Page

Istimewa Itu Menolong Agama Allah


 
LENTERA KEBANGKITAN

Istimewa Itu Menolong Agama Allah

Allah SWT berfirman:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ

"Wahai orang-orang yang beriman, jika kalian menolong agama Allah maka Allah akan menolong kalian dan meneguhkan kedudukan kalian." (QS. Muhammad: 07)

Sesuatu yang paling istimewa di dalam hidup kita saat ini, yakni manakala kita sebagai seorang hamba Allah -atas dorongan akidah Islam- sangat serius dengan struggle-nya membela dan memperjuangkan atau menolong Islam yang merupakan agama Allah ini agar tegak kembali secara kaffah di bumi Allah ini.

Manakala Islam benar-benar tegak kembali secara kaffah dalam segala aspek kehidupan kita. Maka, sebuah keniscayaan seluruh penjuru bumi ini akan diselimuti rahmah dan berkah Allah SWT.

Allah SWT berfirman:

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

"Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya." (QS. Al-A'raf: 96)

Menolong agama Allah ada banyak macam caranya. Barangsiapa yang menolong agama Allah niscaya Allah akan menolong dirinya, tidak hanya perkara akhirat yang Allah tolong, namun juga perkara dunia baik masalah jodoh, rezeki, materi, keluarga maupun pekerjaan ataupun berbagai macam persoalan kehidupan yang mendera kita.

Saudaraku, tahukah anda, sebaik-baik menolong agama Allah yang istimewa saat ini adalah turut mendukung dan membela, serta turut pula bergabung dan berjuang bersama dalam barisan dakwah menegakkan kembali Syariah dan Khilafah yang telah dijanjikan oleh Allah SWT (baca: QS.an-Nuur: 55) dan yang telah dinubuwwahkan oleh Rasul-Nya.

Rasulullah Saw. bersabda:

...ثم تكون خلافة علي منهاج النبوة...

"...Kemudian akan kembali datang Khilafah 'alaa Minhaaj an-Nubuwwah (Khilafah yang mengikuti metode Kenabian atau Khilafah Rasyidah)..." (HR. Ahmad)

Karena, dengan tegaknya kembali Khilafah Islam, maka niscaya kehidupan Islam akan berlanjut kembali dan hukum-hukum Allah akan bisa diterapkan secara kaffah dalam segala aspek kehidupan, dan Islam akan kembali bisa disebarluaskan ke segala penjuru dunia dengan dakwah dan jihad. Sebab, Khilafah adalah mahkota kewajiban.

Dengan tegaknya kembali Khilafah mahkota kewajiban, maka sebuah keniscayaan pula Islam pun akan benar-benar kembali menjadi rahmatan lil 'alamin, dan umat Islam pun akan kembali menjadi khairu ummah (umat yang terbaik) yang menebar rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta.

Ketahuilah saudaraku, tegaknya Syariah dan Khilafah adalah puncak keimanan dan ketakwaan kita dan puncak kemuliaan kita sebagai hamba Allah dan sebagai umat Islam yang satu.

Dan tegaknya Khilafah Rasyidah yang sangat kita rindukan ini adalah puncak keagungan dan kemuliaan, serta kejayaan Islam agama kita, dan puncak peradaban agung kita yakni peradaban Islam yang penuh rahmah dan penuh berkah.

Tentunya dengan tegaknya kembali Syariah dan Khilafah di muka bumi ini akan pula mendatangkan pahala investasi yang sangat besar bagi para pejuangnya dan pahala investasi itu pun akan terus mengalir tiada kesudahan sekalipun pejuangnya sudah tiada di dunia.

Wallahu a'lam bish shawab. []

#2019TumbangkanDemokrasi
#2019TegakkanKhilafah
#KhilafahAjaranIslam
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahAdalahSolusi []

@Zakariya al-Bantany

HARAPAN BODOH YANG TERULANG



Oleh : Nazril Firaz Al-Farizi

Teringat kembali pada tahun kemarin tepatnya pada tanggal 8 Mei 2017 ada PKB, Ansor dan PBB yang siap untuk menampung kader "eks" HTI saat menjelang pencabutan BHP HTI. Lalu kemudian pada tanggal 12 Mei 2017 disusul oleh PKS siap menampung kader "eks" HTI, disusul lagi pada tanggal 21 Juli 2017 PPP pun menyatakan siap menampung kader "eks" HTI.

Kemudian pada tanggal 12 September 2018 baru-baru ini tim koalisi pemenangan Jokowi pun menyatakan hal sama, siap menampung suara kader "eks" HTI yang berjuta-juta via PBB.

