diikuti pasukan pemanah yang berjalan kaki. Sementara pusat komando berada di tengah. Sedangkan di bagian samping kiri dan kanan terdiri dari pasukan berkuda dan pasukan Islam tak berkuda. Dia juga menjadikan beberapa pasukan berkuda sebagai pasukan cadangan yang akan dia pergunakan di waktu yang tepat. Pasukan ini kapan saja siap untuk mengusir pasukan-pasukan Portugis yang melarikan diri dan setiap saat siap menyemai kemenangan. (Waadi AI-Makhazin, hlm. 62.)

Pada subuh hari Senin tanggal 30 Jumadil Akhir tahun 986 H/ 1578 M, merupakan hari yang sangat monumental dalam perjalanan sejarah Maghrib dan satu hari yang akan dikenang abadi dalam sejarah Islam. Pagi itu Sultan Abdul Malik berdiri di depan pasukannya menyampaikan khutbah, mengingatkan mereka tentang janji Allah bahwa Dia akan menolong orang-orang yang jujur dan berjuang di jalan Allah Swt., (Waadi AI-Makhazin, hlm. 62.)


"Sesungguhnya Allah pasti menolong siapa yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (Al-Hajj: 40)

"Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Anfaal: 10)

Selain itu, dia juga mengingatkan kaum muslimin untuk kokoh dan berteguh hati dalam perang. Dia mengutip firman Allah Swt. (artinya),

”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” (Al-Anfaal: 15)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguhhatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya, agar kamu menang." (Al-Anfaal: 45)

Dia juga mengingatkan akan arti pentingnya tertib dan disiplin di medan perang dengan mengutip firman Allah, (artinya)

”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti satu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)

Dia menyebutkan suatu hakikat yang tidak dibuat-buat, bahwa jika kaum Nasrani memenangkan pepeperangan, maka tidak akan ada lagi Islam di Maghrib. Kemudian dia membacakan ayat-ayat Al-Quran sehingga jiwa para mujahidin saat itu menjadi rindu untuk mati syahid. (Waadi Al-Makhazin, hlm. 66.)

Para pendeta kardinal pun tidak tinggal diam membangkitkan semangat pasukan Eropa yang saat itu dipimpin Sebastian. Mereka menyebutkan, bahwa Paus akan memberikan ampunan atas kesalahan dan dosa orang-orang yang menemui kematiannya dalam perang tersebut yang mereka sebut sebagai perang Salib.

Setelah itu, meletuslah sepuluh tembakan dari kedua belah pihak sebagai tanda dimulainya perang. Sultan Abdul Malik adalah orang pertama yang membalas serangan pertama yang dilakukan musuh. Dia meluncur bagaikan anak panah dengan menghunus pedangnya. Dia membuka jalan bagi tentaranya untuk menerobos masuk ke dalam barisan pasukan Nasrani. Namun penyakit yang dia bawa sejak dari Marakisy tiba-tiba menyerangnya kembali, sehingga dia harus kembali menuju kemahnya untuk dirawat. Kejadian itu hanya berlangsung dalam hitungan menit dan dia menghembuskan nafas terakhir di sana. Dia menolak untuk tidak ikut dalam perang.

Sungguh pribadi mujahid agung ini memiliki satu keistimewaan tersendiri dalam hal tekad dan keberanian. Saat menghembuskan nafas terakhir, dia berada dalam keadaan meletakkan jari telunjuknya ke dalam mulutnya mengisyaratkan agar kematiannya dirahasiakan, sampai tercapai kemenangan dan jangan sampai pasukan menjadi kocar-kacir. Dan inilah yang terjadi. Tidak ada seorangpun yang mengetahui kematiannya, kecuali saudaranya Ahmad Al-Manshur dan pengawalnya Ridhwan Al-Alaj. Pengawalnya berkata pada seorang tentara, “Sultan memerintahkan fulan untuk pergi ke posisi ini, fulan memegang panji perang, fulan maju dan fulan mundur." (Waadi Al-Makhazin, hlm. 66.)

Ahmad sendiri memimpin pasukan bagian depan dan menggempur tentara Nasrani yang berada di bagian belakang. Api menyala-nyala di mesiu-mesiu pasukan Nasrani dan kaum muslimin berhasil meluluhkan pasukan panah musuh. Satu per satu batalyon musuh binasa dan sebagian yang lain melarikan diri menuju jembatan sungai Waadil Makhazin, sebuah jembatan yang sangat berpengaruh dalam peperangan ini. Namun, jembatan itu telah dihancurkan tentara kaum muslimin atas perintah Sultan. Musuh pun berjatuhan di sungai. Di antara mereka ada yang tenggelam, ada yang ditawan, dan ada pula yang terbunuh. Sedangkan Sebastian dan ribuan pengikutnya ikut juga terpelanting. Sedangkan Al-Mutawakkil simbol pengkhianat jatuh tenggelam di sungai Wadil Makhazin. Pertempuran berlangsung selama 4 jam 20 menit dan Allah telah memberikan kemenangan besar di tangan pasukan islam. (Waadi Al-Makhazin, hlm. 66 dan 67.)


Referensi: Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi
-----





Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam