Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam

Tampilkan postingan dengan label Useful Information. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Useful Information. Tampilkan semua postingan

Jurus Jitu Jaga Si Buah Hati



Oleh: Ummu Fatimah, Ibu tiga orang anak tinggal di Depok

Sport jantung! Itulah yang kita rasakan sebagai kaum ibu di negeri ini. Belum habis kasus penculikan anak dengan berbagai modus, kini berita mencengangkan kembali menghantui para orang tua dengan-terkuaknya sebuah grup pedofil di facebook. Bayangkan saja, grup predator anak-anak yang baru terbentuk 9 Maret 2016, dalam satu tahun sudah diikuti 7000an lebih anggota.

Dan yang lebih mengerikannya terdapat 500 video dan 100 foto porno dengan anak-anak perempuan sebagai korban pelampiasan nafsu bejat mereka. Peraturan grup pun sangat menyeramkan. Harus memposting kegiatan seksual mereka bersama korban anak perempuan usia mulai dari 2 sampai 12 tahun. Dan tidak boleh memposting dengan korban yang sama, harus berganti. Artinya, sudah ada 500-an korban! Sungguh sangat jahat!

Dengan terbongkarnya aktivitas grup yang disetting private tersebut, membuka mata kita semua bahwa monster-monster pedofilia memang bertebaran di luar sana dan jumlahnya lebih dari 7 ribu orang. Dan kini tak main-main,anak-anak perempuan yang menjadi sasaran. Sungguh memprihatinkan, betapa anak-anak sekarang harus menghadapi masalah yang sangat berat dalam hidupnya, lantaran syariat Islam tidak diterapkan.

Lalu, saat ini apa yang harus kita lakukan sebagai orang tua? Mengunci anak terus dalam rumah juga bukan solusi. Anak butuh ruang untuk bereksplorasi dan tumbuh. Imun apa yang harus kita siapkan untuk anak-anak kita menghadapi serangan predator? Apapun hal-hal teknis yang dapat kita lakukan sekarang untuk melindunginya maka lakukan selama tidak haram. Tetapi itu saja tidak cukup melindungi anak secara penuh, selama negara tidak mendukung dengan penerapan syariat Islam secara kaffah termasuk menegakkan hukum Islam terkait pelaku pedofilia.

Di dalam lslam, anak-anak terjamin keselamatannya dengan penetapan sistem hukum yang berlapis-lapis. Tiga di antaranya sebagai berikut. Pertama, Islam mewajibkan orang tua merawat, mengasuh, mendidik, membina dan melindungi anak-anak mereka.

Kedua, Islam memerintahkan takwa. Takwa membuat seorang Muslim akan sungguh-sungguh melaksanakan perintah Allah meskipun berat. Ia juga akan berusaha keras meninggalkan perbuatan keji dan mungkar meski syahwatnya bergejolak. Takwa merupakan pencegah diri secara internal yang paling ampuh. Takwa mewujudkan sifat luhur yang sempurna pada manusia.

Ketiga, Islam mewajibkan negara menghukum pelaku kejahatan. Dalam Islam, pelaku perkosaan akan diganjar hukuman layaknya pezina. Bila belum menikah maka akan dikenakan seratus kali cambukan (QS. an-Nur [24]: 2). Bila telah menikah maka akan dirajam hingga mati.

Imam an-Nasa'i meriwayatkan dari Jabir bin Abdullah ra. bahwa Nabi SAW pernah mencambuk seorang pria yang berzina. Kemudian beliau mendapat kabar bahwa pria itu telah menikah (muhshan). Beliau lalu memerintahkan untuk merajam dia hingga mati.

Bagi si penerima sanksi, sanksi itu akan bisa menjadi penebus atas dosanya di akhirat. Sanksi yang tegas dan keras ini sekaligus juga efektif menimbulkan efek jera dan mencegah orang melakukan perzinaan.

Pembunuh anak akan di-qishas, yakni balas dibunuh, atau membayar diyat sebanyak 100 ekor unta. Setiap anggota tubuh anak memiliki nilai diyat sama dengan orang dewasa. Bagi yang melukai kemaluan anak kecil dengan persetubuhan dikenai 1/3 dari 100 ekor unta, selain hukuman zina.

Begitulah, hukum Islam demikian istimewa. Ia mencegah terjadinya pelecehan dan kejahatan seksual terhadap anak-dan juga menyelesaikannya. Ketika anak-anak perempuan banyak yang terancam tak lagi perawan karena tidak diterapkannya syariat Islam, sudah seharusnya bagi kita para orang tua, masyarakat serta pemimpin negara mengembalikan segala macam persoalan pada syariah Islam yang secara paripurna diterapkan oleh negara. Agar kehormatan anak perempuan kita terjaga. Agar anak-anak perempuan kita mulia-dan pelaku pedofilia tak lagi merajalela karena tegaknya hukum Islam yang luar biasa adilnya. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 194
---

Apa Maksud Politisasi Agama



Ribut-ribut spanduk menolak menshalatkan jenazah penista agama memunculkan kembali isu politisasi agama. Politisasi agama juga dikaitkan dengan sikap umat Islam yang menolak pemimpin kafir. Disebut-sebut politisasi agama membahayakan sistem politik demokrasi, ujung-ujungnya membahayakan negara.

Isu politisasi agama, bukanlah merupakan hal baru. Sama dengan isu radikalisme agama, ekstrimis, militan, ancaman terhadap kebhinekaan, merupakan isu propaganda untuk menyudutkan Islam. Sebagaimana, isu-isu propaganda, politisasi agama sendiri, tidaklah memiliki pengertian yang jelas apalagi tunggal. Karena defenisi yang kabur, tidak mengherankan isu propaganda ini digunakan secara inkonsisten dan subyektif berdasarkan kepentingan produser isu.

Umat Islam dan ulama yang menyerukan haram pemimpin kafir berdasarkan ayat Al-Qur’an dan hadits, kerap dituding melakukan politisasi agama.

Di sisi lain, pihak penuding, juga menggunakan jargon-jargon agama untuk kepentingannya. Mereka juga menggunakan ulama-ulama bayaran untuk memenangkan jagonya, mengadakan dan hadir dalam acara-acara agama, memberikan hadiah umrah dan haji, termasuk membanggakan diri telah membangun masjid. Padahal semua itu jelas-jelas hanyalah topeng!

Politik Islam sendiri sangat mungkin terjadi. Namun bukan berarti agama dan politik harus dipisahkan, sebagaimana halnya propaganda kelompok sekuleris-liberal.

Dalam pandangan Islam, agama dan politik itu tidak bisa dipisahkan, Imam al-Ghazali menyebutnya dua saudara kembar. Ia menyatakan: "Karena itu, dikatakanlah bahwa agama dan kekuasaan adalah dua saudara kembar. Dikatakan pula bahwa agama adalah pondasi (asas) dan kekuasaan adalah penjaganya. Segala sesuatu yang tidak punya pondasi niscaya akan roboh dan segala sesuatu yang tidak memiliki penjaga niscaya akan musnah." (Al-Ghazali, Al-Iqtishad fi al-I'tiqad, hlm.199)

Sementara Ibnu Taymiyah menegaskan, ”Jika kekuasaan terpisah dari agama atau jika agama terpisah dari kekuasaan, niscaya keadaan manusia akan rusak.” (Ibnu Taimiyah, Majmu' al-Fatawa, XXVIII/394).

Apa yang dipraktikkan langsung oleh Rasulullah SAW saat menjadi kepala negara Islam di Madinah menunjukkan hal yang jelas, bahwa Islam dan politik tak dipisahkan. Tampak jelas peran Rasulullah SAW sebagai kepala negara, sebagai qadhi (hakim) dan panglima perang. Rasul SAW pun mengatur keuangan Baitul Mal, mengirim misi-misi diplomatik ke luar negeri untuk dakwah Islam, termasuk menerima delegasi-delegasi diplomatik dari para penguasa di sekitar Madinah. Masjid Nabawi sendiri pada masa Rasulullah SAW bukan hanya digunakan untuk urusan ibadah ritual, tetapi juga menjadi tempat Rasulullah SAW bermusyawarah bersama para sahabatnya untuk membicarakan segala urusan rakyatnya, termasuk mengatur strategi perang.

Ya, Islam dan politik tidak bisa dipisahkan, karena hakikat politik adalah pengaturan urusan-urusan rakyat. Sementara itu, Islam merupakan agama yang wajib menjadi pedoman hidup dalam pengaturan urusan-urusan manusia, termasuk mengatur urusan rakyat. Karena itu dalam pandangan Islam, urusan rakyat haruslah diatur oleh syariah Islam. Untuk itu mutlak membutuhkan kekuasaan dan negara yang didasarkan kepada syariah Islam. Negara inilah yang dalam fiqh siyasah disebut khilafah.

Yang perlu kita lakukan adalah membedakan mana politik Islam sejati, mana sekadar politisasi agama dalam pengertian hanya menggunakan agama sebagai topeng dan alat mendukung kekuatan politik.

Beberapa indikator politisasi agama antara lain, pertama, Islam tidak dijadikan landasan dan tujuan dalam berpolitik. Politik Islam sejati, wajib menjadikan Islam sebagai landasan, kekuasaan yang diraih digunakan untuk menerapkan syariah Islam secara totalitas. Karenanya, kita patut curiga kalau ada pihak yang menggunakan slogan-slogan agama, tapi menolak penerapan syariah Islam secara totalitas. Dalam Islam, kekuasaan itu bukanlah sekadar mendudukkan Muslim untuk berkuasa tapi untuk menerapkan seluruh syariah Islam dalam negara, menjadikan syariah Islam berkuasa.

Kedua, cenderung inkonsisten dalam menggunakan dalil agama. Di satu kesempatan menggunakan Al-Qur’an untuk menolak pemimpin kafir, namun di lain waktu dan kesempatan, justru mendukung pemimpin kafir untuk berkuasa dengan berbagai dalih. Di satu sisi mereka mengecam sikap menolak untuk mensholati jenazah penista agama dengan alasan bertolak belakang dengan ajaran Islam, tapi dalam urusan politik mereka tidak mau diatur oleh aturan Islam.

Ketiga, pelaku politisasi agama cenderung tingkah lakunya bertentangan dengan syariah Islam. Kerap menggunakan simbol-simbol agama dalam berpakaian, namun tetap berpraktek muamalah ekonomi ribawi, atau tetap korupsi dan memakan uang rakyat. Ini juga merupakan indikasi politisasi agama.

Karena itu politik Islam sejati, adalah menjadikan kekuasaan untuk menerapkan syariah Islam secara totalitas di bawah naungan khilafah. Bukan sekadar mendudukan Muslim di tahta kekuasaan, tapi juga mengubah sistem sekuler dan liberal dengan syariah Islam. Karena itulah politik Islam sejati hanya terwujud dengan adanya khilafah yang menerapkan seluruh syariah Islam. Allahu Akbar!

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 193
---

Merekatkan Kembali Ukhuwah



Suatu ketika, ada salah seorang sahabat Rasulullah SAW yang kedatangan seorang tamu. Kemudian sahabat tersebut bertanya kepada istrinya, ”Apakah kamu memiliki sesuatu untuk menjamu tamu." Istrinya menjawab, “Tidak ada, hanya makanan yang cukup untuk anak-anak kita." Lalu sahabat tersebut berkata, "Kalau begitu, sibukkanlah anak-anak kita dengan sesuatu. Kalau mereka ingin makan malam, ajak mereka tidur. Jika tamu kita masuk (ke ruang makan), padamkanlah lampu. Tunjukkan kepada dia bahwa kita pun sedang makan bersamanya.” Mereka pun duduk bersama (tanpa makan), sementara tamu tersebut makan sendirian. Malam itu keluarga sahabat itu tidur dalam keadaan menahan lapar. Tatkala pagi, pergilah mereka berdua (sahabat dan istrinya) menuju Rasulullah SAW. Lalu Rasulullah SAW memberitakan (pujian Allah SWT kepada mereka berdua), ”Sungguh Allah merasa kagum dengan perbuatan kalian berdua (kepada tamu kalian).” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Dalam riwayat lain, Ibnu Umar ra. bertutur: Salah seorang dari sahabat Nabi SAW pernah diberi hadiah kepala kambing. Dia lalu berkata, ”Sungguh fulan dan keluarganya lebih membutuhkan ini daripada kami.” Ibnu Umar berkata, ”Lalu ia mengirimkan hadiah tersebut kepada yang lain. Secara terus-menerus hadiah itu dikirimkan dari satu sahabat kepada sahabat yahg lain hingga berputar sampai tujuh rumah. Akhirnya, hadiah itu kembali kepada orang yang pertama kali memberikan.” (HR. al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman, 3/259).

Dalam riwayat lainnya Iagi, Nafi', maula Ibnu Umar, meriwayatkan: Ibnu Umar suatu ketika sakit. Ia sangat menginginkan anggur. Lalu ia mengutus Shafiyah (istrinya) dengan membawa satu dirham untuk membeli anggur segar. Saat pelayan (utusan) mengantarkan anggur, dia diikuti oleh seorang pengemis. Setelah sampai di pintu rumah, utusan masuk. Dari luar pengemis berkata, ”Ada pengemis.” Lalu Ibnu Umar berkata, “Berikan anggur itu kepada dia." Lalu utusan itu memberikan anggur tersebut kepada pengemis tersebut. (HR. al-Baihaqi, Syu'ab al-Iman, 3/260).

Dalam riwayat lainnya lagi yang lebih menakjubkan, Abdullah bin Mushab az-Zubaidi dan Hubaib bin Abi Tsabit bertutur: Pada Perang Yarmuk, telah syahid Harits bin Hisyam, Ikrimah bin Abu JahaI, dan Suhail bin Amr. Sebelum syahid, mereka ketika itu akan diberi minum, sedangkan mereka dalam keadaan kritis. Namun, semuanya saling menolak.
Ketika salah satudari mereka akan diberi minum, dia berkata, ”Berikan dulu air itu kepada si fulan.” Demikian seterusnya sehingga semuanya meninggal, sementara mereka belum sempat meminum air itu.
Dalam versi lain perawi menceritakan: Ikrimah meminta air minum, namun ia melihat Suhail sedang memandang dirinya. Ikrimah lalu berkata, ”Berikan air itu kepada dia." Ketika itu Suhail juga melihat al-Harits sedang melihat dirinya. Suhail lalu berkata, ”Berikan air itu kepada dia.” Namun, belum sampai air itu kepada Harits, ternyata ketiganya telah meninggal tanpa sempat merasakan air minum tersebut sedikitpun. (HR. Ibnu Saad dalam Ath-Thabaqat).

Demikianlah beberapa penggal kisah sahabat Rasulullah SAW. Kisah-kisah di atas menggambarkan bagaimana kuatnya ikatan ukhuwah Islamiyyah di kalangan para sahabat Rasulullah SAW. Begitu kuatnya ukhuwah mereka hingga mereka lebih mementingkan dan mendahulukan sahabat yang lain ketimbang diri mereka sendiri. Mereka tentu mengamalkan sabda Rasulullah SAW, ”Perumpamaan kaum Mukmin dalam hal saling mengasihi, saling menyayangi dan saling mencintai adalah seperti sebuah tubuh; jika salah satu anggota tubuh sakit, maka anggota-anggota tubuh yang lain ikut merasakan sulit tidur dan demam.” (HR. Muslim).

Mereka pun tentu mengamalkan sabda Rasulullah SAW, ”Seorang Mukmin bagi Mukmin yang lain adalah seperti sebuah bangunan yang bagian-bagiannya saling menguatkan satu sama lain.” (HR. Muslim).

Karena itu, marilah kita meneladani para sahabat, sebagaimana tercermin dalam kisah-kisah di atas, dengan makin merekatkan kembali ikatan ukhuwah kita. []abi

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 190
---

Agar Tidak Fokus Pada Kekurangan


ilustrasi: gambar perempuan mexico masuk Islam

Assalaamu’alaikum Wr. Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, saya seorang ibu sekaligus pengemban dakwah. Selama ini suka iri melihat teman-teman yang dalam pandangan saya memiliki banyak kelebihan. Bisa menulis, berbicara dengan lancar menyampaikan ide-ide Islam terkait pemikiran-pemikiran dan opini-opini yang sedang berkembang di tengah-tengah umat. Terkadang saya merasa malu, kok tidak bisa seperti mereka. Bagaimana saya harus memulai agar muncul keberanian, dan tidak fokus pada kekurangan saya. Mohon sarannya.

Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
TN-O857 x x x

Wa’alaikumsalam Wr. Wb.

Ibu TN yang baik,

Tak ada manusia yang sempurna, masing-masing memiliki kekurangan dan kelebihan. Meski di antara makhluk lainnya, manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang paling sempurna. Padanya diberikan akal pikiran dan perasaan yang membedakannya dari makhluk Allah lainnya.

“Sesungguhnya Kami telah menjadikan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya" (TQS. At-Tin: 4)

Kegelisahan yang Anda rasakan adalah wajar. Tapi sebaiknya jangan terlalu dipikirkan. Yang lebih penting adalah bagaimana mengoptimalkan kelebihan yang Anda miliki, dan mengolah kekurangan menjadi kekuatan tersendiri. Saya yakin, Anda juga bisa melakukannya.

Ibu TN yang baik,

Tidak percaya diri muncul ketika kita merasa ragu-ragu dalam melakukan suatu perbuatan atau tindakan. Kita merasa bahwa apa yang akan kita lakukan kurang baik di mata orang lain, atau kita merasa takut salah dalam melakukan sesuatu. Padahal kekhawatiran kita itu tidak mendasar. Bisa jadi perasaan kita mengatakan apa yang kita lakukan kurang baik di mata orang lain, padahal baik di mata Islam. Bila Anda merasa benar, jangan ragu-ragu untuk melangkah.

Ibu TN yang baik,

Hal pertama yang penting dilakukan agar muncul rasa percaya diri adalah dengan menyadari bahwa Allah SWT, menciptakan kita berkualitas unggul dan dalam kondisi terbaik. Langkah berikut, kenali potensi Anda. Banyak orang rendah diri karena dia tidak menjalani hidup sesuai dengan potensinya. Mereka melupakan atau tidak melihat potensinya dengan benar.

Cari tahu kelebihan yang Anda miliki, selami kelemahannya. Tulislah apa saja yang mengganggu diri Anda sehingga tidak punya keberanian dan tidak percaya diri. Tuliskan juga segala potensi yang Anda miliki. Ketika Anda tahu tentang potensi yang dimiliki, asahlah, pelajari pengetahuan yang berkaitan dengan potensi yang Anda miliki itu. Tetaplah fokus pada kelebihan bukan kekurangan. Insya Allah, kepercayaan diri akan segera muncul.

Ibu TN yang baik,

Teruslah memotivasi diri sendiri agar Anda memiliki kekuatan untuk menerima kekurangan, tidak menghambat kelebihan yang Anda miliki. Bayangkan jika Anda fokus pada kelebihan, akan banyak sekali keuntungan yang akan Anda dapatkan. Ucapkan kata-kata positif ke dalam benak Anda, dengan begitu Anda telah membangkitkan energi positif ke dalam pikiran Anda sendiri.

Jangan biarkan pikiran negatif tentang kekurangan Anda menghambat kelebihan Anda yang sangat berharga. Segeralah lakukan aktivitas untuk mengoptimalkan kelebihan, dan mengolah kekurangan. Ketika Anda sudah mengoptimalkan kelebihan yang Anda miliki, maka kekurangannya akan menjadi tak terlihat. Dan muncullah rasa percaya diri.

Setelah muncul percaya diri, Anda akan lebih banyak melakukan dan mencoba dibandingkan saat rendah diri. Saat Anda memiliki kea beranian, maka peluang keberhasilan akan semakin besar.

Ibu TN yang baik,

Kurangnya percaya diri biasanya juga terkait dengan seberapa banyak ilmu yang kita miliki. Maka jangan bosan untuk terus belajar. Bukankah opini tentang Islam itu mesti disampaikan dengan perkataan atau tulisan?

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 187
---

Jika Memiliki Sahabat Posesif



Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati. Dalam pergaulan sehari-hari tentu kita akan selalu dapati silih bergantinya orang-orang yang hadir dalam kehidupan kita. Hari ini mungkin kita sangat dekat dan bersaudara dengan seseorang dan di hari berikutnya bisa jadi ada kondisi tertentu kita harus berpisah dengan seseorang yang sudah sangat dekat dengan kita. Entah karena salah satu dari kita harus pindah rumah misalnya, masing-masing punya aktivitas baru yang menyibukan, dan sebagainya. Adakalanya, untuk sebagian orang sangat sulit menerima perpisahan itu, bahkan mungkin akhirnya ada kecenderungan untuk posesif. Bagaimana mengatasi teman atau sahabat yang posesif? Terima kasih atas jawabannya.

Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
DW-Bogor

Wa'alaikumsalam Wr. Wb.

Ibu DW yang baik,

Dalam kehidupan sehari-hari kita memerlukan teman atau sahabat. Teman dekat atau sahabat adalah orang yang sangat berarti dalam kehidupan kita masing-masing. Sahabat akan membantu kita menyelesaikan masalah, mengingatkan kalau berbuat salah atau hanya sekedar tempat menumpahkan uneg-uneg, dan saling bertukar pengalaman. Kita bisa bayangkan kalau tidak pernah punya teman (sahabat), karena sekuat apapun seseorang akan membutuhkan orang lain. Seorang sahabat memang seringkali menjadi orang yang kita percaya, dan menjadi sandaran saat kita dirundung masalah. Akan tetapi, seorang sahabat yang baik juga akan menghargai pendapat kita dalam mengambil keputusan jika memang baik untuk diri kita sendiri. Tidak sebaliknya, mengungkung kita untuk selalu mengikuti keinginannya, bahkan cenderung memiliki sifat posesif. Bentuk persahabatan yang semacam ini tentu membuat kita tidak nyaman.

Ibu DW yang baik,

Sikap posesif biasanya dipicu karena adanya perasaan tidak aman. Bisa jadi karena baginya, Anda adalah sosok sahabat yang sempurna. Atau, dia pernah mengalami trauma soal persahabatan di masa lampau. Sebagai seorang sahabat, bukan berarti Anda tidak berhak memiliki teman-teman lain. Saat Anda memiliki lingkungan baru, teman-teman baru, ceritakan kepada sahabat Anda bahwa Anda senang dengan lingkungan dan teman-teman baru Anda. Jika ada kesempatan, ajak sahabat Anda untuk berkenalan dengan teman-teman baru Anda. Dengan begitu, Anda dan sahabat Anda dapat memiliki kenalan-kenalan baru dan pergaulan yang semakin luas. Jika sahabat iri akan kehadiran teman-teman baru Anda, tunjukkan bahwa ia tetap sahabat Anda.