Mudah sekali dan bisa kita baca akal pikiran mereka mengapa mereka mengharapkan itu dan mengatakan lagi hal seperti itu. Kita kembalikan kepada beberapa perkara :

1. Mereka sekedar untuk memenuhi kepentingannya sendiri agar memenangkan pemilu dengan meminta suara dari kader "eks" HTI.

2. Mereka melakukan pencitraan seolah iba dan mencari perhatian yang lagi-lagi untuk kepentingan memenangkan kekuasaan politik demokrasi.

3. Mereka menyangka bahwa kondisi kader "eks" HTI berceceran bagai gembel jalanan yang seolah kebingungan dan tak punya wadah lagi sehingga mereka mau membuka pintu menerima kader "eks" HTI.

Untuk poin 1 dan 2 tidak perlu dibahas, sudah kita ketahui itulah politik kepentingan di dalam demokrasi, memang seperti itu sudah menjadi tabi'atnya, yaitu kepentingan abadi.

Untuk poin ke-3 ini pada tahun kemarin kami pernah membuat tulisan berjudul "Kedahsyatan Ikatan Aqidah dan Tsaqafah Sebagai Ikatan Tertinggi". Tulisan itu membantah sekaligus menjelaskan soal sangkaan bahwa kader "eks" HTI seolah linglung berceceran tak jelas.

Mereka menyangka bahwa ikatan yang mengikat para kader HTI hanya sekedar kemaslahatan dan posisi tugas keorganisasian saja sehingga pada saat "dibubarkan" sudahlah selesai, berakhir, linglung, berceceran menjadi gembel. Itulah yang ada di pikiran mereka.

Lalu pertanyaannya, mengapa mereka berpikir seperti itu?

Jawabannya sudah dijelaskan oleh Syaikh Taqiyuddin di dalam kitab At-Takattul al-Hizby bahwa salah satunya soal ikatan yang mengikat diantara mereka hanyalah :

1. Ikatan kemaslahatan
2. Ikatan tugas-tugas struktur keorganisasian

Maka jangan heran lihatlah pergerakan partai-partai mereka hanya bergerak disaat ada kemaslahatan yang menguntungkan mereka, tetapi jika kemaslahatan itu sudah dicapai atau tidak berhasil dicapai, maka lenyaplah pergerakan dari partai-partai ini. Atau bahkan di dalam internal partai sendiri pun pecah karena saling mengejar maslahat sehingga terjadi dualisme.

Lihatlah mereka bergerak menjelang pesta demokrasi 5 tahunan dengan mengemis memelas kasih kepada orang-orang agar dapat meraih simpati dan suara agar kepentingannya terpenuhi, termasuk salah satunya mengemis kepada kader HTI.

Mereka bisa menyangka bahwa kader HTI pun sekedar diikat oleh maslahat dan tugas organisasi, dikarenakan pada partai mereka sendiri pun memang antar kadernya sebatas diikat oleh kemaslahatan dan tugas keorganisasian semata, dan hanya itu yang mereka tau dan mereka sadari. Sehingga mereka pun menyangka seperti itu kepada Hizbut Tahrir.

Padahal ikatan yang mengikat antar kader HTI dan Hizbut Tahrir seluruh penjuru dunia adalah ikatan Aqidah dan Tsaqafah yang mana ikatan ini tidak ada hubungannya dengan soal apakah jika partai "bubar" lalu kader pun bubar, dakwah berhenti. Tidak ada hubungan dan tidak masalah sama sekali. Ikatan ini akan tetap ada meski dianggap "dibubarkan" oleh para pembenci Khilafah.

Ikatan ini muncul dari aqidah itu sendiri yang memancarkan berbagai penjelasan serta solusi jawaban terhadap berbagai permasalahan kehidupan. Dan perlu diingat dakwah ini pun takkan pernah terhenti karena sepanjang ada Ideologi Islam, maka hal itulah yang mendorong dakwah takkan pernah terhenti ini.

Jadi sampai kapanpun ajakan dan tawaran apapun tidak ada gunanya dan tidak berguna dari kalian itu.

Camkan itu baik-baik wahai kalian para pelaku Demokrasi.

