Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Perang Khilafah Melawan Pemerintahan Safawid Syiah



SULTAN SALIM I (918-926 H/1512-1519 M)

SULTAN SALIM I menduduki singgasana pemerintahan Khilafah Utsmani pada tahun 918 H/1512 M. Sejak awal pemerintahan, Sultan Salim cenderung ingin menyingkirkan pihak-pihak yang dianggap sebagai lawan politiknya, meskipun mereka itu masih satu saudara dan keluarga. Dia dikenal sebagai sosok yang sangat menyukai sastra Persia dan sejarah. Walaupun dikenal keras hati, Sultan Salim masih senang berteman dengan orang-orang alim. Dia selalu membawa para ahli sejarah dan penyair ke medan perang, agar semua peristiwa yang terjadi di medan perang bisa diabadikan ke dalam bait-bait syair. Para penyair itu selalu dimotivasi untuk mendengung-dengungkan sajak-sajak tentang kegemilangan masa lalu. (Fi UshuI Al-Tarikh AI-Utsmani, hlm. 76.)

Tatkala Sultan Salim I naik ke singgasana kekuasaan, pemerintahan Utsmani tengah berada di persimpangan jalan. Gagasan yang berkembang saat itu, apakah Kesultanan Utsmani akan mencukupkan diri pada wilayah yang telah dikuasai yang mencakup Baikan dan Anatolia? Atau ada keinginan melakukan perluasan wilayah ke Eropa atau bergerak ke Timur?

Namun kenyataan yang ada saat itu, Sultan Salim I telah melakukan perubahan besar dalam kebijakan pemerintahan Utsmani terkait masalah jihad. Di zaman itu dia menghentikan semua gerakan jihad ke arah Barat (Eropa). Sebaliknya, dia justru mengarahkan tentaranya ke wilayah Timur yang notabene adalah wilayah-wilayah muslim. Para sejarawan menyebut beberapa faktor yang menyebabkan perubahan kebijakan Sultan itu, antara lain:

Pertama, perasaan puas melihat pencapaian hasil ekspansi ke Eropa. Sebenarnya upaya penaklukkan ke Eropa saat itu tidak sepenuhnya terhenti, tetapi memang fokus perhatian ekspansi telah bergeser dari Barat ke Timur. (AI-Daulat AI-Utsmaniyyah fit Tarikh AI-Islami AI-Hadits, hlm. 26.)

Kedua, pasukan Utsmani bergerak ke wilayah Timur karena ingin menyelamatkan dunia Islam dari ancaman-ancaman bahaya, seperti datangnya kaum Salibis dari Spanyol melalui Laut Tengah, orang-orang Portugis di Lautan India, Laut Arab, dan Laut Merah. Waktu itu orang-orang Salibis sedang mengurung dunia Islam dengan blokade ekonomi, sehingga mereka dengan gampang bisa mencaplok negeri-negeri itu. (AI-Daulat AI-Utsmaniyyah fit Tarikh AI-Islami AI-Hadits, hlm.26.)

Ketiga, kebijakan pemerintahan Safawid di Iran dan usaha mereka untuk menyebarkan paham Syiah di Irak dan Asia Kecil. Provokasi ini mendorong, pemerintahan Utsmani keluar ke wilayah Arab Timur dengan tujuan untuk melindungi dunia Islam Sunni dari kesesatan. (AI-Islam fi Asia Mundzu Al-Ghazw Al-Mungoli, Dr. Muhammad Nashr, hlm. 240.)

Kebijakan pemerintahan Utsmani di masa Sultan Salim I berusaha menghancurkan pemerintahan Safawid-Syiah dan kemudian merangkul wilayah-wilayah Mamluk ke dalam kekuasaannya, melindungi Tanah Suci Makkah-Madinah, mengejar armada-armada Portugis. Juga berusaha memberikan bantuan Jihad melalui armada laut ke Afrika Utara, untuk menghancurkan Spanyol. Dan pada saat yang bersamaan ada usaha melanjutkan gerakan jihad ke Eropa Timur.

Perang Melawan Pemerintahan Safawid

Nasab pemerintahan Safawid berasal dari Syaikh Shafiuddin Al-Ardabili yang hidup tahun 650-735 H/ 1252-1334 M. Dia adalah kakek dari Syah Ismail Ash-Shafawi pendiri pemerintahan Safawid. Shafiuddin Al-Ardabili memiliki murid-murid dari kalangan sufi dan darwisy. Mereka bersikap setia dan turut menyebarkan Syiah di Irak, Syam, bahkan di wilayah Utsmani. (AI-Islam fi Asia Mundzu Al-Ghazw Al-Mungoli, Dr. Muhammad Nashr, hlm. 240.)

Shafiuddin dan kelompoknya berhasil masuk ke tengah-tengah masyarakat Iran. Mereka berdakwah menyerukan paham Syi'ah. Bahkan untuk memperkuat posisi, Shafiuddin mengklaim bahwa dia termasuk keturunan Ali bin Abi Thalib. Sebelum memiliki posisi kuat, dia sengaja melakukan taqiyyah (menyembunyikan kesyiahannya). Dia mengaku diri bermadzhab Syafi'i. Namun ketika semua jalan kekuasaan mulai terbentang luas di hadapannya, salah seorang cucunya yang bernama Syah Ismail secara terang-terangan menyatakan diri sebagai penganut Syiah. Bahkan Sultan Haidar dengan tegas menyatakan bahwa nasabnya bersambung ke Musa Al-Kazhim (salah seorang imam Syiah). Dengan demikian, secara otomatis pemerintahan Safawid di Iran beranggapan bahwa mereka adalah bagian dari Ahli Bait Rasulullah. (AI-Islam fi Asia Mundzu Al-Ghazw Al-Mungoli, Dr. Muhammad Nashr, hlm. 240.)

Syah Ismail berusaha keras agar rakyatnya menganut madzhab Syiah dan mendeklasikan madzhab itu sebagai madzhab resmi pemerintah. Dia menghabisi setiap musuh Syiah dengan kekuatan senjata. Orang-orang Safawid berhasil menghimpun banyak pengikut dari kalangan murid-murid dan tokoh. Semua kekuatan Syiah saat itu, dari sisa-sisa kaum 'Ubaidiyun di Mesir, Ismailiyah atau Safawid, mereka bersatu dan bergandeng tangan mendeklarasikan madzhab Syiah sebagai madzhab resmi masyarakat Iran.