Ibu DW yang baik,

Bersahabat bukan berarti tidak memiliki privasi. Batasi privasi Anda dengan cara Anda juga membatasi privasinya. Sahabat yang posesif biasanya ingin pendapatnya selalu didengar. Dalam beberapa masalah, dia sering mendominasi percakapan dan ingin Anda selalu mengikuti sarannya. Memberi saran dan nasihat adalah hal yang baik, karena menandakan bahwa dia peduli dengan Anda. Di sisi lain, dia juga harus tahu bahwa Anda juga berhak mengambil keputusan untuk diri Anda sendiri. Jika ia sahabat yang mengerti Anda, akan dengan senang hati memberikan Anda ruang untuk berpikir.
Orang yang posesif cenderung selalu merasa tergantung, sehingga tidak bisa jauh-jauh dari Anda. Sampaikan pada sahabat Anda, bahwa tidak selamanya Anda akan berada di dekatnya, dan ketergantungan justru akan menyusahkan diri sendiri. Jika sahabat Anda marah saat tidak diikuti kemauannya, katakan bahwa Anda menghargai pendapatnya, namun Anda berpikir tindakan Anda juga tidak ada salahnya. Dalam bersahabat, adalah hal yang baik jika Anda dapat mengutarakan pendapat Anda dengan baik, tidak saling mendominasi tapi saling menghargai dan mencintai.

”Sesungguhnya kelak di Hari Kiamat Allah akan berfirman, ”Di mana orang-orang yang saling mencintai karena keagungan-Ku? Pada hari ini Aku akan memberikan naungan kepadanya dalam naungan-Ku di saat tidak ada naungan kecuali naungan-Ku.” (HR.Muslim) []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 143, Januari-Pebruari 2015
---

Jika Istri Merasa Lebih Dari Suami



Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, saya seorang ibu ingin bertanya, bagaimana menyikapinya, jika karakter istri lebih kuat dibanding suami. Misal dalam kecepatan berpikir ketika mengambil keputusan, kegesitan dalam mengambil langkah, untuk menambah pemasukan RT dan lain-lain. Terkadang kondisi ini membuat istri merasa lebih ‘superpower’ dibanding suami. Mohon solusinya. Syukron.

Wassalaamu 'alaikum Wr. Wb
FR - Tasik

Wa 'alaikumussalam Wr. Wb.

Ibu FR yang baik,

Sebagai sebuah ibadah, pernikahan memiliki sejumlah tujuan mulia. Memahami tujuan itu sangatlah penting guna menghindarkan pernikahan bergerak tak tentu arah yang akan membuatnya sia-sia tak bermakna. Menikah adalah menjalankan sunnah Nabi sesuai dengan fitrah manusia. Hikmah yang dapat diambil jika sunnah Nabi ini dijalankan adalah munculnya ketentraman jiwa. Dengan pernikahan akan tumbuhlah kecintaan, kasih sayang, dan kesatuan antara pasangan suami-isteri. Dengan pernikahan, keturunan umat manusia akan tetap berlangsung semakin banyak dan berkesinambungan. Pernikahan juga bertujuan untuk menjalin silaturahmi. Bertemunya suami istri akan dibarengi dengan bertemunya dua keluarga. Semestinya pernikahan juga diarahkan sebagai sarana untuk dakwah, amar ma'ruf nahi mungkar.

Ibu FR yang baik,

Dalam kehidupan rumah tangga, seringkali muncul persoalan relasi antara suami istri. Tidak mudah memang menyatukan dua orang pribadi yang berbeda, berasal dari latar belakang yang berbeda, yang memiliki kebiasaan, karakter, keinginan, yang berbeda pula. Keadaan ini jika tidak dihadapi dengan penuh kesabaran dan saling menghargai satu sama lainnya seringkali akan menimbulkan, ketidaknyamanan pada kedua belah pihak, suami dan istri. Seperti halnya persoalan yang Anda sampaikan. Ada kalanya memang istri memiliki kelebihan-kelebihan dibandingkan dengan suami. Karenanya, sangatlah penting bagi setiap pasangan yang akan menikah untuk mempersiapkan pernikahannya dengan baik, sehingga dapat mengantisipasi segala sesuatu yang akan dihadapi dalam kehidupan rumah tangga.

Ibu FR yang baik,

Dalam kehidupan rumah tangga, ada hak dan kewajiban masing-masing yang semestinya dijalankan dan diterima. Keluarga sakinah hanya bisa dicapai bila pasangan suami istri dan anak-anak menyadari hakdan kewajiban masing-masing serta mampu melaksanakan semua itu dengan baik dalam kehidupan sehari-hari.
Sakinah sesungguhnya hanyalah buah dari interaksi seluruh anggota keluarga yang dijalankan secara Islami. Tak terkecuali relasi antara suami dan istri. Layaknya dua orang "sahabat” yang harus tetap memperhatikan hak dan kewajibannya masing-masing. Ketika hak dan kewajibannya ini berjalan dengan sempurna maka masing-masing akan merasa nyaman dan tentram tinggal di dalam rumah. Rumah akan benar-benar dirasakan sebagai tempat yang memberikan ketenangan, kebahagiaan, kedamaian dan perlindungan, bukan sebaliknya keresahan, pertentangan dan keributan yang membuat para penghuninya tidak betah tinggal di sana.

Ibu FR yang baik,

Sehebat apapun istri dalam kehidupan rumah tangga, maka peran masing-masing tetap harus jelas. Kepemimpinan tetap harus berada di tangan suami. Ketika istri memiliki kemampuan lebih, tetaplah hormat kepada suami. Hindari melakukan hal-hal yang membuat suami merasa disepelekan terutama soal keuangan. Terkadang tanpa disadar istri yang lebih ”sukses" dari pasangannya merasa lebih berkuasa. Saat sikap tersebut muncul, di situlah mulai timbul konflik. Biarkan suami juga merasa memberikan kontribusi terhadap rumah tangga, jangan sampai muncul sikap merendahkan suami.
Tetaplah menghargai pendapat suami, sampaikan dengan lembut, sekiranya memang pendapatnya tidak tepat. Suami akan merasa tidak dihargai oleh istri jika pola komunikasi berubah, terutama ketika membahas keuangan rumah tangga. Jangan sampai istri merasa memimpin rumah tangga. Harus diingat, rumah tangga dipimpin oleh suami, bukan istri. Jika sudah merasa mampu melakukan semuanya sendiri, tetaplah mengingatkan bahwa suami adalah kepala rumah tangga.

”Kaum laki-laki itu adalah pemimpim kaum wanita, karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (laki-laki) atas sebagian yang lain (wanita) dan karena mereka (laki-laki) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka.” ( TQS. An-nisaa': 34)

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 150, Mei 2015
---

Jika Teman Suka Mengeluh



Assalamu'alaikum Wr. Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang dimuliakan Allah SWT, mohon saran bagaimana menghadapi teman yang selalu merasa dirinya paling malang sedunia. Tak ada pembicaraan lain, selain mengeluh ke siapapun. Senantiasa minta dimengerti untuk hal apapun. Selalu minta paling diringankan untuk tugas apapun. Sangat sering minta bantuan untuk urusan pribadi sekecil apapun. Bertahun berjalan masih begitu saja.