[Nazril FA]

Makna Hakiki Kurban



LENTERA KEBANGKITAN

Makna Hakiki Kurban

@Zakariya al-Bantany

Rasulullah Saw. adalah sosok pribadi agung nan mulia yang telah banyak mengorbankan segala daya dan upaya dalam ketaatan secara totalitas kepada Allah SWT dan dalam mengemban risalah dakwah Islam ke segala penjuru dunia dan ke segenap alam semesta. Allah SWT berfirman:

“Sungguh telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat belas kasih lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin” (TQS. At-Taubat : 128)

Dalam menjelaskan ayat ini, Sayyid Qutb dalam Tafsir Fi Zhilalil Qur’an mengatakan, “Allah tidak mengatakan ‘rasul dari kalian’ tetapi mengatakan ‘dari kaummu sendiri’.
Ungkapan ini lebih sensitif, lebih dalam hubungannya dan lebih menunjukkan ikatan yang mengaitkan mereka. Karena beliau adalah bagian dari diri mereka, yang bersambung dengan mereka dengan hubungan jiwa dengan jiwa, sehingga hubungan ini lebih dalam dan lebih sensitif.”

Sudah maklum, selain Baginda Rasulullah Saw. yang wajib kita amalkan seluruh ajarannya dan semua nasihatnya, ada sosok penting lain yang tak bisa dipisahkan dari momen ibadah haji dan kurban. Dialah Nabiyullah Ibrahim AS. Di dalam QS al-Shafat [37] ayat 102, Allah SWT mengisahkan bagaimana Ibrahim as., dengan sepenuh keimanan, tanpa sedikitpun keraguan, menunaikan perintah Tuhannya: menyembelih putra tercintanya, Ismail as. Demikianlah, kedua hamba Allah yang shalih itu tersungkur dalam kepasrahan. Berpadu dengan ketaatan dan kesabaran.

Kisah cinta yang amat romantis sekaligus dramatis ini selayaknya menjadi ibrah sepanjang zaman bagi umat Islam. Sebab bukankah Allah SWT pun telah berfirman:

"Sekali-kali kalian tidak akan sampai pada kebajikan sebelum kalian menginfakkan harta (di jalan Allah) yang paling kalian cintai." (QS Ali Imran [3]: 92)

Nabiyullah Ibrahim AS. telah membuktikan hal itu. Bukan hanya harta, bahkan nyawa putra semata wayangnya —yang kepada dia tertumpah segenap cinta dan kasih sayangnya— ia persembahkan dengan penuh keyakinan kepada Allah. Zat Yang lebih ia cintai dari apapun.

Karena itu pada momen penting ibadah haji dan kurban tahun ini, selayaknya kita bisa mengambil ibrah dari keteladanan Nabiyullah Ibrahim AS; dari besarnya cinta, ketaatan dan pengorbanannya kepada Allah SWT. Cinta, ketaatan dan pengorbanan Ibrahim kepada Allah SWT ini kemudian diteruskan secara sempurna, bahkan dengan kadar yang istimewa, oleh Baginda Rasulullah Saw. Bukan hanya cinta dan taat. Bahkan beliau pun siap mengorbankan segalanya, termasuk nyawa sekalipun, demi tegaknya agama Allah SWT ini.

Ala kulli hal. Inilah sesungguhnya esensi ibadah haji dan kurban. Kita diajari tentang cinta, ketaatan dan kepatuhan total kepada Allah SWT. Kita pun diajari tentang keharusan untuk berkorban —mengorbankan apa saja yang ada pada diri kita— semata-mata demi kemuliaan Islam dan kaum Muslim. [Buletin Kaffah_No. 052_05 Dzulhijjah 1439 H-17 Agustus 2018 M]

Karena itu dengan meneladani cinta, ketaatan dan pengorbanan Nabiyullah Ibrahim AS dan Baginda Rasulullah Saw., mari kita songsong kembali masa depan cerah peradaban umat manusia di bawah naungan Islam. Tentu saat kita hidup dalam naungan sistem Islam yang paripurna yakni dalam bingkai Khilafah Rasyidah Islamiyah, di bawah ridha Allah SWT hingga Allah SWT pun berkenan curahkan rahmah dan berkah-Nya dari langit dan bumi kepada kita.

Itulah makna hakiki kurban tersebut. Allah SWT berfirman:

"Sesungguhnya jawaban orang-orang mukmin, bila mereka dipanggil kepada Allah dan rasul-Nya agar rasul menghukum (mengadili) di antara mereka ialah ucapan. "Kami mendengar, dan kami patuh". Dan mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. An-Nuur: 51)

"Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya." (QS. An-Nisaa': 65)

"Hanya kepada-Mu (ya Allah) kami menyembah dan hanya kepada-Mu pula (ya Allah) kami memohon pertolongan." (QS. Al-Fatihah: 5)

Wallahu a'lam bish shawab.[]

#KhalifahMeniadakanPerbedaan
#KitaButuhKhalifah
#IdulAdhaAlaNabi
#21IdulAdha
#MenujuKesatuanUmmat