Reaksi yang muncul demikian keras. Khususnya sebagian besar penduduk di kota-kota besar di Iran seperti Tibriz beraliran Sunni. Bahkan kalangan ulama Syiah pun khawatir akan terjadi reaksi keras terhadap madzhab ini dari kalangan Ahli Sunnah, sehingga mereka menyatakan penentangan secara terbuka terhadap pemerintahan Safawid yang bermadzhab Syiah.

Syah Ismail berusaha keras untuk menjadikan Syiah sebagai madzhab penduduk Iran. Namun hal itu ditanggapi dengan rasa tidak-puas oleh penduduk Iran yang bermadzhab Sunni, maka Syah Ismail pun segera mempersiapkan tentara kaum Syiah untuk memaksakan madzhab Syiah. Usaha itu mendapat dukungan besar dari kalangan Syiah yang sudah bernafsu ingin menghancurkan musuh-musuhnya dan memaksakan madzhab Syiah di negeri tersebut.

Dalam menjalankan misinya, Syah Ismail As-Shafawi memainkan politik sangat licik. Dia meminta bantuan kepada kabilah-kabilah Al-Tarlabasy yang berasal dari keturunan Turki untuk menjadi inti kekuatan militernya. Dengan cara ini Ismail As-Shafawi berhasil mengoptimalkan kekuatan madzhab pada elemen Al-Tarlabasy untuk menjadi sandaran utama kekuatan militernya. Di sana semua kelompok melebur menjadi satu, sehingga terjadilah satu kesatuan madzhab yang memungkinkan dia membentuk satu kekuatan politik baru. (AI-Islam fi Asia Mundzu Al-Ghazw Al-Mungoli, Dr. Muhammad Nashr, hlm. 242-243.) Ismail AI-Shafawi dikenal sebagai sosok kejam dalam peperangan dan tidak segan-segan melakukan tindakan brutal kepada penentang-penentangnya, khususnya jika pihak penentang itu dari kalangan Ahli Sunnah.

Dalam beberapa literatur disebutkan, ketika menaklukkan kerajaan-kerajaan 'Ajam (non Arab), dia selalu membunuh orang yang berhasil dikalahkan. Sedangkan harta yang berhasil dirampas dari peperangan, dia bagi-bagikan kepada para sahabat-sahabatnya. Dia sendiri tidak mengambil bagian. Beberapa wilayah yang dia kuasai adalah Tibriz, Azerbeijan, Baghdad, Irak non-Arab, Irak-Arab, juga Khurasan. Hampir saja dia mengaku diri sebagai tuhan. Para tentara bersujud kepadanya dan melakukan apa yang dia perintahkan.

Quthbuddin Al-Hanafi berkata dalam bukunya AI-A'Iam: “Sesungguhnya dia telah membunuh lebih dari sejuta manusia, satu kenyataan yang belum pernah terjadi di masa jahiliyah, apalagi di masa Islam, bahkan tidak pernah terjadi di masa umat-umat terdahulu. Dia juga membunuh sejumlah besar ulama ternama, sehingga tidak ada sesorang alim pun yang tersisa di negeri-negeri non-Arab. Dia membakar semua Mushaf dan buku-buku para ulama, dan menolak dengan keras Abu Bakar dan Umar serta Utsman sebagai Khalifah.

Di antara bentuk penghormatan yang pernah dilakukan oleh para sahabatnya kepada dia, ada dalam sebuah kisah yang sangat unik. Pada suatu hari, sapu tangan Syah Ismail jatuh dari tangannya ke laut. Saat itu dia sedang berada di atas gunung yang tinggi, di dekat laut itu. Serta merta lebih dari 1000 sahabatnya menceburkan diri ke dalam laut untuk mengejar sapu tangan itu, sehingga ada yang patah tulang dan tenggelam. Mereka yakin bahwa dalam diri Syah Ismail ada sifat-sifat ketuhanan. Kisah ini disebutkan oleh Quthbuddin. Dia tidak pernah dikalahkan dalam peperangan sampai akhirnya Sultan Salim I datang memeranginya dan berhasil mengalahkan dia...” (Al-Badr Al-Thali', 1/271.)

Syah Ismail memimpin madzhab Syiah dan sangat bersemangat menyebarluaskan paham sesat itu ke seantero negeri. Dakwah Syiah ini meluas sampai ke wilayah Turki Utsmani. Paham sesat itu seketika ditolak keras oleh warga Sunni Utsmani. Paham Syiah jelas-jelas sesat karena: mengkafirkan para Sahabat Rasulullah, melaknat generasi awal, mengubah Al-Quran, mengharamkan nikah mut'ah, menghalalkan kebohongan, dan lain-lain. Maka dari itu, sangatlah wajar jika Sultan Salim I merasa tertantang dengan provokasi Syah Ismail dan kawan-kawan tersebut. Deklarasi tahun 920 H/ 1514 M, bahwa Iran dan rakyatnya menganut paham Syiah bukan hanya mengancam pemerintahan Utsmani, tetapi juga seluruh dunia Islam. Di sana Sultan Salim meniatkan diri mengobarkan Jihad suci untuk menggempur pemerintahan Safawid di Iran. Pendapat ini didukung para ulama Sunni di Turki Utsmani saat itu. Apalagi Syah Ismail dicatat pernah melakukan kejahatan besar di wilayah Irak. Dia membunuh kaum muslimin (Sunni) dalam jumlah sangat besar. Selain itu, dia juga menghancurkan masjid-masjid dan membongkar kuburan-kuburan kaum muslimin.

Sebelum memulai peperangan, Sultan Salim melakukan pembersihan terhadap kaum Syiah, pengikut Syah Ismail. Dia kemudian memenjarakan dan memancung para pendukung Syah Ismail di Anatolia. Baru setelah itu serangan diarahkan ke Syah Ismail sendiri.