Semua masukan dan keberatan dari teman-teman dianggap tak mengerti keadaan saudara seiman. Kami melihat ia mampu kalau ia mau. Tapi daya juang itu yang masih minim, lebih suka mengandalkan orang daripada belajar mandiri. Kesal pada banyak orang yang memberi masukan padanya akhirnya ia "menepi" dan menjauhkan diri dari teman-temannya, padahal sungguh kami bermaksud baik ketika memberi masukan padanya. Mohon saran sebaiknya saya harus bagaimana? Terima kasih untuk jawabannya.

Wassalaamu'alaikum Wr. Wb.
AYD - Jakarta


Wa'alaikumsalam Wr. Wb.

AYD yang baik,

Dalam berteman akan banyak kita temui orang-orang yang terkadang “kurang menyenangkan” seperti halnya teman Anda. Mengeluh adalah hal yang sangat mudah dilakukan, dan bagi sebagian orang hal ini telah menjadi suatu kebiasaan. Kebiasaan mengeluh sejatinya tidak akan membuat situasi yang kita hadapi menjadi lebih baik, hanya akan menguras energi, dan menciptakan perasaan negatif yang tidak memberdayakan diri. Sangat tidak menyenangkan memang menghadapi teman yang gampang mengeluh. Tapi bagaimanapun, dia adalah teman Anda. Sesama Muslim adalah saudara. Diperintahkan pada masing-masing kita untuk saling menasihati, dan membantu menyelesaikan keperluan-keperluannya.

AYD yang baik,

Sebelum Anda menasihatinya, cobalah cari tahu terlebih dahulu kenapa teman Anda bisa memiliki sifat seperti itu. Mengeluh bisa terjadi, ketika seseorang tidak lagi memiliki keharmonisan antara keinginan dan realitas sosialnya. Sering mengeluh merupakan cerminan ketidakmampuan seseorang melakukan sesuatu. Jika teman Anda sudah mulai mengeluh, coba beri nasihat padanya dari sudut pandang yang positif agar dia bisa kembali berpikir. Dengan berpikir positif, beban pikiran akan berkurang.
Yakinkan padanya, bahwa dia juga memiliki kelebihan. Mintalah padanya untuk memikirkan kelebihan-kelebihan yang dimiliki daripada memikirkan kekurangannya. Biasanya orang yang merasa tidak mampu, lebih sibuk memikirkan kekurangannya daripada kelebihannya. Bahkan kekurangan kecilpun dibuat agar terlihat besar. Mintalah teman Anda untuk menuliskan prestasinya di masa lalu, mengingat-ingat kembali, dan gunakan untuk mempertebal rasa percaya diri. Bahkan kelebihan yang tidak ada hubungannya dengan situasi yang tengah kita hadapi tetap dapat membuat kita lebih percaya diri di hadapan orang lain.

AYD yang baik,

Dalam kehidupan ini akan selalu ada saja persoalan. Berikan gambaran pada teman Anda, bahwa orang yang gampang mengeluh sama saja tidak siap dengan segala perubahan yang bisa datang kapan saja. Sampaikan saja terus terang, jika sikap pengeluhnya itu sudah mengganggu. Berikan pengertian kepadanya, jika ia terus mengeluh, maka bebannya akan semakin berat.
Ajak teman Anda untuk terus mensyukuri seberapapun nikmat yang diberikan Allah setiap hari. Semakin banyak kita bersyukur atas apa yang kita miliki, maka semakin banyak hal yang akan kita temukan untuk disyukuri. Semakin banyak kita mengeluh atas masalah yang kita alami, maka jangan heran jika rasanya masalah yang kita miliki itu semakin banyak.

”Sungguh menakjubkan urusan orang Mukmin ini, bahwa urusannya itu semuanya ada kebaikannya, dan yang demikian itu tidak dimiliki oleh siapapun kecuali orang Mukmin, yaitu jika ia mendapatkan kegembiraan, ia bersyukur dan itu adalah suatu kebaikan baginya, dan jika mendapatkan musibah ia sabar dan itupun satu kebaikan baginya." (HR. Muslim) []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 138, Nopember 2014
---

Memilih Dan Memilah Aktivitas


Assalamu’alaikum, Wr. Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi yang dirahmati Allah SWT, saya mohon masukan bagaimana seharusnya saya memilih dan memilah aktivitas. Saya suka banyak sekali hal. Saya suka tantangan. Dan saya suka full aktivitas dan bepergian. Dengan seperti itu saya merasa ada manfaatnya bagi orang banyak. Dan di situlah kebahagiaan saya. Namun hidup terasa terengah-engah tanpa jeda dan istirahat. Waktu selalu kurang. Banyak urusan pribadi yang ternyata saya lalaikan dan lewatkan. Saya bukannya tidak tahu itu, tapi begitulah, terasa enggan dan sangat sayang untuk meninggalkan satupun aktivitas saya karena saya memang suka dan sangat menikmati semua aktivitas saya. Terima kasih untuk masukannya.

Wassalamu’alaikum, Wr. Wb.
Aura Jateng

Aura yang baik,

Alhamdulillah, Anda memiliki banyak aktivitas dan menyukai setiap aktivitas yang Anda lakukan. Anda juga luar biasa, suka mengerjakan yang bermanfaat buat orang banyak Rasulullah SAW bersabda:
“Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia” (HR. Ahmad, at-Thabarani, ad-Daruquthni)

Menjadi manusia yang bermanfaat adalah salah satu karakter yang harus dimiliki oleh seorang Muslim. Setiap Muslim diperintahkan untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Memberikan manfaat kepada orang lain, maka manfaatnya akan kembali untuk kebaikan diri kita sendiri.

“Jika kalian berbuat baik, sesungguhnya kalian berbuat baik bagi diri kalian sendiri” (TQS. Al-Isra: 7)

Aura yang baik,

Kita diberi waktu oleh Allah SWT sehari semalam 24 jam. Dan kita dituntut untuk bisa mengaturnya sebaik mungkin, “pandai mengelola waktu”. Seperti apa orang yang pandai mengelola waktu itu? Apakah orang yang waktunya habis untuk menekuni bidang tertentu? Ataukah orang yang sibuk bekerja dan mendapat uang yang banyak? Ataukah orang yang sibuk dengan banyak aktivitas?

Dari Ibnu 'Umar radhiyallahu ‘anhu dia berkata, “Rasulullah SAW memegang pundakku, lalu bersabda, “Jadikanlah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau pengembara.” Lalu Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata “Jika engkau di waktu sore, maka janganlah engkau menunggu pagi, dan jika engkau di waktu pagi, maka janganlah menunggu sore, dan pergunakanlah waktu sehatmu sebelum engkau sakit dan waktu hidupmu sebelum kamu mati.” (HR. Bukhari)

Aura yang baik,

Kita dianjurkan hidup bermanfaat untuk orang lain. Meskipun itu anjuran dan kita senang melakukan dan menikmatinya, bukan berarti kita kemudian tidak mengurusi diri kita sendiri. Kesehatan kita, kehidupan kita? Ada hak untuk tubuh dan diri kita yang harus dipenuhi.

”Sesunggunnya tubuhmu punya hak atas dirimu.” (HR. Imam Muslim)

Penuhi hak tubuh Anda dengan makanan dan minuman yang bergizi, pola makan sehat dan teratur. Buatlah pola kerja yang terencana dan seimbang. Jangan paksakan diri bekerja keras yang menyebabkan jatuh sakit. Jika lelah, beristirahatlah. Atur pola tidur, beraktivitas tak melampui batas. Anda mesti memiliki perencanaan hidup, menyusun konsep diri, termasuk menyusun daftar peran dan target yang ingin dicapai baik dalam jangka panjang maupun pendek. Misal, jika Anda saat ini masih kuliah, sesibuk apapun mesti memiliki target kapan menyelesaikan kuliah, berapa IP yang mesti Anda capai. Setelah lulus mau apa dan sebagainya.

