Page

Kasus Pemerkosaan Banyak Gagalnya Negara Sekular

 

Alih-alih melindungi rakyat dan menjaga perdamaian , tentara PBB malah a terlibat dalam pemerkosaan. Dan ironisnya, pelakunya hanya dipulangkan dan diserahkan kepada negara masing-masing.
Sebagaimana yang dilaporkan BBC online (12/3), Dewan Keamanan PBB mengesahkan resolusi yang menyerukan pemulangan pasukan penjaga perdamaian yang dituding melakukan pelecehan seksual.
Resolusi ini adalah yang pertama yang disahkan oleh Dewan Keamanan dalam mengatasi tudingan pelecehan seks yang dilakukan pasukan penjaga perdamaian.
Tahun lalu terdapat 69 tuduhan pemerkosaan anak dan pelanggaran seksual lainnya oleh penjaga perdamaian dalam 10 misi. Jumlah itu meningkat dari 52 kasus pada tahun 2014.

Seperti diberitakan www.ibtimes.co.uk, suatu kerusuhan antara nelayan Myanmar dan Muslim Rohingya pecah di sebuah pusat penahanan di Sumatera, Indonesia, yang dipicu oleh pemerkosaan dan pelecehan seksual terhadap tiga wanita Muslim Rohingya, menurut sebuah penyelidikan baru oleh polisi.

Perang Pemerkosaan yang Dilakukan di Suriah adalah Alat Penghinaan Sistematis atas Kaum Perempuan
International Rescue Committee mengungkapkan pada Senin, 14 Januari 2013 lalu, bahwa modus pemerkosaan sedang digunakan sebagai alat perang di Suriah, dimana ini menjadi alasan utama keluarga-keluarga Suriah melarikan diri ke negara tetangga. Lembaga ini menggambarkan kejahatan keji ini sebagai ‘sebuah sarana signifikan dan paling mengganggu dari perang sipil Suriah’. Orang-orang yang diwawancarai mengatakan bahwa kaum perempuan terancam penculikan, perkosaan, penyiksaan, dan pembunuhan. Perempuan juga dikabarkan diserang di depan umum dan di rumah mereka, bahkan beberapa diantara mereka diperkosa beramai-ramai di hadapan anggota keluarganya.

Kelompok liberal yang mendewa-dewakan demokrasi dan anti syariah Islam tentu kecewa, melihat fakta  negara-negera Eropa yang tingkat pemerkosaannya tinggi. Sesuatu yang seharusnya menjadi tamparan bagi Yeni Wahid—salah  satu pentolan kelompok liberal—yang  dengan bangga menyatakan angka perkosaan di Saudi lebih tinggi daripada Eropa yang perempuannya banyak pakai bikini.
Padahal menurut data statistik tentang angka Pemerkosaan di 116 negara, 7 dari 10 negara dengan tingkat pemerkosaan tertinggi justru terjadi negara-negara Eropa. Seperti dilansir nationmaster.com,  Prancis, Jerman, Rusia, dan Swedia adalah negara Eropa dengan tingkat perkosaan tertinggi di dunia.
Kelompok liberal ini tentu lebih kecewa lagi, ketika melihat realita, banyaknya  negara yang mengklaim sebagai negara demokratis yang tingkat kriminalitas seksual juga tinggi. Menurut data  United States Department of Justice total korban pemerkosaan atau serangan seksual yang dilaporkan di Amerika pada pada tahun 2005 ada 191.670 orang.

Kondisi yang sama terjadi di negara demokratis lain di luar Amerika dan Eropa, seperti India. Negara ini tergoncang dengan meninggalnya mahasiswi kedokteran India berusia 23 tahun yang menjadi korban dari serangan pemerkosaan brutal  (16/12) oleh enam orang laki-laki di dalam bis di New Delhi.
Pemerkosaan di negara demokratis terbesar di dunia ini  ini memang mencengangkan, mencapai tingkat epedemik. Menurut Al-Jazeera, seorang perempuan diperkosa setiap 20 menit di India, dan 24.000 kasus perkosaan telah dilaporkan hanya untuk tahun lalu saja. Dilaporkan 80 persen wanita di Delhi telah mengalami pelecehan seksual. Sementara The Times of India melaporkan, perkosaan di India telah meningkat secara mengejutkan sebanyak 792 persen selama 40 tahun terakhir.
Perlu kita catat, angka pemerkosaan yang tinggi justru terjadi di negara-negara demokratis sekuler yang justru tidak menerapkan syariah Islam. Kita tentu saja bukan ingin  menyatakan bahwa di negara-negara Arab tidak terjadi pemerkosaan, karena negara-negara Arab juga bukanlah potret negara yang benar-benar menerapkan syariah Islam.

Jumlah kasus pemerkosaan per kapita pada 2009 di Israel merupakan yang tertinggi di dunia. Padahal, Israel berada di posisi ke-enam setahun sebelumnya.
Data terbaru di Institusi Eropa untuk Pencegahan dan Kontrol Kriminal pada 2011 menyatakan jumlah kasus pemerkosaan per kapita di Israel mencapai 0,166 per 1.000 orang pada 2009. Jumlah kasus pemerkosaan per kapita itu tidak berubah dari 2008. Namun, posisi Israel melonjak signifikan pada 2009.
Jerman berada di posisi kedua dengan kasus pemerkosaan 0,089 per 1.000 orang. Pada 2008, Jerman berada di posisi ke-13 dengan angka pemerkosaan mencapai 0.093 per 1.000 orang.
Sementara itu, jumlah pemerkosaan perkapita di Kenya menempati posisi ketiga. Kenya memiliki kasus pemerkosaan 0.091 per 1.000 orang. Padahal, pada 2008, Kenya berada di posisi 41 dari 50 negara dengan kasus pemerkosaan mencapai 0,023 per 1.000 orang.

 Korban pemerkosaan di Amerika Serikat tidak hanya wanita dewasa atau remaja. Anak-anak pun menjadi korban pemerkosaan.
Data yang dihimpun organisasi nasional AS untuk anti kekerasan seksual yakni Rape, Abuse, and Incest National Network (RAINN) menyatakan 15 persen korban pelecehan seksual dan pemerkosaan adalah anak-anak usia di bawah 12 tahun. Dikutip dari situs resminya (www.rainn.org), jumlah korban remaja berusia 12-17 tahun mencapai 29 persen.
Jumlah korban dari usia dewasa lebih tinggi. Sekitar 44 persen korban merupakan mereka yang berusia di bawah 18 tahun. Sementara itu, 80 persen korban berusia di bawah 30 tahun.
Organisasi tersebut mencatat usia yang paling berisiko menjadi korban pelecehan seksual dan pemerkosaan adalah 12-34 tahun. Remaja perempuan berusia 16-19 tahun berisiko empat kali menjadi korban pemerkosaan atau pelecehan seksual.