Sebelum memulai penyerangan, Sultan Salim bersikap bijaksana. Dia membuka dulu pintu dialog dengan Syah Ismail, melalui surat-menyurat. Namun surat-menyurat itu berlangsung sengit. Mula-mula Sultan Salim menulis surat kepada Ismail As-Shafawi yang berbunyi:

"Sesungguhnya para ulama di kalangan kami dan ahli hukum telah menetapkan qishash, wahai Ismail; sebab engkau telah dianggap sebagai orang murtad. Mereka mewajibkan bagi setiap muslim yang memiliki hak, untuk membela agamanya dan wajib menghancurkan kesesatan yang ada dalam dirimu; ataupun di dalam diri pengikut-pengikutmu yang bodoh. Namun sebelum memulai perang ini, kami mengajakmu untuk bertaubat, kembali ke jalan agama yang lurus, sebelum pedang kami terhunus. Lebih dari itu, wajib bagimu untuk meninggalkan wilayah-wilayah yang kamu rampas dari tangan kami. Maka jika itu yang kamu lakukan, kami siap memberi jaminan keselamatan kepadamu..." (Juhud AI 'Utsmaniyyin Li Inqadz AI-Andalus, hlm. 435.)

Adapun Syah Ismail membalas surat Sultan Salim itu dengan mengirimkan opium (narkoba), sambil mengatakan: “Sesungguhnya surat yang kamu kirim itu ditulis saat kamu berada di bawah pengaruh obat bius... " (Juhud AI 'Utsmaniyyin Li Inqadz AI-Andalus, hlm. 435.) Dengan mengirim contoh opium, Sultan Salim dituduh sedang mabuk, seperti orang yang biasa memakan opium.

Dalam surat lain, Sultan Salim mengatakan:

”Saya adalah pemimpin dan Sultan Utsmani, saya adalah penghulu pasukan berkuda di zaman ini. Saya adalah sosok yang menggabungkan antara keberanian dan keganasan, menggabungkan keagungan Iskandar dan memiliki sifat keadilan Kisra Persia. Saya penghancur berhala-berhala dan penghancur musuh-musuh Islam. Saya sosok yang membuat ketakutan orang-orang zhalim dan durjana, serta orang-orang congkak. Saya adalah sosok di mana raja-raja yang congkak bertekuk-lutut di hadapanku. Saya memiliki kemampuan untuk mencapai keagungan dan kemuliaan. Saya adalah raja yang penuh gairah, Sultan Salim Khan bin Sultan Al-A'zham Murad Khan.

Saya sarankan kepadamu, wahai Amir Ismail, wahai pemimpin pasukan Persia... Karena saya adalah salah seorang muslim dari kalangan muslim, dan Sultan bagi jamaah kaum mukminin yang Sunni, serta mentauhidkan Allah... Kini para ulama dan fuqaha yang berada di sekeliling kami telah mengeluarkan fatwa, wajib hukumnya membunuhmu, dan memerangi kaummu, maka wajib bagi kami untuk berangkat memerangimu dan menyelamatkan manusia dari kejahatanmu." (Fath AI-Utsmaniyyin 'Adn, Muhammad Abdul Latif Al-Bahrawi, hlm. 113.)

Tatkala sampai ke Istanbul, Sultan Salim I mempersiapkan perang total menghadapi kaum Safawid. Dia bergerak dari Istanbul menuju wilayah Iran. Ketika telah meninggalkan Eskaturi, dia mengirimkan surat ancaman kepada Syah Ismail yang berbunyi:

”Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Allah Sang Raja Pemilik segala kerajaan, Tuhan Mahatahu berfirman: ”Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah adalah agama Islam, maka barangsiapa yang mencari agama selain Islam, tidak akan diterima agamanya sedangkan di akhirat dia termasuk orang-orang yang merugi. Dan barangsiapa yang telah sampai padanya larangan dari Tuhannya, lalu dia berhenti, maka baginya apa yang diambilnya dahulu; dan urusannya (terserah) kepada Allah. Adapun orang yang mengulangi maka orang itu adalah penghuni-penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya.” (Ali Imran: 19).
”Dan barangsiapa yang mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.” (Ali Imran: 85).
"Barangsiapa yang telah datang padanya nasihat Tuhannya, lalu mentaatinya, maka masa lalunya (akan diampuni). Dan barangsiapa yang kembali (mengingkari), maka mereka itulah penghuni neraka yang akan kekal di dalamnya.” (Al-Baqarah: 275).
Ya Allah, jadikanlah kami orang-orang yang memberi petunjuk dan bukan orang-orang yang menyesatkan serta sesat. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada penghulu semesta, Muhamamd Al-Mushtafa dan para sahabatnya semua… (Al-Islam fi Asia Mundzu Al-Ghazw Al-Mungoli, hlm.246.)

Pada saat yang sama, Sultan Salim I mengutus seseorang untuk menemui salah salah seorang keluarga Aaq Quwaywunalu yang bernama Muhammad bin Farj Syah Beik untuk bergabung bersama Sultan memerangi Syah Ismail. Saat itu terjadi perang spionase antara kedua belah pihak. Menurut informasi yang diterima, Syah Ismail tidak berniat berperang menghadapi Sultan. Namun sikap itu dianggap sebagai strategi "mengulur waktu". Syah Ismail bermaksud mengundur waktu perang sampai memasuki musim dingin, sehingga diharapkan tentara Utsmani ketika itu akan mati kedinginan dan kelaparan. (Al-Islam fi Asia Mundzu Al-Ghazw Al-Mungoli, hlm.246.)

Sultan Salim menyadari strategi busuk Syah Ismail itu, maka dia jelas menolak menghentikan perang. Serangan akan terus dilancarkan. Apalagi ketika itu, Sultan Salim menempatkan pasukannya di gurun Yasin Jaman, sebuah tempat dekat Azerbeijan.

Sultan Salim segera melakukan serangan cepat ke posisi pasukan Syah Ismail. Dia juga mengirimkan peringatan dalam bentuk, mengirim sobekan kain, tasbih, kantong pengemis, dan tongkat, sebagai gambaran kaum darwisy yang kumel. Melalui peringatan ini, Sultan ingin mengingatkan asal-usul keluarga Safawid yang tidak sabar dalam menghadapi peperangan. Ternyata, Syah Ismail membalas surat itu dengan permintaan diadakan kesepakatan damai, serta membuka hubungan baru yang damai dan bersahabat. Namun Sultan Salim I menolak tawaran itu. Dia malah mencibir utusan yang dikirim oleh Syah Ismail dan memerintahkan menyingkirkan para utusan itu. Sultan Salim I sadar bahwa taktik musuh untuk mengadakan kesepakatan damai hanyalah untuk mengundur waktu sampai musim dingin.