Aura yang baik,

Buatlah skala prioritas dalam beraktivitas. Salah satu hal yang membantu dalam penentuan prioritas adalah "status hukum" aktivitas tersebut. Status hukum di sini maksudnya wajib, sunah, mubah, dan seterusnya. Yang wajib tentu saja harus diprioritaskan. Termasuk bagaimana Anda mengatur aktivitas untuk diri Anda sendiri. Luangkan waktu khusus untuk untuk menimba ilmu dan mendidik diri, sesibuk apapun Anda. Anda juga harus meluangkan waktu untuk menambah "energi" yang Anda miliki. Sumber energi utama adalah shalat, dzikir dan doa. Sempatkan membaca Al-Qur’an setiap hari, juga berusaha shalat malam. Jika Anda punya hobi tertentu, sekali waktu lakukan. Bila dilakukan dalam porsi yang tepat, hobi bisa menjadi sumber energi yang sangat besar. Dan jangan lupa selalu memohon keberkahan Allah SWT Sang Pemilik Waktu. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 169, Maret 2016
---

Ibu, Antara Karier Dan Mendidik Anak


Oleh: Siti Aisah, S.Pd., ibu rumah tangga

Ketika laki-laki dan perempuan memutuskan untuk menikah dan memiliki anak, maka dari sinilah peran laki-laki sebagai kepala keluarga yang menjadi pengayom seluruh anggota keluarganya. Sedangkan peran perempuan sebagai ibu dan istri menjadi poros aktivitas dalam rumah tangga, ia menjadi tumpuan lahirnya generasi-generasi penerus peradaban.

Mereka dianugerahi rahim dan payudara, sehingga bisa hamil, melahirkan dan menyusui. Ini merupakan kodrat Ilahi yang tidak bisa dipungkiri lagi keberadaannya. Tingkat imunitas yang ada dalam ASI begitu penting bagi pertumbuhan dan perkembangan sang anak. Semua hal itu tidak bisa diperoleh dalam tubuh laki-laki.

Kehadiran seorang anak di tengah-tengah keluarga selalu dinanti-nantikan oleh semua pasangan suami-istri. Lazimnya mereka akan memenuhi segala kebutuhan anak, mulai dari sandang, pangan hingga mainan-mainan yang terkadang tidak terlalu dibutuhkan sang anak. Setiap orangtua juga menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Salah satunya adalah masalah pendidikan, akan tetapi dalam prakteknya mendidik anak tidaklah mudah. Apalagi dengan kesibukan orang tua di luar rumah, sehingga dibutuhkan 'pihak ketiga' yang ikut serta dalam hal ini. Tanggung jawab masalah pendidikan anak sepenuhnya ada dalam tanggungan orangtua. Ketika ayah-ibu sibuk bekerja di luar rumah dan rumah bagaikan terminal yang hanya sebagai persinggahan dan perlintasan saja.

Tumbuh kembang seorang anak tidak akan terulang lagi, sangat disayangkan ketika para 'pihak ketiga' lah yang mengetahui pertama kali mengenai hal ini. Dan inilah pengorbanan sebagai seorang ibu ketika harus mengejar karier. Ia tidak tahu apa-apa mengenai anaknya, walau ia yang melahirkannya.

Banyak kasus yang terjadi menimpa anak baru-baru ini adalah salah satu faktor akibat dari kesibukan para ibu di luar rumah. Sehingga berbagai kasus mulai dari pembunuhan, penculikan, hingga pelecehan seksual terjadi.

Ayah sebagai pemimpin dalam rumah tangga sudah menjadi kewajibannya untuk mencari nafkah. Kewajiban ini tidak ditanggungkan kepada ibu, karena sebagai fitrahnya ibu mengurus segala kebutuhan di dalam rumah. Ketika posisi ayah dan ibu ditempatkan secara benar menurut syariah, maka akan terwujud keluarga yang sakinah mawadah warahmah.

Posisi yang paling dihormati adalah menjadi ibu. Surga pun diibaratkan di bawah kakinya. Begitu pentingnya posisi ini maka tidak bisa dianggap sepele. Pekerjaan mengurus rumah tangga pun diibaratkan juga sebagai sedekah untuknya, bekerja di luar rumah mungkin membutuhkan waktu 6-8 jam per hari. Tapi tugas seorang ibu kemungkinan 24 jam, mulai dari bangun tidur hingga anggota keluarga yang lain tidur, barulah ia beristirahat.

Tapi betapapun beratnya tugas ini akan terbayar oleh kebahagiaan melihat keluarga, anak-anak shalih, sehat, pintar, sukses, dan pintu surga pun terbuka lebar untuknya. Walaupun seorang ibu yang bekerja di luar rumah hukumnya mubah, hal ini tidak berarti mengesampingkan tugas utamanya. Karena ketika bergesernya orientasi para perempuan terhadap peran keibuan, ini menjadi detik-detik awal penghancuran keluarga.

Keluarga adalah pranata awal pendidikan primer bagi seorang manusia, sehingga bagaimana mungkin bisa terjadi proses pendidikan yang baik muncul di tengah-tengah keluarga yang broken home. Jika keluarga, sekolah dan masyarakat adalah sendi-sendi pendidikan fundamental, maka keluarga adalah sendi pemberi pengaruh pertama sang anak.

Karena begitu pentingnya pendidikan anak sejak dini, ini akan membentuk pribadi yang bermartabat, memiliki rasa kasih sayang dan yang terpenting memiliki syakhsiyah Islamiyah (berkepribadian Islam).

Berikut tips untuk membentuk keluarga yang berkepribadian Islam. Pertama, pondasi dasar pernikahan adalah akidah Islam, sehingga apapun masalah yang terjadi solusinya adalah Islam. Kedua, mempunyai visi dan misi tentang tujuan dan hakikat hidup berkeIuarga yang sama. Ketiga, memahami fungsi dan kedudukan masing-masing di dalam keluarga. Keempat, selalu beramar ma'ruf nahi mungkar di antara sesama anggota keluarga. Kelima, membiasakan melakukan amalan-amalan sunnah di dalam rumah, seperti membaca Al-Qur’an, bersedekah, puasa sunnah bersama dll. Keenam, senantiasa bersabar dan berdoa kepada Allah dalam situasi apapun.

Semoga dengan selalu menghadirkan Islam di dalam keluarga, maka ide emansipasi yang digagas kaum feminis sebagai upaya awal penghancuran keluarga bisa terbendung. Dengan demikian kaum muslimin bisa menjadi umat terbaik yang tegak di atas keluarga-keluarga yang kuat. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 174, Mei-Juni 2016
---

Menjaga Keharmonisan Dengan Ibu Mertua



Assalamu'alaikum Wr Wb.