@Selamat Hari Raya Idul Adha 21 Agustus 2018/10 Dzulhijjah 1439 H []

@Zakariya al-Bantany


(artikel ini tanpa tulisan Arabnya)

Ayat Al-Qur’an Yang Sering Kita Langgar



LENTERA KEBANGKITAN

Ayat Al-Qur’an Yang Sering Kita Langgar

@Zakariya al-Bantany

Pada tahun 2007 yang lalu, jelang Konferensi Khilafah Internasional (KKI) yang akan diselenggarakan oleh Hizbut Tahrir Indonesia pada hari Ahad 12 Agustus 2007 di Stadion Gelora Senayan Jakarta, yang direncanakan akan dihadiri oleh ratusan ribu umat Islam dari berbagai penjuru Nusantara. Saat habis ta'lim, al-faqier berjumpa dengan guru saya yang bernama Buya KH. Zulkifli Husin rahimahullah (wafat tahun 2010), beliau seorang Ulama NU kharismatik dan juga seorang pengurus komisi Fatwa MUI di sebuah daerah di kota Palembang Sumatera Selatan.

Guru saya tersebut dengan wajah berkaca-kaca-setelah beliau sebelumnya mencari tahu dan mengkaji kebenaran Hizbut Tahrir bertahun-tahun sejak tahun 2005 dengan merujuk sumber-sumber yang dikeluarkan langsung dari Hizbut Tahrir-pernah berkata kepada al-faqier:

"Hizbut Tahrir itu benar, Hizbut Tahrir itu mengamalkan ayat:

'Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai, dan ingatlah akan nikmat Allah kepadamu ketika kamu dahulu (masa Jahiliyah) bermusuh-musuhan, maka Allah mempersatukan hatimu, lalu menjadilah kamu karena nikmat Allah, orang-orang yang bersaudara; dan kamu telah berada di tepi jurang neraka, lalu Allah menyelamatkan kamu dari padanya. Demikianlah Allah menerangkan ayat-ayat-Nya kepadamu, agar kamu mendapat petunjuk.' (TQS. Ali Imran: 103)

Kata beliau melanjutkan: “Ayat inilah yang sering kita langgar. Apa yang diperjuangkan oleh Hizbut Tahrir (yakni Khilafah sang pemersatu umat) itu berat sekali. Tapi saya doakan Hizbut Tahrir semoga berhasil." Padahal beliau bukan aktivis HTI tapi beliau seorang warga Nahdhiyin tulen dan Ulama NU tulen.

Betul sekali kata Almarhum guru al-faqier tersebut. Ayat tersebut adalah ayat yang paling sering kita langgar dari dulu hingga sekarang sejak diruntuhkannya negara umat Islam yakni Khilafah Islam Utsmani yang berpusat di Turki oleh Inggris melalui agen penjajahnya yakni seorang yahudi yang bernama mustafa kamal attarturk laknatullahi 'alaihi pada tahun 1924 masehi.

Hingga umat Islam berpecah-belah dan tercabik-cabik menjadi lebih dari 50 negara kecil-kecil tanpa kekuatan dalam bentuk negara bangsa (nation state) dengan paham sempit nan sesat nasionalisme dan mengadopsi ideologi kufur warisan penjajah yakni demokrasi kapitalisme sekulerisme dan sosialisme komunisme hingga umat Islam kian menjadi bulan-bulanan kaum kafir penjajah barat dan timur hingga umat Islam kian bersimbah darah dan kian merintih kesakitan yang tiada tara dan tanpa berkesudahan serta kian terbelenggu dalam gurita imperialisme kapitalisme global.

Karena itulah akibat tidak ada Khilafah maka umat Islam berpecah-belah dan kian terus terjajah secara sistemik oleh kapitalisme global asing dan aseng.

Maka solusinya kita harus merujuk dan mengamalkan kembali QS. Ali Imran: 103 tersebut sekaligus merujuk dan mengamalkan seluruh isi Al-Qur’an dengan segera menegakkan kembali Khilafah Islam sang pelaksana Syariah dan pemersatu umat sehingga umat Islam terbebas dari belenggu penjajahan kapitalisme global asing dan aseng serta umat Islam kembali menjadi satu umat dan satu negara sekaligus menjadi adidaya super power yang menebar rahmah dan berkah bagi dunia dan alam semesta.

Wallahu a'lam bish shawab.[]

#UlamaBelaHTI
#HTIOnTheTrack
#ReturnTheKhilafah
#KhilafahTheRealSolution []

@Zakariya al-Bantany


(artikel ini tanpa tulisan Arabnya)