Sultan Salim terus bergerak menuju sasaran. Bahkan kabar yang beredar, Syah Ismail telah siap perang dan dikabarkan pasukan dia telah mendekati gurun Jaladayaran. Maka Sultan melanjutkan gerakan menuju ke tempat tersebut dan tiba di sana bulan Agustus tahun 1514 M. Dia mengambil posisi-posisi strategis dan menguasai tempat-tempat dataran tinggi, sehingga sangat memungkinkan baginya untuk cepat mematikan terhadap gerakan Syah Ismail dan tentaranya. Dalam peperangan ini, Syah Ismail mengalami kekalahan sangat telak. Dia menderita kekalahan di tanahnya sendiri. (Al-Islam fi Asia Mundzu Al-Ghazw Al-Mungoli, hlm.247.) Syah Ismail terpaksa melarikan diri saat Sultan Salim hendak memasuki Tibriz, ibukota pemerintahan Safawid. Sultan Salim memasuki kota itu, dan segera memblokade kekayaan Syah Ismail dan pemuka Qalzabas. Tibriz dijadikannya sebagai pusat operasi militer. (Al-Islam fi Asia Mundzu Al-Ghazw Al-Mungoli, hlm.247.)

Perseteruan antara pemerintahan Utsmani yang Sunni dan Syiah di Iran tidak terhenti dengan berakhirnya peperangan Jaladayaran. Perseteruan itu semakin sengit dan keduanya selalu berusaha mencari titik-titik kelemahan lawan. Dengan rahmat Allah, Sultan Salim mampu memenangkan peperangan itu, berkat akidahnya yang lurus, manhajnya yang bersih, didukung oleh persenjataan yang telah maju, serta pasukan yang sangat terlatih. Kemudian dia kembali ke negerinya setelah mampu menguasai Kurdistan, Diyar Bakr, Marghasy Iblisin, dan sisa-sisa Dalfawad. Dengan demikian, Anatolia aman dari serangan yang datang dari wilayah Timur, dan pada saat yang sama terbuka pintu masuk menuju Azerbeijan dan Kaukaz. (juhud AI-Utsmaniyyin Li Inqadzi AI-Andalus, hlm.436.)



Referensi: Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi
-----





Berkurangnya Upaya Jihad Khilafah Utsmani Terhadap Andalusia



Usulan Pemerintahan Utsmani Kepada Bani As Sa'di

Pasukan Spanyol mulai memasuki wilayah-Wilayah Portugis; dan penguasa Portugis, Done Anthony, tidak mampu melakukan perlawanan terhadap kekuatan tersebut, sehingga wilayah Portugis dimasukkan ke dalam wilayah Spanyol pada tahun 988 H/ 1580 M.

Saat yang sama, Sultan Utsmani Murad III mengusulkan pada pemerintahan Sa'di untuk melakukan kesepakatan aliansi militer melawan Spanyol dengan cara memberikan bantuan berupa armada militer dan pasukan perang. Untuk itu, Sultan mengirim dua surat pada bulan Rajab 988 H /September 1580 M. Dalam surat tersebut disebutkan:

“Tatkala sampai ke telinga kami yang jernih dan ke dalam perasaan kami yang bening, sebuah kabar tentang kejahatan Castilla dan bahwa dia telah merampas hampir semua wilayah Portugis, atau hampir saja menjadikan penduduk Portugis berada dalam belenggu dan rantai-rantai besi; bahwa Spanyol telah menjadi penjahat dan musuh yang membahayakan bagi Anda, maka antusiasme keislaman kami mulai bangkit... untuk menampakkan kecintaan azali... untuk mengikat janji dan mengokohkan kembali, bahwa kedua pemerintahan sama-sama saling menjaga dan kami akan gantungkan perjanjian itu di atas Ka'bah. Maka jika ini selesai dan tuntas, kami akan segera mengirimkan 300 armada Utsmani dan pasukan yang kuat dari tentara Utsmani yang dengannya negeri Andalusia akan bisa ditaklukkan.”

Setelah pemerintahan Utsmani stabil di Tunisia, Qalj Ali memalingkan pandangan ke wilayah Maghrib (Tarikh AI-Jazair AI-Hadits, Muhammad Khair Paris, hlm. 52.) dan segera melakukan usaha penyatuan pandangan politik di negeri Maghrib yang Islami, dengan cara menjadikannya sebagai bagian dari pemerintahan Utsmani; (Tarikh AI-jazair AI-Hadits, Al-jallani, hlm.101.) khususnya setelah ada ketidakjelasan sikap Maula Ahmad Al-Manshur, penguasa terakhir dari pemerintahan Maghrib. Saat itulah datang maklumat kepada Qalj Ali, pimpinan armada Utsmani, untuk segera menuju Maghrib dan menjadikannya sebagai bagian dari pemerintahan Utsmani. Maka sampailah Qalj Ali ke Aljazair pada bulan Jumadil Akhir tahun 989 H/Juni 1581 M. Saat itu Al-Manshur dengan kekuatannya berada di dekat sungai Tansifat.
Al-Manshur mengirim utusan khusus ke Istanbul.

Sultan Utsmani segera memerintahkan Qalj Ali (AI-Maghrib fi 'Ahd Al-Daulah AI-Sa'diyyah, hlm.112.) dan wakilnya ja'far Pasya untuk tidak melanjutkan rencana di Maghrib dan hendaknya mereka segera berangkat ke wilayah Timur. Sebab pada saat itu terjadi gejolak di Hijaz. Maka Qalj Ali terpaksa harus menarik ambisinya untuk menaklukkan kembali Andalusia setelah disatukannya wilayah Maghrib. (Tarikh AI-jazair AI-Hadits, Al-jallani. hlm.97.)

Beberapa utusan datang silih berganti antara Astana dan Fas. Delegasi Ahmad bin Wuddah, Asy-Syazhami, dan Abul Hasan Ali bin Muhammad AtTamkaruti datang pada tahun 997-999 H/1588-1590 M. Pada tahun 998 H/ 1589 M, Ahmad Al-Manshur menerima utusan khusus pemerintahan Utsmani. Namun keinginan Sultan tidak bisa terealisasikan dalam usaha membangun aliansi dengan pemerintahan Sa'di untuk mengambil kembali Andalusia. Ketidakberhasilan ini disebabkan, pemerintahan Utsmani sedang sibuk berperang menghadapi orang-orang Syi'ah Safawid dan Hubsberg di Eropa tengah. Selain itu juga pemerintahan Utsmani memiliki kewajiban untuk melindungi tempat-tempat suci umat Islam di Hijaz dan membangun keamanan di sana. (Bidayah Al-Hukm Al-Maghribi Bi As-Sudan, hlm.97.)