Ibu Pengasuh Rubrik Konsultasi Keluarga yang saya hormati, saya sudah 4 bulan ini tinggal bersama mertua, dan sering merasa kurang nyaman. Awalnya mertua baik banget, tapi kok jadi berubah, dan keluar karakter aslinya. Saya sangat ingin membicarakan hal-hal yang bisa membuat saya betah, namun ibu mertua tipe orang yang jika dikritik, atau diberi saran dan lain-lain malah akan bertambah marah. Tidak ada yang bisa bicara sama beliau, malah keenam anaknya tidak ada yang betah tinggal bersamanya. Setiap hari selalu ngomel sampai marah-marah, padahal menurut saya hanya masalah kecil yang tidak perlu marah. Saya tidak terbiasa dengan kondisi ini. Saya berusaha mengurusi urusan keluarga saya sendiri dan berusaha membantu apa yang bisa dilakukan di rumah. Sekarang dengan adanya bayi kondisi semakin parah, kalau pas saya tidak bisa membantu selalu marah, dan mengatakan dianggap pembantu di rumahnya sendiri. Saya bingung, dan suami juga tidak bisa berbuat banyak. Menyarankan saya untuk diam saja, sabar, ikhlas, dan senyum. Saya berharap dalam doa agar Allah memberi yang terbaik untuk kami.

Wassalaamu 'alaikum Wr. Wb

IH-Sulsel

Wa 'alaikumsalam Wr. Wb.

Ibu IH yang baik,

Tinggal satu atap dengan orangtua atau mertua setelah berumah tangga, seringkali memang rentan dengan berbagai masalah. Apalagi jika masing-masing tidak bisa saling memahami bagaimana semestinya berinteraksi. Hal yang perlu dipersiapkan sebelum berumah tangga, di antaranya adalah menyiapkan diri untuk menerima dengan ikhlas keadaan pasangan, dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dan juga kesiapan untuk menerima keadaan keluarga pasangan, terutama kedua orangtuanya dengan apa adanya. Setelah menikah proses adaptasi ternyata bukan hanya dilakukan terhadap suami, tapi juga kepada ibu, ayah dan saudara-saudaranya. Apalagi Anda dan suami tinggal serumah dengan mertua.

Ibu IH yang baik,

Tentang mertua yang sering marah-marah, cobalah berusaha untuk mencari tahu sebabnya. Pahami kira-kira apa yang menjadi penyulut masalah. Pada awalnya kan baik-baik saja. Setiap keluarga memang memiliki sifat dan kebiasaan yang berbeda-beda, perbedaan inilah yang harus dipahami dan disesuaikan jika harus tinggal bersama sang mertua. Konflik antara menantu dan mertua seringkali terjadi karena kurangnya komunikasi yang terjalin antara kedua belah pihak. Persepsi tentang mertua yang terkesan suka mengkritik tapi tak mau dikritik, menggurui, merasa lebih baik dan sebagainya biasanya muncul karena kurang mengenal sang mertua.

Ibu IH yang baik,

Pada dasarnya, tidak ada masalah yang tidak ada penyelesaian. Namun, penyelesaian sebuah masalah sangat tergantung pada kesungguhan Anda untuk menyelesaikannya. Jika Anda sudah menemukan sebabnya, bicarakan dengan suami. Hal yang wajar jika terdapat gesekan demi gesekan antara menantu dan mertua. Jangankan dengan mertua, dengan orangtua sendiri yang melahirkan kita pun kadang konflik itu terjadi. Setelah dibicarakan dengan suami, dan tinggal bersama mertua tetap menjadi pilihan, maka berusahalah untuk selalu menampakkan rasa hormat kepada mertua dalam kondisi dan situasi apapun.

Ibu IH yang baik,

Islam mengajarkan kepada umatnya agar menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi orang yang lebih muda. Menghormati dalam hal berkata santun dan ramah ketika berkomunikasi dengannya, menggunakan bahasa yang pas saat menjawab pertanyaan darinya, mengutarakan pendapat, dan semua hal yang menjadi tata krama, layaknya seorang anak dengan orangtuanya sendiri.

“Siapa yang tidak menyayangi orang yang kecil di antara kami dan tidak mengerti hak orang yang lebih besar di antara kami, maka ia bukan dari golongan kami.“ (HR. Abu Daud)

Maka, seperti kata suami, lebih baik bersabar, berbaik sangka, berhenti mengeluh tentang sikap dan perbuatan mertua. Doakan beliau selalu. Salah satu karakter menantu yang baik adalah suka dan gemar mendoakan mertuanya agar selalu diberikan kebaikan, kesehatan, kemakmuran, kebenaran, dan juga diringankan segala beban yang sedang beliau pikul. Semoga Allah SWT memberikan kemudahan dalam setiap urusan Anda. []

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 162, Nopember-Desember 2015
---

Hidup Nyaman, Tapi Tak Aman



Oleh: Hafidz341, Tim LDS DPP HTI, Pimpinan Redaksi Majalah Remaja Islam D’Rise

Udah umum kalo kita selalu nyari comfort zone. Yaitu sebuah area di mana kita enjoy nikmatin hidup. Setiap orang berhak menikmati comfort zone masing-masing tanpa pandang bulu. Baik bulu mata, bulu hidung, bulu ketek atau bulu kaki. Lagian, ngapain juga sih pake pandang-pandang bulu orang. Dibayar kagak, bete iya!

Untuk remaja, banyak yang terlihat nyaman dengan berbagai kegiatan yang memanjakan kesenangan. Mulai dari ngeband, dugem, hangout ke luar kota, touring, atau nonton konser musik. Nggak ketinggalan acara belanja barang trendi plus memoles penampilan dengan busana seksi nan aduhai. Meski kehidupan model gini berat diongkos dan bisa merendahkan martabat, banyak yang rela maksain diri. Karena ini dunia gue!

Untuk mereka yang tengah kasmaran, asyik aja berpetualang di rimba asmara. Gaul ama lawan jenis, dibarengi aksi tebar pesona. Setelah sukses pdkt, dilanjutkan dengan tahap penembakan untuk dapetin status jadian. Abis itu, baru jalan bareng dan saling mengobral cinta. Padahal udah banyak buktinya kalo pacaran yang haram itu turut melestarikan budaya seks bebas, aborsi, sampe prostitusi. Tapi tetep aja nggak kapok-kapok meski sering putus-sambung atau pacarnya selingkuh dua lingkuh. Karena ini cinta gue!

Kita sering mikir kalo sekarang udah hidup enak, ngapain juga capek-capek mengubah kebiasaan. Cewek yang udah nyaman ke mana mana pake baju full press body atau rok mini, bakal mikir seribu kali kalo harus berbusana Muslim yang nutup aurat. Cowok yang biasa Jelalatan ngeliat jidat licin, bakal kelimpungan kalo harus selalu nundukkin pandangan. Inilah comfort zone syndrome yang bisa mengorbankan harga diri!

Hati-hati dengan Zona Nyaman!

Suatu ketika seorang ayah bertanya pada anaknya ketika mereka berhasil menangkap dua ekor katak yang berkeliaran di kebun belakang rumahnya. "Jika kita masukkan salah satu katak itu ke dalam baskom yang berisi air panas, kira-kira apa yang akan terjadi?"

"Saya yakin katak itu akan sangat terkejut dan berusaha sekuat dirinya keluar dari air panas tersebut," jawab anaknya. “Lantas bagaimana jika satunya lagi kita masukkan dalam baskom yang berisi air kolam itu dan perlahan-lahan kita panaskan air sampai mendidih?" sambung sang ayah. Sang anak terdiam sejenak. Dia bingung menjawabnya.

“Awalnya, katak tersebut akan merasa nyaman dalam baskom itu. Ketika ia mulai digigit rasa panas dan menyadarinya, semua sudah terlambat. Ia sudah tidak cukup tenaga untuk keluar dari baskom tersebut. Itulah yang akan terjadi pada kita jika terlena dalam kenyamanan, sementara kenyamanan tidak selamanya mau bersahabat dengan kita," ungkap sang ayah.