Jihad Penguasa Aljazair dan Perubahan Kondisi

Pada tahun 990 H/ 1582 M penguasa Aljazair menyiapkan armadanya untuk menyerang Spanyol di wilayah mereka sendiri. Maka pasukan mujahidin segera mendarat di Barcelona. Di tempat itu kaum mujahidin melakukan pengrusakan sarana musuh. Kemudian mereka menyeberangi selat Gibraltar (jabal Thariq) dan menyerang kepulauan Kanari yang diduduki Spanyol. Kaum mujahidin mampu menghancurkan markas-markas militer musuh dan berhasil menjadikan apa yang ada di dalamnya sebagai rampasan perang. Yang perlu diingat adalah, bahwa kepergian pasukan mujahidin ke Andalusia bukan semata-mata untuk menghancurkan pasukan Spanyol atau merusak kekuatan mereka. Tujuan paling penting dari semua itu adalah menolong kaum muslimin Andalusia dari penderitaan yang menimpa mereka. Pada saat penyerangan itu, kaum mujahidin tidak jarang harus terlibat perang yang begitu menggetarkan, sengit, bahkan kadang harus menerima kekalahan. (AI-jazair Wal HamaIat Al-Shalibiyyah, hlm. 59.)

Perlakuan lnkisyariyah (salah satu pasukan khusus Utsmani) semakin hari semakin berlebihan terhadap penduduk Aljazair, ketika pasukan marinir sedang bergerak untuk berjihad dalam skala yang luas. (Tarikh AI-jazair AI-Hadits, hlm. 59.) Oleh sebab itulah, maka Hasan Fanazayanu yang saat itu sedang berlayar di lautan segera pulang kembali ke Aljazair setelah mendengar kekisruhan yang terjadi di kalangan tentara. Maka dia pun naik kembali sebagai penguasa Aljazair untuk kedua kalinya. Dia mewajibkan pada rakyatnya untuk mentaatinya pada bulan Rabiul Awal tahun 991 H / April 1583 M. Penobatannya ini tidak mendapat penentangan dari pemerintahan Utsmani, karena dia dianggap memiliki kecerdasan yang cukup untuk meredakan ketegangan dan memadamkan semua api fitnah, serta dianggap mampu untuk menstabilkan kembali Aljazair.

Maka Hasan Fanazayanu segera memimpin pemerintahan sesuai yang dibebankan padanya dengan penuh gairah dan tekad bulat. Di mana dia tidak membiarkan pucuk pimpinan armada Utsmani di Aljazair diserahkan kepada orang lain. Pada masa pemerintahanannya, banyak didapatkan harta rampasan yang dihasilkan oleh kapal-kapal perang yang berada di pesisir Spanyol dan kepulauan yang berada di sebelah timur. Di zamannya ini banyak musuh yang ditawan dan banyak harta yang menjadi rampasan perang.

Pada tahun 992 H / 1584 M Hasan Fanazayanu bergerak dengan pasukannya ke wilayah Valencia. Dia membawa sejumlah besar kaum muslimin Andalusia yang dibebaskan dari kejahatan Spanyol. Pada tahun berikutnya, dia juga mampu menyelamatkan semua penduduk Calosa yang kemudian dia bawa ke Aljazair. Pada tahun selanjutrnya, Murad Rayis melakukan serangan ke Lautan Atlantik dan menyerang kepulauan Kanari. Di tempat itu dia berhasil mengambil rampasan perang dalam jumlah sangat banyak, di antaranya adalah isteri penguasa wilayah tersebut. Hasan Fanazayanu tetap menjadi penguasa Utsmani di Aljazair hingga akhirnya dia dipanggil Sultan Utsmani ke Istanbul untuk menjadi panglima laut Utsmani, setelah meninggalnya Qalj Ali pada tahun 995 H/1578 M. (Tarikh AI-'Aam, Al-Jailani, 3 / 102-103.)

Berakhirnya Sistem Otonomi Luas di Aljazair

Dengan wafatnya Qalj Ali, maka berakhir pulalah sistem otonomi luas yang ada di Aljazair. Di mana sebelumnya penguasa Aljazair memiliki otoritas yang begitu luas dan pengaruh yang kuat. Sebagai gantinya, maka diberlakukan sistem Pasya sebagaimana yang ada di Tunisia dan Tripoli. (Harb Al-Tsalatsah Mi‘ah Sanah, hlm. 410 H.) Perubahan ini diinterpretasikan sebagai munculnya kekhawatiran pemerintahan Utsmani akan kemungkinan Aljazair memerdekakan diri, setelah kekuatannya semakin kuat, dan semakin melemahnya kekuatan laut pasukan Utsmani.

Sedangkan Pasya adalah pejabat yang dikirim pemerintahan Utsmani untuk memegang kekuasan selama tiga tahun, di mana sebenarnya dia tidak memiliki sandaran kuat dan dukungan lokal di antara wilayah yang menjadi kekuasaannya. (Al-Maghrib At-'Ambi, 'Aqqad, hlm. 28.) Pasya yang memerintah baik di Tunisia, Tripoli, dan Aljazair adalah Wakil Sultan dan memiliki wewenang mengambil kebijakan, karena jauhnya jarak antara wilayah yang menjadi kekuasaan dengan ibukota Istanbul.

Peristiwa-peristiwa yang terjadi setelah tahun 997 H/ 1588 M yang berkaitan dengan perwakilan Sultan Utsmani di tiga wilayah, Tripoli, Tunisia, dan Aljazair, memberikan manfaat besar bagi kekuatan pasukan dan tentara mariner. Namun sangat merugikan otoritas para Pasya. Namun karakter hubungan kekuasaan di dalam satu wilayah dan hegemoni kekuasaan pemerintahan Utsmani yang sering menjatuhkan sanksi, telah memberikan jaminan terealisasinya tujuan-tujuan politik pemerintahan Utsmani. ltu terbukti dengan selalu disebutkannya Sultan Utsmani di mimbar-mimbar khutbah jum'at, diterimanya setoran tahunan, peran serta mereka dalam perang yang terjadi antara pemerintahan Utsmani dengan pihak lain, serta penerimaan Pasya yang datang dari Astana sebagai representasi utama Sultan. Ini merupakan simbol kekuasaan resmi pemerintahan Utsmani. (Juhud Al-Utsmaniyyin, hlm. 477.)

Demikianlah perubahan yang terjadi dalam kebijakan pemerintahan Utsmani terhadap Afrika Utara setelah terjadinya peristiwa perang Lepanto pada tahun 978 H/ 1571 M. Setelah sebelumnya wilayah Afrika Utara berada di bawah otoritas sistem otonomi luas yang berpusat Aljazair, kini kawasan itu terbagi menjadi tiga wilayah, yaitu Tripoli, Tunisia, dan Aljazair. Aljazair menjadi Wilayah yang tidak istimewa dan menjadi wilayah seperti wilayah-wilayah Utsmani lainnya. Sikap pemerintahan Sa'di, perbuatan onar pasukan lnkisyariyah, serta pemberontakan yang muncul di wilayah Timur, dll. merupakan sebab-sebab lemahnya keinginan kuat pemerintahan Utsmani untuk mengambil alih kembali Andalusia.



Referensi: Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi
-----





Kemenangan Khilafah Utsmani Melawan Pasukan Nasrani Bersatu di Wadil Makhazin Afrika Utara



Pasukan Nasrani Bersatu

Sebastian berhasil mengumpulkan puluhan ribu pasukan Nasrani yang berdatangan dari Spanyol, Portugis, Italia dan Jerman. Dia mempersiapkan puluhan ribu pasukan, dengan senjata paling canggih di zamannya dan mempersiapkan 1000 kendaraan untuk mengangkut seluruh tentara menuju Maghrib. (Waadi AI-Makhazin, hlm.49.) Pasukan Nasrani ini sampai di Thanjah dan Ashila pada tahun 1578 M.

Pasukan Maghrib

Seruan yang demikian kencang terdengar di Maghrib, “Pergilah kalian ke Wadil Makhazin untuk berjihad di jalan Allah.”

Pasukan Maghrib berhimpun di bawah komandan Abdul Malik Al-Mu'tashim Billah. Sedangkan Al-Mutawakkil yang dicopot dari kekuasaannya, berusaha memecah-belah pasukan Maghrib. Maka dia segera menulis surat kepada penduduk Maghrib dengan mengatakan: "Saya tidak pernah meminta bantuan pada orang-orang Nasrani, kecuali saat tidak dapat bantuan lagi dari kaum muslimin. Bukankah para ulama mengatakan, “Boleh saja bagi manusia meminta bantuan pada siapa saja atas orang yang merampas haknya dengan semua cara yang bisa dia lakukan. Dia pun mengancam mereka dengan mengutip firman Allah Swt.,

"Jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), maka ketahuilah bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu.” (Al-Baqarah: 279)

Apa yang dia katakan, segera mendapat reaksi keras dari para ulama di Maghrib. Surat yang dia kirimkan dibalas dengan surat lain yang menungkapkan kebatilan-kebatilannya dan menyingkap penipuan dan kebohongannya. Salah satu surat jawaban tersebut sebagai berikut:

“Segala puji bagi Allah, yang layak bagi keagungan-Nya. Semoga shalawat dan salam terlimpahkan kepada junjungan kami Nabi Muhammad Saw., penghulu para Nabi dan Rasul. Dan semoga keridhaan selalu terlimpahkan padanya. Hingga Allah membangun agama Islam dengan syarat-syarat kesahan dan kesempurnaannya. Wa Ba’du.

Ini merupakan surat jawaban dari para pemuka masyarakat, ulama, dan orang-orang saleh, serta pasukan-pasukan di Maghrib. Andaikata kau menimpakan celaan dan hinaan pada dirimu sendiri, maka engkau akan tahu bahwa sesungguhnya engkau kini sedang terhijabi dan engkau sedang mendapat ujian.

Sedangkan perkataanmu tentang orang-orang Nasrani, maka sesungguhnya mereka adalah para musuh, dan kau merasa keberatan untuk menamakannya sebagai orang-orang Nasrani.“ Di dalam ungkapanmu, sebenarnya terdapat kebencian yang tidak bisa kau sembunyikan. Adapun perkataanmu bahwa kau kembali pada mereka tatkala tidak ada lagi pertolongan dari kaum muslimin, maka di dalamnya ada larangan yang akan mendatangkan kemurkaan Rabb-mu. Salah satunya adalah karena engkau meyakini bahwa sesungguhnya semua kaum muslimin berada dalam kesesatan, dan sesungguhnya kebenaran tidak bisa ditegakkan kecuali dengan bantuan orang-orang Nasrani. Kita berlindung kepada Allah.

Kedua, sesungguhnya kamu meminta pertolongan pada orang-orang kafir untuk memerangi kaum muslimin. Padahal Rasulullah telah bersabda:

”Sesungguhnya aku tidak pernah meminta pertolongan kepada orang musyrik"

Meminta pertolongan kepada mereka untuk memerangi orang-orang muslim, tidak akan pernah terlintas kecuali di dalam dada orang yang hatinya berada di balik lisannya. Sebagaimana ungkapan orang dahulu menyebutkan: “Lidah seorang berakal berada di belakang hatinya.” Sedangkan kutipanmu terhadap firman Allah, ”Bahwa jika mereka tidak meninggalkan sisa riba itu, maka Allah dan Rasul-Nya akan memerangi mereka.” Bagaimana engkau mungkin bersama Allah dan Rasul-Nya? Apa yang kau katakan itu tidak akan didengar oleh tentara-tentara Allah, dan pembela agama-Nya, serta pelindung agama-Nya yang berasal dari orang-orang Arab dan non-Arab. Mereka adalah orang-orang yang di dalam dadanya bergelora semangat Islam dan bara keimanan. Di dalam dada mereka bersemi keimanan yang memancarkan lentera keyakinan. Di antara mereka ada yang mengatakan, “Tidak ada agama, selain agamanya Muhammad." Di antara mereka ada yang mengatakan, "Kalian akan melihat apa yang akan saya lakukan tatkala saya bertemu musuh.” Di antara mereka ada pula yang mengatakan dengan mengutip firman Allah,

"Dan sesungguhnya Allah benar-benar mengetahui orang-orang yang beriman; dan sesungguhnya Dia mengetahui orang-orang yang munafik (Al-Ankabut: 11)

Engkau sendiri telah membanggakan diri dalam suratmu dengan gerombolan orang-orang Romawi yang kini berada bersamamu. Dan kau merasa terangkat dengan datangnya raja itu dengan tentaranya. Lalu bagaimana posisimu terhadap firman Allah berikut, (Waadi AI-Makhazin, hlm. 53.)

”Dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya, walaupun orang-orang kafir tidak menyukai. " (At-Taubah:32)

Tatkala orang-orang Istana Besar melihat pasukan Nasrani dan mereka tidak melihat Sultan Abdul Malik segera datang, mereka akan lari dan akan bersembunyi di gunung-gunung. Saat itulah Syaikh Abul Mahasin Yusuf Al-Fasi bangkit menenangkan penduduk.”

Abdul Malik Billah Al-Mu'tashim Billah juga menulis surat dari Marakisy kepada Sebastian, "Sesungguhnya pengaruhmu telah tampak sejak engkau pertama kali keluar dari negerimu, sedangkan engkau membawa permusuhan. Maka janganlah engkau bergerak dahulu sebelum kami datang padamu. jika itu yang engkau lakukan, maka engkau benar-benar seorang Nasrani pemberani. Dan jika tidak, maka sebenarnya engkau tak lebih dari anak anjing. Bukanlah sikap pemberani atau sikap seorang ksatria jika seseorang datang ke penduduk suatu tempat yang tidak terlindungi dan dia tidak menanti orang-orang yang siap berperang.”

Surat ini berdampak kuat yang membuat Sebastian marah besar. Akhirnya dia memutuskan untuk menunggu, walaupun kebanyakan dari komandan-komandan tempurnya tidak setuju dengan keputusannya. Mereka malah menasehati agar dia segera melakukan pendudukan di Thatwan, Al-Araisy dan Al-Qashr. (Waadi AI-Makhazin, hlm. 53-54.) Maka berangkatlah pasukan Abdul Malik Al-Mu'tashim Billah. Sedangkan saudaranya Ahmad Al-Manshur menjadi komandan untuk wilayah Fas dan sekitarnya. Kedua pasukan bertemu di Istana Besar.

Perbandingan Kekuatan Mujahidin Maghribi Vs Nasrani Portugis

Pasukan Portugal

Pasukan Portugal terdiri dari 125.000 personil dengan semua perlengkapan perangnya. Setelah menuai kekalahan telak, sejarah-sejarah Eropa berusaha menyedikitkan jumlah pasukan itu dan sebaliknya membesar-besarkan tentara Maghrib. Riwayat-riwayat tersebut menyebutkan, jumlah tentara mereka hanya terdiri dari 14.000 pasukan jalan kaki, 2000 pasukan berkuda, 36 meriam melawan 50.000 pasukan jalan kaki Maghrib, 22.000 atau 15.000 pasukan pemanah dan ahli pengguna senjata api, serta 20 meriam.

Abu Al-Qadhi dalam bukunya AI-Muntaqaa AI-Maqshur menyebutkan: "Jumlah pasukan Portugis adalah 125.000 tentara.” (Waadi AI-Makhazin, hlm. 56.) Sedangkan Abu Abdullah Muhammad Al-Arabi Al-Fasi dalam bukunya Mir'atu AI-Mahasin mengatakan: "jumlah pasukan mereka adalah 125.000 personil. Atau paling sedikit jumlah mereka adalah 80.000 prajurit." (AI-Istiqsha', hlm. 5 / 69. Saya kutip dari Waadi AI-Makhazin, hlm. 56.)

Pasukan Portugis didukung 20.000 prajurit tempur Spanyol, 3.000 prajurit jerman, 7.000 pasukan Italia dan yang lainnya dalam jumlah besar. Ribuan kuda juga mereka persiapkan, disertai lebih dari 40 meriam menjadi senjata andalan. Semua kekuatan ini berada di bawah komando Sebastian. Bersama mereka juga terdapat pasukan pimpinan Al-Mutawakkil yang dicopot dari jabatannya dengan hina, yang membawa 300-600 tentara. (Waadi AI-Makhazin, hlm. 56.)

Pasukan Maghrib

Pasukan Maghrib berjumlah 40.000 personil mujahid. Mereka memiliki kelebihan pasukan kuda. Sedangkan meriam yang mereka bawa hanya berjumlah 34. Kondisi jiwa dan spiritual mereka demikian hebat. Hal ini disebabkan beberapa hal:

1. Mereka telah merasakan kemenangan gemilang melawan pasukan Nasrani yang pernah menduduki negeri mereka. Dan mereka mampu mengambil-alih beberapa benteng yang dikelilingi tembok-tembok tinggi dan parit-parit sangat dalam.

2. Semua rakyat mendukung satu pimpinan, bersatunya kabilah-kabilah, para pemimpin tarekat dan tasawuf, serta penduduk berbagai kota. Sebab, perang ini merupakan perang yang sangat menentukan dalam sejarah Islam dan merupakan perang yang sangat krusial bagi penduduk Maghrib. Syaikh Abul Mahasin Al-Fasi, pemimpin tarekat Syadziliyah Jazuliyah, tidak pernah letih dan lelah untuk mengobarkan semangat juang kaum muslimin. Syaikh sendiri memimpin salah satu sayap pasukan Maghrib. Dia berjuang mati-matian dan kokoh dalam perjuangannya hingga Allah memberikan kemenangan kepada kaum muslimin. Pasukannya dengan tangkas dan trengginas menumpas musuh, membabat, dan menawan mereka. Syaikh sendiri dengan sikap wara'nya tidak mengambil harta rampasan perang, setelah Allah berikan kemenangan besar. Dia sama sekali tidak mengambil dari harta rampasan perang. (Waadi AI-Makhazin. hlm. 58.) Sementara itu, Abdul Malik Al-Mu'tashim Billah dan saudaranya Abul Abbas serta pada pimpinan Utsmani memperlihatkan kecemerlangannya di medan perang tersebut.