Kisah katak rebus di atas nendang banget rasanya, eh hikmahnya. Orang yang sudah nyaman dengan kehidupannya, sering kali alot untuk diajak berubah. "Tenang Belanda masih jauh," gitu kata mereka. Pikirnya, musuh kita cuman kompeni aja kaya masa pendjadjahan doeloe. Padahal hari gini gitu lho, udah nggak zamannya penjajahan fisik. Yang ada serangan pemikiran dan budaya.

Musuh kita bukan lagi tentara bersenjata lengkap yang tengah mengekang kalasnikov atau AK-47. Tapi budaya sekuler dan pemikiran sesat yang dikemas dalam gaya hidup trendy yang sangat dekat dengan keseharian kita. Mulai dari popularitas, kehidupan glamour, workaholic, seks bebas, permisifisme, atau hedonisme yang gencar menggoda kita lewat media massa. Sialnya, banyak dari kita yang kepincut terus menjadikannya bagian dari comfort zone sehingga lupa dengan aturan hidup Islam.

Kehidupan dunia remaja kian jauh dari nilai-nilai Islam. Dalam berbusana, mereka berlomba-lomba mengumbar aurat. Dalam berperilaku, prinsipnya serba boleh asal nggak ganggu orang lain. Dalam berpkir, yang penting tujuan tercapai pake cara apa aja. Dan dalam urusan asmara, jorjoran mengobral cinta. Akibatnya cukup fatal. Remaja tumbuh jadi generasi instant yang lemah mental dan ogah kerja keras. Budaya seks bebas pun semakin beringas.

Ternyata, banyak kesenangan dunia yang kita anggap comfort zone. Padahal kenyataannya, bisa mengancam kehidupan kita sebagai Muslim. Gini jadinya kalo kita hidup dalam aturan kapitalis sekuler yang menuntut orang untuk cinta dunia dan takut mati alias lupa kehidupan akhirat.

Islam nggak melarang kamu untuk mencari dan menikmati comfort zone. Tapi ingat, sebagai Muslim kenyamanan hidup bukan semata diukur oleh rasa senang yang memanjakan diri. Tapi juga ridho Allah yang jadi bekal untuk kehidupan akhirat nanti. Kalo dua-duanya bisa kita rangkul, asyik banget tuh. Dan itu bisa kita dapatkan dalam aktivitas dakwah.

Yap, berdakwah adalah kewajiban yang Allah SWT bebankan pada setiap individu Muslim tanpa kecuali. Karena itu, Allah SWT ngasih jaminan kepada para pengemban dakwah kalo mereka bakal hidup aman dan nyaman dunia akhirat. Seperti ditegaskan dalam firman-Nya (artinya): "Hai orang-orang mukmin, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu." (TQS. Muhammad: 7). So. ayo ikut ngaji dan aktif berdakwah. Yuk!

Sumber: Tabloid Media Umat edisi 153, Juni-Juli 2015
---

Umat Islam Protes Surat Edaran Rayakan Ceng Beng


Bunyi gendang dan dentuman kembang api menandai puncak perayaan Ceng Beng atau Sembahyang Kubur di Pekuburan Sentosa, Jalan Soekarno Hatta, Pangkalpinang, Ahad (5/4/2015) dini hari. Sekitar seribuan warga Cina berziarah ke makam keluarga dan leluhur.

Mereka mengeluarkan peralatan sembahyang kubur berupa kertas sembahyang berwarna perak, kertas berwarna putih, kertas berwarna kuning, hio sembahyang, kue jajanan, ayam rebus utuh satu ekor, apel, jeruk, cangkir teh yang kemudian diisi teh, dan lilin merah. Semua perlengkapan sembahyang itu diletakkan di altar pemakaman, Selanjutnya dibakar beberapa hio yang diapit dengan kedua belah tangannya dan disembahnya. Setelah itu ditancapkan hio yang telah dibakar tersebut di altar.

Perayaan Ceng Beng berlangsung meriah dengan digelarnya festival budaya yang dibuka oleh Kasubdit Promosi Dalam Negeri Kementerian Pariwisata, Hendri Karnoza. Festival ini diselenggarakan Pemkot Pangkalpinang bekerja sama dengan Yayasan Perkuburan Sentosa. Kegiatan ini tercatat sebagai agenda pariwisata untuk menyukseskan Visit Pangkalpinang 2015.

Hadir pada acara tersebut Wali Kota Pangkalpinang M Irwansyah, Wakil Wali Kota M Sopian, Ketua Yayasan Sentosa Johan Riduan Hasan, Kepala Dinas Kebudayaan dan Olahraga Pangkalpinang Ahmad Elvian.

Menuai Protes

Sebelumnya, Pemerintah Kota Pangkalpinang melalui Disbudparpora Pangkalpinang mengeluarkan surat edaran kepada seluruh SLTA di Pangkalpinang untuk berpartisipasi pada festival yang rutin diadakan setahun sekali oleh para penganut Konghucu tersebut padahal mayoritas siswa-siswi di Pangkalpinang beragama Islam. Tentu saja surat edaran tersebut menuai protes dari umat Islam.

Maka delegasi HTI Babel menemui Wakil Walikota Pangkalpinang Muhammad Sopian, Selasa (31/3) di kantornya. Dalam pertemuan tersebut Ketua DPD I HTI Babel Sofyan Rudianto menjelaskan kepada Wakil Walikota bahwa Cheng Beng bukan sekedar kebudayaan, tapi adalah keagamaan, karena keagamaan tidak seharusnya kaum Muslimin khususnya sekolah Muslim yang dapat imbauan diwajibkan ikut berpatisipasi, cara ini termasuk kesyirikan karena ada pihak sekolah juga keberatan.

"Cheng Beng ini bukan sekedar budaya tapi sudah masuk kegiatan keagamaan, karena ini menyangkut masalah agama maka tidak seharusnya sekolah MusIim dilibatkan, karena cara ini sudah termasuk kesyirikan,” terang Sofyan Rudianto.

Sementara itu aktivis HTI Babel, Firman Saladin menambahkan, ...dalam Cheng Beng ini adalah ritual ibadah penganutnya maka ditakutkan anak-anak Muslim jatuh pada budaya syirik. ”Kita takutkan anak-anak Muslim jatuh pada budaya syirik, biarkan saja agama Tionghoa mau malakukan ibadah Cheng Beng, kita jangan menganggu ibadah mereka," ujarnya.

Firman menegaskan, HTI Babel bukan berarti benci kepada Wakil Walikota, namun HTI Babel hanya mengingatkan bahwa haram hukumnya kaum Muslimin terlibat perayaan agama lain.

Setelah mendengarkan penjelasan dari delegasi HTI Babel, Wakil Walikota Pangkalpinang, M Sopian berjanji akan mencabut surat edaran tersebut dan mengganti surat khusus Kepada sekolah mayoritas tionghoa.

”Terima kasih atas teguran ini, surat edaran ini akan kami cabut dan kami buat ulang surat untuk sekolah di Pangkalpinang khusus sekolah yang mayoritas muridnya Tionghoa saja," ujar M Sopian.

Sementara itu, Kepala Disbudparpora Pangkalpinang, M Elvian mengatakan, imbaun kepada sekolah Muslim sifatnya hanya imbauan dan tidak ada unsur pemaksaan. Di dalam kegiatan Cheng Beng ini ada hiburan, pariwisata lokal untuk mempopuler potensi lokal juga salah satu agenda pariwisata nasional. Selain itu di dalamnya ada acara karnaval Lampion. "Kalau sekolahnya tidak ada siswa yang beragama Tionghoa tidak apa-apa kalau tidak ikut," katanya.[]

Bacaan: Tabloid Media Umat edisi 149, April 2015
---

Download BUKU Dakwah Rasul SAW Metode Supremasi Ideologi Islam