Pelajaran dari berbagai medan perang mengajarkan kepada Abdul Malik Al-Mu'tashim Billah untuk bertindak arif dan taktis dalam perang tersebut. Dia mengisolasi musuh dari armadanya di pesisir dengan sebuah tipu-muslihat jitu dan dengan taktik yang dipelajari sebaik-baiknya, yaitu ketika dia berhasil mengajak Sebastian ke tempat yang ditentukan Abdul Malik sebagai medan perang. Pengisolasian musuh dari armadanya merupakan langkah yang sangat tepat dan mujarab, tatkala Abdul Malik memerintahkan pada pasukannya untuk merusakkan jembatan dan dia mengirimkan pasukan berkuda yang dipimpin saudaranya Al-Manshur yang kemudian berhasil menghancurkan jembatan. (Waadi AI-Makhazin, hlm. 62.)

Abdul Malik mengatur tentara dengan formasi sebagai berikut. Meriam dia tempatkan di bagian depan, kemudian diikuti pasukan pemanah yang berjalan kaki. Sementara pusat komando berada di tengah. Sedangkan di bagian samping kiri dan kanan terdiri dari pasukan berkuda dan pasukan Islam tak berkuda. Dia juga menjadikan beberapa pasukan berkuda sebagai pasukan cadangan yang akan dia pergunakan di waktu yang tepat. Pasukan ini kapan saja siap untuk mengusir pasukan-pasukan Portugis yang melarikan diri dan setiap saat siap menyemai kemenangan. (Waadi AI-Makhazin, hlm. 62.)

Pada subuh hari Senin tanggal 30 Jumadil Akhir tahun 986 H/ 1578 M, merupakan hari yang sangat monumental dalam perjalanan sejarah Maghrib dan satu hari yang akan dikenang abadi dalam sejarah Islam. Pagi itu Sultan Abdul Malik berdiri di depan pasukannya menyampaikan khutbah, mengingatkan mereka tentang janji Allah bahwa Dia akan menolong orang-orang yang jujur dan berjuang di jalan Allah Swt., (Waadi AI-Makhazin, hlm. 62.)


"Sesungguhnya Allah pasti menolong siapa yang menolong (agama)-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Maha Kuat lagi Maha Perkasa." (Al-Hajj: 40)

"Dan kemenangan itu hanyalah dari sisi Allah. Sesungguhnya Allah Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana." (Al-Anfaal: 10)

Selain itu, dia juga mengingatkan kaum muslimin untuk kokoh dan berteguh hati dalam perang. Dia mengutip firman Allah Swt. (artinya),

”Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu bertemu dengan orang-orang kafir yang sedang menyerangmu, maka janganlah kamu membelakangi mereka (mundur).” (Al-Anfaal: 15)

“Hai orang-orang yang beriman, apabila kamu memerangi pasukan (musuh), maka berteguhhatilah kamu dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya, agar kamu menang." (Al-Anfaal: 45)

Dia juga mengingatkan akan arti pentingnya tertib dan disiplin di medan perang dengan mengutip firman Allah, (artinya)

”Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berperang di jalan-Nya dalam barisan yang teratur seakan-akan mereka seperti satu bangunan yang tersusun kokoh.” (Ash-Shaff: 4)

Dia menyebutkan suatu hakikat yang tidak dibuat-buat, bahwa jika kaum Nasrani memenangkan pepeperangan, maka tidak akan ada lagi Islam di Maghrib. Kemudian dia membacakan ayat-ayat Al-Quran sehingga jiwa para mujahidin saat itu menjadi rindu untuk mati syahid. (Waadi Al-Makhazin, hlm. 66.)

Para pendeta kardinal pun tidak tinggal diam membangkitkan semangat pasukan Eropa yang saat itu dipimpin Sebastian. Mereka menyebutkan, bahwa Paus akan memberikan ampunan atas kesalahan dan dosa orang-orang yang menemui kematiannya dalam perang tersebut yang mereka sebut sebagai perang Salib.

Setelah itu, meletuslah sepuluh tembakan dari kedua belah pihak sebagai tanda dimulainya perang. Sultan Abdul Malik adalah orang pertama yang membalas serangan pertama yang dilakukan musuh. Dia meluncur bagaikan anak panah dengan menghunus pedangnya. Dia membuka jalan bagi tentaranya untuk menerobos masuk ke dalam barisan pasukan Nasrani. Namun penyakit yang dia bawa sejak dari Marakisy tiba-tiba menyerangnya kembali, sehingga dia harus kembali menuju kemahnya untuk dirawat. Kejadian itu hanya berlangsung dalam hitungan menit dan dia menghembuskan nafas terakhir di sana. Dia menolak untuk tidak ikut dalam perang.

Sungguh pribadi mujahid agung ini memiliki satu keistimewaan tersendiri dalam hal tekad dan keberanian. Saat menghembuskan nafas terakhir, dia berada dalam keadaan meletakkan jari telunjuknya ke dalam mulutnya mengisyaratkan agar kematiannya dirahasiakan, sampai tercapai kemenangan dan jangan sampai pasukan menjadi kocar-kacir. Dan inilah yang terjadi. Tidak ada seorangpun yang mengetahui kematiannya, kecuali saudaranya Ahmad Al-Manshur dan pengawalnya Ridhwan Al-Alaj. Pengawalnya berkata pada seorang tentara, “Sultan memerintahkan fulan untuk pergi ke posisi ini, fulan memegang panji perang, fulan maju dan fulan mundur." (Waadi Al-Makhazin, hlm. 66.)

Ahmad sendiri memimpin pasukan bagian depan dan menggempur tentara Nasrani yang berada di bagian belakang. Api menyala-nyala di mesiu-mesiu pasukan Nasrani dan kaum muslimin berhasil meluluhkan pasukan panah musuh. Satu per satu batalyon musuh binasa dan sebagian yang lain melarikan diri menuju jembatan sungai Waadil Makhazin, sebuah jembatan yang sangat berpengaruh dalam peperangan ini. Namun, jembatan itu telah dihancurkan tentara kaum muslimin atas perintah Sultan. Musuh pun berjatuhan di sungai. Di antara mereka ada yang tenggelam, ada yang ditawan, dan ada pula yang terbunuh. Sedangkan Sebastian dan ribuan pengikutnya ikut juga terpelanting. Sedangkan Al-Mutawakkil simbol pengkhianat jatuh tenggelam di sungai Wadil Makhazin. Pertempuran berlangsung selama 4 jam 20 menit dan Allah telah memberikan kemenangan besar di tangan pasukan islam. (Waadi Al-Makhazin, hlm. 66 dan 67.)


Referensi: Bangkit Dan Runtuhnya Khilafah Utsmaniyah, Prof. Dr. Ali Muhammad Ash-Shalabi
-----





Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam